GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 298. MENUNJUKKAN FOTO


__ADS_3

Seperti biasa mereka menuju ke presidential suite. Ini pertama kalinya Mosha dan Yadid makan di hotel ini karena sangat sulit untuk reservasi untuk jamuan makan di hotel ini yang selalu sudah full booking.


Saat melihat tempat itu, Mosha dan Yadid terpana betapa mewahnya presidential suite di hotel ini. Tidak salah jika hotel ini adalah yang terbaik, saat melihat banyaknya hidangan yang tersedia diatas meja, lagi-lagi Yadid dan Mosha saling pandang merasa agak heran. Karena hampir semua makanan yang terhidang adalah makanan kesukaan Arimbi.


 


“Ayah, ibu…..silahkan dinikmati makanannya. Ini semua menu terbaik di hotel ini dan saya memesankan beberapa makanan kesukaan kalian.” ucap Emir. Tak berapa lama, beberapa pelayan masuk dengan troli membawa beberapa menu makanan lainnya.


 


“Tuan Emir, ini banyak sekali.” ucap Mosha agak malu dan senang karena satu troli yang baru datang berisi makanan kesukaannya. Dan troli satunya lagi khusus untuk makanan kesukaan Yadid.


“Jangan sungkan! Panggil namaku saja Bu! Aku inikan menantumu.”


“Ah iya...iya benar juga! Terima kasih sudah mengundang kami makan siang.” ucap Mosha.


“Emir, terima kasih.” ucap Yadid.


 


“Sama-sama ayah.”


Ini pertama kalinya juga Mosha dan Yadid bertemu dengan anggota keluarga Serkan lainnya. Agha juga tampan seperti Emir dan dia memiliki selera humor yang baik sehingga suasana makan siang itu tidak terlalu kaku dengan obrolan ringan dari Agha diselingi cerita lucu untuk mencairkan suasana.


Kali ini Agha merasa senang karena dengan kehadiran kedua orang tua Arimbi maka Emir tidak berani memarahinya.


 


Setelah selesai makan siang, dengan sigap para pelayan membersihkan meja dan ruangan itu kembali bersih. Tak lama pelayan kembali membawakan kopi dan teh beserta beberapa cemilan.


“Apa semuanya sudah siap?” Tanya Emir pada adiknya.


“Sudah! Aku sudah meminta staff untuk mengarahkan mereka ke aula. Semuanya sudah siap.”


 


“Bagus! Kamu tunggu dibawah saja. Ada hal yang harus kami bicarakan dulu disini. Kami akan menyusul kebawah.” ucap Emir lagi yang langsung dijawab Agha dengan anggukkan lalu pergi.


“Emir, ada apa sebenarnya?” tanya Yadid yang merasa bingung.


“Ayah, apa ada sesuatu yang ingin ayah ceritakan padaku?”


 


Yadid menatap istrinya lalu mengeryitkan dahinya karena tak paham. Sebelum dia mengatakan sesuatu Arimbi sudah mendahuluinya, “Ayah, semua yang terjadi di kota ini pasti diketahui Emir.”

__ADS_1


Begitu Arimbi selesai bicara, akhirnya dia paham apa yang dimaksudkan Emir tadi. “Ehem….begini. Emir, ini bukan hal besar. Dalam bisnis hal seperti ini lumrah terjadi tapi aku akan menyelesaikan.”


“Ayah, aku ini menantumu! Itu berarti keluarga Rafaldi adalah keluargaku juga. Apa pun yang terjadi pada keluarga istriku maka itu juga ada hubungannya denganku.”


 


Mosha yang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi menatap ketiga orang itu bergantian. Dia tidak paham apa yang sedang mereka bicarakan.


“Suamiku. Sebenarnya ada apa?”


“Ibu, bukan masalah besar. Kami masih bisa mengatasinya.”


“Kenapa kalian tidak memberitahuku kalau ada masalah?” tanya Mosha.


 


“Bu, sengaja ayah tidak memberitahu ibu karena tidak ingin ibu jadi khawatir! Bu, sebenarnya pagi ini tiba-tiba perusahaan mendapat masalah. Semua proyek yang sedang dikerjakan dan proyek yang sedang menunggu penandatanganan kontrak tiba-tiba dibatalkan tanpa sebab.”


 


“Oh ya ampun! Kenapa bisa begitu? Yadid, apa seburuk itu?”


“Tenanglah. Biar kami menyelesaikannya. Amanda sedang menemui orang-orang itu sekarang untuk menyelesaikan masalah ini. Kita tunggu saja kabar baik dari Amanda.” ucap Yadid.


Mendengar perkataan ayahnya yang masih memiliki kepercayaan pada Amanda langsung membuat Arimbi geram karena dia sudah menerima foto-foto dan video yang dikirimkan Joana padanya.


 


“Ayah…..apa ayah yakin Amanda pergi menemui orang-orang itu? Bukan pergi ke tempat lain?” tanya Arimbi.


“Dia tadi bilang akan menemui orang-orang itu kan. Amanda selalu melakukan apa yang dikatakannya. Kita tunggu saja bagaimana hasilnya.”


 


“Maaf sebelumnya jika aku mengecewakan ayah!”


“Apa maksudmu Arimbi?” tanya Yadid dan Mosha bersamaan sedangkan Emir menatap Arimbi dengan tajam. Dia penasaran apa yang akan dikatakan istrinya itu.


“Amanda tidak pernah pergi menemui orang-orang itu, ayah! Dia pergi menemui Reza! Aku punya buktinya karena tak sengaja ada orang yang mengirimkan foto-foto dan videonya padaku tadi.”


 


Mata Yadid melotot tak percaya.


“Apa kamu yakin?” tanyanya.

__ADS_1


“Sangat yakin ayah! Dia pergi ke villa Reza dan sekarang pun dia masih berada disana, mungkin! Ini yang membuatku berpikir jika Amanda ada hubungannya dengan masalah pagi ini.”


“Tapi----bagaimana mungkin dia melakukan itu?” tanya Yadid.


“Aku belum bisa memastikan jika Reza terlibat dalam hal ini tapi yang pasti semuanya ada kaitannya dengan Amanda.” ucap Arimbi yang sudah bersemangat ingin membongkar semua kebusukan Amanda.


 


Sudah cukup lama dia menahan diri dan rasanya kali ini dia akan membongkarnya. Meskipun bukti-bukti yang dia punya masih sedikit tapi setidaknya itu bisa membuat kedua orang tuanya tahu seperti apa Amanda sebenarnya.


“Ini foto-foto yang dikirim padaku. Ini aku terima saat masih bersama ayah diruang kerja tadi.”


 


Arimbi menyerahkan ponselnya kepada ayahnya. Pria paruh baya itu memegang ponsel Arimbi yang menunjukkan foto Amanda yang sedang berdiri didepan pintu. Didalam foto itu Reza memeluknya erat sambil menciumnya.


Melihat itu Mosha mengepalkan tangannya, sejak lama dia sudah merasa curiga pada Amanda dan kali ini kecurigaannya terbukti.


 


“Ayah bisa melihat tanggal dan jam foto itu diambil.” ucap Arimbi. “Sepertinya ini bukan pertemuan mereka yang pertama, mungkin selama ini mereka sudah berhubungan dan merahasiakan hubungannya. Apakah ayah ingat bagaimana bersemangatnya Amanda menyuruhku untuk segera menikahi Reza? Kenapa dia melakukan itu?”


 


“Arimbi! Darimana kamu mendapatkan foto itu?” tanya Emir. “Apa yang sudah kamu lakukan tanpa sepengetahuanku, hem?” dia bicara agak berbisik ditelinga Arimbi.


“Aku akan menghukummu karena kamu memata-matai pria yang dulu kamu cintai.” pria itu mulai berpikir jika Arimbi membayar seseorang untuk membuntuti Reza karena mungkin dia masih mempunyai perasaan pada pria itu.


 


“Emir! Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan! Aku tidak melakukan kesalahan tapi kamu malah mau menghukumku?” Arimbi mulai merajuk dan memutar tubuhnya.


“Ssshhhh…..kenapa sikapmu seperti anak kecil hem?”


“Aku memang kekanak-kanakan! Itu juga salahmu! Kamu selalu memanjakanku jadi jangan salahkan aku dengan sikapku.” protes Arimbi yang membuat kedua orang tuanya menatapnya.


 


“Ayah! Ibu! Maafkan kami! Arimbi sedang mengandung kadang dia bertingkah seperti ini.” ucap Emir menutupi rasa malunya karena ulah istri nakalnya itu.


“Tidak apa-apa. Kami memakluminya.” ucap Mosha tersenyum. “Arimbi, siapa yang mengirimkan foto-foto ini padamu?” tanya Mosha yang masih penasaran.


“Temanku! Dia melihat mobil Amanda menuju ke arah luar kota, dia merasa agak curiga lalu mengikutinya. Ternyata dia melihat langsung Amanda dan Reza bersama.”


 

__ADS_1


“Sudah kubilang kan kalau hubungan mereka berdua ini bukan hanya teman biasa! Sudah lama aku curiga tapi aku tidak menemukan apapun untuk membuktikannya! Arimbi, syukurlah kamu menolak keluarga Kanchana waktu itu! Aku jadi curiga jika mereka punya niat buruk pada keluarga kita.” ucap Mosha yang sudah emosi.


__ADS_2