
“Ayah!” Arimbi memasuki ruang direktur dan langkahnya terhenti saat melihat Yadid sedang berada diruangan itu bersama Sartika dan Renaldi Prawira.
“Arimbi! Kemarilah dan duduk disini.” ucap Yadid tersenyum pada putrinya. Dia merasa lega karena sudah melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sejak awal kembalinya putri kandungnya.
“Kamu pasti sudah kenal Renaldi Prawira, bukan?”
“Belum pernah bertemu sebelumnya tapi Emir sudah memberitahuku.” ucap Arimbi sembari duduk lalu menyapa pria disebelahnya. “Halo Renaldi.”
“Halo, Nyonya.” sapa,Renaldi dengan hormat.
“Cukup panggil Arimbi saja! Karena kita sedang berada dikantor.” ucap Arimbi yang merasa canggung dengan panggilan itu.
“Maaf tapi saya bawahan Tuan Emir! Saya harus menghormati anda sebagai Nyonya Serkan.”
“Baiklah!” ucap Arimbi.
“Boleh kita mulai?” tanya Yadid yang disetujui ketiganya.
...*****...
“Sandra, segera keruangan saya sekarang.” ujar Sartika menghubungi Sandra melalui telepon.
“Baik.” jawab Sandra malas-malasan. Sudah memasuki hari kedua dia hanya datang ke kantor tanpa melakukan pekerjaan apapun. Dampak dari kasus Amanda yang mendapatkan hujatan dari semua orang, atasannya itu pun tak bisa dihubungi sama sekali karena Amanda sengaja menonaktifkan ponselnya.
Sandra memasuki lift menuju ke lantai atas. Saat dia tiba diruang kerja Sartika, dia melihat pria tampan yang sedang bicara dengan Sartika. Sandra mengeryitkan keningnya karena dia belum pernah melihat pria itu sebelumnya.
“Ada apa memanggilku?” tanya Sandra saat sudah berada didepan Sartika.
“Duduk dulu sebentar Sandra! Saya selesaikan dulu urusan pekerjaan sebentar dengan Pak Renaldi.” ucap Sartika.
Sandra memperhatikan pria itu saat dia duduk di sofa, ‘Siapa pria ini apa dia karyawan baru di kantor ini? Tampan sekali, aku harus memberitahu Amanda! Dia harus mendekati pria ini daripada Reza yang tak jelas itu!’ bisik hati Sandra.
“Terima kasih Sartika. Tolong aturkan asisten untuk saya.” ucap Renaldi.
__ADS_1
“Baik Pak Renaldi! Akan segera saya carikan!” jawab Sartika. Menatap punggung pria itu yang duduk sambil memeriksa dokumen tak sedikitpun dia menoleh pada Sandra yang membuat wanita itu semakin heran dan mengeryitkan keningnya. Dia memperhatikan gerak gerik pria itu tanpa disadari Sandra kalau Sartika meliriknya.
“Siapa dia? Karyawan baru disini? Dia mencari asisten? Apa dia salah satu manager?” bisik Sandra dengan rentetan pertanyaan yang ditanyakan Sandra tak digubris oleh Sartika.
“Sandra! Ini surat pemberhentian kerjamu dan ini gaji terakhirmu!” Sartika menyoforkan amplop berisi surat pemecatan Sandra.
“Apa? Aku dipecat?” Sandra mengambil surat dan amplop yang diserahkan Sartika padanya.
“Iya! Ini gaji terakhirmu! Mulai besok kamu tidak perlu datang lagi ke kantor! Saya akan meminta OB untuk membantumu membereskan barang-barangmu!” ujar Sartika dengan nada tegas.
“Tidak! Aku tidak terima! Memangnya apa salahku? Yang berhak memecatku hanya wakil direktur Rafaldi.” ujar Sandra tak terima.
“Saya wakil direktur Rafaldi! Saya yang memecat kamu!” ujar Renaldi mendongakkan wajahnya.
“Apa? Apa-apaan ini? Wakil Direktur adalah Amanda Rafaldi!” teriak Sandra protes.
“Sartika! Siapa Amanda Rafaldi?” tanya Renaldi dengan nada tak senang.
“Dia putri pemilik Rafaldi Group--” ucap Sandra sebelum Sartika sempat menjawab.
“Sartika apa maksudnya? Siapa Nyonya Serkan?”
“Nyonya Serkan saja kamu tidak tahu? Istri dari Tuan Emir Serkan! Putri dari Tuan Rafaldi! Apa nona ini melewatkan berita terbaru ya?” ujar Renaldi dengan nada ketus dan dingin.
Renaldi sudah mendengar banyak tentang Amanda dan asistennya bernama Sandra. Sandra-lah yang mengambil data perusahaan atas perintah Amanda lalu diberikan kepada keluarga Lavani.
“Saya adalah Wakil Direktur Rafaldi Group! Saya utusan dari Tuan Emir untuk perusahaan ini.” ujar Renaldi penuh penekanan.
Lalu pria itu menoleh pada Sartika dan berkata, “Suruh OB membersihkan ruangan mereka dan dekor ulang semuanya! Saya tidak mau wanita ini masih berkeliaran di ruangan ini dan ruangan lainnya.” selesai bicara Renaldi langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
“Sandra, kamu sudah dengar kan? Kalau kamu menolak pemberhentian kerja dan ingin menuntut perusahaan, pikirkan baik-baik! Karena kami punya bukti pengkhianatanmu dan Amanda yang akan menyeretmu ke penjara! Sekarang kamu boleh pergi dari sini dan jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi diperusahaan ini!” Sartika mengusir Sandra lalu dia memanggil satpam melalui interkom.
Melihat situasi yang tidak mendukung dan Sandra yang masih belum sadar dari keterkejutannya pun dengan cepat berdiri dan melangkah pergi. Saat dia tiba di depan pintu ruang kerjanya matanya melotot melihat kotak yang bertumpuk dilantai berisi barang-barang milliknya yang sudah dikeluarkan dari ruang kerjanya.
“Kurang ajar! Berani-beraninya mereka mengusirku! Aku harus memberitahu Amanda!”
Saat dia hendak mengambil ponsel dari dalam tasnya, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya lalu menyeretnya. ‘Hei! Lepaskan!” teriaknya saat menyadari dua orang satpam menyeretnya menuju lift.
“Maaf Nona! Kami hanya menjalankan perintah dari Direktur Rafaldi untuk membawa anda keluar!”
“Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri! Aku mau ambil barang-barangku dulu!”
“Tidak perlu Nona! Rekan kami akan membawanya kebawah. Anda tidak boleh berada disini lagi.”
Tak mengindahkan permintaan Sandra, kedua satpam itu tak melepaskan cengkeraman di lengan Sandra.
Mereka menyeretnya keluar pintu masuk perusahaan. Tak lama dua orang OB sudah menyusul dengan membawa kotak berisi barang-barangnya.
“Ini semua barang-barang anda! Mulai hari ini anda tidak boleh lagi menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi atau akan ditindak secara hukum!” ujar salah satu satpam melaksanakan sesuai perintah yang diterimanya.
Sandra berteriak marah dan berusaha menerjang hendak masuk kembali ke gedung itu. Dia ingin meminta penjelasan atas pemecatan dirinya yang sepihak. “Lepaskan! Biarkan aku masuk! Aku mau menemui Direktur Rafaldi! Pasti ada kesalahan disini, minggir!”
Namun para satpam lebih sigap menahan Sandra lalu kembali menyeretnya keluar. “Nona Sandra, jika anda tidak segera pergi dari sini maka terpaksa kami melaporkan anda ke polisi karena telah membuat keributan!” ujar pimpinan sekuriti gedung itu yang tiba disana setelah dihubungi anak buahnya atas keributan yang dibuat oleh Sandra.
“Awas kalian semua! Aku akan membalas kalian! Ingat ya!”
“Pergilah nona! Jangan buat ribut dan mempermalukan diri anda sendiri! Kami hanya melaksanakan perintah dari atasan untuk mengusir anda dari sini. Dan saya ingatkan juga kalau anda dilarang memasuki gedung ini!” ujar pimpinan sekurit menegaskan.
__ADS_1
“Cih! Lihat saja nanti! Katakan pada atasanmu itu, aku akan menuntut mereka ke jalur hukum! Aku dipecat sepihak dan tanpa pemberitahuan sebelumnya! Enak saja main pecat-pecat orang.” umpat Sandra yang tak diindahkan oleh orang-orang itu, mereka hanya menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap keras kepala Sandra.