GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
4. Nama Rahasia


__ADS_3

"Aria."


Atash serius memperhatikan adiknya. Matanya tak berkedip. Sesuatu menyita penasarannya sejak lama, seakan dia berkomunikasi dengan sosok lain dalam wujud adik semata wayangnya itu.


Aria, nama adiknya. Duduk berhadapan dengan Atash, terpisah jarak satu meja di antara mereka berdua.


"Aria, apa semua terasa menyenangkan?" tanya Atash serius.


Aria, mengenakan piyama merah. Mengangguk tegas. Senyumnya itu yang mahal. Secangkir susu menghangatkan mereka pagi hari. Cuaca cerah, cahaya Sang Surya menerobos masuk dari jendela ruangan yang terbuka gordennya.


"Dunia ini indah," Aria mengucapkan satu kalimat yang menurut Atash terdengar aneh.


Atash sangat heran. Perubahan kondisi adiknya terlalu cepat. Kurang dari setahun, adiknya menjadi penyanyi, viral ke seluruh dunia. Kiranya apa yang terjadi, Atash juga belum memahami. Namun bukan perihal kepandaian Aria dalam olah vokal yang membuat Atash merasa janggal, melainkan lebih dari itu. Kesembuhan Aria dalam waktu relatif cepat, setelah penyakit itu kronis dan hampir merenggut nyawa adiknya itu.


"Keajaiban?" Atash tiba-tiba menyeletuk sembari tatap matanya tak luput dari Aria. Ekspresi adiknya bukan seperti orang sakit. Padahal Aria, sejak kecil menderita kelainan bawaan di paru-parunya.


"Aku sangat suka menyanyi, rasanya seperti ... Serambi Surga. Di atas panggung, aku merasakan bebas berekspresi, seperti panen bahagia," ujar Aria. Ungkapan kalimatnya terasa seperti bukan dari makhluk bumi.


Hanya Atash, kakaknya, yang tahu nama asli penyanyi Red Angel. Aria, nama gadis usia 17 tahun. Di balik nama Red Angel melejit sejak tersohor sebagai penyanyi, Aria hanya seorang penderita Pneumonia.


"Katakan sejujurnya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Atash. Berusaha menangkap jawaban terlintas di raut muka Aria memendam tawa.


"Kenapa?" Atash malah dibuatnya sedikit tegang.


"Apa maksud senyuman itu?" tanya Atash lagi. Pecah juga tawa Aria.


"Kakak jatuh cinta?!" Aria menutupi tawanya dengan kedua telapak tangan. Suara renyah cekikikan lembut. Tetapi Atash tak menghiraukan adiknya mengajak bergurau tentang Shinta yang beberapa hari lalu ditemuinya. Tawa aneh Aria lebih menyita kecurigaan Atash.


"Siapa kamu yang berdiam di tubuh adikku?" Atash tidak asal bicara. Mengelak dari candaan Aria.


"Kakak naksir Bu Shinta ya?" sisa tawa Aria mengguncang pundaknya. Kali ini Atash tak mengelak lagi. Kakaknya yang tampan tapi jomblo sampai sekarang.


"Ayo, mengaku ...," kata Aria, sedikit menggoda alisnya naik turun.

__ADS_1


"Sampai kapan Kakak hanya berteman tulang-tulang sisa masa lampau?" tanya Aria, mengalihkan pertanyaan kakaknya yang sedang curiga.


Bukan kalimat Aria yang membuat Atash heran sekaligus aneh. Tetapi tiap kata yang diucapkan adiknya itu, terasa mendalam. Seperti kiasan menyedihkan.


"Siapa yang mendiami tubuh adikku?" tanya Atash sekali lagi. Namun Aria terdiam kali ini.


"Apakah aku ... tidak bisa bersembunyi darimu lebih lama lagi?" ucapan Aria semakin meyakinkan Atash bahwa ada sesuatu yang janggal di balik gelagat Aria setahun belakangan.


"Ini bukan sekedar keajaiban, tetapi kejanggalan," kata Atash. Tepat kecurigaannya selama ini. Namun baru sekarang, Atash memberanikan diri untuk menanyakannya secara langsung.


"Siapapun kamu, aku tidak menyalahkan dirimu. Selama kamu tidak menyakiti adikku," kata Atash melumerkan suasana. Sementara Aria, mulai canggung memegangi secangkir susu hangat. Jemarinya agak gemetaran, Atash tahu itu.


"Setidaknya, aku ingin mengenalmu lebih banyak," lanjut Atash dengan nada lembut, tak ingin menakuti Aria.


"Kakak memiliki kemampuan melihat hal tak kasat mata, berbeda dari orang lain," kata Aria mulai topik pembicaraan lain.


"Aku dokter bedah. Aku juga asisten dokter forensik. Ahli forensik mana yang tidak bersentuhan dengan jasad mati?" tanya Atash balik. Menatap lurus sepasang mata Aria, menyiratkan pilu dan rahasia terpendam.


"Aku sering menemui mereka yang sudah mati," lanjut Atash tak banyak basa-basi lagi, "... atau ... mereka yang menemui aku."


"Aku suka hadiah dari Kakak," Aria mengeluarkan kalung dengan liontin dari balik dada, tertutup piyama yang dikenakannya.


Atash barulah tersadar. Liontin itu.


"Ah!" agak terpekik dia mengingat kembali benda yang pernah dijadikan hadiah ulang tahun untuk Aria pada tahun lalu.


"Itu ...," terpejam mata Atash sembari menghela nafas.


"Liontin ini, Cempaka Semerah Darah," kata Aria tersenyum lebar, memperhatikan liontin-nya sendiri. Tak dapat dicegah, sumringah giginya berderet rapi.


Liontin itu dibawa kemanapun Aria pergi. Atash ikut mengamati benda berbentuk ukiran bunga. Di tengahnya terdapat sejenis kristal merah redup. Bahkan ia baru tahu sekarang, jika ukiran itu disebut sebagai bunga cempaka. Awalnya, dikira itu ukiran bunga mawar.


Tetapi satu hal membuat Atash mengernyitkan dahi.

__ADS_1


'Cempaka Semerah Darah, apalagi itu?' rasa heran kembali menyelimuti pikirannya. Semakin yakin, bahwa ada sesuatu yang merasuki diri Aria. Adakah hubungannya dengan liontin yang dimaksud.


'Bip ....'


'Bip ....'


'Bip ....'


Alarm ponsel tergeletak tidak jauh di meja, sedikit membuyarkan pikiran Atash. Sebentar ia segera mematikannya.


"Aku ke bawah dulu," kata Atash. Sebenarnya ingin membahas lebih banyak lagi tentang liontin milik Aria. Tetapi jadwal padat harian, memaksa Atash harus bergegas, menuju lantai dasar kediaman mereka berdua.


"Aria," kata Atash sebelum menuruni tangga, sempat menoleh pada Aria.


"Simpan liontin itu baik-baik," kata Atash. Aria tersenyum dan mengangguk.


"Dengan nyawaku," jawab Aria singkat.


Terdengar heran, namun Atash tak punya banyak waktu luang untuk menghiraukan kalimat Aria. Ada pekerjaan penting yang harus segera ditangani.


Tak menunda waktu lebih lama lagi, Atash menuju lantai bawah. Derap langkah kakinya menuruni anak tangga. Sesampai di lantai bawah, kemudian ia hendak menuruni satu lagi lantai lagi di bawahnya. Dinyalakannya saklar lampu sepanjang koridor tangga menuju ruangan bawah tanah. Cukup menerangi namun lumayan samar-samar karena hanya satu lampu yang dinyalakan dari enam set lampu keseluruhan.


Di ujung anak tangga, sebuah pintu menyambutnya. Atash membuka pintu itu tak terkunci. Tampaklah satu ruangan luas, tertata perangkat kerja lengkap, meja otopsi, mikroskop digital, satu komputer dan mesin cetak. satu perangkat lampu sorot berspesifikasi 6000 watt yang biasa digunakan para medis untuk prosedur bedah. Juga beberapa poster tentang bagan tubuh dan tulang manusia, terpasang di dinding sekitar ruangan.


Satu yang terletak di sudut ruangan, lemari khusus menyimpan benda hasil kerja atau barang berharga temuannya. Satu lagi, lemari pendingin khusus penyimpanan jasad. Tetapi Sudah lama lemari itu kosong.


Hari ini, pekerjaan cukup banyak. Sudah tertunda beberapa hari. Satu kantong plastik terpal hitam, isinya penuh. Atash membuka kantong itu dan mengeluarkan semua isinya dijajar di meja otopsi dan lampu sorot medis dan khusus bedah, juga dinyalakan.


Suara plastik dalam ruangan hening. Atash menyentuh sesuatu di antara benda-benda bernilai dijajar. Sejenis bongkah tulang.


"Apa ini?" Atash makin memasang kedua matanya lebar-lebar.


Dibolak-balik berbagai sisi, bongkah di kepal tangannya, benar itu tulang yang sudah diselimuti lumut tebal namun kering. Dikira semula bebatuan atau fosil hewan sebagaimana artefak lainnya.

__ADS_1


"Tulang ...?!" Atash mengernyitkan dahi. Di bawah lampu sorot tajam, benda yang sedang menjadi perhatiannya. Terbukti wujudnya tulang.


...* * *...


__ADS_2