
Amanda merasa galau, tapi dia memang ingin menemui Yadid karena ada beberapa hal yang ingin dia bicarakan. ‘Beruntung sekali Arimbi lahir sebagai putri keluarga Rafaldi! Arrrggggg……..kenapa dia harus muncul? Sejak kehadirannya hidupku benar-benar kacau!’ bisik hatinya menahan amarah.
Kini dia pengangguran dan tidak punya tempat tinggal. Beruntung Gio menempatkannya di hotel untuk sementara tapi dia tidak mungkin tinggal di hotel selamanya. Dia bergantung pada uang simpanannya sekarang, dia hanya punya mobil yang sedang dikendarainya. Dia belum sempat pulang kerumah keluarga Rafaldi untuk mengambil barang-barangnya.
‘Aku akan pergi kesana setelah ini. Mungkin ibu ada dirumah dan aku bisa bicara dengannya sebentar. Untung aku punya banyak perhiasan, kalau suatu saat nanti aku kekurangan uang setidaknya aku bisa menjual perhiasanku untuk bertahan. Aku harus melakukan sesuatu, tidak mungkin aku begini! Setidaknya aku harus kembali bekerja.’
Saat ini mobilnya sudah tiba di depan gedung Rafaldi Group namun dihentikan oleh sekuriti saat melihat mobil Amanda yang sudah mereka kenali. “Selamat pagi.”
Amanda mengeryitkan keningnya, ‘Apa-apaan mereka ini menghalangi mobilku?’ bisiknya.
“Buka palangnya! Aku mau masuk!”
“Maaf Nona! Anda tidak diijinkan memasuki gedung ini! Silahkan pergi.” ucap salah satu sekuriti.
“Apa kamu bilang? Kamu tidak tahu siapa aku? Hah?” teriak Amanda marah.
“Memangnya anda siapa Nona? Kami hanya menjalankan tugas disini.”
“Kurang ajar! Aku ini putri pemilik perusahaan ini!” jawab Amanda dengan angkuh.
Sekuriti itu saling pandang dengan rekannya, tapi mereka tidak mengindahkan Amanda malah tersenyum. Salah seorang sekuriti mendekat ke mobil Amanda dan berkata, “Setahu saya, Tuan Rafaldi hanya punya satu orang putri! Nyonya Arimbi, Istri sah dari Tuan Emir! Lah, nona ini siapa memangnya? Mengaku-aku putri Tuan Rafaldi!”
“Brengsek! Awas kamu ya! Aku akan memberimu pelajaran! Aku akan memecatmu! Cepat buka palangnya!” kemarahan Amanda semakin memuncak mendengar ucapan sekuriti yang meremehkannya. Dia lupa kalau dia memang bukan siapa-siapa lagi disini.
“Maaf Nona! Anda tidak boleh masuk tanpa izin dari Tuan Rafaldi!” ucap sekuriti berkepala plontos.
“Nona! Silahkan pergi dari sini, jangan buat keributan disini!”
Tit tit tit……
Suara klakson mobil terdengar, tampak sebuah mobil berwarna hitam yang berada dibelakang mobil Amanda ingin memasuki gedung itu namun terhalang oleh mobil Amanda. Merasa kesal karena mobil didepannya tak mau minggir, akhirnya pria didalam mobil itu keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri sekuriti.
__ADS_1
“Selamat pagi Tuan.” sapa kedua sekuriti dengan serempak.
“Ada apa ini? Tolong suruh tepikan mobilnya, saya ingin masuk!”
“Kami sudah memintanya pergi tapi tetap bersikeras mau masuk Tuan!”
Lalu pria itu mengeluarkan kunci mobilnya dan memberikan pada salah seorang sekuriti.
“Kamu bawa mobilku masuk, parkirkan di basement!” perintahnya lalu memicingkan mata melirik kearah mobil Amanda. Tatapan matanya yang tajam terpaut dengan mata Amanda yang sedang memandang pria itu. Tampak Amanda sangat terkejut melihat pria itu, dia tidak mengenalinya dan belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
Pria itu berjalan sambil menenteng tas kerjanya, dengan langkah cepat memasuki gedung perusahaan.
“Hei! Siapa orang itu?” tanya Amanda.
“Oh itu Wakil Direktur yang baru namanya Tuan Renaldi!” jawab sekuriti berkepala plontos. “Nona kalau sudah tidak ada hal lain, silahkan pergi dari sini! Anda menghalangi mobil wakil direktur!”
Amanda mendengus lalu meminggirkan mobilnya sehingga mobil dibelakangnya yang kini dikendarai sekuriti bisa masuk.
Amanda memarkirkan mobilnya tepat didepan pintu masuk perusahaan. Sekuriti yang bertugas di pintu masuk pun mencoba menghentikan Amanda.
“Nona, anda tidak boleh masuk kesini!”
“Kenapa? Kenapa kalian melarangku masuk kesini? Aku hanya ingin bertemu dengan ayahku!”
Resepsionis dan beberapa orang karyawan yang berada di lobi pun langsung berkumpul melihat Amanda yang berteriak-teriak seperti orang gila berusaha untuk menerobos masuk.
Resepsionis segera menghubungi Sartika untuk memberitahukan apa yang terjadi. Tak lama resepsionis itu menghampiri Amanda dan berkata, “Nona Amanda, silahkan tunggu di lobi! Nyonya Serkan akan segera menemui anda.” ucapnya lalu menoleh ke sekuriti. “Tolong lepaskan!”
Sekuriti itu pun melepaskan cengkeramannya di lengan Amanda. “Cih! Aku akan memberimu pelajaran nanti! Berani-beraninya kamu menyentuhku!” ujarnya dengan nada angkuh.
“Silahkan ditunggu disini Nona. Sebentar lagi Nyonya Serkan akan menemui anda, dia sedang menuju kesini. Apa anda mau minum?” tanya resepsionis itu berusaha bersikap biasa saja.
__ADS_1
Dulu saat Amanda masih menjabat Wakitl Direktur, tak sekalipun dia bersikap ramah dan baik pada resepsionis. Dia suka memerintah semua orang dan membuat karyawan takut padanya. Tapi sejak Yadid mengumumkan status Amanda yang bukan lagi anggota keluarga Rafaldi dan dia juga dipecat, sikap semua karyawan pun berubah.
Dengan enggan Amanda terpaksa duduk di sofa lobi dan menunggu. Dia merasa kesal dan direndahkan karena ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti itu. Sekian lama dia mengabdikan dirinya di perusahaan ini, tapi sekarang dia malah tak diperbolehkan masuk dan harus menunggu di lobi. ‘Nyonya Serkan? Cih! Pasti dia merasa bangga dan sombong sekarang karena dia jadi wanita terkuat!’
“Amanda?” suara yang dikenalnya menyapa Amanda yang sejak tadi duduk sambil merutuki Arimbi. Dia mendongakkan wajahnya menatap Arimbi yang berdiri dihadapannya sambil tersenyum.
“Arimbi! Keterlauan sekali kamu ya? Pasti kamu yang menyuruh mereka melarangku masuk kesini?”
“Hah? Maksudmu apa? Tenangkan dirimu, aku tahu kamu banyak mengalami masalah akhir-akhir ini. Kendalikan emosimu Amanda, memang tidak mudah menjalani hidup dalam keterbatasan. Aku juga pernah berada di posisimu sekarang! Kehilangan segalanya dan aku bahkan hampir mati.” ujar Arimbi mengingat kehidupan sebelumnya.
“Apa maksudmu bicara begitu? Oh, mentang-mentang kamu sekarang menyandang status baru seagai istri Tuan Emir, sombong sekali kamu! Aku mau ketemu ayah, kenapa kamu yang datang kesini?”
“Ayah? Siapa maksudmu?”
Amanda semakin geram mendengar ucapan Arimbi yang seakan mengejeknya. “Apa maksud perkataanmu Arimbi? Aku datang kesini hanya ingin menemui ayah!” ucapnya berdiri dan hendak pergi.
“Ayah siapa yang mau kamu temui?”
“Ayahku! Yadid Rafaldi!” ucap Amanda.
“Oh, kamu mau menemui ayahku? Kenapa tidak bilang dari tadi? Oh iya Amanda, aku cuma mau mengingatkan saja mungkin kamu lupa jika ayahku bukan ayahmu!” Arimbi tersenyum mencibir.
Dia masih ingat semua perlakuan buruk Amanda padanya di kehidupan sebelumnya. Apa yang dirasakan Amanda sekarang masih belum seberapa, Arimbi masih belum puas membalaskan semua yang dilakukan Amanda dulu padanya. Untungnya dia dilahirkan kembali sehingga dia punya kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupnya.
“Dia ayahku! Dia yang membesarkanku?” ucap Amanda penuh percaya diri.
“Sebelumnya, status kamu adalah anak angkat keluarga Rafaldi! Tapi sekarang, secara legal kamu bukan siapa-siapa lagi! Kamu tidak ada hubungan apapun dengan keluarga Rafaldi! Ingat itu! Ayahku bukan ayahmu! Bukankah kamu punya ayah kandung Amanda?”
“Jangan keterlaluan kamu Arimbi! Setelah semua pengorbananku? Begini balasan yang keluarga Rafaldi berikan padaku? Aku mengorbankan waktuku, hidupku untuk perusahaan ini!”
__ADS_1