GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 148. BALAS DENDAM


__ADS_3

Emir pun langsung mematikan telepon, namun itu malah membuat Arimbi menganga karena kaget. Pria itu benar-benar langsung memutuskan teleponnya tanpa berkata-apa-apa lagi. Padahal yang diinginkan Arimbi adalah pria itu mengatakan kalau sebenarnya dia merindukan istrinya. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, mungkin harus menunggu sampai matahari terbit dari barat.


Setelah itu supir mengantarkan Arimbi kerumah orang tuanya. Sesampainya di kediaman Rafaldi, arimbi melihat bahwa hanya ada kedua orang tuanya yang ada dirumah sedangkan Amanda tak tahu kemana rimbanya dan Arimbi pun tak tertarik untuk tahu. “Arimbi, apa kamu pulang sendirian?”


Mendengar bahwa anaknya akan pulang, Yadid yang secara pribadi keluar untuk menyambutnya. Dia berpikir bahwa menantunya juga akan datang. Jadi ketika dia melihat putrinya datang sendirian mau tak mau diapun menanyakannya. Sebenarnya dia mengharapkan kedatangan menantunya itu bersama dengan putrinya.


Arimbi menyeringai sambil berkelakar berkata, “Apa kau tidak boleh pulang sendirian? Atau ayah tidak ingin melihatku lagi ya? Oh, aku sedih sekali rasanya mau menangis. Meskipun ayah bilang dia mencintaiku ternyata dia tidak ingin melihatku pulang kerumah. Mungkin ayah sekarang lebih mencintai menantunya itu.”


“Arimbi, berhentilah bersandiwara sekarang.” Yadid terkekeh melihat tingkah manja putrinya itu.


Sambil tersenyum dia menambahkan, “Aku hanya bertanya karena kukira Tuan Emir juga datang bersamamu. kamu ini benar-benar ratu drama ya.”


“Tadi Agha datang kerumah jadi aku meninggalkan kakak beradik itu dirumah supaya mereka bisa menghabiskan waktu bersama dan aku pulang kesini sendirian.” Arimbi menjelaskan.


Setelah itu dia mengulurkan sebuah paperbag berisi pakaian untuk ayahnya. “Ayah, ini untukmu. Aku membeli beberapa baju baru untukmu. Ibu dimana? Aku tidak melihatnya. Aku juga membelikan hadiah untuk ibu.” ujar Arimbi mengedarkan pandangannya mencari keberadaan ibunya.


“Aku sudah punya terlalu banyak pakaian. Kamu malah membeliku baju baru.” ucap Yadid meskipun mulutnya mengomel tapi ekspresi wajahnya berbinar cerah dan dipenuhi senyum. Setelah kembali ke keluarga Rafaldi, Arimbi memang jarang memberikan hadiah untuk kedua orang tuanya. Sebaliknya, Amandalah yang lebih sering memberikan mereka hadiah.


Sebelum Arimbi mengalami kelahiran kembali Yadid pernah berpikir bahwa sekalipun mereka telah menemukan putri kandungnya yang telah tumbuh jauh dari mereka, tapi anak itu tidak akan sedekat dan seberbakti anak angkat mereka saat itu.


“Ibumu ada didalam.”


Sambil berjalan, Yadid mengeluarkan baju itu dan berkata, “Tidak buruk. Kamu benar-benar tahu ukuranku.” dia memandangi satu persatu hadiah yang diberikan Arimbi padanya. Semuanya pas!


“Hehe….aku ini kan anak ayah. Bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

__ADS_1


Ting...tong….


Baru saja ayah dan anak itu memasuki rumah, mereka mendengar bel pintu berbunyi. Keduanya berbalik bersamaan, mereka menatap kearah pintu masuk dan mendapati beberapa mobil mewah telah terparkir disana.


Melihat hal itu, Arimbi merasa bahwa salah satu mobil yang terparkir disana terasa sedikit familiar. Itu sepertinya mobil milik Dion harimurti.


Pengawal keluarga Harimurti terus menekan bel pintunya, membuat ayah dan anak itu saling bertukar pandang. Buat apa mereka datang kerumahnya? Dia tidak ingat mengundang Dion Harimurti untuk berkunjung kerumahnya.


Setelah Emir menjadi menantunya, sebisa mungkin Yadid menghindari hubungan apapun dengan Dion Harimurti agar tidak ada kesalahpahaman kelak.


“Biar aku yang bukakan pintunya, ayah.” Arimbi berbalik dan melangkah menuju pintu.


“Aku juga ikut.” Yadid mengekor dibelakang Arimbi. Dia merasa penasaran dengan tamunya itu.


Segera setelah pengawal Harimurti melihat mereka kembali, dia berhenti menekan bel pintu. Arimbi pun segera membukakan pintu villa untuk tamunya.


Sedangkan dua orang lainnya melangkah kedepan untuk membantu Dion keluar dari dalam mobil dan duduk keatas kursi roda.


Arimbi dan ayahnya terganga saling pandang melihat pemandangan itu. Ada apa ini? Yadid mengenali Dion Harimurti tapi dia tetap tercengang. Sejak kapan Direktur Harimurti memakai kursi roda?


Saat Emir harus memakai kursi roda karena kecelakaannya, Dion mengolok-oloknya dengan kejam. Lihatlah bagaimana keadaannya malah terbalik sekarang.


‘Emir, apa kamu mau video rekaman kejadian ini?’ Arimbi memikirkan sesuatu lalu segera memahami situasinya kenapa Dion mendatangi rumahnya hari ini, itu karena ingin menagih janji padanya.


Semalam Arimbi tak sengaja menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggi setelah dia berusaha mengelak dari jebakan Zivanna.

__ADS_1


Saat itu Dion cukup baik untuk tidak mempermasalahkan tentang itu tetapi dia memperingatkan Arimbi jika dia akan kembali kalau kakinya bengkak keesokan harinya.


Arimbi mencoba melirik kearah kedua kaki pria itu dan dia sangat yakin bahwa kaki yang diinjaknya semalam kini terbalut perban putih. Membuatnya terlihat seperti risol mentah. Kaki-kaki itu telanjang tanpa menggunakan sepatu jadi terlihat membengkak.


Pengawal Dion mendorong kursi rodanya kedepan.  “Apa yang membawamu kemari Direktur Harimurti?” walaupun Yadid benar-benar merasa penasaran, dia tidak bisa secara terang-terangan menanyakan apa yang terjadi.


Karena itu dia hanya tersenyum lebar dan mengundang Dion masuk kedalam rumahnya. Dion melotot kearah Arimbi yang kini terlihat jelas sedang merasa bersalah dan hanya bisa berdiam diri.


Arimbi menggigit bibirnya tanpa berani mengatakan sepatah katapun. Dion pun meminta pengawalnya untuk mendorong kursi rodanya masuk kedalam rumah itu.


“Ayah! Dia datang kesini untuk membalas dendam padaku.” ujarnya meringis,


Yadid benar-benar tercengang mendengar perkataan putrinya yang begitu tiba-tiba itu. Dia menatap kosong putrinya selama beberapa saat.


Dengan tubuh gemetar dia bertanya pada Arimbi, “Arimbi, apa yang telah kamu perbuat pada Direktur Harimurti? Ini benar-benar pertanda tidak baik.” Yadid telah berusaha agar selalu menghindari interaksi apapun dengan Dion Harimurti.


Karena dia menganggap pria itu adalah biang onar kemanapun dia pergi. Bahkan sifatnya jauh lebih buruk daripada Emir. Memang, Emir itu sikapnya sangat dingin dan kejam tetapi tidak semenyeramkan Dion.


Karena itulah, saat mendengar bahwa Arimbi telah menyinggung perasaan Dion berarti tebakan Yadid benar, kaki berbentuk risol milik Dion itu disebabkan putrinya sendiri. Dia tahu bukan hal yang bagus bagi wanita untuk menguasai ilmu bela diri. Dengan tangan gemetar, dia merogoh ponselnya dan bergumam pelan.


“Arimbi jangan panik, aku akan segera memanggilkan Tuan Emir untukmu. Tetaplah tenang.”


“Aku tidak panik ayah. Sepertinya ayah yang panik. Aku tidak bermaksud untuk menginjak kaki Direktur Harimurti semalam! Semua itu hanyalah kecelakaan semata!” Arimbi malah terkekeh untuk menenangkan ayahnya.


“Benarkah hanya kecelakaan saja?” tanya Yadid.

__ADS_1


“Aku memang tidak sengaja menginjak kakinya, itu hanya kecelakaan saja ayah. Siapa yang tahu kalau dia tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku. Pria ini licik sekali, kemanapun aku pergi dia selalu muncul tiba-tiba seperti setan.”


__ADS_2