
“Emir! Apa kamu serius mau memberiku hamster?” tanya Arimbi. Sebenarnya dia tidak menyukai hamster. Dia menyukai kucing Ragdoll-nya, tapi jika dia tidak diizinkan memelihara kucing maka dia tidak akan keberatan memelihara beberapa ekor anjing Maltese. Dia hanya menyukai anjing dan kucing.
“Kenapa? Kamu tidak menyukainya?” tanya Emir mengeryitkan dahinya sambil menatap Arimbi.
“Aku tidak menyukai hamster. Aku suka kucing dan anjing.”
“Aku tidak memperbolehkan anjing dan kucing masuk ke rumahku. Mereka memiliki terlalu banyak bulu.” ujar Emir memberi alasanbya.
“Hamster juga berbulu.” balas Arimbi tak mau kalah.
“Tapi mereka ada didalam kandang.”
‘Huh! Dia benar-benar gila kebersihan! Apa dia tidak tahu ya kalau memelihara hewan peliharaan itu sangat menyenangkan dan bisa menghilangkan stress!’ bisik hatinya.
Ketika Emir mendengar jawaban Arimbi dia berbalik dan menatapnya, “Aku sudah jauh lebih dermawan darimu.”
Yang Arimbi berikan hanyalah sepasang tikus kecil buatan tangan yang tidak berharga bagi mereka. Aimbi pun tak tahu harus berkata apa. ‘Kan dia bisa menolak hadiahku kalau dia memang tidak suka dan tidak berharga baginya! Huh!’ keluhnya didalam hati.
Sementara mobil Emir sudah menunggu dipintu masuk dan pintu juga sudah terbuka. Para pengawal segera berbaris didepannya seperti dua barisan tentara. Mereka mangangkat Emir dan memindahkannya kedalam mobil sedangkan pengawal lain segera memasukkan kursi rodanya kedalam bagasi.
Arimbi berdiri disamping dan menyaksikan bagaimana para pengawal itu dengan terampil dan cekatan membantu Emir masuk kedalam mobil sebelum menarik kursi rodanya.
“Arimbi,” panggil Emir.
“Ya Emir?” Arimbi mendekat dan tersenyum manis.
Sebuah tangan besar terulur padanya, mata Arimbi menyapu tangan itu dan menatap pemiliknya dengan tatapan bingung. Setelah beberapa saat dia mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Emir. Saat itu juga raut wajah Emir berubah menjadi muram. Apa dia salah paham?
__ADS_1
Arimbi buru-buru menarik tangannya kembali dan tersenyum manis, “Emir, aku agak tidak peka, bisakah kau memberitahuku apa yang ingin kau lakukan tadi?”
‘Memangnya apalagi maksudnya mengulurkan tangan? Pasti dia mau aku menjabat tangannya kan?’ bisik Arimbi didalam hatinya karena tidak paham maksud Emir. ‘Dia punya mulut tapi kenapa dia tidak bisa menggunakan mulutnya untuk menjelaskan padaku?’
“Hadiahku! Mana?” seru Emir dengan suaranya yang dalam.
“Bukankah aku sudah memberikannya padamu tadi pagi ya?” Arimbi mengerjapkan matanya.
“Kan sudah kubilang kalau kau harus memberiku satu hadiah setiap kali aku pulang.”
“Hah?” Arimbi tercengan. Dia mulai memeriksa sakunya tetapi dia tidak menemukan apapun yang bisa dia gunakan sebagai hadiah.
Akhirnya dia melepas jepit rambutnya dan menyerahkannya pada Emir dengan enggan. “Aku tidak punya persiapan apapun. Jadi kalau kamu benar-benar mau hadiah aku hanya bisa memberimu ini.”
Emir melirik rambut Arimbi yang sepanjang pinggang dan jepit rambut ditangannya. Itu adalah jepit rambut biasa yang harganya kurang dari lima puluh ribu.
Meskipun Arimbi sudah kembali ke keluarga kandungnya yang kaya, tapi dia tidak mengubah gaya hidupnya atau kebiasaannya. Emir mengambil jepit rambut itu dan menutup jendela mobilnya.
Iring-iringan mobil perlahan berjalan keluar dari kompleks.
Arimbi masih berdiri dipintu masuk dan mengawasi sampai iring-iringan itu benar-benar hilang dari pandangannya sebelum dia masuk kembali kerumah. Sejak tadi Mike berdiri mengawasi mereka dan ketika Arimbi berbalik, dia menatap wanita itu dengan serius.
“Apa ada yang salah Tuan Michael?”
“Tidak. Tidak ada yang salah. Aku harus pergi sekarang, Nona Arimbi.”
Dia sudah melakukan perintah Emir dan Emir pun sudah pergi jadi dia tidak boleh berlama-lama disana. “Apa kamu mau secangkir teh sebelum pergi Tuan Michael?” tanya Arimbi.
__ADS_1
“Tidak usah. Terimakasih. Mungkin lain kali Nona Arimbi.” jawabnya.
Karena Mike bersikeras untuk pergi, Arimbi pun tidak menahannya. Saat dia ingin mengantarnya pergi, Mike menolaknya sekali lagi.
Setelah Mike pergi dan suasana rumah kembali hening dan tenang, Arimbi bersantai sejenak tapi dia kembali teringat pada mobilnya dan merasa kecewa memikirkan BMW-nya yang tanpa ban.
“Nona Muda Arimbi.” panggil Beni dengan hormat.
Arimbi berbalik dan berkata dengan lembut, “Tidak perlu memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Arimbi. Emir dan aku...yah, menikah secara rahasia. Nyonya Tua Serkan dan keluarga lainnya tidak tahu tentang hubungan kami.”
Arimbi juga tidak akan mengatakan sepatah katapun jika Emir tidak mengumumkan hubungan mereka. Karena dia tidak mau dipermainkan lagi seperti orang bodoh.
“Haruskah saya memanggil anda Nyonya Muda Arimbi ketika berada dihadapan Tuan Emir dan memanggilmu Nona Arimbi ketika ada orang luar?”
Sikap Beni pada Arimbi sangat sopan dan hormat. Beni bisa melihat bahwa Emur berperilaku agak berbeda dengan dirinya karena Arimbi. Untuk seorang pria yang keras kepala dan mendominasi seperti Emir, jika dia melanggar aturannya sendiri itu berarti bahwa dia melakukannya untuk seseorang yang memiliki tempat penting dihatinya. Beni pun memandang Arimbi sebagai seorang wanita yang baik.
“Baiklah. Kamu bisa memanggilku seperti itu.” jawab Arimbi tersenyum. Dia tidak terlalu mempermasalahkan panggilan.
“Nyonya, apakah anda akan tidur siang?”
“Apakah ada hal lain yang harus aku lakukan?”
“Tuan Muda Emir sudah meminta saya untuk memberi Nyonya tur Villa Serkan dan melakukan sepuluh putaran sampai anda terbiasa dengan lingkungan sekitar sini. Katanya tidak masalah kalau tidak ingat jalan yang lain tapi anda harus ingat jalan keluar masuk rumah ini.” kata Beni sambil tersenyum memberi penjelasan dan pesan Emir.
“Semua jalannya dilapisi tanaman hijau dan bersilangan disegala arah. Seperti berjalan di labirin saja.” ujar Arimbi kesal. Memang agak menantang untuk mengingat jalan masuk dan jalan keluar.
“Anda benar Nyonya. Jalur didekat pintu masuk memang dirancang sebagai labirin sehingga orang luar tersesat dan kesulitan menemukan jalan mereka kearea rumah tempat tinggal Ini adalah desain untuk melindungi privasi dan keamanan rumah.”
__ADS_1
Banyak pengintai yang terus mengawasi kediaman keluarga Serkan dan berita apapun yang keluar tentang mereka akan menyebar seperti bara api keseluruh negeri. Dunia luar selalu tertarik dengan Villa Serkan yang misterius tetapi mereka hanya bisa mengandalkan para pengintai untuk menggali informasi sesekali. Karena itulah para pengintai selalu tertarik untuk mengambil foto kehidupan pribadi keluarga serkan.
Bahkan banyak dari mereka yang menyelinap kedalam kompleks ketika penjaga keamanan sedang sibuk. Makanya pintu masuk dibuat seperti labirin untuk menghalangi mereka. Ada juga lebih dari selusin anjing galak yang dipelihara jauh didalam kompleks. Arimbi mengerucutkan bibirnya dan menggerutu pelan, namun dengan terpaksa dia emngikuti Beni berkeliling Villa Serkan.