
“Tu—Tuan….ada sedikit masalah. Di luar ada Tuan Emir dan Arimbi serta keluarga Ganesha yang baru datang bersama polisi.” kata pengawal itu melaporkan pada Dion.
Dion mengerutkan alisnya mencoba mencerna perkataan pengawalnya itu. “Usir mereka! Apa yang kalian lakukan, hah? Arimbi ada didalam kamarku! Kenapa dari tadi kalian selalu bilang Arimbi ada diluar bersama Emir?”
“Tadi kata Nona Arimbi kalau wanita yang kami culik tadi malam bukan Nona Arimbi yang asli. Ta---”
“Apa kamu bilang? Ulangi lagi!” Dion meninggikan suaranya dengan tatapan nyalang.
“Maaf, T-Tu-Tuan…..Nona Arimbi sendiri yang bilang kalau wanita yang kami culik tadi malam adalah Nona Joana yang mengenakan topeng wajah Nona Arimbi!” ujar pengawal itu menjelaskan.
Wajah Dion langsung pias, dia menoleh kearah kamar. Joana masih berbaring diatas ranjang dan tak bergeming sejak tadi. Dion melangkah masuk dan berdiri ditepi ranjang menatap wanita itu.
“Arimbi! Bicara padaku? Apa yang dikatakan pengawal itu benar?” tanya Dion. Didalam hatinya dia tak percaya dan masih merasa jika Emir dan Arimbi mencoba menipunya.
Saat bersamaan terdengar suara ribut-ribut dari lantai bawah. Arimbi yang marah dan tak bisa mengendalikan dirinya menghajar pengawal Dion.
Sedangkan Joana yang berpura-pura tidur tak merespon. Dia semakin ketakutan tapi saat tadi dia mendengar kalau kedua orangtuanya juga datang bersama polisi, Joana menghela napas lega.
Itu berarti besar kemungkinan dia akan keluar dari tempat ini. Seluruh tubuhnya lemas karena semalaman dihaajar oleh Dion yang terlalu menggebu-gebu.
“Arimbi! Bangun Arimbi! Kamu baik-baik saja?” tangan Dion menyentuh wajah Joana yang lembut.
“Euughhhh….” Joana hanya menjawab dengan lenguhan lirih tanpa menbuka matanya. Namun tiba-tiba saja…..
BUG BUG!
Suara pukulan dan teriakan pengawal yang berdiri di depan pintu kamar Dion terdengar diiringi dengan suara benda jatuh. Arimbi melumpuhkan pengawal itu bersama Rino yang datang membantunya.
“Dion brengsek!!!!!” suara Arimbi terdengar menggema memenuhi kamar itu. Dengan cepat Arimbi memukul Dion yang dalam kondisi terkejut sehingga tidak sempat menghindar.
Satu pukulan Arimbi tepat mengenai tengkuknya sehingga Dion meringis. Saat dia menoleh, betapa terkejutnya dia melihat ada wajah Arimbi lainnya berdiri dihadapannya. Dion mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang dilihatnya itu nyata.
Arimbi melangkah menghampiri ranjang, “Joana! Joana!” namun Dion menghalanginya. “Siapa kamu? Berani-beraninya kamu masuk ke kamarku!” teriak Dion dengan marah hendak menarik Arimbi menjauh tapi wanita itu berhasil menghindar.
__ADS_1
“Brengsek! Bajingan! Kamu apakan Joana?” teriak Arimbi. Disaat bersamaan kedua orang tua Joana pun memasuki kamar itu.
“Arimbi! Dimana Joana?” tanya Jayanti ibunya Joana. Lalu dia menoleh pada Dion, “Tuan Dion? Ap—apa yang terjadi disini?” mata wanita itu terbelalak melihat pemandangan kamar yang berantakan.
Tak butuh waktu lama, dia pun paham apa yang sudah terjadi. Airmatanya tumpah lalu menghamburkan dirinya kearah ranjang dan memeluk Joana.
“Joana! Joana! Kenapa denganmu? Apa yang terjadi?” wanita itu menurunkan selimut yang menutupi wajah Joana dan dia tampak terkejut melihat wajah didepannya.
“Tuan Harimurti. Maaf atas kedatangan kami yang tiba-tiba kesini. Kami menerima laporan dari Tuan Ganesha perihal anak buah anda yang menculik Nona Joana tadi malam.” ujar salah seorang polisi.
Dion masih berdiri terpaku, seolah-olah dia sedang berpikir dan mencerna semua yang baru saja terjadi. Kenapa ada dua Arimbi? Apakah ada kesalahan atau dia sedang bermimpi? Dion terlihat tak bergeming dengan tatapan lurus kearah ranjang.
“Bajingan! Kenapa kamu diam saja?” teriak Arimbi. “Kamu benar-benar kejam Dion! Kamu sudah menghancurkan hidup dan masa depan sahabatku!” teriak Arimbi terisak. Dia mendekati Joana lalu menyentuh wajahnya.
“Kalian lihat baik-baik. Siapa Arimbi yang sebenarnya!” selesai mengucapkan itu, Arimbi berusaha melepaskan topeng wajah Joana.
“Maafkan aku!” ucap Arimbi dengan sedih.
Dion bisa mendengar dengan jelas Arimbi yang berbarin di ranjang memanggil nama Arimbi pada wanita didepannya. Dion pun segera menghampiri dan tatapan matanya berubah tajam dan memerah.
“Cepat katakan! Siapa kamu? Kenapa wajahmu sama seperti Arimbi?”
“Dasar bodoh! Sudah kukatakan kalau aku adalah Arimbi!” saat itu juga Arimbi menarik topeng wajah itu hingga menampakkan wajah asli dibalik topeng itu.
Tanpa sadar Dion mundur dua langkah saat dia melihat wanita didepannya yang semalam telah dia renggut kesuciaannya adalah Joana, bukan Arimbi.
“Kurang ajar! Kalian menipuku hah?” teriak Dion marah. Dia merasa telah tertipu!
“Kamu yang bodoh! Dia memang memakai topeng wajahku tadi malam! Dia menggantikanku untuk menemui Tuan Jordan! Bukan untuk menipumu! Lihat apa yang kamu lakukan padanya? Bajingan! Brengsek kamu! Dion….aku tidak akan pernah memaafkanmu!” ujar Arimbi penuh amarah.
Sedangkan Joana terisak dalam pelukan ibunya.
“Keluar! Keluar kalian semua dari sini!” teriak Dion yang marah.
__ADS_1
“Aku tidak akan kemana-mana sampai urusanku denganmu selesai, Dion! Kamu sudah menghancurkan sahabatku! Kamu pikir aku akan diam saja?” ujar Arimbi yang menatap Dion dengan menantang. “Cih! Tak kusangka pria terhormat sepertimu sangat rendahan dan tak bermoral!”
Lalu Arimbi menoleh menatap Joana dan ibunya yang sedang membantu memakaikan baju pada Joana.
“Tante, tolong bawa Joana keluar!” pinta Arimbi.
“Joana, aku akan melindungimu dan mendapatkan keadilan untukmu! Aku janji!”
Joana yang menundukkan wajahnya hanya menganggukkan kepala lalu berjalan keluar kamar dengan dibantu ibunya.
“Tuan Dion. Mari kita bicarakan masalah ini dan diselesaikan secara kekeluargaan jika bisa.” kata salah satu polisi memberanikan diri untuk bicara.
“Keluar!” Dion mengarahkan telunjuknya ke pintu. Polisi tak bergeming dan tetap berdiri ditempatnya.
“Tuan Harimurti! Anda sudah melanggar hukum, mari ikut dengan kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”
Saat itu Emir tiba didepan pintu kamar itu sambil tersenyum sinis, “Seseorang yang tidak bisa mengendalikan dirinya hanya akan mendatangkan kehancuran!” ucap Emir menyindir Dion.
“Ini pasti jebakan yang kamu buat kan?” Dion mulai menuduh Emir. “Cih! Murahan sekali trik mu untuk menjatuhkanku Emir!”
“Bukankah kamu yang menjatuhkan dirimu sendiri? Terlalu berambisi mengejar istriku, hingga kamu tidak bisa mengendalikan dirimu untuk merebut istriku? Fuuh! Aku tidak perlu membuat trik murahan untuk menghancurkanmu Dion Harimurti! Kamu masih sebodoh dulu!”
“Kurang ajar! Jaga bicaramu Emir!” pekik Dion marah. “Aku masih bermurah hati dan kasihan padamu makanya aku tidak menghajarmu! Pria lumpuh sepertimu bisa apa melawanku?”
“Ha ha ha…..banyak hal yang bisa kulakukan Dion! Salah satunya adalah membuat bayi dengan istri tersayangku! Sedangkan kamu, hanya bisa menghancurkan hidup orang lain dan hidupmu sendiri.”
Lalu Emir menatap polisi yang berdiri didekatnya, “Kenapa kalian diam saja disini? Orang ini harus mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sudah menculik dan menghancurkan hidup dan masa depan dari putri keluarga Ganesha!”
Emir memutar kursi rodanya sambil berkata, “Kamu bisa melihat rekaman CCTV kelab malam itu! Anak buahmu yang bodoh membawa orang yang salah! Ternyata mereka semua adalah kumpulan orang-orang bodoh!” dengan sinisnya Emir menyindir Dion dan para pengawalnya.
“Sayang, aku keluar. Kamu tidak boleh berkelahi, kasihan anak kita nanti.” ucap Emir dengan sengaja mengelus perut Arimbi yang masih datar didepan Dion Harimurti.
__ADS_1