
“Kalian sudah tahu juga? Bagaimana dengan ibu?” tanya Arimbi cemas. Apakah ibu marah dan membenci Amanda gara-gara masalah itu?"
“Ibu baik saja. Tadi dia mau pergi ke kota menemui Amanda tapi aku melarangnya.” ujar Adrian. "Arimbi, ibu sangat merindukan Amanda."
“Kenapa ibu tidak menghubungiku kalau mau ke kota? Aku bisa menyuruh supir untuk menjemputnya.” kata Arimbi lagi.
“Tidak perlu Arimbi! Ibu tidak akan pergi ke kota.”
“Kenapa? Apa kamu melarangnya makanya ibu batal ke kota? Aku merindukan ibu.” ujar Arimbi.
“Bukan begitu! Amanda mau datang kesini.” jawab Adrian.
“Apa?”
“Ya, Amanda tadi menelepon ibu dan bilang kalau dia mau datang kesini dan tinggal selama beberapa hari. Arimbi? Apakah masalahnya begitu besar? Atau orang tuamu mengusirnya? Tolong sampaikan permintaan maaf kami pada orang tuamu! Amanda sudah membuat keluarga Rafaldi malu besar!”
Arimbi tak langsung merespon, dia masih mencoba mencerna perkataan Adrian barusan. Amanda pergi ke pedesaan dan tinggal disana selama beberapa hari? Tumben? Orangtuaku mengusirnya? Apakah benar begitu? Tapi aku yakin ayah dan ibu pasti marah sekali dengan kelakuan Amanda. Sebaiknya nanti aku menghubungi ibu.
“Adrian! Akan kusampaikan nanti pada mereka. Oh iya, Aku tidak tahu mengenai hal itu! Aku belum ada bertemu maupun bicara dengan ayah dan ibu sejak kemarin. Apa kamu menanyakan Amanda kenapa dia tiba-tiba memutuskan datang kesana?”
“Aku tidak sempat bicara dengannya, Arimbi! Tadi ibu yang menerima teleponnya dan bicara dengan Amanda. Sepertinya dia juga tidak mengatakan apapun pada ibu, hanya bilang akan tinggal disini selama beberapahari. Itu saja!”
Sementara itu di kediaman keluarga Rafaldi. Pelayan menurunkan barang-barang yang akan dibawa Amanda ke desa. Tiga koper besar, dua tas besar berisikan perlengkapan mandi, perawatan tubuh dan barang-barang lainnya. Mosha yang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah hanya melirik sesekali sambil geleng-geleng kepala.
“Sebanyak ini yang akan kamu bawa kerumah ibumu, Amanda?” tanya Mosha yang sudah berdiri. “Apa kamu pikir rumah ibumu bisa menampung semua barang sebanyak ini?” Mosha meletakkan majalahnya dan berjalan menghampiri barang-barang yang akan dibawa Amanda.
__ADS_1
“Bu, ini semua barang-barang kebutuhanku sehari-hari. Aku membutuhkannya selama aku tinggal disana. Koper itu semua berisi pakaianku dan tas warna biru itu isinya sepatu.” jawab Amanda menjelaskan apa saja isi dari koper-kopernya. Dia tidak tahu berapa lama dia akan tinggal disana, jadi dia membawa banyak keperluan sehari-harinya.
Amanda tidak mau jika nanti terpaksa memakai barang-barang ibunya yang kualitasnya rendahan dimata wanita itu. “Hanya memastikan kalau aku punya stok yang cukup selama disana bu. Akan sulit bagiku untuk membelinya nanti disana, jadi aku memutuskan membawa banyak.”
“Terserah saja! Jam berapa kamu akan berangkat?” tanya Mosha lagi yang sepertinya sudah tidak sabar melihat Amanda segera pergi.
“Sebentar lagi bu. Setelah barang-barangku selesai dimasukkan ke mobil aku langsung berangkat supaya sampai disana sore hari.” jawab Amanda.
Pelayan sudah selesai memasukkan koper dan barang-barang Amanda kedalam mobilnya. Dia pun berpamitan pada ibunya lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Keluarga Rafaldi. Mosha mendengus saat melihat mobil Amanda sudah pergi.
“Tutup dan kunci gerbangnya! Suruh Pak Yan segera mengganti kunci gerbang dan juga kunci rumah! Ganti semua kunci dirumah ini!”
“Baik Nyonya.” jawab pelayan lalu pergi menjalankan perintah Mosha.
‘Dua puluh tahun lebih kami merawatmu seperti anak kandung kami sendiri! Kami memberikan semua kasih sayang dan kemewahan serta pendidikan terbaik padamu, Amanda! Kenapa kamu tidak bisa memperlakukan Arimbi seperti saudarimu sendiri?’
‘Padahal kami sangat berharap kalian berdua bisa akur dan saling menjaga. Menjalankan perusahaan bersama-sama. Tapi….kamu menunjukkan wajah aslimu! Kamu ingin menyingkirkan Arimbi! Kamu pikir aku akan membiarkanmu menggantikan posisi Arimbi? Dia adalah putri kandung keluarga Rafaldi yang sebenarnya! Kami berhutang banyak padanya, kamu pun berhutang padanya karena semua yang kamu miliki selama ini adalah milik Arimbi!’
Mosha memejamkan matanya, mengingat kembali masa-masa dimana Amanda masih kecil hingga dewasa. Bagaimana dia dan suaminya menyayangi Amanda dan memberikan yang terbaik hingga suatu hari mereka mendapati kalau Amanda bukanlah putri kandung mereka. Sejak itu mereka merasa sangat bersalah pada Arimbi yang melewati kehidupan yang sulit.
Saat itu pasangan suami istri Rafaldi hanya menginginkan kedua putrinya bisa akur. Mereka tidak mengusir Amanda dari sana karena menganggap Amanda tetap putri mereka. Tapi apa yang terjadi? Semua perbuatan baik dan kasih sayang yang mereka berikan pada Amanda selama ini dibalas dengan air tuba!
Rasa iri dan cemburu Amanda membuatnya ingin menyingkirkan Arimbi. Mosha sudah menyadari sejak awal tapi Yadid baru mengetahui itu baru-baru ini. Setelah kejadian kemarin malam, Yadid terlihat terpukul sekali dan saat dia pergi ke kantor tadi wajahnya muram. Anak yang pernah dia harapkan kelak menjadi penggantinya itu melakukan hal yang sangat buruk dan memalukan.
__ADS_1
Yang lebih menyakitkan Yadid adalah kenyataan bahwa Amanda berencana menjebak Arimbi kemarin malam tapi malah dia sendiri yang terjebak. Yadid merasa terpukul, dia tidak bisa membayangkan jika Arimbi yang mengalami kejadian itu! Belum lagi, beberapa kejadian dimana Amanda berusaha menjebak Arimbi membuat Yadid pun membuat keputusan.
Meskipun dia dan istrinya menyayangi Amanda sampai sekarang tapi mereka tidak akan membiarkan Amanda menghancurkan Arimbi! Bagaimana pun Arimbi adalah putri kandung mereka, apalah artinya seorang anak angkat yang tidak tahu membalas budi? Bagaimana bisa Amanda begitu tega melakukan semua itu pada keluarga Rafaldi yang sudah memberikan yang terbaik untuknya?
Mosha melihat ponselnya yang berdering, nama Arimbi tertera di layar ponselnya. Senyum diwajah Mosha pun muncul menggantikan wajah muramnya. “Halo Arimbi!”
“Halo ibu. Apa ibu ada dirumah sekarang?” tanya Arimbi.
“Iya. Ibu baru saja terpikir untuk meneleponmu. Tapi kamu sudah menelepon duluan.”
“He he ikatan kita begitu kuat ya bu. Sampai-sampai kita mau saling menghubungi.” kata Arimbi terkekeh. “Ibu baik-baik saja?”
“Ya aku baik saja. Kamu ada dimana sekarang? Tadi kata ayahmu, kamu tidak ke kantor hari ini?”
“Hm….aku masih dirumah sakit periksa kandungan, sedang menunggu antrian. Makanya aku menelepon ibu, ada yang mau aku tanyakan juga pada ibu.”
“Apa yang mau kamu tanyakan?”
“Ehm….mengenai Amanda.” ucap Arimbi yang merasa tak enak sebenarnya ingin bertanya hal itu.
“Dia sudah pergi!” jawab Mosha ketus.
“Hah? Jadi benar berita itu kalau dia memang pergi ke desa?”
“Darimana kamu tahu kalau dia akan pergi ke desa?”
__ADS_1