GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 28. BERSIHKAN MULUTKU!


__ADS_3

Mendengar janji Arimbi itu, Emir hanya mengerucutkan bibirnya, mencibir dan dia menunjukkan ekspresi yang menggambarkan keinginanya untuk melihat apa yang bisa dilakukan dia lakukan. Ketika mereka sudah tiba di villa Serkan, Emir langsung meninggalkan Arimbi sendirian dan pergi ke pavilliun untuk makan.


Saat Arimbi berdiri di halaman yang indah, dia melihat suaminya pergi. Setelah beberapa saat Arimbi menggosok perutnya yang mulai terasa lapar lalu dia menarik kopernya ke salah satu bangunan tempat tinggal Emir di villa Serkan. Emir tinggal sendirian di seluruh gedung itu dan gedung itu adalah area terlarang dimata keluarga Serkan.


Villa Serkan adalah bangunan yang sangat luas dan menampung ratusan anggota keluarga Serkan, dan terdiri dari beberapa bangunan dan halaman luas dan taman bunga. Ada juga kolam renang dan lapangan tenis serta fasilitas lainnya. Emir menempati bangunan di belakang yang tidak bisa dimasuki oleh siapapun sembarangan bahkan keluarganya sendiri pun tak berani masuk kesana.


Tidak ada seorang pun yang bisa masuk kesana sesuka hati karena jika tidak hati-hati, mereka mungkin akan ditendang keluar dari rumah itu dan dibawa oleh ambulan. Waktu itu saat Arimbi makan makanan pedas, Arimbi yang menggunakan toilet di bangunan itu pun menemukan bahwa itu adalah tempat tinggal Emir. Dan bangunan itu terdiri dari tiga lantai, desainnya simpel dan tidak terlalu banyak perabotan disana jadi kesannya luas.


Semua anggota keluarga Serkan tinggal di kompleks villa itu. Mereka memiliki banyak pelayan yang juga menempati satu bangunan khusus seperti asrama untuk para pelayan. Bahkan bangunan asrama untuk pekerja pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan dapur tersendiri.


Setelah Arimbi masuk kedalam villa itu dia langsung naik kelantai atas untuk mencari ruangan untuk menyimpan barang bawaannya sebelum turun ke dapur untuk menyiapkan makanan. Villa Serkan sangat besar, bangunan yang lebih dekat ke rumah utama adalah tempat tinggal anggota keluarga Serkan, mereka tinggal disekitar rumah utama dan keluarga Serkan mendukung mereka.


Bahkan jika keluarga Emir adalah generasi kelima dari Keluarga Serkan, saat mereka pergi keluar tidak ada yang berani menggertak mereka selama mereka tinggal disini. Selain itu juga ada banyak pelayan, pengawal dan supir juga yang tinggal dibangunan belakang


Ada lebih dari dua puluh pengawal yang melayani Emir sendirian. Tanpa perintah Emir, meskipun penjaga keamanan dan pelayan disini tahu dia adalah istri Emir, mereka tidak akan membantunya. Karena itu Arimbi harus memasak makanannya sendiri.


Arimbi menjelajahi seluruh lantai dua dan dia belum memasuki ruangan karena semuanya terkunci. Dia pun tidak punya pilihan lain selain pergi ke lantai tiga tetapi dia menemukan bahwa di lantai tiga pun situasinya sama saja dengan di lantai dua, semuanya terkunci! Villa tempat tinggal Emir hanya memiliki tiga lantai, jadi jika Arimbi tidak bisa memasuki salah satu kamar di lantai dua dan tiga itu berarti dia harus kembali ke lantai satu.

__ADS_1


Seharusnya ada kamar pengasuh dan jika dia bisa membuka salah satu kamar, dia akan tinggal disana. Mau tak mau dia berpikir bahwa mungkin ini peringatan dari Emir untuk istri barunya itu. Sebuah peringatan bahwa dia harus patuh dan tidak berpikir untuk melakukan apapun yang dia inginkan karena dia telah menikah dengannya dan menjadi Nyonya Serkan!


Karena tanpa perintah Emir, dia bahkan tidak bisa tinggal di kamar tamu. Tebakan Arimbi benar, saat dia membuka kunci kamar pengasuh di lantai satu dan mendorong pintu hingga terbuka dan membawa barang bawaannya kedalam. Meskipun kamar itu adalah kamar pengasuh tapi di kamar itu semua yang dia butuhkan ada dan kamar itu cukup luas.


Ada tempat tidur tapi tidak ada selimut atau kebutuhan kamar tidur lainnya. ‘Aih….Emir! Apa kamu harus bersikap begitu keras padaku? Lagipula kita sudah menikah! Masa tidak ada bantal, selimut dan seprainya?” gumamnya. Saat ini cuaca sedang panas jadi tidak masalah jika tidak ada selimut.


Arimbi meletakkan barang bawaannya tetapi tidak segera mengeluarkan barang-barangnya. Dia melihat sekeliling ruangan dan melihat secarik kertas dibawah asbak. Karena merasa penasaran dia mengambil kertas itu dan melihat kata-kata “Lakukan sendiri.”


Tulisan tangan itu tampak kuat dan mencolok dan dia langsung tahu jika itu tulisan tangan Emir.


Arimbi tersenyum, “Aku bisa kok melakukan semuanya sendiri untuk mendapatkan apa yang kuinginkan! Masalah sepele seperti ini tidak akan mengagngguku!”


Karena Emir tidak mengundangnya untuk makan bersamanya, Arimbi memutuskan akan memasak untuk dirinya sendiri supaya dia tidak kelaparan. “Huh! Punya suami kaya raya tapi pelit! Masa pergi makan sendiri nggak ngajak istrinya? Dia pikir aku bakal mati kelaparan apa? Ehh…..aku bisa kok masak sendiri! Awas aja dia kalau sampai dia minta makan sama aku ya!”


Arimbi jago memasak, masakannya cukup enak dan dia pun bergegas turun menuju ke dapur. Tetapi ketika dia tiba disana dia akhirnya sadar kalau dia terlalu percaya diri. Dapur itu kosong melompong, bahkan sebutir beras pun tidak ada. Bagaimana dia bisa memasak kalau tidak ada apa-apa?


“Emir!!!! Kamu bisa memilih tidak menikahiku kalau kamu memang tidak sanggup hanya untuk memberiku makan! Kenapa kamu jadi pelit setelah menikahiku sih?” Arimbi mengomel sendirian. Lalu dia pergi meninggalkan dapur. Sesungguhnya dia sudah salah menuduh Emir, meskipun villa tempat tinggal Emir memiliki dapur tapi orang-orang yang mengurusnya hanyalah pengawal.

__ADS_1


Dan tidak seorang pengawalpun yang mahir memasak! Oleh sebab itu, semua makanan Emir dimasak di dapur utama. Arimbi keluar dari bangunan itu dan berdiri diam didepan pintu masuk. Dia melihat kearah pavilliun yang tampak dikejauhan dan berpikir sejenak. Akhirnya dia memilih untuk pergi kesana dan meminta makan pada Emir.


Ketika para pengawal diluar pavilliun melihatnya datang, mereka segera menyapa  “Halo, Nona Rafaldi!”


Arimbi berhenti sejenak dan menatap mereka, namun dengan cepat dia mengurungkan niatnya untuk bertanya mengenai sikap formal mereka padanya karena dia tahu kalau itu pasti perintah Emir. Arimbi berpikir ini lebih baik daripada orang-orang yang memanggilnya sebagai ‘Istri muda Arimbi.’


Saat dia melangkah memasuki pavilliun, Emir baru saja menghabiskan makan siangnya yang lezat. Saat dia melihat istrinya datang, dia mengambil serbet dan memberikan padanya untuk mengusap mulutnya.


“Aku belum makan!” ujar Arimbi.


“Bersihkankan mulutku!”


Arimbi hampir saja menggigit lidahnya. Suaminya makan siang sendirian tanpa mempedulikan dirinya yang kelaparan, dan juga pipinya yang merah merona. Dengan seenaknya dia menyuruhnya untuk membersihkan kamarnya sendirian dan sekarang dia memintanya membersihkan mulutnya?


“Bukankah kamu punya tangan, Emir?”


“Ya aku punya! Tapi aku ingin istriku yang melakukannya untukku!” jawab Emir enteng. Didalam hatinya dia ingin tertawa betapa menyenangkannya mengerjai istrinya itu. Mungkin dia punya mainan dan hobi baru sekarang, mengerjai istrinya habis-habisan.

__ADS_1


“Kamu bilang aku tidak boleh memanggilmu suami! Lalu kenapa kamu memanggilku sebagai istrimu?” tanya Arimbi penuh kekesalan.


“Aku bisa melakukan apapun yang aku mau!”


__ADS_2