
“Emir! Kamu yang mengambil akta nikah milikku tapi kamu malah menyalahkanku tidak menyimpannya dengan benar. Emir! Kamu jahat!” Arimbi memindahkan tangannya ke baju suaminya dan mencengkeramnya dengan erat-erat.
Dia cukup kasar ketika dia menarik bajunya dengan kedua tangannya. Arimbi berperilaku seperti sebelumnya ketika dia meninggalkan bekas ditubuhnya.
Pada saat itu, kancing yang tidak berhasil dibuka jatuh ke lantai saat Arimbi merobek bajunya. Didalam benak Emir menilai kalau istrinya itu sangat kasar tapi dia menyukainya! Wanitaku sangat mengesankan dengan keterampilannya dalam seni bela diri. Dia bahkan melumpuhkan pengawal dari Dion Harimurti, pikirnya.
“Arimbi! Kamu lambat sekali. Tunjukkan ketulusanmu!’ seru Emir yang melihat gerakan Arimbi yang hanya memainkan tangannya menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Sedangkan kemeja yang dipakainya sudah tak berbentuk lagi. Entah sudah berapa kemeja yang dirobekkan Arimbi saat ingin bercinta dengan suaminya
Arimbi mengamati tubuh suaminya dengan hati-hati, “Sayang, dimana tanda yang kuberikan padamu kemarin? Sudah tidak ada. Ku rasa aku harus menggantinya dengan yang baru.” saat berbicara, Arimbi menundukkan kepalanya dan menggigit dengan ganas dibahu kirinya. Emir menarik napas menahan rasa sakit, tetapi dia menahannya dan tidak mendorong Arimbi kesamping.
“Aku bersalah karena membuatmu pingsan dan mengambil akta nikah milikmu tempo hari.” Emir mengakui kesalahannya.
“Apa kamu khawatir aku akan memamerkan buku nikah itu pada semua orang?” ucap Arimbi smabil mengerucutkan bibirnya.
Emir tetap diam sebelum menjawab, “Aku tidak bermaksud menganggapmu sebagai istriku setelah menandatangani surat-surat itu.”
Karena itu, dia tidak ingin orang lain menyadari bahwa mereka sudah menikah, jadi cara teraman baginya adalah menyimpan buku nikah sendiri.
“Baiklah.” jawab Arimbi. Arimbi masih ingat jika sebelumnya Emir pernah mengatakan bahwa alasan dia menikahinya adalah untuk menyiksanya. Tapi dia hanya mencobanya sekali dan membuat Arimbi diare. Setelah itu Emir menghentikan semuanya.
Pria itu benar-benar menunjukkan belas kasihannya dan membiarkannya lolos. “Arimbi.”
“Iya?” Arimbi merasa tempat dimana dia baru saja menggigitnya terlihat bekas gigitan yang dalam dan tergores karena dia menggigitnya dengan keras.
“Arimbi! Aku akan mengatur pernikahan mewah untukmu.”
“Terima kasih, sayang.”
Ekspresinya sulit dibaca, "Kamu tidak perlu berterima kasih padaku. Kita berdua sudah menikah jadi kamu benar-benar tidak perlu bersikap sopan didepanku,”
__ADS_1
“Sakit ya? Maaf ya sayang, aku menggigitmu kuat.”
“Iya.”
“Kalau sakit, kenapa kamu tidak bersuara?” tanya Arimbi. Dia melingkarkan tangannya dileher Emir untuk mencegahnya menyentuhnya karena dia tidak ingin menjadi terangsang.
“Jika aku bersuara, apa kamu akan berhenti?” tanya Emir tersenyum. Lalu tangannya maju kedepan dan meremas lembut dada berisi istrinya.
“Tidak. Aku masih akan menggigitmu dan aku akan menggigitmu lebih keras lagi. Itulah satu-satunya cara bagiku untuk melampiaskan amarahku!” jawab Arimbi.
“Lalu, buat apa aku berteriak kesakitan?”
“Emir, aku senang kamu bersedia mengatur pernikahan mewah untukku. Tapi aku akan jauh lebih bahagia jika kita bisa melanjutkan upacara dengan kamu berdiri disisiku.”
Emir bicara dengan suara rendah. “Pada akhirnya kamu masih memperhatikan kecacatanku.” lalu diamenundukkan kepalanya untuk mencegah Arimbi melihat ekspresinya yang nanti akan membuat kesalahpahaman bahwa dia saat ini cukup sedih.
“Emir, aku tidak peduli dengan kakimu yang cacat. Kamu punya kesempatan untuk berjalan kembali jadi mengapa kamu harus melewatkan kesempatan itu? Aku melakukan semua ini untukmu tapi kamu selalu berpikir buruk. Jika aku memperhatikan kecacatanmu, aku bahkan tidak akan menyentuhmu sama sekali, apalagi menciummu.”
Emir tetap diam membisu.
“Sayang. Berhentilah merasa kesal oke? Harapanku adalah agar kamu bisa menjalani kehidupan yang bahagia setiap hari dan tersenyum padaku setiap hari. Kamu terlihat tampan ketika sedang tersenyum, tetapi kamu hanya kuijinkan tersenyum pada ku dan bukan pada wanita lain. Mengerti?”
“Kamu sombong sekali!” ujar Emir dengan suara rendah. Saat Emir mengangkat kepalanya dan Arimbi memperhatikan ekspresi wajah Emir tidak tampak kesal. Dia mengerjapkan mataya dan menangkap sesuatu. Lalu dia mencubit wajahnya dengan lembut dan marah, “Emir! Kamu menipuku lagi.”
“Aku tidak ada mengatakan kalau aku kesal. Kamu yang mengatakannya.” Emir memeluknya. Pada saat itu Arimbi pun membalas memeluknya dan menikmati perasaan memiliki tubuh yang hangat didekapannya.
“Arimbi, aku pasti akan mendapatkan kembali mobilitasku. Tetapi hal itu tidak akan mudah dan membutuhkan waktu. Aku butuh waktu dan ketekunan untuk menyelesaikan fisioterapi juga. Jika kamu mau aku berdiri disisimu saat kita melakukan upacara pernikahan, lebih baik kita tunda pernikahan kita.”
Arimbi tetap meringkuk dalam pelukannya dan suaranya terdengar sangat lembut, “Aku tidak masalah jika pernikahan kita lakukan sekarang atau dalam waktu dekat. Aku tidak peduli kamu masih duduk dikursi roda. Yang aku harapkan, kamu bisa berdiri disisiku saat kita merayakan ulang tahun pertama pernikahan kita. Oh iya sayang. Bukankah lebih baik kalau orang-orang mengira kamu masih cacat?”
__ADS_1
“Apa? Maksudmu?”
“Bayangkan kalau kamu sudah bisa berdiri normal lagi seperti dulu saat kita melangsungkan pernikahan, aku tidak bisa membayangkan pertempuranku dengan para wanita pemujamu. Tapi, jika mereka melihatmu masih duduk di kursi roda setidaknya mereka tidak akan menyerangkau sebrutal itu. Iyakan?”
“Iya. Ada benarnya juga ucapanmu kali ini. Tumben kamu pintar.” ejek Emir.
“Sayang, ayolah….istrimu ini memang pintar. Kamu saja yang belum tahu.” Arimbi tertawa pelan.
“Jadi kamu setuju kita mengadakan pernikahan dalam waktu dekat? Kalau begitu aku harus segera menyelesaikan daftar hadiahku untukmu.”
Emir menundukkan kepalanya dan mencium telinganya. Arimbi melihat kelantai disana ada kemeja yang robek menjadi dua dan tersenyum, “Sayang, kamu terlihat sangat seksi dan aku sangat terangsang. Apakah aku bisa hanya sekedar mengagumi atau aku bisa menikmatinya?”
Emir mengerucutkan bibirnya sebagai tanggapan dan tetap diam. “Arimbi! Kamu istri yang tidak bertanggung jawab! Kamu merobek bajuku dan membuka semua pakaianku. Sekarang apa maumu?”
“Hehe….sayang. Aku kan bersikap sopan padamu, aku bertanya apakah aku bisa menikmatinya?”
“Dasar tidak tahu malu! Biasanya juga kamu selalu menerkamku duluan. Kenapa sekarang minta izin?”
“Oh! Emir sayangku….aku senang sekali. Cepat katakan padaku kenapa kamu bersemangat sekali ingin kunikmati? Apakah aku sehebat itu, sayang?”
“Cih! Sombong sekali! Aku harap kamu tidak menyesalinya nanti.”
Emir pun membalas merobek pakaian istrinya lalu menerkam area favoritnya dan meremasnya membuat Arimbi mendesah. Dia melingkarkan tangannya dileher Emir, entah kapan semua pakaiannya sudah terlepas dan robek sebagai balasan suaminya. “Sayang.” suara lirih Arimbi terdengar di telinga Emir yang sibuk dibagian dada istrinya.
“Dorong aku ke tempat tidur.” ucap Emir. Arimbi langsung turun dari pangkuan suaminya dan mendorong kursi roda kearah tempat tidur.
Arimbi membantu Emir naik keatas tempat tidur, tapi justru Emir mendorongnya hingga terkukung dibawah pria itu. Keduanya saling menyentuh, sehingga suara ******* dan lenguhan keduanya terdengar memenuhi kamar.
__ADS_1