
Hujan secara perlahan telah mereda. Nenek Serkan duduk dilantai atas rumah utama bersama Elisha memperhatikan mobil Arimbi yang berangkat dari rumah Emir sebelum perlahan meninggalkan kompleks villa tersebut.
“Nenek,” Elisha memegang payung dengan satu tangan dan menopang dengan tangan lainnya. “Ayo kita turun nenek.” ucap Elisha lagi menatap ekspresi wajah neneknya yang masih terdiam.
“Hanya ada satu tugas penting bagi para wanita dikeluarga kita yaitu mengamankan masa depan garis keturuan keluarga kita. Selian itu mereka akan membutuhkan izin dari keluarga besar sebelum melakukan apapun.”
Namun Elisha adalah pengecualian. Dia adalah putri kesayangan dari generasi ke generasi dan karena itu dia tidak terikat pada hal seperti itu. Dia memiliki kebebasan untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Meskipun begitu, dia tahu keluarga tempat dia dibesarkan dibelenggu oleh pendidikan dan ajaran konservatif.
Hanya sedikit atau tidak ada yang mampu memecahkan aturan yang sudah turun temurun itu kecuali jika suami mereka yang terkasih mau melakukannya. Arimbi adalah contoh terbaik karena dia masih bisa bekerja setelah menjadi salah satu Keluarga Serkan.
“Nenek, pikirkanlah tentang Emir. Bahkan jika itu keinginan Arimbi untuk hamil, dia tidak bisa melakukannya sendiri. Aku yakin dia hanya mencoba untuk memberi kompensasi pada Arimbi sebagai rasa bersalahnya. Seiring berkembangnya dunia saat ini, sudah saatnya aturan keluarga kita mengalami beberapa perubahan demi kesetaraan gender.”
“Apa wanita dalam keluarga tidak mampu dibandingkan dengan pria? Jika kita memberikan kesempatan pada para wanita di keluarga Serkan untuk memulai karir mereka didunia bisnis. Aku yakin mereka akan membesarkan nama untuk diri mereka sendiri. Nenek, bukankah nenekjuga membantu kakek dengan bisnis hingga berkembang saat nenek masih muda?”
Layla Serkan mengalihkan pandangannya, “Keluarga kita belum memantapkan posisi kita saat itu jadi aku tidak punya pilihan selain membantunya. Karena sekarang kita telah mencapai posisi puncak dan perusahaan berkembang dibawah pimpinan Emir, para wanita tidak perlu bekerja lagi. Yang harus mereka lakukan adalah mengasuh anak-anak dan menjadi nilai tambah bagi suami di acara-acara resmi. Hanya itu! Apa yang harus dikeluhkan lagi ketika kita telah memberikan kemewahan pada mereka? Kita seharusnya memberi mereka peringatan sebelum pernikahan mereka dilakukan.”
Tepat sebelum mereka menjadi nyonya Serkan, mereka seharusnya sudah diberitahu betapa ketatnya aturan keluarga itu. Mereka seharusnya tidak menyalahkan kurangnya kebebasan saat memegang gelar wanita paling terhormat setelah menjadi anggota keluarga Serkan. Setidaknya itulah yang diyakini oleh Layla Serkan.
“Emir baru saja mengumpulkan semua kepala pelayan dan Yaya telah memberitahu nenek tentang pesan Emir. Apa nenek benar-benar akan menentangnya?” tanya Elisha.
Wanita tua itu tetap diam, memang benar bahwa dia tidak menyukai Arimbi karena pergi bekerja bahkan setelah menikahi Emir. Tetapi dia juga tidak ingin berselisih dengannya.
__ADS_1
Bagaimanapun dia adalah tetua di dalam keluarga itu, namun sebagian besar masalah berada diluar kendalinya. Mengingat Emir adalah seorang yang bertalenta dan berbakat yang telah mempertahankan posisi perusahaan hingga saat ini, dia mengalami dilema. Nenek Serkan menghela napas panjang,
“Kita lihat saja nanti. Aku tidak akan ikut campur selama Arimbi tidak melewati batas, tetapi dia mungkin akan menularkan kebiasaan itu pada calon iparmu nanti.”
Apakah Arimbi akan menjadi titik balik perubahan besar dalam keluarga Serkan? Sebagai seseorang yang mendukung Arimbi, Elisha memberikan kata-kata yang baik untuk mendukungnya.
“Nenek, Arimbi baru saja bekerja di perusahaan ayahnya. Tidak ada hal besar yang mungkin terjadi. Lagipula dia berhak untuk mengambil alih perusahaan keluarganya sebagai putri kandung. Aku dengar jika Amanda sangat angkuh dan enggan meninggalkan keluarga angkatnya karena dia ingin menguasai.” kata Elisha menjelaskan karena dia tidak ingin neneknya salah paham.
Namun Nenek Serkan medengus sinis, “Jika dia cukup bodoh untuk jatuh ke dalam jebakan seseorang dan menyebabkan masalah pada suaminya, aku tidak akan diam saja. Dan jika dia berani menemui pria lain atau melakukan sesuatu yang akan membuatnya menyesal, dia akan selesai!”
Elisha pun berusaha menenangkan neneknya dan berkata, “Nenek, itu tidak terdengar seperti Arimbi yang kukenal. Dia benar-benar menyadari situasi Emir bahkan sebelum menikah dengannya, sepertinya dia siap menghabiskan sisa hidupnya bersamanya. Dia tidak akan pernah melakukan apapun yang akan membuatnya menyesal. Adapun jika dia terkena skema jahat atau terjebak plot seseorang, aku yakin dia cukup pintar untuk mengakali mereka. Yang dia butuhkan hanyalah pengalaman.”
“Sangat menyukainya, dia tulus orangnya. Kalau nenek sudah mengenalinya aku yakin sekali kalau nenek juga akan sangat menyukainya. Dia berbeda dengan wanita-wanita kaya lainnya.”
Namun nenek Serkan tidak menggubrisnya. “Rubah itu baru saja menunjukkan ekornya. Dilihat dari bagaimana dia berubah pikiran untuk menikahi Emir, jelas sekali bahwa dia punya motif tersembunyi. Tunggu dan lihat saja, lambat laun semuanya akan terbongkar.”
Bagi wanita tua itu, siapapun yang mendekati Emir tidak pernah ada yang tulus, tidak akan pernah.
...*******...
Hujan deras berhenti saat Arimbi tiba di perusahaan. Dia meminta supir untuk menurunkannya tepat di pintu masuk, dia sudah berniat akan menunjukkan eksitensinya pada semua orang.
__ADS_1
Meskipun dia menyembunyikan hubungannya dengan Emir tetapi para wanita itu pasti akan tetap menargetkannya. Lantas, kenapa dia tidak menunjukkan saja pada mereka betapa istimewanya dia diperlakuan pria itu.
“Pak, aku akan makan siang di kafetaria perusahaan. Jadi tidak perlu datang. Bapak bisa menjemputku pukul setengah lima sore saat aku pulang kerja.” katanya sambil menyambar tasnya. Sopir itu menjawab dengan sopan, “Baiklah nyonya muda. Saya akan menunggu nyonya dipintu masuk nanti.”
Lalu Arimbi turun dari mobil bertepatan dengan Amanda dan Sandra yang menatapnya sambil mengeryitkan kening melihat Arimbi turun dari mobil yang dia tahu adalah milik Emir. Kedua wanita itu berhenti melihat Arimbi yang berjalan masuk.
“Selamat pagi Wakil Direktur Rafaldi.” sapa Arimbi mengambil inisiatif menyapanya karena posisi Amanda yang sebagai Wakil Direktur disana.
“Pagi, Arimbi. Sepertinya kamu menikmati hidup mewah di rumah keluarga Serkan ya? Diantar jemput oleh supir pribadi keluarga itu dengan mobil mewahnya.” sarkas Amanda yang merasa iri.
“Ah, iya benar sekali. Mereka memperlakukanku sangat baik. Kalau begitu, aku akan absensi dulu.” Arimbi pergi ke kantor sementara Amanda berhenti sejenak sebelum masuk bersama Sandra sambil mendiskusikan urusan perusahaan di sepanjang jalan.
“PT. Libra Elektrindo membutuhkan sejumlah besar papan sirkuit untuk produksinya yang diperluas?” tanya Amanda pada Sandra setelah mendengar kabar itu.
Sandra mengangguk, “Setiap pesaing saat ini sedang mencoba untuk mendapatkan kontrak kerjasama dengan mereka. Siapapun yang memenangkan tender ini akan mendapatkan keuntungan besar.”
“Hal itu akan menghasilkan banyak keuntungan untuk bekerjasama dengan mereka. Semua orang pasti ingin mendapatkan keuntungannya sendiri dari tender ini.” ujar Amanda.
Terlepas dari ketakutannya terhadap Emir, menjalin kerjasama dengan PT. Libra Electroindo adalah keinginannya dan Amanda ingin mendapatkan itu untuk menguatkan posisinya di perusahaan.
__ADS_1