
Dion mengeryitkan keningnya menatap wanita yang terbaring diatas ranjangnya lalu balik menatap pengawal didepannya. ‘Sejak tadi aku bersama Arimbi disini, kenapa dia barusan bilang kalau dibawah ada Tuan Emir dan Arimbi?’ bisik hati Dion. ‘Ada apa ini sebenarnya? Lalu siapa yang ada dibawah bersama dengan Emir?’
“Usir mereka! Jangan izinkan siapapun yang masuk kedalam! Aku tidak peduli apakah itu Emir dan Arimbi karena Arimbi ada didalam kamar ini. Aku bersamanya sejak semalam! Cepat usir mereka!” teriak Dion dengan amarah. “Tidak ada seorangpun yang boleh naik kesini.”
“Baik Tuan.” jawab pengawal itu bergegas pergi dengan langkah cepat.
Dion menutup pintu kamarnya dan berdiri diam disana sambil menatap kearah ranjang. Joana yang sedari tadi mendengar semua pembicaraan Dion dengan pengawal itu sudah berkeringat dingin. Ketakutannya semakin besar dan dadanya terasa sesak. Memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi jika Dion mengetahui kebenarannya.
‘Semoga saja Arimbi dan Tuan Emir bisa masuk kesini! Bagaimana caranya aku melarikan diri dari tempat ini kalau Arimbi dan Tuan Emir tidak berhasil masuk? Ah, ini adalah ideku dan aku seharusnya sudah tahu resiko yang harus kutanggung.’ bisik hati Joana.
(Sementara itu saat Emir dan Arimbi tiba di area villa milik Dion Harimurti)
Para pengawal yang berjumlah lima orang yang sudah menunggu disana sejak semalam segera menghampiri mereka. Saat ini Emir membawa pengawal lain berjumlah sepuluh orang, mengingat laporan anak buahnya yang mengatakan hanya ada sepuluh pengawal di villa itu.
Saat Emir yang didorong oleh Rino turun dari mobilnya yang berhenti tepat didepan villa, membuat para pengawal keluarga Harimurti segera menghampiri dan menghentikan rombongan itu.
“Berhenti! Ada keperluan apa kalian datang kesini?” ujar salah satu pengawal keluarga Harimurti yang baru saja datang saat melihat Emir turun dari mobil.
Mata para pengawal Dion pun memicing, ada ekspresi kebingungan saat melihat kehadiran Arimbi yang baru saja turun dari dalam mobil. Para pengawal saling pandang seolah bertanya satu sama lain.
“Kami kesini mau bertemu Tuan Harimurti! Dia telah memerintahkan orang untuk menculik seseorang tadi malam. Kami mau menjemput orang itu.” ucap Rino mewakili Emir.
“Tuan Dion tidak ada disini.” jawab pengawal itu ketus.
“Jangan bohong! Aku tahu dia disini, tepatnya sedang berada di kamarnya. Iyakan?” ujar Arimbi yang langsung membuat para pengawal itupun terdiam. Mereka benar-benar bingung dan heran melihat Arimbi didepan mereka.
Bukankah mereka menculiknya tadi malam dari tempat parkir kelab malam mewah itu? Dan pakaian Arimbi juga sudah ganti, bukan pakaian yang dipakainya tadi malam.
__ADS_1
Darimana dia mendapatkan pakaian itu? Sedangkan Tuan Dion belum ada memerintahkan mereka untuk membelikan pakaian untuk Arimbi sejak tadi malam. Sedangkan villa itu tidak ada pakaian lain. Kapan Arimbi pergi keluar untuk membeli pakaian baru? Kenapa mereka tidak melihatnya keluar?
Sepanjang malam tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam villa. Lantas, kapan Arimbi keluar dari villa itu? Pimpinan pengawal itu pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tiba-tiba dia merasa ketakutan jika dia membawa masalah baru? Pasti Tuan Dion akan mengamuk jika dia tahu kalau Nona Arimbi berada didepan.
“Kalian jangan membuat keributan disini!” ujar pengawal itu lagi lalu menoleh kearah Arimbi.
“Maaf Nona, silahkan kembali kedalam! Tuan Harimurti akan marah pada kami kalau dia tahu Nona ada disini. Mari, silahkan masuk Nona.”
“Hei! Siapa yang buat ribut? Kami datang kesini baik-baik. Aku datang untuk bertemu Dion! Katakan padanya untuk menemuiku sekarang atau dia akan menyesalinya nanti!” ujar Arimbi dengan nada kencang.
Arimbi menatap pengawal itu dengan tajam. Pria itu adalah orang yang pernah dihajar oleh Arimbi sehingga dia tahu kemampuan wanita itu tidak bisa disepelekan.
“Cepatlah! Katakan padanya Arimbi Saraswaty Rafaldi datang menemuinya! Wanita yang kalian culik kemarin malam bukan aku tapi orang lain!” ujar Arimbi.
Mendengar perkataan Arimbi membuat pimpinan pengawal keluarga Harimurti pun mengeryitkan dahinya. Dia merasa kebingungan dan tak tahu harus berkata apa. “Kamu!” tunjuknya pada salah satu pengawal. “Pergi keatas dan temui Tuan Harimurti! Sekalian kamu cek apakah Nona Arimbi ada didalam kamar Tuan.”
Arimbi mengepalkan tangannya mendengar ucapan pimpinan pengawal Dion itu. Amarahnya memuncak dan saat itu dia hendak menerjang namun segera dihentikan oleh Emir.
Pria itu mencengkeram pergelangan tangan Arimbi dan berkata dengan lembut, “Arimbi, tenangkan dirimu! Ingat kamu itu sedang mengandung, jangan gegabah!”
Kata-kata Emir langsung membuat Arimbi terdiam ditempat dan menahan dirinya untuk tidak menghajar para pengawal Dion itu. Dengan terpaksa mereka pun menunggu sampai pengawal yang tadi pergi menemui Dion kembali. Tak berapa lama pengawal itupun kembali dengan wajah kebingungan, lebih tepatnya semakin bingung.
“Pergi dari sini! Tuan Harimurti tidak berkenan bertemu kalian!” ujar pengawal itu. Lalu dia menoleh ke pimpinannya dan berkata dengan suara pelan, “Aku melihat Nona Arimbi di kamar Tuan.”
__ADS_1
Arimbi bisa mendengar perkataan pengawal itu,
“Kami tidak akan pergi dari sini sebelum aku membawa temanku kembali! Yang didalam sana bukan Arimbi! Dasar bodoh kalian semua! Akulah Arimbi yang asli!” teriaknya marah.
“Orang yang didalam sana adalah Joana Ganesha sahabatku yang memakai topeng wajahku!”
Mendengar perkataan Arimbi semua pengawal itu menatapnya semakin tajam.
Tapi Arimbi tak ingin menyerah, dia harus bisa membawa Joana pulang. Sebelum mereka datang kesana Arimbi sudah terlebih dulu menghubungi kedua orang tua Joana dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju kesana.
“Kalian tidak percaya kan? Biarkan aku masuk dan membuktikan pada kalian! Kalian sudah salah orang! Itu Joana, sebentar lagi orang tuanya akan datang kesini.” saat Arimbi baru saja selesai bicara terdengar suara deru mobil yang datang. Itu adalah mobil keluarga Ganesha dan juga polisi.
Melihat kedatangan suami istri keluarga Ganesha yang membawa polisi, salah satu pengawal Dion langsung masuk kedalam villa dengan langkah cepat. Tanpa perlu diperintah lagi, dia merasa ada yang tidak beres. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena ada polisi disana.
“Arimbi!” panggil ibu Joana yang bergegas turun dari mobil saat dia melihat Arimbi. “Dimana Joana? Ada apa sebenarnya? Kenapa dia bisa diculik lagi?” tanya Jayanti dengan cemas.
“Tenang dulu, tante! Joana ada didalam tapi----”
“Tapi apa Arimbi? Apakah putriku baik-baik saja? Jangan membuatku khawatir Arimbi.”
“Tante, maafkan aku. Ini semua salahku tidak menjaga Joana. Dia hanya ingin membantuku, dia melindungiku. Aku tidak menyangka akan jadi kacau begini.” ucap Arimbi yang merasa bersalah.
Sesampainya dilantai atas, saat dia mengetuk kembali pintu kamar Dion terdengar suara teriakan dari dalam kamar.
BRAAAKKK!
Pintu kamar itu terbuka lebar menampilkan sosok Dion Harimurti yang sudah berpakaian rapi.
“Perintahku yang mana yang tidak kalian pahami?” ujarnya dengan marah dan tatapan mata tajam.
__ADS_1