
Sementara itu di ruang kerja Direktur Rafaldi Group terlihat Arimbi mendengarkan penjelasan dari ayahnya dengan serius. Tiba-tiba teleponnya berdering dan Arimbi melihat siapa yang meneleponnya.
Nomor itu tidak ada dalam daftar kontaknya sehingga dia mengabaikan. Tapi teleponnya kembali berdering, lalu dia pikir itu mungkin nomor telepon Emir atau pengawalnya sehingga dia pun memutuskan untuk menjawabnya.
“Ayah, ada telepon masuk. Aku jawab dulu ya.” ucap Arimbi yang langsung menjawab telepon setelah melihat anggukan dari ayahnya. “Halo.”
“Arimbi! Ini Zivanna. Katakan padaku bagaimana kamu merayu Tuan Emir? Bagaimana dia bisa secara pribadi meminta Michele untuk mendesain empat puluh set pakaian sehari-hari untukmu? Pelayanan seperti apa yang kamu berikan padanya sehingga bisa mendapatkan semua itu, hah?”
Arimbi sangat terkejut. Apakah Emir meminta Michele untuk mendesain pakaian sehari-hari untukku? Mengapa aku tidak tahu apa-apa tentang ini? Pikirnya.
“Arimbi! Aku akan memberimu kesempatan untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi? Kalau tidak jangan salahkan aku karena aku tidak akan menahan diri untuk membuat hidupmu semakin susah!”
“Nona Zivanna, apa hakmu untuk meminta penjelasan dariku? Apa kamu marah karena Michele mendesain pakaian untukku? Atau kamu marah karena Emir yang memintanya untukku? Aku heran dengan sikapmu seperti ini.” ujar Arimbi tanpa merasa takut sedikitpun.
Zivanna terdiam sesaat namun tak lama kemudian dia kembali berteriak, “Arimbi! Coba saja kamu berani menyentuh Tuan Emir kalau berani! Kamu tidak pantas untuknya! Apa kamu pikir bahwa karena Tuan Emir cacat sekarang kamu pantas untuknya? Sudah kubilang udik desa sepertimu bahkan tidak pantas untuk memegang sepatunya!”
Arimbi menjawab dengan dingin, “Nona Zivanna. Jika kamu sangat pantas untuk Tuan Emir, mengapa aku tidak melihatmu menikah dan menjadi istrinya? Memangnya kamu itu siapa? Aku bahkan merawatnya setiap hari, sudah pastilah aku menyentuhnya. Aku membantunya memilihkan pakaian untuknya, menyuapinya dan memakaikan sepatunya. Dari segi mana kamu punya hak memerintahku? Memangnya kamu itu siapanya Tuan Emir?”
Dia mungkin memang udik desa tapi dialah yang menikah dengannya dan mendapatkan semua kasih sayangnya. Emir bahkan sangat memanjakannya. Apakah aku harus mengatakan padanya kalau aku menerkam Emir hampir setiap malam dan pagi hari? Pikir Arimbi.
Zivanna tidak bisa menjawab perkataan Arimbi.
“Dengarkan aku baik-baik ya Nona Zivanna. Setelah Tuan Emir mengalami kecelakaan dan cacat. Kamu bahkan lari lebih cepat dari kelinci Nona Zivanna! Tapi sekarang kamu berani menanyaiku? Hak apa yang kamu punya hah? Kamu pikir kamu itu siapa? Jangankan menyentuh sepatu Tuan Emir, untuk bicara dengannya saja kamu sulit mendapatkan kesempatan!”
__ADS_1
Zivanna sangat marah sehingga dia ingin membuka mulutnya untuk membantah Arimbi beberapa kali, tetapi dia tidak bisa bicara. Arimbi bahkan sepertinya tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
“Apakah kamu menyukai vas bunga murah yang dihadiahkannya padamu di pesta ulang tahunmu? Tidak sadarkah kamu bahwa dia hanya menghargaimu begitu murah? Sedangkan aku mendapatkan lebih dari sebuah vas bunga murahan!”
“Ingat ya Nona Zivanna! Tidak peduli seberapa kayanya kamu atau keluargamu, nilaimu hanya akan ditentukan oleh karakter, kebaikan dan ketulusan yang dimiliki. Dan semua itu tidak ada padamu! Kamu sangat angkuh dan suka merendahkan orang lain! Apakah kamu pikir akan ada lelaki akan menyukaimu hanya karena kamu berasal dari keluarga kaya? Ingat nilaimu Nona Zivanna!”
Arimbi sudah tidak peduli lagi, bagaimanapun wanita-wanita gila penggemar Emir akan menyerangnya tanpa ampun. Apakah dia berstatus sebagai istri sah atau hanya pengasuh, selama dia berada didekat Emir, semua orang akan terus mempersulitnya. Dia sudah tahu ini akan terjadi cepat atau lambat tapi dia tidak menyangka akan secepat ini.
Zivanna sangat marah, dasar Arimbi sialan! Sejak kapan doa menjadi begitu berani sehingga dia bahkan tidak menganggapku serius lagi? Apakah itu karena perlakuan khusu Tuan Emir padanya?
“Arimbi! Apa kamu tahu dengan siapa kamu sedang bicara?” ucap Zivanna dengan gigi terkatup. Siapapun bisa langsung tahu kalau dia sangat marah.
“Bukankah kamu itu Nona Zivanna Lavani? Aku sedang bicara denganmu bukan?” jawab Arimbi.
“Oh ya? Kamu pikir aku takut? Kamu hanya perempuan lemah dan bodoh yang mengandalkan semua saudara laki-lakimu saja! Kalau kamu berani hadapi saja aku langsung!”
Saking marahnya Zivanna langsung menutup teleponnya. Arimbi melepaskan telepon dari telinganya lalu menoleh pada ayahnya yang kebingungan mendengarnya bicara seperti itu.
“Arimbi, untuk bertahan hidup di masyarakat ini kamu tidak bisa berlidah tajam seperti itu. Kamu bisa menyinggung orang, kamu jangan lupa kalau kamu mewakili Keluarga Rafaldi dan Keluarga Serkan sekarang. Kamu harus menjaga citramu.”
“Ayah, Nona Zivanna menyerah pada Emir atas kemauannya sendiri jadi hak apa yang dia punya untuk menanyaiku dan menyalahkanku? Apa aku harus membiarkannya meneriaki aku hanya karena keluarganya lebih kaya daripada keluarga kita?” ujar Arimbi.
“Aku hanya tidak suka jika Nona Zivanna mengancamku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Ini semua pasti karena Amanda yang mengatakan sesuatu padanya. Sama seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Ayah percayalah padaku, aku tidak pernah mencari masalah tapi orang-orang ini tidak akan berhenti menggangguku.”
__ADS_1
“Aku mengerti. Ada apa hubungannya telepon yang baru kamu terima itu dengan Amanda?”
“Ayah bagaimana bisa Nona Zivanna bisa mempunyai nomor teleponku kalau bukan dia dapatkan dari Amanda. Seperti kejadian di pesta ulang tahun waktu itu, apa ayah tidak tahu kalau Amanda dan Reza bertemu dan berbincang sebelum Reza membubuhkan obat bius diminuman yang dikirimnya untukku? Apa ayah tidak berpikir jika Amanda ada hubungannya dengan semua ini?”
“Jika saja malam itu aku meminum minuman itu, entah apa yang akan terjadi padaku. Tapi untungnya nasib baik masih berpihak padaku karena Emir juga berada disana. Dia juga mempunyai rekaman CCTV dari acara pesta ulang tahun malam itu. Ayah, maaf jika aku tidak akan pernah merubah sikapku pada Amanda. Aku tidak bisa percaya padanya.”
Arimbi memperhatikan ekspresi wajah ayahnya, dia sadar jika ayahnya masih mempercayai Amanda. “Ayah, Reza dan Amanda mempunyai hubungan. Sekarang Reza akan menikahi Nona Ruby, Amanda tidak akan berhenti menggangguku sehingga dia memakai hubungannya dengan Nona Zivanna untuk menyulitkanku.”
“Kenapa sepertinya dia marah-marah padamu begitu?” tanya Yadid.
“Dia mengancamku karena dekat dengan Emir. Ayah, ini bukan salahku jika mempunyai suami tampan dan kaya yang diminati banyak wanita. Ini salah satu alasan kenapa kami merahasiakan pernikahan kami. Ayah bisa bayangkan kehidupan seperti apa yang ku jalani jika semua orang tahu aku adalah istri sah Emir. Semua wanita itu pasti akan mengincarku.”
Yadid menghela napas panjang. “Tapi Tuan Emir berencana ingin mengadakan pernikahan mewah untukmu. Cepat atau lambat semua orang akan tahu statusmu. Arimbi….bersiap-siaplah. Perlengkapi dirindu agar bisa tampil melampaui semua orang. Kamu harus kuat untuk bisa berdiri disisi Emir.”
“Aku mengerti ayah. Jangan khawatirkan itu, aku berjanji akan banyak belajar sehingga layak untuk memegang perusahaan ini. Aku tidak akan membiarkan Amanda atau siapapun itu menyingkirkanku. Maafkan aku ayah, jika aku tidak bisa bersikap baik pada Amanda karena dia yang memulai semua.”
__ADS_1