
“Aku punya! Kenapa aku butuh surat nikahmu? Aku tidak butuh banyak surat nikah.”
“Tunggu, kamu masih punya berapa banyak? Akan kutuntut kamu karena bigami!” jawab Emir dengan cepat yang membuatnya hampir tersedang ludahnya sendiri.
“Sayang, beritahu aku. Apa kamu punya salinan surat nikah punyaku?”
“Apa kamu pernah melihatnya ada padaku?” tanya Emir balik.
“Tidak sih. Tapi kalau tidak ada padamu, apa mungkin dia kabur sendiri? Dia kan tidak punya kaki? Atau jangan-jangan dia terbang? Ah, aku tahu….kurasa dia selingkuh dariku. Apa yang harus kulakukan, sayang?” ujarnya mengerucutkan bibirnya.
“Pfff….hahaha….” seseorang tertawa terbahak-bahak.
Arimbi dan Emir saling tatap karena bukan mereka yang tertawa. Merekapun menoleh ke depan dan melihat Rino yang menggigit bibirnya dan berusaha keras menahan tawanya seraya memperingatkan supir, “Pak..fokuslah menyetir.”
Oh...ternyata yang baru saja tertawa adalah sang supir?
“Maafkan aku Tuan Emir. Aku sudah berusaha menahannya.” meskipun dia sudah berusaha menahan tawa tapi dia gagal.
“Lupakan saja.” ujar Emir masa bodoh. Ini adalah reaksi yang wajar mengingat bahwa kelakuan bodoh bisa mengubah suasana menjadi komedi lucu. Apalagi perkataan Arimbi itu terdengar lucu, dia bilang surat nikahnya berselingkuh? Bukankah itu suatu sindiran pada Emir bahwa dia berselingkuh? Dan Arimbi menanyakan apa yang harus dia lakukan pada suaminya jika berselingkuh?
Sang supir seperti orang lain juga yang percaya rumor bahwa Emir adalah pria impoten lantas tertawa mendengar itu, dia membayangkan bagaimana seorang pria impoten bisa selingkuh? Lalu ketahuan istrinya dan dihajar habis-habisan?
Apalagi istrinya modelan Arimbi yang cantik imut tapi kejam. Mereka sudah melihat bagaimana Nyonya mudanya itu memperlakukan Emir. Tidak bisa dibayangkan kalau Arimbi menghajar Emir kalau berselingkuh.
__ADS_1
Baik sang supir maupun Rino tak ada yang berani merespon Emir tapi Arimbi adalah pengecualian. “Sayang, apa kamu mau bilang kalau aku tak tahu malu? Bagaimana bisa aku tak tahu malu kalau punya suami setampan dirimu, sayang? Kurasa langit dan bumi memberkatiku bisa punya suami hebat dan tampan sepertimu. Membuatku aaarrrrrr….” Arimbi berkata sambil membuat suara menggemaskan yang membuat Emir semakin sakit kepala dengan tingkah istri nakalnya itu.
“Arimbi Saraswaty Rafaldi! Bukankah kamu memang tak tahu malu?”
“Ya memang kadang aku malu, tapi tidak di saat-saat seperti itu. Tapi kalau bersamamu, rasa maluku sudah hilang, sayang. Kamu menggemaskan! Mana bisa aku tahan diri.”
Pria tampan dan teramat cerdas itu dibuat tergangamendengar kalimat yang sangat tak masuk dari istrinya itu.
Karena merasa tak berdaya menghadapi istrinya, Emir hanya menarik kepala wanita itu kedadanya lalu melingkarkan lengannya erat padanya. Seolah ingin meremukkan kepala wanita itu. Dia sok, tak tahu malu pula! Tapi aku suka wanita ini!
Setelah beberapa lama, wanita didalam dekapannya itu mulai hening, tak ada lagi omelannya terdengar. Lengan yang melingkar ditubuh wanita itu mulai mengendur sementara matanya mengamati Arimbi yang sedang tertidur.
Meskipun Emir tertegun, dia tidak mendorong ataupun membangunkan wanita itu. Dia hanya membiarkannya tertidur dalam pelukannya, kepala Arimbi terbenam didada suaminya dan kedua tangannya memeluk pinggangnya.
Arimbi yang tertidur pulas dalam dekapan suaminya tak sadar jika tangannya bergerak-gerak menyentuh bagian sensitif Emir yang membuat pria itu menarik napas panjang. Dia ingin melepaskan wanita itu dari dekapannya tapi melihat wajah cantik istrinya yang pulas membuatnya mengurungkan niatnya. Emir terus saja memandangi wajah Arimbi, dia mengingat kembali semua yang terjadi pada Arimbi akhir-akhir ini.
Di pesta perjamuan tadi Zivanna mempersulit Arimbi sementara Emir sedang berurusan dengan Reza. Ketidak hadiran Emir di sisi Arimbi saat dia dirundung Zivanna sehingga Dion Harimurti yang datang menyelamatkan Arimbi membuat Emir tak senang.
Dia tidak bisa melindungi istrinya saat itu dan musuh bebuyutannya malah mengambil kesempatan untuk menjadi pahlawan menyelamatkan Arimbi.
Kalau saja dia bisa berjalan, dia pasti sudah berlari dan melindungi istrinya dari semua gangguan. Lalu Emir mengelus wajah Arimbi dengan lembut dan berbisik, “Arimbi! Aku pasti akan berdiri dengan kakiku lagi di masa depan. Aku akan melindungimu dari apapun. Aku janji!” ujar Emir. Demi wanita itu dan demi dirinya, dia berjanji akan berdiri kembali.
Walaupun Emir berharap Arimbi bisa jadi lebih kuat untuk bisa melewati semua keadaan sulit nantinya, tapi dia telah berjanji pada ibu mertuanya bahwa dia akan melindungi wanita itu seumur hidupnya sebagai seorang suami.
__ADS_1
Meskipun dia tidak punya perasaan cinta pada wanita itu tapi dia sangat menyukainya. Menyukai semua tentangnya, wajah cantiknya, tubuh seksinya, kepolosan, ketulusan, tingkah lakunya yang tak tahu malu, semuanya…..dia suka semua.
Saat mereka tiba dirumah, Arimbi masih belum bangun sehingga Emir terpaksa memangkunya dikursi rodanya dan membawanya ke kamar. Bahkan saat ingin mengeluarkan Arimbi dari dalam mobil, dia tak mau seorangpun yang menyentuh istrinya. Dia sendiri yang berusaha keras membawa Arimbi dari dalam mobil. Sampai-sampai napasnya terengah-engah.
Setibanya didalam kamar, Emir meminta pelayan wanita yang membantu memindahkan Arimbi ke atas tempat tidur. Melihat itu, tekad Emir semakin kuat agar segera sembuh dan bisa berdiri lagi. Dia ingin menggendong istrinya dan ingin berlari memeluknya.
Kondisinya sekarang tidak memungkin untuk melakukan semua itu. Dia menelepon Beni dan memberitahukan untuk mengatur ulang jadwal fisioterapinya. Jika sebelumnya hanya sekali seminggu, kini dia minta dilakukan tiga kali seminggu.
Semuanya demi wanita itu!
Saat Emir keluar dari kamar mandai dan ingin membantu melepaskan gaun yang dipakai Arimbi karena dia khawatir wanita itu tidak akan merasa nyaman tidur mengenakan gaunnya.
Dia melihat gaun merah itu sudah terongok dilantai dan Arimbi tidur dengan hanya mengenak pakaian dalamnya saja. Jakun Emir naik turun melihat tubuh montok istrinya.
‘Tidur pun dia masih bisa melepaskan gaunnya? Apa dia pura-pura tidur ya? Atau, jangan-jangan dia sengaja ingin mengerjaiku?’ ujarnya dalam hati. Emir berbaring diatas tempat tidur melirik Arimbi yang tidur menyamping.
Arimbi mengenakan dalaman berwarna merah sehingga tampak menggoda. Bagian dadanya yang menonjol membuat Emir memejamkan mata berusaha menenangkan pikirannya.
Kembali untuk kesekian kalinya, dia bertekad akan sembuh. Dia pria normal dan mereka sudah melakukannya beberapa kali, melihat istri cantiknya yang menggoda pastilah hasratnya bergelora. Tapi apa daya, kakinya tak bisa digerakkan sehingga Emir hanya bisa diam menatap sekujur tubuh didepannya sambil menahan napas.
‘Arimbi! Kamu harus bertanggung jawab! Enak sekali dia tidur pulas, sudah kucubit pipinya pun tak bangun juga! Aissss…..bagaimana ini? Kepalaku sudah sakit.’ bisik hatinya. Lalu dia duduk menarik selimut menutupi tubuh Arimbi.
Godaannya terlalu besar, untuk malam ini dia terpaksa puasa dulu! Emir turun dari ranjang menaiki kursi rodanya. Emir terpaksa merendam diri di air dingin malam ini. ‘Dasar wanita tak berperasaan! Sudah menggodaku dan membuat kepalaku sakit! Dia malah enak-enakan tidur!
__ADS_1