GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 33. MENUNGGANGI EMIR


__ADS_3

Arimbi baru sadar kalau dia bereaksi terlalu berlebihan. Emir itu impoten! Untuk apa dia merasa khawatir? Mau disentuh sekalipun tidak akan berpengaruh pada Emir! Saat itu juga Arimbi tidak lagi gelisah, dia malah menguatkan diri lalu mendorong tubuh Emir agar berbaring telentang di kasur, tapi mengingat kaki Emir terluka Arimbi pun tidak berani mengunci kaki suaminya itu. Dia takut akan membuat lukanya menjadi lebih parah.


“Emir!” Arimbi bertanya sambil mengamati wajah tampan pria itu, “Kenapa kamu ada diatas tempat tidurku, sayangku yang tampan?” sengaja dia melembut-lembutkan suaranya.


Tingkah Arimbi itu membuat Emir bingung, “Ini kamarku! Kamu sekarang ada diatas ranjangku!” jawabnya datar. “Berhenti memanggilku dengan sebutan  ‘sayang.’


“Ah! Kamarmu? Bukankah ini kamar pembantu?” tanya Arimbi dengan lembut.


Sejak tiba disana, Arimbi sudah mengelilingi seluruh bangunan itu dan tidak ada kamar selain kamar pembantu ini yang bisa dia buka, itulah kenapa dia memilih kamar ini. Tapi, kenapa sekarang Emir bilang kalau itu adalah kamarnya?


“Seluruh bangunan ini milikku!”


Arimbi pun tak lagi bisa berkata-kata melawan ucapan Emir yang mendominasi itu. Tentu saja dia adalah pemilik seluruh bangunan itu, jadi dimanapun itu selama masih didalam bangunan itu artinya semuanya milik Emir.


“Berapa lama kamu akan menunggangiku? Apa kamu mencoba memanfaatkanku lagi? Cepat turun dari tubuhku!” ujar Emir mengerutkan alisnya.


Arimbi memang duduk diatas tubuh Emir yang terbaring telentang dengan kedua tangannya berada didada Emir, jika dilihat orang lain maka posisi itu sangat intim!


“Apa aku seberat itu? Tidak kan? Berat tubuhku proporsional! Apa salahnya aku duduk diatasmu? Kamu sangat tampan Emir jadi aku ingin menikmati kecantikan wajahmu!” ujar Arimbi membungkuk sehingga tangannya bisa menyentuh wajah Emir.


Jemarinya yang lentik mengelus wajah pria itu dengan lembut, “Emir! Kenapa kamu cantik sekali sih? Ihhh gemes banget deh!” lalu dia mencubit pipi pria itu dengan gemas. Emir syok dengan keberanian istri barunya itu.


Untuk yang kesekian kalinya Arimbi menggodanya, dengan cepat Arimbi turun dari tubuh Emir karena dia tak mau dipermalukan oleh Emir. Bagaimana jika Emir membalikkan tubuhnya sehingag Arimbi terjatuh ke lantai? Sebelum itu terjadi, dia lebih memilih untuk turun dari tubuh pria itu dan agak menjauh.


“Kamu itu bodoh atau apa? Tidak tahu menggunakan kata ‘cantik’ mendeskripsikan seorang pria!”


“Tapi kamu memang benar-benar cantik, sayang!”


“Stop! Jangan panggil aku seperti itu, cukup panggil namaku saja! Ingat ya, kita tidak sedekat itu!”


Arimbi kembali mendekati Emir dan berbisik ditelinganya, “Emir! Apakah aku bisa menyentuhmu?”

__ADS_1


Sayangnya, sebelum tangan Arimbi sempat menyentuh tubuhnya, Emir langsung menepis tangan Arimbi dan mengeram marah.


“Arimbi! Jangan memaksakan keberuntunganmu!”


“Aduh Emir, suasana hatimu cepat sekali berubah secepat cuaca dimusim hujan.”


Entah kenapa, Arimbi terpeleset dan terjatuh dari ranjang, kepalanya mencium lantai.


“Ugh! Sakit…..”


Emir langsung duduk dan melihat Arimbi yang terjatuh dengan wajah datar namun sorot matanya seperti menertawakan Arimbi. Ketika Arimbi tersadar dan melirik Emir, pria itu sudah berbaring kembali diranjang dengan ekspresi datar dan suaranya terdengar sangat sarkastik, “Sudah besar masih jatuh dari tempat tidur, memalukan!”


“I---itu tadi hanya kebetulan.” ujar Arimbi terbata karena malu. Mukanya memerah menahan malu, mungkin ini karmanya atas tingkah konyol yang tadi dilakukannya pada Emir. Dia merasa seperti selalu saja mempermalukan dirinya sendiri setiap kali dia berada didepan Emir.


“Bantu aku bangun!” perintah Emir pada Arimbi.


“Apa kamu tidak bisa bangun sendiri?”


Emir tidak mengeluarkan tenaga sedikitpun dan itu membuat Arimbi kesulitan untuk menopangnya. Ketika Emir berhasil duduk, Arimbi sudah terengah-engah dan akhirnya dia mengerti kenapa Emir selalu memiliki pengawal disekelilingnya. Untungnya, Arimbi pernah belajar ilmu belad diri dan melatih badan jadi dia memiliki tenaga yang lebih besar daripada wanita pada umumnya. Jika tidak, pastilah dia akan kesulitan mengangkat Emir.


“Bawa kursi rodaku kesini.”


“Baiklah.”


Arimbi membawa kursi roda dan berkata, “Apa kamu butuh bantuanku memindahkan tubuhmu ke kursi rodamu atau kamu bisa melakukannya sendiri?”


“Aku bahkan butuh bantuanmu untuk duduk….”


Arimbi terdiam dan membantu Emir untuk duduk di kursi rodanya. Setelah Emir duduk, Arimbi membungkuk dan menyentuh kakinya. “Apakah kakimu masih bisa diselamatkan, Emir?”


Dia memandang Emir menunggu jawaban, tapi yang dia lihat diwajah tampan itu hanyalah ekspresi kelam. Arimbi pun segera menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman,”Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya mengkhawatirkanm. Jika memang masih ada harapan kamu berjalan lagi, kamu harus lanjutkan terapinya. Supaya kamu bisa sembuh dan bisa berjalan lagi seperti dulu.”

__ADS_1


“Apa kamu malu aku cacat begini?”


“Tidak! Aku tidak pernah merasa malu.”


Emir tidak percaya dengan jawaban Arimbi, dia pun mencibir “Arimbi! Bahkan jika kamu memang malu, kamu sudah tidak bisa lari! Aku sudah memberimu kesempatan waktu itu, tapi kamu tidak mengambilnya!”


Arimbi menyentuh kaki Emir lagi dan tanpa menatapnya, tangannya mulai memijat kaki pria itu. “Emir, sebenarnya aku tidak peduli bagaimana kamu menilaiku atau memandangku, karena aku sudah memutuskan untuk mengambil jalan ini maka aku tidak akan pernah menyesalinya.”


Bahkan seandainya Arimbi tahu bahwa Emir hanya menghukumnya saja, dia tidak akan menyesali pilihannya ini.


Arimbi sudah berjanji akan menemani Emir sepanjang hidupnya untuk membalas kebaikan yang sudah Emir berikan padanya di kehidupan sebelumnya.


“Sudah cukup, hentikan pijatanmu. Ayo keluar mencari udara segar.”


“Baiklah.”


Arimbi berdiri dan mendorong kursi roda Emir keluar dari ruangan, disaat mereka sampai dipintu masuk gedung mereka bertemu dengan Ibu Emir, Rania Serkan.  Wanita itu melihat Arimbi dengan tatapan sedingin es dengan kebencian yang sangat besar terlihat jelas disorot matanya.


“Nyonya Serkan,” sapa Arimbi masih takut untuk memanggilnya ibu.


Rania tidak menjawab dan mengabaikan Arimbi, dia menatap Emir dengan tatapan lembut dan suaranya yang lemah lembut bertanya, “Mau kemana Emir?”


Emir yang bisa merasakan kebencian ibunya pada Arimbi tidak melakukan apa-apa.


“Aku ingin mencari udara segar dan membuatnya lebih mengenal area sekitar.”


 “Emir, apa kamu membiar dia tinggal disini? Dia…..”


“Ibu, ini adalah urusanku dan aku harap ibu tidak ikut campur dalam urusanku!” ujar Emir menyela ibunya. Mendengar ucapan anaknya, Rania hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah.


“Baiklah Emir. Selama kamu bahagia, aku tidak akan ikut campur.” Setelah itu dia melirik Arimbi masih dengan tatapan tajam seolah ingin memperingatkannya.

__ADS_1


“Arimbi Rafaldi! Aku tidak tahu cara apa yang kamu pakai sehingga membuat anakku membawamu kembali kesini. Tapi jujur saja ya jika kamu berniat untuk bunuh diri lagi dan merusak reputasi anakku, aku tidak akan melepaskanmu ataupun keluargamu!”


__ADS_2