GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 275. PERKENALAN


__ADS_3

Sehabis jam kerja, seperti biasa Arimbi dijemput supir dan mengantarkannya ke sekolah etiket. Ini hari pertamanya untuk belajar. Dia mengikuti kelas etiket tiga kali seminggu, jadi dia pun bersemangat di hari pertamanya.


Saat tiba disana, bertepatan dengan keluarnya orang-orang yang baru selesai belajar. Mereka melihat mobil mewah yang berhenti tepat di pintu masuk.


Mereka merasa penasaran apalagi saat melihat Pascal menyambut langsung wanita yang turun dari mobil mewah itu menambah penasaran orang-orang. Siapa orang kaya yang datang itu? Saat melihat seorang wanita cantik turun dari mobil, orang-orang itu mengeryitkan kening mereka karena belum pernah melihat Arimbi sebelumnya.


Dengan langkah elegan, Arimbi  berjalan dan tersenyum, “Selamat sore Nyonya. Selamat datang kembali di sekolah kami.” ujar Pascal menyambut Arimbi.


“Selamat sore. Terimakasih.” ucap Arimbi. "Tidak perlu repot-repot menyambut saya seperti ini."


"Tidak apa-apa Nyonya. Kami senang melihat kedatangan anda. Mengingat hari ini adalah hari pertama anda."


Pascal dan beberapa staf membawa Arimbi masuk, saat mereka melewati beberapa orang yang masih berdiri, Arimbi mendengar bisik-bisik beberapa wanita itu.


“Siapa dia? Apakah dia salah satu murid disini juga ya?”


“Tidak tahu! Mungkin saja.”


“Bagaimana mungkin? Memangnya ada kelas malam ya?”


“Sepertinya aku merasa tidak asing dengan wajah wanita itu.”


Tiba-tiba salah seorang dari wanita kaya itu berkata, “Bukankah dia adalah putri kandung keluarga Rafaldi? Ya….ya….benar itu dia!”


“Benarkah? Apa dia belajar disini juga?”


“Bisa saja. Tapi kenapa dia datang di jam segini?”

__ADS_1


“Tidak mungkin dia belajar disini! Memangnya tempat ini menerima murid seperti itu?”


“Ya dia kan selama ini dibesarkan di pedesaan! Pasti etiketnya buruk, mana bisa dia masuk ke kalangan kelas atas, iyakan?”


“Aku jadi malas belajar disini kalau orang seperti dia diterima disini. Inikan sekolah etiket terbaik dan semua muridnya dari kalangan kelas atas!”


Arimbi yang sudah berada didalam kelas etiket tidak tahu jika para wanita kaya sedang membicarakannya di luar sana.


Hari ini adalah hari pertamanya di kelas etiket dan topik yang diajarkan untuk hari ini adalah etika berbicara. Arimbi diajarkan dasar-dasar percakapan, cara berbicara dan gestur tubuh saat sedang berbicara.


Instruktur yang mengajar adalah seorang wanita berumur empat puluh tahun berwajah cantik. Dengan serius Arimbi mengikuti kelas yang memakan waktu selama satu jam itu. Hingga akhirnya kelas selesai , saat dia keluar dari tempat itu supir sudah menunggu didepan pintu masuk.


“Nyonya, mau langsung pulang kan? Tuan Muda sudah menunggu Nyonya dirumah untuk makan malam.” ujar supir itu memberitahu Arimbi.


“Iya, aku juga merasa lelah. Apa Emir menjalani rehabilitasinya hari ini?” tanya Arimbi lagi.


“Benar Nyonya. Tadi saya sempat lihat ada Tuan Agha yang menemaninya juga.”


Dia berpikir kalau besok dia akan menanyakan pada ayahnya dan bicara serius tentang hal itu. ‘Aku sedang hamil sekarang, aku tidak mau ada yang mengganggu ketenanganku. Pria itu benar-benar keterlaluan! Sepertinya dia masih tidak menyerah juga!’ gumamnya dalam hati.


Sesampainya dirumah, Arimbi bergegas mencari keberadaan suami tercintanya. Entah mengapa dia sangat merindukan pria itu. Tak butuh waktu lama dia melihat Emir sedang duduk menunggunya di ruang tengah. Melihat itu, hati Arimbi dipenuhi dengan kehangatan.


Dia langsung melemparkan dirinya kedalam pelukan Emir dan menciumnya tanpa mempedulikan orang-orang yang berada disana. “Sayang, aku sangat merindukanmu!” ucap Arimbi dengan suara lembut dan manja sambil melingkarkan tangannya di leher Emir.


“Benarkah? Apa kamu harus diingatkan setiap saat bahwa kamu sedang hamil? Apa kamu sadar bagaimana kamu berlari dan melemparkan dirimu kepadaku? Hemm?”


“Maaf.  Itu karena aku sangat merindukanmu. Emir sayang, aku lapar.”

__ADS_1


“Pufffff!” Emir terkekeh. “Kupikir kamu sudah kenyang dengan menciumku!”


“Tidak cukup! Masih kurang, aku mau makan yang banyak! Ayolah bawa aku makan.”


“Kenapa kamu semakin manja begini?”


“Sayang, itu salahmu! Jangan tanya padaku oke? Kamu memanjakanku dan sekarang kamu yang protes karena aku terlalu manja. Emir, aku mau makan…..”


“Ayolah, kita makan. Aku juga belum makan dari tadi aku menunggumu.”


Emir berpindah ke kursi rodanya setelah Arimbi berdiri lalu Rino mendorong kursi roda itu menuju ke pavilliun. Dengan wajah cemberut Arimbi mengikuti dari belakang, dia tidak diijinkan Emir untuk mendorongnya karena pria itu khawatir akan berpengaruh pada kandungannya.


...****...


Sementara itu di kediaman keluarga Lavani, mereka sedang kedatangan tamu dari jauh. Ya, seorang pria paruh baya beserta istri dan anaknya sedang makan malam di rumah itu. Tampak kedua keluarga berbincang dengan bahagia.


Pria itu tak lain adalah seorang pengusaha terkenal di luar negeri yang dulunya adalah rekan Yuda Lavani sewaktu dia menuntut ilmu di luar negeri.


Pria itu bernama Kaifan Arkatama dan istrinya Rowena beserta putranya Marcel Arkatama. Pria berusia dua puluh sembilan tahun dengan wajah tampan dan tubuh kekar.


Bisa dibilang, dia memiliki ketampanan yang hampir sama dengan Emir Serkan! Apalagi pria ini juga terlihat dingin dan tak banyak bicara. Johan yang merupakan putra tertua di Keluarga Lavani tampak berbincang dengan Marcel. Keduanya terlibat pembicaraan bisnis dimana keluarga Arkatama berniat untuk berinvestasi didalam negeri.


Mereka berencana membuka perusahaan cabang di negara ini. Dengan menjalin kerjasama dengan Lavani Indoraya maka peluangnya untuk merebut pasar dalam negeri akan semakin besar. Di luar negeri perusahaannya termasuk besar dan masuk dalam ranking perusahaan top. Tapi untuk pasar domestik dia belum menjajaki.


Zivanna yang sedari tadi memperhatikan Marcel merasa kalau pria itu memiliki kemiripan karakter dengan Emir. Dan dia memang menyukai pria seperti itu, mengingat Marcel akan menetap di negara ini maka Zivanna pun memikirkan sesuatu. Setelah dia ditolak oleh dua pria yang potensial maka kini ada pria potensial lainnya yang bisa diincarnya.


‘Keluarga Arkatama sangat kaya dan terkenal di luar negeri. Jika mereka mengembangkan bisnisnya disini maka mereka pasti bisa mengalahkan Emir! Aku harus bisa mendapatkan Marcel! Dengan begitu, saat perusahaannya sudah berkembang disini, aku pastikan Emir dan Dion menyesal telah menolakku! Gumamnya didalam hati.

__ADS_1


Zivanna juga sepertinya menyadari bahwa keluarga Arkatama akan berinvestasi dalam jumlah besar untuk perusahaan yang akan mereka buka nanti.


‘Sepertinya keberuntunganku datang juga! Begitu sulitnya mendapatkan Dion! Tapi Marcel…..keluarga kami dekat dan kurasa tidak akan sulit untuk mendapatkan pria ini.’ bisik hatinya.


__ADS_2