GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 367. SPESIAL REQUEST


__ADS_3

Semua orang terdiam dan menundukkan wajah ketakutan. Melihat dua orang pria bertubuh kekar masuk dan memandang mereka satu persatu.


“Aku dengar suara ribut-ribut dari luar. Siapa yang membuat keributan disini?” teriak pria itu.


“Itu bang! Nona kaya itu yang dari tadi buat keributan!” ujar seorang gadis menunjuk kearah Zivanna.


“Iya bang….benar…..dia menghina kami orang desa. Makanya kami ingin memberinya pelajaran.”


Zivanna menatap mereka tak percaya, bukankah dia yang ingin disiksa oleh mereka? Kenapa sekarang malah dia yang dituduh sebagai pembuat keributan?


 


“Bohong! Bukan aku yang memulai! Dasar kalian semua pembohong! Pantas saja hidup kalian menderita seperti ini! Aku peringatkan ya, saat keluargaku datang aku pastikan kalian semua akan menanggung akibatnya!” teriak Zivanna yang sudah berdiri dengan sombongnya.


 


“Kalian semua! Dengar ya baik-baik! Keluargaku akan datang menyelamatkanku dari sini, aku tidak akan membantu satupun dari kalian! Camkan itu!” teriak Zivanna dengan marah.


SREEETTTT


“Ahhhhh……! Lepaskan!” Zivanna meronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua pria bertubuh besar yang memeganginya lalu menyeretnya keluar dari tempat itu.


 


Kedua pria itu menyeret Zivanna keluar dari dek bawah dan menaiki tangga, sepertinya kapal itu sudah melewati badai dan kapal sudah tidak berguncang hebat seperti tadi. Namun suara hujan deras masih terdengar dari luar.


Mereka terus menyeret Zivanna dengan kasar menaiki tangga hingga mencapai lantai tiga kapal itu dan membawa Zivanna memasuki sebuah kamar.


 


Kamar itu beraroma wangi dengan suasana temaram. Lalu terdengar suara beberapa wanita. “Coba lihat siapa wanita itu! Wajahnya cantik juga tapi dia kotor!”


“Bawa dia dan bersihkan tubuhnya. Ganti pakaiannya.” terdengar suara bariton namun wajah pria yang berbicara itu tidak terlihat karena posisinya duduk di sofa yang minim penerangan.


 


Namun Zivanna bisa merasakan kalau kamar itu bukan kamar biasa. Siapapun pria itu pasti dia banyak uang, pikiran Zivanna mulai tidak fokus dan dipenuhi dengan berbagai macam pikiran negatif.


Kedua pengawal tadi menyeret Zivanna ke ruang sebelah dimana dua orang wanita berbadan kekar sudah menunggu. “Bersihkan dia lalu antarkan ke kamar sebelah!” ucap salah satu pengawal itu.


 


...********...


Sementara itu di presidential suite hotel berbintang tujuh milik Keluarga Serkan, nampak Arimbi yang bermanja-manja dalam pelukan suaminya. “Sayang…….mau ya penuhi keinginanku?”


“Arimbi! Kamu mau apa lagi? Jangan meminta yang aneh-aneh seperti tadi.”

__ADS_1


“Tidak aneh. Aku cuma ingin makan masakan ibumu. Pengen pake banget! Suruh ibumu pulang ya?”


Emir memijat pelipisnya sambil menatap Arimbi lalu berkata, “Kamu yakin? Ibu masih berada di villa, aku harus menanyakan padanya apakah dia mau atau tidak. Kamu tahu sendiri bagaimana sikap ibuku padamu.” ucap Emir menjelaskan.


 


Dia tidak mau ada masalah lagi yang dibuat ibunya jika bertemu Arimbi. Ayahnya sengaja membawa ibu Emir tinggal di villa dengan alasan liburan hanya untuk menjauhkannya dari Arimbi.


Alarik tidak mau jika Rania menyakiti Arimbi atau melakukan sesuatu yang akan berakibat buruk pada kandungannya. Namun sekarang Arimbi malah minta pada suaminya agar ibu mertuanya memasak makanan untuknya.


 


Dreettttt…...dreeeetttt


Ponsel Emir berbunyi, dia melirik keatas nakas dan melihat kalau panggilan masuk itu berasa dari rumahnya. Lalu dia pun menjawab panggilan,


“Halo, maaf mengganggu Tuan.” sapa Beni.


“Iya. Ada apa kamu menelepon?”


 


“Begini Tuan. Saya hanya ingin menanyakan keadaan Tuan dan Nyonya. Apakah Nyonya ingin makanan spesial? Saya bisa minta dapur utama untuk memasakkan untuk Nyonya.” ucap Beni. Sementara disebelah Beni ada Yaya yang disuruh oleh Nenek Serkan agar menyuruh Beni menghubungi Emir.


 


“Oh begitu ya Tuan. Baiklah tapi jika nyonya menginginkan makan sesuatu bisa hubungi saya.”


Emir mengeryitkan keningnya merasa heran dengan sikap Beni. Selama Arimbi hamil kepala pelayan itu tidak pernah begitu perhatian seperti ini.


 


“Beni! Katakan saja apa maumu? Apa nenek yang menyuruhmu meneleponku?”


“Ehmm…..sebenarnya, ehem…..iya Tuan. Yaya tadi datang dan menyampaikan pesan Nyonya Besar.”


“Apa pesannya?” tanya Emir semakin penasaran.


“Nyonya Besar menanyakan tentang Nyonya, mengingat Nyonya sedang hamil muda mungkin ingin makan sesuatu.” jawab Beni sejujurnya.


 


“Apa itu saja?”


“Iya Tuan. Hanya itu saja. Nyonya Besar mungkin merasa khawatir karena ini adalah cicit pertamanya. Jadi wajar jika dia ingin memastikan nyonya baik-baik saja.”


“Hmm…..jadi begitu. Sebenarnya istriku memang sedang menginginkan sesuatu.”

__ADS_1


“Oh benarkah Tuan? Nyonya mau apa? Katakan saja, saya akan menyampaikan ke dapur utama.”


 


“Bukan itu masalahnya. Istriku ingin makan masakan ibuku tapi ibu sedang berada di villa dan entah kapan akan kembali ke rumah. Itu masalahnya.”


“Oh begini saja Tuan. Saya akan sampaikan pada Nyonya Besar tentang keinginan Nyonya. Mungkin Nyonya Besar bisa meminta Nyonya Serkan pulang dan memasak.”


 


“Lakukan saja! Pastikan segera pulang karena istriku maunya secepatnya. kalau bisa hari ini juga.”


“Baiklah Tuan akan segera saya sampaikan pada Nyonya Besar.”


Klik.


Emir memutuskan panggilan lalu menatap Arimbi yang tersenyum puas. “Apakah nenek menanyakanku? Ah, Emir aku senang sekali nenek mulai peduli padaku.”


 


“Jangan senang dulu! Sejak awal nenek tidak menyukaimu, tetap waspada mana tahu ini hanya akal-akalannya saja untuk menyingkirkanmu. Dia nenekku dan aku tahu bagaimana dia.” ucap Emir mendengus. ‘Apa mau nenek sebenarnya? Kenapa tiba-tiba dia begitu peduli pada Arimbi? Aku tidak akan membiarkan siapapun bahkan keluarga ku sendiri melukai istriku.’ gumamnya dihati.


 


Sementara itu di villa, Rania uring-uringan setelah menerima telepon dari mertuanya yang memintanya segera pulang kerumah. Layla Serkan bahkan mengancamnya jika dia tidak pulang sekarang juga maka dia tidak diizinkan kembali ke kediaman Serkan. “Ada apa kamu mondar mandir sambil mengomel sendirian begitu?” tanya Alarik pada Rania.


 


“Aku lagi kesal sama ibumu!” ujar Rania ketus.


“Dia itu ibu mertuamu! Kenapa kamu kesal padanya?” tanya Alarik menatap Raina tak senang.


“Ini gara-gara si perempuan desa itu! Ibu meminta kita segera pulang, dia memintaku memasak untuk Arimbi! Menyebalkan sekali! Katanya Arimbi mengidam ingin makan masakanku.” ujar Rania semakin kesal.


 


“Ya sudah kalau begitu. Kita pulang sekarang, perjalanan hanya tiga jam. Kalau kita berangkat sekarang, kita akan sampai disana menjelang sore. Kamu bisa memasak untuk makan malam.”


“Apa? Waktu itu kamu yang menyeretku keluar dari rumah dan membawaku kesini untuk menghindari aku bertemu Arimbi! Sekarang kamu ikut-ikutan ibu menyuruhku pulang. Apa yang sudah dilakukan perempuan itu pada semua orang?”


 


“Bereskan semua barang-barangmu sekarang! Kita berangkat! Kalau kamu menolak, aku pulang sendiri dan kamu bisa tinggal disini selamanya! Tidak usah kembali kerumah!” ancam Alarik yang membuat mata Rania membulat tak percaya mendengar ucapan suaminya itu.


 


Alarik pun keluar dari kamarnya dan berjalan keluar. Rania mencoba mengejar suaminya karena takut jika Alarik benar-benar pergi meninggalkannya sendirian disana. “Suamiku! Tunggu…….jangan tinggalkan aku. Aku akan menuruti permintaanmu dan ibu! Aku pulang sekarang.”

__ADS_1


Alarik menghentikan langkahnya lalu menoleh dan berkata, “Kamu punya waktu lima belas menit untuk membereskan barangmu. Jangan membuat menantuku menunggu lama.”


__ADS_2