
Emir terdiam tak tahu apa yang harus dia katakan saat mendengar ucapan Arimbi padanya. Hingga dia akhirnya berkata, “Aku menunggumu meneleponku. Kalau kamu meneleponku, aku pasti akan menjemputmu. Lagipula kamu tidak meneleponku setelah aku menunggu seharian.”
“Aku takut meneleponmu karena kamu sangat marah, kamu tidak akan mendengarkan apapun yang aku katakan. Kamu sangat marah sehingga kamu bahkan menyuruhku untuk merebut pengantin pria…..aku ingin kamu tenang dulu jadi aku tidak meneleponmu sepanjang hari. Padahal hatiku sangat sakit, tapi aku merindukanmu.”
Arimbi kembali menangis tersedu-sedu saat bicara, dia mengingat betapa sedihnya dia sore ini. “Kenapa kamu harus menungguku meneleponmu dulu? Mengapa kamu tidak bisa meneleponku duluan? Jika kamu meneleponku, aku akan mengerti apa yang kamu maksud dan aku akan terus meneleponmu. Namun kamu tidak mengatakan apa-apa selain menyuruhku menculik Reza. Aku benar-benar harus melakukan yang kamu suruh? Dan kembali bersama Reza sehingga kamu bisa meledakkan amarahmu pada semua orang?”
Emir menariknya kedalam pelukannya dengan kepala Arimbi didadanya. Arimbi meraih kemeja Emir dan dengan sengaja menyeka airmata dan ingusnya dengan kemeja Emir. “Aku tidak seharusnya mengatakan hal-hal itu saat marah. Arimbi maafkan aku ya, kamu tidak bisa menculik Reza! Aku tidak akan pernah mengizinkanmu. Kamu mengatakan bahwa kamu tidak akan pernah menyesal menjadi istriku selama sisa hidupmu.”
“Aku hanya menantangmu untuk merebut pengantin pria untuk dirimu sendiri! Aku ingin melihat seberapa besar keberanian dan perasaanmu. Maafkan aku, jangan menangis lagi. Aku tidak mau melihatmu menangis seperti ini. Aku ingin kamu tersenyum dan bahagia selalu bersamaku.” bujuknya.
“Siapa yang mau melakukan itu? Kamu adalah orang yang gila dan cemburu. Aku telah mengatakan bahwa aku tidak akan menyesal menikahimu dan tidak akan pernah menyerah padamu selama kamu juga tidak menyerah padaku. Namun kamu malah mengatakan kata-kata itu, aku sangat sedih. Aku mencintaimu Emir tapi kamu melukai hatiku.”
“Baiklah, baiklah. Aku salah. Tolong jangan ada airmata lagi oke? Tolong berhenti menangis, jika kamu terus menangis aku tidak tahu harus berbuat apa.” Emir melihat betapa sedihnya Arimbi menangis. Lalu dia menundukkan kepalanya dan mencium airmata Arimbi yang membasahi wajahnya. “Maafkan aku Arimbi.”
Bagi Emir tidak pernah ada airmata wanita yang bisa membuatnya sedih. Namun wanita didalam pelukannya ini berhasil memberinya rasa sakit hati. Kemudian dia meraih tisu diatas meja dan menyeka airmata Arimbi sambil berkata dengan lembut, “Arimbi, aku akan merasa tidak enak hati setiap kali kamu sedih. Aku tidak bisa membuat diriku bekerja sepanjang hari karena kepalaku dipenuhi dengan pikiran tentangmu. Kamu pasti memakai pelet yang telah memantraiku agar aku luluh dan berada dibawah kendalimu. Peletmu membuat emosiku berubah drastis.”
“Rino bilang kamu menemukan kesalhan pada semua orang dikantor hari ini dan mereka mengeluhkannya sepanjang hari.” ujar Arimbi tentang apa yang didengarnya dari Rino atas apa yang terjadi dikantor hari ini. Setelah Emir melihat kalau Arimbi sudah berhenti menangis, dia menariknya kembali dalam pelukannya.
“Itu semua karena aku tidak bisa bekerja, jadi aku berkeliling mencari kesalahan pada semua orang dan membuat semua karyawan kesulitan sepanjang hari.”
__ADS_1
Seluruh karyawan mengeluh tentang Emir hari ini, mereka mengutuk orang yang menyinggung perasaan atasan mereka itu. Pada akhirnya bahkan Aslan pun ingin menghindari Emir untuk hari ini.
Emir tahu kalau dirinya sangat kejam setiap kali dia sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Sudah lama sejak dia mempersulit karyawannya di kantor.
“Emir….”
“Tidak, panggil aku sayang. Aku suka caramu memanggilku dengan begitu mesra. Terutama saat kamu memanggilku dengan nada yang manja dan imut. Ekspresi dan wajahmu saat memanggilku sayang seperti itu sangat mempesona.”
Sambil nyegir, Arimbi mencubit wajah tampan Emir, “Siapa yang melarangku memanggilmu sayang dengan nada mesra sejak awal?”
Dengan snyum pahit Emir meraih tangan Arimbi untuk menghentikan cubitannya. “Bahagia sekarang hah? Kamu telah berhasil membuat seorang Emir Rayyanka Serkan kehilangan urat malunya.”
Emir langsung berpikir untuk tidak pernah sungguh-sungguh mengucapkan kata-kata setiap kali dia berbicara agar karma tidak menyerang. Ketika itu terjadi, wajah yang tampan itu akan sangat malu.
Ada saat-saat dimana dia merasa curiga bahwa Arimbi adalah wanita tanpa wajah didalam mimpinya, karena dia tidak pernah mengalami perubahan mendadak seperti ini dalam waktu sesingkat itu.
Namun Emir kini tak pernah lagi bermimpi buruk, sejak dia dan Arimbi melakukan hubungan suami istri beberapa kali. Yang kini ada didalam pikirannya adalah membuat wanita itu bahagia dan tak pernah menangis lagi.
“Sayang, kamu pasti lapar karena tidak makan seharian. Ayo kita makan sekarang. Ingat ya dimasa depan jika kamu marah lagi kamu tidak boleh melewatkan waktu makanmu. Yang kalah pada akhirnya adalah kamu.”
__ADS_1
“Aku akan sedih dan patah hati jika aku tahu kamu membuat dirimu kelaparan. Orang yang melewatkan makan karena marah adalah orang bodoh.” Arimbi mencium bibir Emir. Bagia Arimbi sangatlah bodoh jika seseorang membuat dirinya kelaparan karena amarahnya sendiri.
Setelah mendengar apa yang dikatakan istrinya, Emir berkata, “Jadi kamu pasti makan sangat banyak tadi, iyakan?”
Arimbi merasa malu sekali,”I—itu tidak banyak. Aku hanya makan dan minum sepuasku ketika tiba waktunya untuk makan bahkan jika dunia akan kiamat. Aku ingin kamu tahu bahwa aku memperlakukan tubuhku sebagai kuil suci.”
Emir tidak yakin apakah harus tertawa atau menangis setelah mendengar ucapan istrinya. Dia kehilangan nafsu makan karena Arimbi, namun Emir selalu makan dan minum sampai kenyang karena Arimbi.
Dia selalu melakukan itu setiap kali bersama Arimbi karena suasana hatinya bagus. Melihat ekspresi wajah Emir, Arimbi sedikit tersipu sebelum dia meraih wajahnya dan menciumnya dengan kuat.
Awalnya Emir tak memberikan reaksi apapun. Namun dia pun luluh dan mengencangkan pelukannya dipinggang Arimbi saat wanita itu dengan nakalnya membelai bibir Emir dengan bibirnya. Emir menariknya lebih dekat dan memegang bagian belakang kepalanya untuk menahan pergerakan Arimbi.
Lalu dia menyerang bibir Arimbi, setelah serangan berulang kali hingga bibir wanita itu bengkak dan merah, barulah Emir mengakhiri ciumannya dengan napas lembut.
Setiap kali Emir selesai mencium bibir Arimbi, dia merasakan api gairah didalam dirinya semakin besa dan ganas. Hasrat itu semakin besar dan membara sehingga hampir menenggelamkannya dilautan api.
Emir berusaha yang terbaik untuk mencegahnya mengingat dia baru saja dimaafkan oleh istrinya. Mungkin dia bisa merayunya lagi nanti malam, sejak mereka melakukan hubungan suami istri beberapa kali Emir bisa merasakan jika hasratnya sangat tinggi setiap kali bersama Arimbi.
Dia memikirkan kondisi kakinya saat ini, bagaimana jika kakinya sudah pulih kembali? Dia akan memuaskan dirinya sampai dia puas membuat Arimbi tidak bisa berjalan.
__ADS_1
Bagaimanapun dia ingin mengikat erat Arimbi agar selalu berada disisinya. Dan cara terbaik yang bisa dilakukannya adalah secepatnya membuat istrinya hamil.
Tapi mengingat rumor yang beredar diluaran yang mengatakan kalau dia mandul, Emir merasa sedikit galau kalau Arimbi hamil mungkin akan banyak orang yang akan menuduhnya yang bukan-bukan.