GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 86. KECEWA


__ADS_3

“Apakah ada hal lain?” tanya Emir lagi.


“Ti—tidak. Itu saja.”


“Pintunya disebelah sana.” ucapnya dengan dingin. “Pergilah.”


Arimbi terdiam sejenak sebelum dia berkata, “Emir.”


“Katakan saja.”


“Katakan apa?”


“Bukankah kamu memanggilku ingin mengatakan sesuatu? Aku sudah bilang padamu, katakan saja apa yang ingin kamu katakan.”


“Tapi aku tidak mau mengatakan apapun. Aku hanya ingin memanggil namamu.”


“Itu saja?”


“Itu saja!” jawab Arimbi.


Sudut mulut Emir terangkat tiba-tiba, dia tersenyum pada Arimbi. Tapi Arimbi hanya bisa merinding saat melihat ekspresi misterius diwajah suaminya itu.


“Karena kamu sangat suka memanggil namaku, aku mau kamu memanggil namaku seratus kali mulai sekarang. Rekam di ponselmu lalu kirimkan padaku setelah mencapai seratus rekaman.”


Arimbi akhirnya sadar bahwa tidak ada hal baik yang muncul dari senyum pria itu. Pada titik ini, mungkin lebih baik bgainya untuk terus memasang ekspresi dinginnya. Jika Arimbi terus mencoba untuk mencairkan raut wajahnya yang sedingin gunung es, seandainya pun berhasil suatu hari nanti mungkin Arimbi akan tenggela dalam es yang mencair. “Kamu harus menanggung akibatnya jika aku tidak menerima pesan suaramu.” ancam Emir.


Arimbi merasa tergoda untuk bertanya pada Emir apa hukumannya jika dia tidak melakukannya tetapi akhirnya dia bertanya, “Haruskah aku memanggil anda Tuan Emir atau Emir saja?”


“Bagaimana menurutmu?”


“Baiklah. Aku tahu.” wajahnya langsung cemberut. Lalu Arimbi mengitari mejanya dan berjalan dengan susah payah keluar dari kantornya dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


Emir mengawasinya sepanjang waktu dan ada sedikit rasa geli dimatanya. Tetap saja, alih-alih memanggilnya untuk tetap tinggal, dia diam-diam memperhatikannya pergi. Kemudian dia menelepon Rino setelah hanya dia sendirian diruangannya. “Tolong datang keruanganku sebentar.”


“Siap.”


Rino bergegas masuk ke lift setelah panggilan itu dan secara tidak sengaja menabrak Arimbi yang sedang menunggu lift.


Begitu dia melihatnya, dengan sopan menyapanya, “Nona Muda Arimbi.”


Wanita itu hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dengan putus asa dia melangkah memasuki lift. Rino merasa kalau Arimbi pasti kecewa tentang sesuatu tetapi dia tidak punya waktu luang untuk menebak pikirannya saat dia bergegas ke lantai atas. Setelah tiba di kantor, Rino diberikan gelang.


Dia terus menatap Emir dengan bingung tanpa mengambil gelang itu dari tangan bosnya.


“Cari sebuah kotak untuk ini dan kemas dengan baik. Aku akan memberikan ini sebagai hadiah.”


Setelah itu Rino mengambil gelang itu. “Kapan anda akan membutuhkan ini Tuan Muda Emir?”


“Secepatnya!” jawab Emir.


Rino dengan hati-hati menyelipka gelang itu kedalam saku jasnya. “Tuan Muda Emir, saya bertemu Nona Muda Arimbi tadi. Dia tampak kecewa karena sesuatu.”


Mendengar itu, Emir dengan tenang memberitahunya, “Dia baru saja memberiku harta miliknya. Aku tidak akan senang jika dia tidak kecewa. Karena itu berarti gelang itu penting baginya atau dia bahkan bisa mengabaikannya jika dia tidak sedih setelah memberikan gelangnya padanya.”


Rino tidak berani mengucapkan sepatah katapun setelah mendengar penjelasan Emir.


“Soal kartu yang aku buang tadi pagi...bawa beberpaa orang bersamamu dan cari tahu apakah kamu bisa mendapatkan kartu itu kembali.” ucap Emir.


“Dimas memilikinya. Apakah anda menginginkannya Tuan Muda Emir?”


Emir tidak mengatakan apa-apa saat dia memikirkan seberapa baik pengawalmnya mengenalnya. Itu sangat bagus bahwa mereka semua setia padanya, jika tidak maka dia tidak akan membiarkan mereka berada disisinya.


Setelah Emir dengan santai melambaikan tangannya, Rino menganggap sebagai tanda agar dia diam-diam meninggalkan ruangan itu. Tidak butuh waktu lama bagi Rino untuk mendapatkan kartu yang telah dibuang Emir tadi pagi dari Dimas. Rino menyerahkannya pada Ciara yang kemudian membawanya masuk keruang direktur.

__ADS_1


Mau tak mau Ciara bertanya-tanya siapa didunia ini yang cukup berani untuk memberikan sesuatu seperti ini pada Emir. Yang lebih mengejutkan saat itu adalah bagaimana Emir mengambil surat itu darinya dengan tangannya sendiri. Wanita biasanya lebih peka terhadap hal-hal seperti ini. Dari akrtu dan dua tikus kecil di meja kerjanya, Ciara tiba-tiba merasa bahwa Emir telah berubah.


Dia tampak seperti sedang….jatuh cinta”


Wanita yang berhasil memenangkan hatinya pastilah wanita paling beruntung didunia! Pada saat yang sama Arimbi bertanya-tanya apakah dia adalah wanita paling beruntung didunia atau tidak. Yah tampaknya seperti itu. Lagipula, tidak semua orang bisa hidup kembali dari kematian untuk menjalani hidup mereka lagi seperti yang dia alami sekarang ini.


...******...


Setelah meninggalkan kantor Emir, Arimbi menaiki taksi dan pergi kerumah ibunya untuk makan siang. Keduanya tampak sedang sibuk memasak didapur saat ada tamu tak diundang datang kerumah itu. Mosha yang sedang berada didapur tidak mengetahui akan kehadiran orang ini dirumahnya.


“Hati-hati jangan sampai merusaknya.” Yessi sedang mengintruksikan beberapa pekerja untuk membawa hadiah pertunangan yang diakirimkanke Kediaman Keluarga Rafaldi dari mobil dan kedalam rumah. Semua barang-barang itu adalah barang mahal. Merusaknya sama saja dengan membakar uang. Yessi terus saja menyebabkan keributan tanpa alasan.


Sedangkan Mosha sedang memasak untuk Arimbi didapur ketika dia mendengar suara berisik dari luar. Setelah dia tidak tahan lagi, dia meninggikan suaranya dan bertanya. “Bik Nani! Apa yang terjadi diluar?”


Kepala pelayan yang dipanggil kebetulan sedang memberi makan kucing Ragdoll milik Arimbi saat dia menjawab, “Saya akan pergi keluar untuk melihat, Nyonya.”


Kemudian dia pergi sebentar lalu kembali lagi kedalam rumah dengan tergesa-gesa, “Nyonya Rafaldi! Itu ada Nyonya Kanchana disini untuk mengantarkan mas kawin! Dia tampak sangat murah hati dengan hadiahnya karena barang-barang yang dibawanya terlihat sangat mahal.”


Sontak wajah Mosha langsung berubah menjadi gelap begitu dia mendengarnya. Dia bingung kenapa Yessi masih saja keras kepala.


Kenapa dia malah membawa mahar kesini? Sudah jelas-jelas Mosha menolak lamarannya tempo hari. Mosha tak ingin Reza menikahi Arimbi karena putrinya sudah menikahi Emir.


Sekalipun Arimbi belum menikah, dia tidak akan pernah menyetujui putrinya menikah dengan Keluarga Kanchana. Tapi tetap saja Mosha melepas celemeknya dan meminta Bik Nani mengambil alih tugasnya.


Dia bergegas menuju ke pintu masuk untuk menyambut Yessi. Begitu Yessi melihatnya, seringai lebar muncul diwajahnya dan dia dengan penuh kasih memanggil, “Besanku sayang!”


Darah dengan cepat mengalir dari wajah Mosha ketika dia mendengar itu. “Nyonya Kanchana, anda tidak bisa begitu saja mengucapkan akta-kata seperti itu! Keluarga kita mungkin slaing kenal tapi kita bukan besan!”


Besan mereka yang sebenarnya adalah Keluarga Serkan tetapi Mosha tidak bisa bebas untuk mengatakan hal seperti itu. Hanya memikirkan hal ini dia merasa sedih pada putrinya itu.


“Saya membawa mas kawin kesini hari ini, Nyonya Rafaldi. Begini ya setelah anda menerima hadiah ini, kita bisa segera memilih tanggal baik untuk pernikahan. Dan begitu hari besar tiba, kita akan menjadi besan resmi. Aku hanya memanggilmu seperti itu sekarang agar kita berdua merasa nyaman satu sama lain lebih awal.”

__ADS_1


__ADS_2