
Pintu ruangan itu terbuka dan seorang pelayan masuk diikuti oleh seorang wanita paruh baya berwajah sangat cantik. Ya, wanita itu adalah Rania Serkan ibunya Emir. Setelah pelayan itu menutup pintu ruangan, kini hanya ada kedua wanita itu duduk saling berhadapan. Zivanna sudah memesan minuman dan makanan untuk mereka berdua.
“Nyonya Serkan, sebaiknya kita makan dulu. Saya sudah memesankan makanan terbaik dari restoran ini.” ujar Zivanna dengan sopan dan lembut. Kedua wanita itu pun menyantap makanan yang sudah terhidang sambil sesekali berbincang ringan. Setelah pelayan datang kembali untuk membersihkan meja, barulah Zivanna membuka mulutnya.
“Nyonya Serkan, sebenarnya ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda.”
“Baiklah. Saya senang bertemu denganmu kembali Nona Zivanna. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, dan kamu juga sudah tidak pernah lagi datang ke kediaman Serkan sejak…...”
Rania tidak melanjutkan ucapannya. “Nyonya Serkan. Saya minta maaf untuk itu, bukan maksud saya untuk memutuskan berhenti mengejar Tuan Emir. Sejujurnya saya masih sangat mencintainya dan mengharapkan bisa mendampinginya tetapi keadaannya membuat keluargaku…..”
Rania terlihat murung setiap kali dia teringat putra sulung kesayangannya itu. Karena kondisinya, terpaksa menikahi wanita kampung seperti Arimbi. Sejak dulu keluarga Serkan sudah merasa bahwa putri keluarga Lavani lah kelak yang akan menikahi Emir. Status kedua keluarga itu sangat cocok dan ini akan mendatangkan banyak keuntungan bagi keluarga mereka.
Seandainya situasi Emir sekarang ini hanya lumpuh saja tetapi kondisi lainnya masih normal mungkin masih banyak gadis-gadis dari keluarga kaya yang bersedia menikahinya.
“Aku paham. Bagaimanapun situasi putraku setelah kecelakaan itu…..kamu layak mendapatkan pria pa kamu ingin membicarakan perihal kejadian kemarin malam?” tanya Rania setelah diam sejenak.
Seperti yang sudah direncanakan oleh Zivanna, untuk bisa berhasil membalas Arimbi maka dia harus keluar dari kediaman Serkan. Dan itu yang ingin dilakukan oleh Zivanna, jika Arimbi tidak lagi tinggal di kediaman Keluarga Serkan maka Arimbi akan mudah dikalahkan! Sudah tidak ada lagi perlindungan yang didapatnya.
“Nona Zivanna! Sebenarnya ada hal yang ingin kusampaikan padamu. Jujur, aku tidak menyukai Arimbi tetapi…..”
“Tetapa apa? Nyonya Serkan apakah ada hal yang harus aku ketahui? Jika Tuan Emir sembuh, aku bersedia menikah dengannya! Aku berjanji! Tapi apakah masih ada kemungkinan dia sembuh?”
“Dia sedang menjalani rehabilitasinya sekarang! Aku yakin dalam waktu dekat dia akan segera pulih kembali. Setelah itu mungkin dia akan mengikuti pengobatan lainnya untuk mengembalikan vitalitasnya. Apakah kamu mau menunggu sampai dia benar-benar sembuh?”
__ADS_1
Zivanna memasang ekspresi malu-malu, bagaimana pun Emir sudah pernah menolaknya dulu. Tapi jika dia mendapatkan dukungan dari semua keluarga Serkan mungkin dia bisa meminta keluarganya untuk menekan mereka agar dia bisa menikahi Emir setelah pria itu sembuh. Memikirkan adanya kemungkinan Emir akan sembuh, sontak benaknya memikirkan sebuah rencana.
Untuk mendapatkan pria yang dicintainya, Zivanna rela melakukan apa saja meskipun itu dengan cara yang licik. Saat saudara laki-lakinya menyarankan itu padanya untuk mendapatkan Dion Harimurti, dia menolaknya karena dia tidak terlalu menyukai pria itu. Dion hanyalah pelarian saja karena dia sudah tidak mungkin mendapatkan Emir lagi.
Tapi setelah bertemu dan berbicara dengan Rania, Zivanna kembali bersemangat dan bertekad akan kembali mengejar Emir jika benar pria itu akan segera sembuh. Bagaimanapun dia akan segera mencari cara untuk menyembuhkan Emir. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya sedikit ragu. Emir…..pria itu sangat kasar dan dingin padanya.
Zivanna kembali geram jika mengingat perlakuan Emir padanya, dibandingkan perlakuan pria itu pada Arimbi yang selalu bersikap baik dan lembut padanya. Dia kembali bimbang apakah dia membuat keputusan tepat? Bukankah dia ingin membalas dendam pada Emir sebelumnya? Ah….tidak….tidak….dia tidak boleh lemah!
Dia sudah berjanji pada saudara laki-lakinya untuk menjatuhkan Emir dan perusahaannya. Kemunculan Marcel Arkatama membuka peluang bagi Zivanna untuk melakukan itu. “Ah, itu bagus sekali! Apakah ada kemungkinan dia akan sembuh total dan kembali seperti semula?” tanya Zivanna penasaran.
“Ya. Besar kemungkinannya jika dia menjalani rehabilitasi dengan rutin! Sekarang sebenarnya dia sudah mengalami kemajuan yang cukup bagus. Dia bisa berdiri beberapa detik, itu cukup bagus!” ucap Rania lagi sambil tersenyum. Dia berharap ini akan membuka kembali pintu hati Zivanna untuk mendekati putranya itu.
Zivanna hanya tersenyum. Dia bersikap seolah memberi harapan pada Rania bahwa dia akan menunggu Emir sembuh dan mengejarnya kembali. Tapi Rania tidak pernah tahu jika Zivanna memiliki dendam karena sakit hati pada Emir.
Rania menghela napas panjang, “Ya aku tahu.”
“Apakah wajar jika seorang pengasuh gratis seperti Arimbi itu mendapatkan hadiah semahal itu? Aku rasa dia bukan sekedar pengasuh gratis! Pasti dia merayu Tuan Emir, arrgggg…….aku sangat membencinya! Dia wanita murahan!”
“Ehm….Nona Zivanna sebenarnya…...” Rania agak ragu untuk mengatakannya tetapi bagaimanapun dia ingin menyingkirkan Arimbi. Jadi dia memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. “Arimbi bukan pengasuh Emir.”
“Ah! Sudah kuduga! Wanita udik itu pasti lebih dari sekedar pengasuh biasa! Apakah dia juga melayani Tuan Emir diranjang? Iyakan? Kalau tidak mana mungkin Tuan Emir memperlakukannya begitu istimewa.”
“Bukan! Bukan seperti itu. Arimbi itu istri Emir!”
__ADS_1
Zivanna menatap Rania tanpa berkedip. Mulutnya ternganga tak percaya apa yang baru saja dia dengar. “A---apa? Arimbi istri Tuan Emir? Nyonya Serkan….itu tidak mungkin. Semua orang di kota ini tahu kalau Arimbi menolak menikahi Tuan Emir dan akhirnya dia terpaksa bekerja sebagai pengasuhnya tanpa dibayar.”
“Mereka akan segera melaksanakan pesta pernikahan. Mereka sudah menikah resmi! Kami juga baru tahu hal itu saat aku pulang dari liburan diluar negeri! Aku tidak tahu apa yang dipikirkan putraku itu!”
Zivanna mengepalkan kedua tangannya dibawah meja! Tidak! Ini tidak mungkin! Ini tidak boleh terjadi! Si udik itu menikahi Emir?
********
PRAANNGGG! PRAAANNNNGGG
Seluruh barang-barang diruangan itu dibanting hingga hancur berkeping-keping. Kemarahan Zivanna sudah mencapai puncaknya. “AAARRRGGGGGG!” teriaknya kencang. Kamarnya yang kedap suara membuat semua kekacauan itu tidak terdengar keluar.
“Zivanna…...Zivanna…….apa kamu sedang sibuk?” Gio mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. Samar-samar dia mendengar suara-suara dari dalam kamar. Karena khawatir, dia bergegas meminta pelayan untuk mengambilkan kunci serap kamar adiknya itu. Tak berapa lama pelayan memberikan kunci serap pada Gio.
Pintu itu terbuka dan menyajikan pemandangan yang membuat mata Gio dan pelayan yang berdiri dibelakangnya terkejut dan membelalakkan mata.
Zivanna menatap Gio dengan nanar, terlihat jelas dia sedang marah. Kedua matanya merah dan dadanya naik turun menahan emosi. Gio langsung menyuruh pelayan itu pergi, dia mencengkeram lengan Zivanna dan mendudukkannya diatas ranjang.
“Kenapa kamu menghancurkan semua barang-barangmu? Apa kamu bertengkar lagi dengan Arimbi?”
“AKU INGIN MEMBUNUHNYA! AKU MAU DIA MATI!” teriak Zivanna kencang.
“Sssshhhh…..tenanglah! Kenapa kamu sampai begini? Katakan padaku apa yang terjadi! Aku akan menghajar perempuan itu karena sudah membuatmu seperti ini!” ujar Gio yang sangat membenci Arimbi. Entah mengapa dia membenci nama itu, apalagi Zivanna selalu dibuat kacau oleh Arimbi setiap kali mereka bertengkar. Belum pernah ada seorang pun yang berani memperlakukan adiknya seperti ini.
__ADS_1