GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 321. CEMAS DAN KHAWATIR


__ADS_3

Amanda menghentikan mobilnya, lalu dia mengeluarkan ponselnya yang berdering sejak tadi. Dia menatap layar ponsel itu melihat bahwa Reza yang menghubunginya. Sambil menghempaskan napas kasar Amanda tak menjawab panggilan itu.


Dia teringat kata-kata ayahnya, semua yang dikatakan ayahnya padanya, untuk pertama kalinya dia menyadari ada ketidak puasan dalam nada bicara ayahnya.


 


Lalu dia menurunkan jendela mobilnya dan menghirup udara dalam-dalam mengisi kesesakan didadanya. Entah mengapa sejak dia meninggalkan kediaman keluarga Rafaldi ada perasaan tak enak didadanya seolah ada sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


 


‘Untuk pertama kalinya aku meninggalkan rumah! Rumah yang sudah kutempati selama lebih dua puluh tahun! Arrggggg! Sialan! Brengsek! Kenapa bisa jadi begini? Siapa yang menghubungi Reza malam itu? Kenapa dia ada disana bersamaku? Aku harus mencari tahu semuanya! Aku tidak mau kehilangan semua yang kumiliki!’


 


‘Kenapa bukan Arimbi yang meminum wine itu? Padahal aku yang memesan minuman dan memasukkan obat itu ke minumannya. Isss…...pantas saja sikapnya tenang dan biasa saja!’ Amanda bergumam didalam hatinya.


Dia mencoba mengingat kembali kejadian malam itu, dia yang memesan tempat itu dengan mengatakan pada Arimbi kalau Tuan Jordan yang mengajak mereka makan malam.


 


Yang membuatnya bingung adalah, kenapa hanya dia saja yang mabuk sedangkan Arimbi dan Tuan Jordan nampak tidak terpengaruh setelah meminum wine pesanan Amanda? Dia memijit pelipisnya, bukankah Gio yang mengatur semuanya malam itu? Gio yang meminta pada anak buahnya untuk mengatur minuman yang akan dipesan.


 


Amanda menatap ponselnya, ‘Apa aku harus menelepon Gio dan menanyakan soal malam itu? Memalukan sekali? Kenapa aku sesial ini? Apa yang harus kukatakan pada Gio? Aku menerima untuk menjalin hubungan dengannya karena hanya dia yang bisa kuandalkan untuk membalas dendam dan mengambil alih Rafaldi group!’


 


Kedua tangannya memegang erat kemudi, ‘Tuan Emir menikahi Arimbi! Dia semakin kuat dengan dukungan keluarga Serkan! Lalu bagaimana denganku? Keluarga kandungku bukan orang kaya dan mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantuku. Arrgggggg…….”


 


Dreeettt dreeettttt dreeeettttttt


Ponselnya berbunyi. Sejak tadi ponselnya tak berhenti berdering tapi Amanda sedang tidak mood untuk menjawab panggilan dari siapapun.


‘Zivanna……?’ gumamnya saat melihat nama penelepon dilayar ponselnya. Setelah berpikir sejenak akhirnya Amanda memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


“Halo Zivanna.”

__ADS_1


“Dimana kamu Amanda? Tadi aku ke kantormu tapi Sandra bilang kamu pergi ke luar negeri?”


 


“Iya, aku baru saja tiba di hotel tempat aku menginap.” jawab Amanda berbohong.


“Kirimkan lokasimu sekarang. Aku akan menyusulmu kesana! Banyak hal yang harus kita selesaikan!”


“Ehm….Zivanna. Saat ini aku benar-benar terpuruk akibat kejadian malam itu! Aku dijebak dan aku tidak sadar apa yang terjadi malam itu. Aku ingin sendiri dulu untuk menenangkan diri. Aku akan menghubungimu nanti saat aku sudah tenang.”


 


“Oh, kamu berani menolakku sekarang? Apa kamu tahu yang terjadi setelah kamu pergi?” ujar Zivanna marah karena dia tidak suka penolakan.


“Kenapa kamu harus pergi? Kalau kamu malu ketemu orang, kamu bisa diam dirumah saja untuk sementara sampai masalah itu selesai!”


 


“Bukan begitu Zivanna! Ibu yang menyuruhku untuk pergi sementara. Aku tidak bisa menolaknya karena aku sudah membuat malu dan kedua orang tuaku sangat marah!”


“Seharusnya mereka bukan mengusirmu begitu! Eh, dengarkan aku baik-baik ya. Tadi aku ke kantormu dan bertemu Arimbi disana! Tingkahnya seperti sudah bos besar saja! Dia bahkan memarahi Sandra.”


 


“Ya, dia bahkan melarangku untuk datang lagi ke kantormu! Lihatlah si udik itu sangat sombong sekarang! Dia pikir karena dia sudah menikahi Tuan Emir bisa seenaknya seperti itu! Amanda, kamu harus secepatnya merebut Rafaldi Group! Jangan sampai Arimbi mengambil alih semuanya selagi kamu tidak ada!”


 


“Tidak mungkin dia melakukan itu! Dia tidak punya pengalaman menjalankan perusahaan! Untuk saat ini aku tidak bisa melakukan apapun, aku harus tetap mendapatkan dukungan orang tuaku. Jika mereka sampai membenciku, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi keperusahaan! Zivanna…..biarkan saja.”


 


“Fuuhhh! Dasar lemah! Supaya kamu tahu ya, Gio tidak mempermasalahkan soal insiden itu! Dia tulus mencintaimu! Kamu masih bisa mengandalkan Gio selama kamu menjauhi Reza dan laki-laki lain. Tapi jika keluarga Rafaldi mengusirmu, maka kesempatanmu sudah tidak ada! Kamu paham kan?”


 


“Ya aku sangat paham. Tapi, untuk saat ini aku benar-benar ingin sendiri menenangkan diriku. Saat waktunya tiba aku akan kembali dan menjalankan rencana kita.”


“Kapan kamu akan kembali?”

__ADS_1


“Belum tahu. Ayah bilang akan menghubungiku setelah tiba waktunya aku harus kembali.”


 


“Ck! Kamu percaya begitu saja pada ayahmu? Atau kamu tidak pernah berpikir mungkin orang tuamu sengaja mendorongmu menjauh dari mereka? Tadi, Sandra memberitahuku kalau ayahmu memanggil tim pengacaranya untuk membahas hal penting. Mereka berada disana cukup lama!”


 


Amanda terdiam mendengar perkataan Zivanna, tim pengacar hanya akan dipanggil Yadid jika ada hal penting yang harus dilakukan! Kenapa tiba-tiba ayah memanggil tim pengacaranya? Ada apa sebenarnya? Apakah ada masalah besar di perusahaan?


 


“Ah, mungkin ada masalah di perusahaan makanya ayah memanggil tim pengacaranya.”


“Cih! Dasar bodoh! Sandra juga bilang kalau sekretaris ayahmu mengambil alih semua pekerjaanmu dan menyerahkannya pada Arimbi! Bisa saja ayahmu sengaja menyuruhmu pergi agar dia bisa memberikan posisimu pada Arimbi! Ini masuk akal kan?”


 


“Baiklah. Zivanna, terima kasih informasinya. Aku akan menanyakan pada Sandra nanti. Jangan khawatir, aku akan tetap menjabat di perusahaan itu.”


“Satu hal lagi, hubungi Gio secepatnya! Dia mengkhawatirkanmu dan jangan biarkan dia tidak tenang karena memikirkanmu. Setidaknya dia tahu kalau kamu baik-baik saja.” kata Zivanna lagi.


 


“Baiklah. Tapi aku malu sekali! Apa yang harus kukatakan padanya nanti? Aku sangat buruk, aku tidak pantas untuknya.” ucap Amanda dengan suara lirih.


“Pantas atau tidak pantas itu ada ditangan Gio! Kalau dia masih mau menerimamu sekarang, sebaiknya kamu pikirkan itu! Ingat Amanda tanpa menyandang nama keluarga Rafaldi kamu itu bukan siapa-siapa. Kalau Gio masih mau menerimamu, aku harap kamu jangan kecewakan kakakku!”


Klik…


Zivanna memutuskan panggilannya saat Amanda ingin mengatakan sesuatu. Dia menghela napas panjang dan menatap lurus ke jalanan didepannya. Lalu dia menyalakan mobilnya dan kembali melaju.


‘Sebaiknya aku bergegas sampai disana sebelum malam! Kalau bukan karena ibu yang menyuruhku pergi ke desa, aku tidak akan pernah mau pergi kesana!’


 


‘Bagaimana bisa aku menjalani hari-hariku ditempat seperti itu?’ Amanda tak henti-hentinya bergumam didalam hatinya. Apalagi tadi Zivanna memberitahunya jika Yadid memanggil tim pengacaranya, sebenarnya saat ini hati Amanda sudah mulai merasa tak tenang. Dia khawatir jika ayahnya melakukan sesuatu saat dia tidak ada.


 

__ADS_1


 


__ADS_2