GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 377. MAHAR PERTUNANGAN


__ADS_3

“Dimana Joanna? Kenapa dia tidak pulang sejak semalam?” tanya Jayanti kepada suaminya.


“Dia baik-baik saja. Nanti juga dia akan pulang.” jawab Hardy Ganesha menyesap kopinya. Sementara Ruben, kakak laki-laki Joana mengeryitkan keningnya menatap ayahnya. Dia merasa curiga ada sesuatu yang terjadi.


 


“Tuan, Nyonya…...didepan ada tamu.” ujar seorang pelayan perempuan.


“Siapa?” tanya Jayanti dan Ruben bersamaan.


"Ehm...Tuan Harimurti dan para pengawalnya." jawab pelayan itu. Jayanti dan Ruben saling mamandang.


Sedangkan Hardy tampak tenang dan bersikap biasa saja. Jayanti meletakkan majalah ditangannya dan bangkit berdiri bersamaan dengan suara langkah kaki yang memasuki ruangan itu.


 


Mata Jayanti dan Ruben terbelalak melihat tamu yang datang bersama beberapa orang sambil membawa banyak barang.


“Selamat datang di rumah kami Tu—Tuan Harimurti.” ujar Jayanti dan Ruben. Sedangkan Hardy Ganesha berdiri sambil menganggukkan kepalanya hormat, sikapnya itu membuat istri dan putranya menatapnya heran.


 


“Silahkan duduk Tuan Harimurti.” ucap Jayanti.


Dion Harimurti tak mengatakan apapun lalu duduk disofa. “Bawa semua barang-barangnya masuk dan yang ini letakkan diatas meja.” perintah Dion kepada anak buahnya yang datang membawa beberapa barang. “Maaf kalau kedatangan saya tiba-tiba.”


 


“Ehm…..sebenarnya ini ada apa ya?” tanya Jayanti memberanikan diri. Dia melirik suaminya sekilas lalu menoleh kearah Dion. “Semua barang-barang ini---”


“Ini mahar pertunangan saya dan Joana.” jawab Dion seadanya tak ingin menjelaskan lebih detail.


“A---apa? Maksudnya bagaimana? Su—suamiku apa kamu tahu soal ini?” ujar Jayanti terkejut.


 


Hardy Ganesha tidak mengatakan apapun, dia hanya menatap istrinya tanpa merespon.


“Joana sedang mengandung anak saya. Dan sejak kemarin dia tinggal dirumah saya.”


“Ba----” Jayanti langsung panik. “Bagaimana bisa begitu? Saya mau bertemu dengan putriku. Apakah dia baik-baik saja?”


 

__ADS_1


“Tenang saja nyonya. Saya akan bertanggung jawab makanya saya datang kesini mengantarkan mahar pertunangan. Saya tidak akan membiarkan Joana melarikan diri! Untuk pertunangan akan saya beritahukan tanggal dan tempatnya. Jika keluarga Ganesha tidak keberatan saya akan mengatur semuanya.” ujar Dion tak mau berlama-lama.


 


“Jadi ini semuanya untuk apa?” tanya Ruben memandangi banyaknya barang yang dibawa Dion.


“Mahar pertunangan! Saya rasa ini cukup, silahkan di terima dan jika ada yang kurang bisa beritahukan kepada saya atau anak buah saya. Bagaimana Tuan Ganesha? Apakah anda menerima?”


“Ehem…..saya serahkan semuanya kepada Tuan Harimurti. Karena ini adalah masalah anda dan putri saya. Saya hanya merestui apapun yang terbaik untuk putri saya.”


 


“Baiklah. Kalau begitu semuanya sudah beres. Saya buru-buru karena akan ada meeting dengan klien satu jam lagi. Jika ada waktu saya akan mengundang kalian untuk makan malam bersama.” ucap Dion.


Jayanti yang masih syok hanya bisa mengangguk. Dia tidak menyangka hari ini Dion Harimurti datang membawa begitu banyak mahar. 'Apa benar Joanna mengandung?' bisik hatinya.


 


“Oh iya Tuan Ganesha. Datanglah ke perusahaan besok untuk membahas proposal bisnis anda.”


“Baiklah. Terima kasih Tuan Harimurti.” ucap Hardy Ganesha tersenyum lalu berdiri diikuti oleh Ruben putranya. Mereka mengantarkan Dion sampai ke depan rumah. Para pengawal Dion segera memasuki mobil mereka dan meninggalkan rumah itu.


 


“Pria itu benar-benar----masa melamar anak orang seperti itu” geram Jayanti tapi didalam hatinya dia merasa agak senang karena ini hal yang tidak terduga. Seorang Dion Harimurti akan menjadi menantunya? Bukankah itu sangat bagus?


 


“Ayo kita periksa apa saja barang-barang yang dibawa Tuan Harimurti? Hampir saja aku kena serangan jantung. Suamiku, apa kamu tahu tentang ini? Apa benar Joanna sedang mengandung anak Tuan Harimurti? Bagaimana kita sampai tidak tahu tentang mereka?”


“Aku juga baru tahu. Tuan Harimurti meneleponku dan mengatakan soal Joanna.”


 


“Apa ayah dan ibu percaya padanya? Aku tidak yakin Joanna mau menikah dengan pria itu! Pasti dia yang memaksa Joanna. Aku tidak yakin adikku melakukan hal seperti itu.” seru Ruben marah.


“Sudahlah! Nanti kita tanyakan saja pada Joanna. Coba kamu pikir, bukankah ini bagus? Begitu banyak wanita ingin menikah dengan Tuan Harimurti tapi dia menolak.” ucap Jayanti.


 


“Iya benar kata ibumu. Aku sudah lama mengirimkan proposal kerjasama bisnis ke perusahaannya tapi tidak mendapat respon. Kalian lihat tadi, dia menyuruhku untuk datang ke perusahaannya besok.” ucap Hardy Ganesha.


“Kita berpikir positif saja. Mungkin mereka memang ada hubungan selama ini. Aku dengar dari pekerja di cafe kalau Tuan Harimurti datang kesana beberapa kali.”

__ADS_1


 


“Apa?” Jayanti dan Ruben bersamaan.


“Sudahlah. Apa yang akan kita lakukan dengan barang-barang ini?” tanya Hardy menatap kotak-kotak yang bertumpuk dimeja. “Lihatlah perhiasan-perhiasan ini. Harganya sangat mahal! Itu menandakan Tuan harimurti memang serius dengan Joanna.”


 


“Semoga saja memang seperti itu ayah. Jangan lupa orang seperti apa Dion Harimurti itu! Aku tidak mau terjadi hal buruk pada Joanna lagi.” ucap Ruben yang mengkhawatirkan adiknya.


“Dia baik-baik saja. Anggap saja keluarga kita sedang beruntung. Akhirnya putriku menikahi seorang pria seperti Tuan Harimurti! Hahahaha…..ternyata nasibnya sama seperti Arimbi.”


 


“Ah, iya benar sekali! Aku akan menelepon Arimbi dan memberitahunya.” ucap Jayanti semangat.


Saat mereka membuka kotak-kotak itu, ketiganya terbelalak melihat perhiasan dan barang lain.


“Suamiku! Apa aku sedang bermimpi?” tanya Jayanti mengerjapkan matanya menatap perhiasan yang berkilau. Meskipun keluarga mereka kaya tapi tidak sekaya keluarga Rafaldi.


 


Jayanti hanya memiliki beberapa set perhiasan mahal tapi bukan perhiasan limited edition ataupun barang berharga ratusan juta sampai milyaran seperti yang diberikan Dion sebagai mahar pertunangan.


“Oh Tuhan! Mimpi apa aku semalam? Perhiasan ini semuanya mahal! Kita harus segera menemui Joanna dan memberikan ini padanya.”


 


Sementara itu di kediaman Harimurti tampak Joana yang mondar mandir dikamarnya. Dion menempatkannya di kamar yang bersebelahan dengan kamarnya. Joana tidak diijinkan keluar dari rumahnya tanpa seizinnya membuat Joanna semakin tertekan.


“Apa-apaan sih pria itu? Dia sudah gila ya? Kenapa ponsel ku juga ikut disita?”


 


Duk Duk Duk…..Joana mengedor pintu kamarnya yang dikunci dari luar.


“Buka! Hei kalian yang diluar! Cepat buka pintunya!” teriak Joanna.


Ceklek…..terdengar suara pintu dibuka. “Maaf Nona. Tuan Harimurti berpesan agar nona istirahat sampai dia kembali dari kantor. Apakah nona mau makan? Atau menginginkan sesuatu?”


 


“Aku mau bicara dengan Dion! Cepat telepon dia! Atau aku akan hancurkan semua barang-barang dikamar ini.” ancam Joanna dengan geramnya. ‘Ihhhhh…...meskipun aku menyukai pria itu! Tapi aku tidak akan membiarkannnya berbuat sesuka hatinya. Aku harus kembali kerumah! Pasti ayah dan ibu mengkhawatirkanku sekarang.’ bisiknya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2