GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 412. JOANA KEMBALI


__ADS_3

“Joana, mungkin sebaiknya kamu kembali saja pada Dion! Ayahmu dan perusahaannya sedang mengalami masalah. Kata Emir, kalau Dion yang membantu perusahaan ayahmu. Dion sekarang sedang menanganinya. Kamu sudah banyak berhutang budi padanya. Soal bagaimana dia memperlakukanmu, Joana…..bersikap baik dan lembutlah padanya. Aku yakin dia tidak akan menekanmu.”


Arimbi sudah memikirkannya setelah Emir memberitahunya tentang apa yang dilakukan Dion. Pria itu hanya ingin membuat Joana dan keluarganya berhutang budi padanya sehingga Joana akan terikat selamanya.


“Coba pikirkan baik-baik! Sejauh manapun kamu melarikan diri dari Dion, pada akhirnya dia pasti akan menemukanmu.”


“Tapi Arimbi…..aku tidak tahan kalau di kekang terus. Aku mau kebebasanku!” Joana protes.


“Kamu juga harus paham kenapa dia melakukan itu! Untuk pertama kalinya dia memperlakukan seorang wanita seperti itu! Kamu beruntung Joana, dia sangat protektif dan ada alasannya kenapa dia melakukan itu! Dia hanya ingin melindungimu! Cobalah mengerti.”


“Aku tidak tahu apakah itu benar. Tapi aku tidak suka dia selalu melarangku keluar. Dan kalaupun aku keluar harus mendapatkan izinnnya dan diikuti pengawal. Aku merasa tidak bebas selalu diikuti kemanapun!” Joana masih bertahan pada egonya. Meskipun dia menyukai Dion tapi bersama pria itu membuatnya terkekang dan kehilangan kebebasannya.


“Dion Harimurti adalah seorang pengusaha sukses! Dia juga pasti mempunyai banyak musuh sama halnya dengan Emir! Aku juga tidak sebebas dulu lagi apalagi sekarang aku sedang hamil! Kemanapun aku pergi maka segerombolan pengawal dan pelayan akan mengikutiku? Tapi aku menimati saja semuanya sebagai bagian dari keseharianku! Karena suamiku bukan orang biasa!”


Joana terdiam sejenak mendengar perkataan sahabatnya itu. Sejak awal dia lah yang memilih Dion Harimurti, dia yang memutuskan untuk naik keranjangnya malam itu. Dan sekarang dia mengandung anak Dion sudah bisa dipastikan pria itu tidak akan membiarkannya begitu saja.


“Arimbi, benar juga yang kamu katakan! Tapi apa yang harus kulakukan sekarang?”


“Temui Dion! Minta maaf padanya atau kamu boleh bersikap lembut dengan merayunya. Aku yakin dia tidak akan membuangmu! Dia mencarimu kemana-mana! Dan setiap hari dia menjenguk ayahmu! Joana, pikirkan baik-baik ya jangan ikutkan emosi sesaat yang kelak akan kamu sesali! Kamu butuh waktu untuk memahami Dion tapi aku yakin kalian akan baik-baik saja.”


“Semua tergantung pada sikapmu! Dion itu seorang yang keras dan egonya tinggi, kalau kamu terus bersikap sama sepertinya yang ada kamu yang akan tertekan! Bagaimanapun sebagai seorang wanita kamu harus bersikap lembut dan manja! Lihat saja aku! Dulu Emir selalu memperlakukanku sangat buruk tapi aku tidak menyerah karena aku sudah memilihnya.”


“Baiklah! Aku mendengarkanmu! Aku tutup dulu teleponnya.” ucap Joana menghela napas.


“Ingat ya! Kamu harus temui dia hari ini juga! Apa kamu tidak takut kalau seandainya ada perempuan lain yang mendekatinya?” Arimbi berusaha menakut-nakuti Joana.


“Memangnya ada?” Joana mengerutkan dahinya berpikir keras.


“Banyak! Bukan tidak tertutup kemungkinan, satu dari sekian banyak wanita itu mampu menyentuh hati Dion! Dan kamu hanya akan menjadi penonton saja!”


“Iya ya……tidak perlu perpanjang lagi! Aku akan menemuinya sekarang juga!” Joana pun langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Arimbi. “Aihhhhh jangan sampai itu terjadi! Masa anakku kelak lahir tanpa ayahnya?” sungut Joana. Dia pun berkemas dan mengganti pakaiannya. Dia merias sedikit wajahnya dan memilih pakaian yang cocok.

__ADS_1


Joana pun memesan taksi yang membawanya menuju ke kantor Dion.


Sementara itu di kantor perusahaan Harimurti group, Dion sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Setelah beberapa hari sejak dia melihat Joana, semua orang jadi tempat pelampiasan kemarahan pria itu.


Terutama di perusahaan, banyak staff yang takut untuk bertemu dengannya. Dion yang sedang berada di ruang kerjanya tampak fokus menatap layar komputer dihadapannya.


Tok tok tok


Asistennya membuka pintu dan masuk kedalam, dia tidak berani mendekati meja kerja Dion.


“Ada apa? Kenapa kamu berdiri saja disana?” tanya Dion melirik sekilas kearah pintu.


“Tuan, ada Nona Joana di bawah.”


Dion mengangkat kepalanya dan menatap tajam pada asistennya, “Apa katamu?”


“Nona Joana ada dibawah. Apakah saya harus membawanya kesini?”


Dion melemparkan pena yang tepat mengenai kening asistennya. “Dasar bodoh! Kenapa kamu masih bertanya? Cepat bawa dia kesini sekarang! Dan katakan pada resepsionis, jika Joana datang ke kantor ini lagi suruh mereka langsung mengantarnya ke ruanganku!” ekspresi wajah Dion langsung berubah. Yang tadinya menegang dan muram kini tampak bersinar.


Tanpa menunggu lebih lama lagi asistennya segera menghubungi resepsionis untuk membawa Joana ke lantai atas. Asisten itu menunggu didepan lift, dan saat pintu lift terbuka dia memasang senyum menyapa Joana.


“Selamat siang Nona.”


“Hem….selamat siang! Apa Dion ada diruangannya?”


Asisten itu menatap resepsionis yang masih berdiri dibelakang Joana dan berkata, “Kamu boleh kembali!”


“Mari ikut dengan saya Nona! Tuan Harimurti sudah menunggu anda.” ucap asisten itu tersenyum.


“Kamu terlihat senang? Memangnya ada apa?” tanya Joana dengan suara lirih. Sebenarnya dia merasa ketakutan menghadapi Dion, dia khawatir kalau pria itu akan memarahi dan menghukumnya seperti biasanya.

__ADS_1


“Saya senang melihat anda baik-baik saja nona. Silahkan masuk! Tuan Harimurti ada didalam.’


Asisten itu membukakan pintu ruangan Dion dan sedikit mendorong Joana masuk kedalam lalu menutup pintunya. ‘Fuuuhh! Begitu aku bilang Nona Joana ada disini, wajah Tuan Harimurti langsung berubah! Mudah-mudahan saja kedatangan Nona Joana membuat suasana hatinya membaik! Aku tidak perlu mendengarkan omelannya lagi!’ keluh asisten itu.


Sementara Joana yang sudah berada didalam ruang kerja Dion hanya berdiam setelah pintu ditutup. Karena tidak ada suara apapun, Dion mengangkat wajahnya menatap kearah pintu. Tatapannya bertautan dengan Joana yang sedang menatapnya. “Kemarilah!” ucapnya dengan suara lembut.


“Hah?” Joana mengerjapkan matanya mendengar suara Dion.


‘Dia tidak marah?’ pikirnya.


“Kemarilah! Apa aku harus mengulangi perkataanku?”


Joana pun melangkah menghampiri Dion tanpa berkata apapun. Tangan Dion terulur memintanya untuk mendekat. Begitu Joana sudah berada tepat disampingnya, Dion langsung menarik wanita itu hingga jatuh di pangkuannya. Tangan Dion langsung memeluk Joana dengan erat.


“Kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya. Joana kembali diam karena terkejut mendengar suara Dion yang tak seperti biasanya. “Kenapa diam? Masih marah?”


“Ehm….aku baik-baik saja. Kamu kenapa?” ujar Joana.


“Maksudmu?” Dion meletakkan wajahnya di ceruk leher Joana dan menghirup aroma tubuh wanita itu yang sudah dirindukannya sekian lama.


“Kamu tidak marah? Aku---aku sudah membuat masalah.”


“Ssstttttt……..kamu sudah makan?” bukannya menjawab pertanyaan Joana, tapi Dion malah balik bertanya hal lain. “Kamu tampak kurusan! Apa dia baik-baik saja?” tanya Dion lagi.


“Ya.” hanya itu yang keluar dari bibir Joana, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia tidak menyangka sikap Dion seperti itu.


Tanpa menunggu jawaban Joana, pria itu langsung menghubungi asistennya untuk memesankan makanan untuk Joana. Merasa risih duduh di pangkuan Dion, wanita itu ingin bangkit namun tangan Dion semakin erat memeluknya.


“Jangan kemana-mana! Aku merindukanmu!” ucapnya langsung mencium bibir Joana yang tak bergeming saking terkejutnya dengan perubahan pria itu.


Dion baru melepaskan Joana setelah wanita itu kehabisan napas. Bibirnya nampak bengkak dan memerah akibat ciuman ganas Dion yang sudah menahannya sekian lama. Pria itu tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2