
Disebuah kamar hotel, Amanda duduk di depan jendela kaca besar sambil menyesap wine sambil memandang keluar jendela. Pikirannya berkelana entah kemana, matanya memandangi suasana kota dimalam hari yang dipenuhi lampu-lampu neon. Ekspresi wajahnya tampak gelisah dan marah, entah sudah berapa lama dia duduk disana. Satu botol wine hampir habis diminumnya sendiri karena pikirannya yang sedang kacau.
Menyesal? Amanda tidak merasa perlu menyesali apapun! Baginya, semua yang terjadi padanya adalah sebuah insiden yang sengaja diciptakan untuk menyingkirkannya. Kenapa harus dia yang mengalami semua ini? Sekian lama hidupnya baik-baik saja, dia menjalani kehidupan yang mewah bergelimang harta namun dalam semalam semuanya seakan dirampas darinya.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah! Yang salah adalah kemunculan Arimbi yang mengacaukan semuanya. Seolah takdir belum cukup mempermainkannya, masalah demi masalah menimpanya hingga dia terusir dengan cara yang sangat licik dengan dalih agar dia menenangkan diri di desa bersama keluarga kandungnya ternyata hanyalah cara halus mengusirnya dari kediaman Rafaldi.
‘Besok aku harus kerumah ibu! Ah, seharusnya tadi aku kesana mengambil barang-barangku! Tapi Gio mengajakku pergi tidak mungkin kutolak! Dia sudah baik bersedia membantuku! Semoga saja barang-barangku masih ada setidaknya aku punya banyak perhiasan yang bisa kujual untuk modal melanjutkan hidup. Apa aku minta pekerjaan saja pada Gio ya?’
‘Aku sekarang penggangguran! Tidak punya rumah, tidak mungkin aku tinggal di hotel terus! Bagaimana caranya supaya aku bisa menyewa apartemen atau rumah? Aihhhh…...sial! Kenapa hidupku jadi seperti ini? Penggangguran! Tidak punya rumah pula. Tidak…..tidak…...apa lebih baik aku membeli rumah saja? Tapi kalau uang tabunganku kupakai untuk beli rumah, sementara aku belum bekerja? Bagaimana aku membiayai hidupku?”
Amanda menyesap sisa winenya lalu meletakkan gelas diatas meja dan bangkit berdiri. Tangannya memijit pelipisnya karena merasa kepalanya agak berat dan sakit terlalu banyak minum. Dia melangkah menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya. Tapi……
Tiba-tiba dia bangkit lalu berlari ke kamar mandi…..uweeekkkkk! Dia memuntahkan semua isi perutnya. Setelah sekian lama muntah, Amanda merasa mualnya berkurang tapi tubuhnya sangat lemas sehingga dia harus berpegangan untuk berjalan.
Dengan susah payah dia berjalan kembali ke ranjang dan berbaring. Sakit kepalanya semakin menjadai-jadi, dia berusaha memejamkan matanya sambil memijat kepalanya.
‘Lusa pesta pernikahan Reza! Apa aku harus hadir disana dan melihatnya bersama wanita itu? Ah, kenapa aku mau muntah lagi sih?’ dia kembali merasakan mual di perutnya. Amanda merasa sangat lemas dan tertatih berjalan menuju ke kamar mandi dengan berpegangan pada dindin agar dia tidak jatuh. Kakinya seperti jeli yang lembek tak punya kekuatan.
‘Aku tidak bisa muntah disini! Pasti bau dan aku tidak akan bisa tidur semalaman.’ gumamnya.
*****
“Selamat pagi…...” ucap Emir mengecup bibir istrinya.
“Eughhh….” Arimbi mengeratkan pelukannya dileher Emir, menyusupkan kepalanya kedada Emir dan melilitkan kakinya di pinggang pria itu. Dia terlihat seperti koala, membuat sudut bibir Emir terangkat melihat ulah istrinya yang selalu malas bangun pagi.
__ADS_1
“Arimbi! Bangun!” Emir menggoyangkan bahu istrinya membangunkan.
“Eeeeuughh…...aku mau tidur!” jawab Arimbi dengan suara yang hampir tidak terdengar.
“Ini sudah jam tujuh pagi! Kamu tidak kerja hari ini?” tanya Emir menciumi wajah istrinya untuk membangunkannya. Tangan Arimbi mendorong Emir menjauh.
“Biarkan aku tidur! Aku masih mengantuk sekali.” jawabnya lirih.
“Kamu baik-baik saja kan? Aku akan menghubungi ayah kalau kamu tidak mau masuk kantor hari ini.”
“Ehm…..” hanya itu yang diucapkan Arimbi yang kembali pulas.
“Fuuuhhhh! Ya sudah kalau begitu. Lanjutkan tidurmu, aku mau siap-siap dulu.”
Arimbi tak merespon karena dia memang tidak mendengar perkataan Emir. Dia lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah lima belas menit, Emir keluar dari kamar mandi dan mendapati Arimbi masih tertidur pulas sambil mendengkur lembut. Dia hanya tersenyum menggelengkan kepalanya lalu beranjak menuju wardrobe.
Sedangkan Arimbi yang kelelahan memilih untuk melanjutkan tidurnya dan mengambil cuti. Emir sudah menghubungi ayah mertuanya untuk meminta izin cuti untuk Arimbi.
Seperti biasanya, Emir sarapan di paviliun tanpa didampingi Arimbi. Dan itu tak lepas dari pengawasan seorang pelayan yang segera bergegas menuju ke rumah utama untuk melapor.
“Selamat pagi Nyonya Besar.” pelayan itu menyapa dengan hormat.
“Ada apa kamu terburu-buru begitu? Katakan!” ucap Layla Serkan.
“Tuan Emir sarapan sendirian tanpa ditemani Nyonya Arimbi, Nyonya Besar! Menurut pelayan disana kalau Nyonya Arimbi belum turun dari kamarnya. Sepertinya Nyonya Arimbi kurang sehat.”
Mendengar laporan pelayannya, Nenek Serkan menghentikan makannya lalu memanggil kepala pelayannya.
__ADS_1
“Yaya!”
“Iya, Nyonya.”
“Buatkan sarapan sehat dan antarkan ke villa Emir!”
Yaya yang kebingungan menatap pelayan yang berdiri tak jauh darinya. Perintah yang diberikan Layla Serkan kurang jelas, tidak mengatakan untuk siapa sarapan itu. Karena dapur utama sudah mengantarkan sarapan pagi ke villa Emir.
“Cepat suruh koki membuatnya dan segera antarkan untuk istri Emir!” Layla Serkan merasa tabu untuk menyebutkan nama Arimbi sehingga dia hanya menyebut ‘istri Emir’.
“Baik Nyonya. Segera saya kerjakan.” jawab Yaya yang segera berlalu menuju ke dapur utama.
“Kamu boleh pergi. Tanyakan pada pelayan disana untuk memanggil dokter.”
“Baik Nyonya.”
...******...
Pagi ini Amanda merasa lebih baik setelah memuntahkan semua isi perutnya semalam. Dia merias wajahnya yang terlihat pucat, menata rambut dan setelah merasa penampilannya cukup baik, dia meraih kunci mobilnya lalu keluar dari kamar. Tubuhnya masih terasa lemah, dia memutuskan sarapan di hotel. Dia turun menuju restoran hotel dan memilih meja dekat jendela.
Jalanan pagi ini lumayan macet, Amanda melajukan kendaraannya menuju ke kediaman Rafaldi untuk mengambil semua barang-barangnya yang masih tertinggal disana.
Tiga puluh menit kemudian dia tiba didepan gerbang rumah yang tertutup rapat. Amanda mengeluarkan remote untuk membuka gerbang tapi gerbang tetap tertutup. Dia mencoba beberapa kali namun tetap tak berhasil.
‘Ck! Kenapa remotenya? Apa rusak?” dia melemparkan remote itu lalu membunyikan klakson mobilnya. Tak lama pintu kecil disebelah gerbang terbuka dan seorang satpam keluar lalu memperhatikan plat mobil Amanda yang sudah dikenalinya.
“Cepat buka gerbangnya!” ujar Amanda menurunkan jendela mobilnya.
“Maaf Nona! Kalau mau masuk harap turun dari mobil dan isi buku tamu dulu. Saya harus melapor dulu kedalam untuk mendapatkan izin membukakan gerbang.” jawab satpam itu yang langsung membuat Amanda murka.
“Heh! Apa katamu? Aku tinggal disini! Ini rumahku! Cepat buka gerbangnya! Aku coba membukanya dengan remoteku tapi sepertinya remotenya rusak.”
Hai readers...makasih ya dukungannya.....jgn lupa dibaca ya novel baruku berjudul "TUKAR PASANGAN" ceritanya asyik loh. Tetima kasih 🙏🙏😘🙏🙏😘
__ADS_1