GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 199. BERKATA JUJUR


__ADS_3

Arimbi tetap diam karena dia tahu Emir tidak akan pernah mempercayainya.lagi pula jika itu bukan karena pengalaman pribadinya, dia juga tidak akan percaya. Meskipun benar kalau dia telah membaca novel semacam itu selama beberapa tahun belakangan ini, dia tahu bahwa itu semua hanyalah fiksi saja. Tidak mungkin seseorang dapat kembali ke masa lalu dan memulai hidup mereka dari awal lagi.


Namun demikian, Arimbi telah diberi kesempatan kedua itu untuk melakukannya. “Bukankah aku koma setelah memotong pergelangan tanganku sebagai penolakan perjodohan? Selama koma aku mengalami mimpi buruk yang panjang dan aneh. Dalam mimpi itu aku masih putri Keluarga Rafaldi.


Karena Emir tidak percaya seseorang yang kembali ke masa lalu setelah kematian, maka Arimbi hanya bisa menceritakan kembali kisahnya dalam bentuk mimpi buruk. “Setelah aku kembali ke Keluarga Rafaldi, aku tidak dekat dengan mereka karena aku dibesarkan oleh Keluarga Darmawan sampai aku berusia dua puluh dua tahun. Dan selama itu aku menganggap diriku sebagai putri Keluarga Darmawan begitu juga mereka.”


“Setelah mengetahui bahwa aku sebenarnya adalah putri Keluarga Rafaldi, karena kedua orang tuaku merasa bersalah telah melakukan kesalahan hingga aku tertukar, sejak itu mereka memperlakukanku dengan baik dan memberikan apapun yang aku mau. Sejujurnya aku tidak serakah, karena satu-satunya hal yang aku ingin minta dari mereka adalah mengijinkan aku untuk mencintai Reza dan menikahinya.”


“Seperti kamu dan semua orang dikota ini ketahui kalau aku sudah jatuh cinta padanya pada pandangan pertama.” Arimbi menceritakan kisah itu seolah-olah itu adalah kisah hidup orang lain. Meskipun Emir mengetahui semua yang terjadi setelah Arimbi menjadi bagian keluarga Rafaldi karena dia menyuruh orang untuk menyelidikinya tapi dia masih saja mendengarkannya dengan tenang.


“Dalam mimpi itu, aku juga memotong pergelangan tanganku untuk menolak lamaranmu dan kemudian aku mogok makan untuk memaksa orang tuaku menyetujui pernikahanku dengan Reza. Tak lama setelah itu, kami pun bertungan dan sebagai tunangannya aku pergi bersamanya ke acara sosial dan aku jadi mabuk. Ketika aku bangun, aku menyadari kalau aku berada didalam sebuah kamar hotel.”


“Saat itu aku melihat Reza yang baru saja keluar dari kamar mandi dan darah diseluruh tempat tidur. Dia langsung memelukku lalu mengatakan padaku bahwa itu wajar terjadi karena kami sudah bertunangan dan itu berjalan lebih cepat dari jadwal.”


Berbicara tentang kejadian malam itu, Arimbi masih belum bisa mengingat apa yang terjadi setelah dia mabuk. Belum lagi alasan kenapa kesuciannya malah diambil oleh Dion Harimurti sebagai gantinya.


Dia menduga bahwa Reza yang telah memberikannya pada Dion Harimurti sebagai jaminan atau apapun itu yang dia tidak tahu sama sekali.


Berdasarkan itu, seharusnya Reza tahu siapa ayah kandung bayinya tapi ketika Amanda mengatakan yang sebenarnya tentang kehamilannya, dia mengatakan bahwa mereka tidak tahu siapa ayah dari bayinya. Dan hanya menuduh bayinya sebagai anak haram.

__ADS_1


Pada detik ini, Emir mengeratkan cengkeramannya pada majalah yang dipegangnya dan berusaha menekan kecemburuannya agar tidak merobek majalah ditangannya menjadi berkeping-keping.


Emir masih marah meskipun Arimbi mengatakan kalau itu hanyalah mimpi dan dia tahu kalau Arimbi masih perawan karena dialah yang merenggut kesucian istrinya.


“Setelah itu aku hamil dan mengadakan pesta pernikahan mewah dengan Reza, tapi setelah pernikahan dia tidak pernah melakukan kontak fisik denganku dan selalu mengatakan kalau dia memikirkan kandunganku.”


“Kami pun tidur terpisah sebagai pasangan suami istri. Bahkan saat itu aku masih berpikir betapa bijaksananya dia karena memikirkan kandunganku. Hah! Aku benar-benar naif saat itu.” Nada bicara arimbi berubah menjadi nada kebencian.


“Setelah menikah dia memintaku untuk tinggal dirumah untuk membesarkan bayiku. Sebenarnya dia hanya menempatkan aku dibawah tahanan rumah.”


“Dia selalu pergi kerja pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Malah sering dia tidak pulang sama sekali dan sering bekerja ke luar kota selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Aku selalu mengira itu karena dia sibuk dengan pekerjaa tapi siapa sangka---”


Untuk setiap rasa sakit dan penyesalan yang dia ingat, kebenciannya pada Reza dan Amanda semakin dalam. Emir berbalik untuk emnatapnya sejenak. Kemudian dia memegang tangan Arimbi dan berkata dengan suara lembut dan dalam, “Berhentilah jika kamu tidak ingin membicarakannya. Aku tahu alasannya sekarang.”


Arimbi menatap mata pria itu yang masih begitu dalam dan tak terduga sehingga dia tidak bisa membaca pikirannya. “Emir.”


Jari-jari ramping Emir menekan bibirnya, suaranya sangat dalam, lembut dan merdu menghangatkan hatinya. “Tidak perlu mengatakan apa-apa lagi. Arimbi.”


Meskipun dia tidak menyelesaikan kata-katanya, Emir bisa menebak apa yang terjadi setelah itu, Reza dan Amanda pasti telah mengkhianati Arimbi dan itulah sebabnya dia berubah pikiran setelah terbangun. Arimbi tidak hanya berhenti jatuh cinta pada Reza, tetapi dia menjadi benci pada Amanda.

__ADS_1


Dan sosok bayi yang dia sebutkan dalam tidurnya mungkin adalah bayi yang dia lahirkan dalam mimpinya. Mungkin mimpi itu begitu nyata sehingga membuat wanita itu menganggapnya sebagai ramalan.


“Sekarang setelah aku mengetahui alasannya, aku tidak akan salah paham atau menanyaimu lagi soal itu.” emir meletakkan tangannya diwajah Arimbi dan satu tangan lagi mengelus rambutnya.


“Sudah larut sekarang. Apa kamu mau tidur atau mau yang lain?” tanya Emir.


“Emir sayang, apakah kamu percaya padaku?” tanya Arimbi mengerjapkan matanya.


Emir tersenyum, senyumnya selalu mempesona. Setiap kali Arimbi melihat senyumnya, dia merasa ingin membawanya ke tempat tidur lalu menelanjanginya dan tidur dengannya. Ahhhh! Ternyata aku juga bernafsu! Pikirnya.


“Aku percaya.” jawab Emir. “Terkadang mimpi bisa menjengkelkan tetapi ada kalanya mimpi itu meramalkan apa yang akan terjadi.” Emir pun merasakannya sendiri. Dia terus bermimpi yang sama berulang kali. “Arimbi, aku senang kamu mendapat mimpi buruk yang memberiku kesempatan untuk menikahimu.”


Arimbi meraih tangan besar yang membelai wajahnya. Emir adalah putra tertua dari keluarga kaya raya dan terhormat. “Aku juga senang Emir. Aku tidak pernah menyesal menikahimu. Kamu membantuki beberapa kali dalam mimpiku ketika aku membutuhkan bantuan. Aku benar-benar berterima kasih padamu atas kehangatan dan bantuan yang kamu berikan padaku.”


Emir kehilangan kata-katanya untuk sesaat. Kemudian dia menjawab, “Tidak heran kamu mengatakan bahwa kamu menikahiku untuk membayarku karena kamu berterima kasih padaku.”


Arimbi memang menikahinya dengan motif egois, tapi mereka belum pernah bertemu satu sama lain sebelum mereka menikah.


Jika bukan karena Nenek Serkan yang mengirim seseorang ke Keluarga Rafaldi untuk meminta Arimbi menikah dengannya, hidup mereka tidak akan pernah bersinggungan dan mereka tidak akan memiliki perasaan satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2