GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
2. Red Angel


__ADS_3

Masa terkini. 2022.


Jakarta, Indonesia. Stadion penuh pelita lampu sorot. Hujan serpihan perak bertaburan. Alunan musik berkumandang ke langit-langit. Berbaur sorak riuh ribuan penonton.


...Akuuu ...!...


...Memburu ...!...


...Cintamuuu ...!...


..............


Sebait lirik nada Glissando * mencapai suara Sopran D7. Nada tinggi memecah panggung dalam gemerlap sorot lampu. Sebuah lagu genre pop semi rock menggebrak aksi pertunjukan malam itu.


Seorang gadis penyanyi di atas panggung, berbusana gaya Lolita Merah. Penyanyi cantik dan manis. Tentu saja ia masih muda belia. Bintang baru yang lahir dalam beberapa pekan terakhir. Suara dan lagunya menyita perhatian dunia J-Pop, K-Pop dan Slow Rock, berkumandang viral di setiap media digital masa kini.


"Red Angel ...!!!"


Teriak antusias ribuan penonton memenuhi stadion panggung kala itu. Semuanya larut dalam alunan aransemen musik. Pelita gemerlap panggung menghiasi malam itu. Dari semua pertunjukan musik, penari latar, dan lagu itu sendiri yang seakan menyihir, satu paling dipuji semua penonton adalah Sang Gadis Penyanyi cantik memikat hati. Wajah, penampilan, juga suara khas dirinya. Semua fans laki-laki dan perempuan menyukai dirinya. Bahkan sampai maniak hanya dalam beberapa pekan terakhir.


Red Angel.


Sebutan populer Sang Penyanyi muda belia dengan khas rambut panjang kepang dua. Kulit putih mulus, berbalut gaun Lolita Merah semi modern abad pertengahan.


Semua penonton menyeru nama populer gadis penyanyi jebolan Youtube.


"Red Angel ...!"


"Red Angel ...!"


Begitu lah nama bidadari memikat hati ribuan fans. Tranding satu dalam beberapa pekan di platform YouTube.


Seantero Asia terguncang oleh lagu hits Red Angel, menjadi rival berat jajaran kepopuleran grup K-Pop dan J-Pop. Para artis senior dunia dibuat geleng-geleng kepala akan aksi panggung Red Angel. Betapa tidak. Ibarat bidadari modern dari langit, tiba-tiba dia turun ke panggung dan menguasai belantika musik dunia.


Tentu saja, banyak label mayor saling berebut untuk menawarkan kontrak eksklusif untuk Red Angel. Namun Sang Penyanyi belum menentukan mana label mayor sekaligus agen manajemen keartisannya akan dipilih nanti. Ia lebih menikmati masa puncak karir tanpa ikatan kontrak kerjasama dengan pihak lain. Red Angel sebagai artis indie hanya bersedia memenuhi undangan pertunjukan sesuai jadwal pribadi.


"Siapa nama asli gadis itu?" seseorang di depan layar kaca, di sisi lain gedung pertunjukan, berjauhan dari panggung. Dia seorang produser musik berkelas.


Semua kru bawahannya sama-sama menggeleng pelan. Mereka juga ikut tersihir akan aksi panggung dan suara cetar membahana Red Angel.


Deru degup alunan musik berakhir seiring pose Red Angel berdiri dengan mengangkat mikrofon tinggi-tinggi.


...Aku memburu cintamu ...!!!...


Akhir nada Wishtle Voice **, disambut tepuk riuh ribuan penonton tumpah ruah. Suasana sangat spektakuler.


"Thank you ...!" seru Red Angel. Kalimat terakhirnya sebelum ia menghilang di balik pintu layar panggung.

__ADS_1


Masih terdengar lantang namanya disebut-sebut.


Beberapa saat kemudian di ruangan khusus ganti baju, beberapa artis penyanyi berkumpul.


"Siapa nama aslinya?" seorang penyanyi utama merasa diambil alih pertunjukan malam ini. Seharusnya acara ini digelar meriah untuk dia, sedangkan Red Angel hanya bintang tamu. Tetapi hasil luar biasa justru Red Angel membuat panggung menggelegar.


"Tiara, giliran-mu sekarang," kata seorang manajer. Penyanyi bernama Tiara, terlanjur jatuh mood dan antusiasnya. Ia beranjak sedikit kesal memenuhi perintah manajernya.


"Hancurkan panggungnya! Kalahkan dia!" kata manajer memberi semangat.


"Kamulah bintang utama pertunjukan konser ini, bukan dia!" lanjut manajer lebih meyakinkan lagi.


Sementara itu di sisi ruang lain. Seorang gadis penyanyi bergaun Lolita Merah dalam ruangan tersendiri, berdiri di depan cermin lebih besar ukurannya dari tubuh gadis itu sendiri. Sedikit siul, nada-nada dinyanyikannya.


"Aku ... memburu cintamu ..., du ... du...," begitu siul di sela-sela lirik lagunya.


"Red Angel," gadis bergaun Lolita Merah menyebut dirinya di depan cermin, memperhatikan sesuatu dari bayangannya sendiri, sembari merogoh rantai kalung di lehernya. Sebuah liontin merah menggantung tepat melekat di dadanya. Ia mengusap-usap Liontin Merah berukiran bunga yang bentuknya antara mawar dan cempaka.


"Gadis Merah. Kelak nanti, aku akan menyanyikan lagumu yang satu itu," sedikit gumam suaranya mengucap nada-nada tidak begitu jelas. Kemudian ia menyibakkan rambutnya panjang dikepang dua.


Gadis Merah ....


Anak kecil yang terluka ....


Rona kemerahan gaun-mu dulu ....


Gadis di depan cermin tersenyum. Hanya wajahnya memantul dari permukaan cermin itu, membiaskan senyum manis dan kesedihan.


"Aku ... akan mewujudkan apa yang belum sempat kau wujudkan dalam hidupmu," begitu ucapnya seorang diri.


Tiba-tiba ia menoleh ke belakang. Seseorang membuka pintu ruangan itu.


"Red Angel," panggil seorang wanita, rupanya dari kru sponsor yang mengundang gadis itu untuk andil dalam pertunjukan malam ini.


"Apakah sudah siap dipulangkan?" tanya gadis bergaun Lolita Merah.


"Red ...," wanita mengenakan blus perak dan dandanannya ala lady dan modis.


"Red ..., bisakah menyanyi ekstra, para fans ingin mendengar kamu bernyanyi sekali lagi," pinta wanita sponsor itu penuh harap.


Gadis yang dipanggilnya dengan nama Red, menggeleng dengan senyum saja.


"Tidak, Bu Shinta. Terimakasih, kakakku menungguku. Aku siap pulang ke hotel menginap malam ini," jawab Red.


"Aku lelah, ingin lekas rebahan," sembari mengerlingkan sebelah mata dan gestur tubuh agak manja.


"Ah, Red, andai saja kamu mau bergabung dalam manajemenku, maka aku bersedia membayar sangat mahal," Bu Shitta mengekor saja di belakang Red bergegas keluar dari ruangan.

__ADS_1


"Lain kali saja, Bu, akan aku kabari nanti," tambah Red. Keluar dari ruangan, dua bodyguard menyertai mereka berdua. Menuju lift dan akhirnya sampai di lantai dasar. Satu unit mobil van ekslusif menanti kehadiran mereka berdua.


"Red, pastikan aku memiliki kamu," kata Bu Shinta ketika berada di dalam mobil artis khusus antar jemput.


"Mm ... akan aku bicarakan dengan kakakku terlebih dahulu," jawab Red sambil melepas kacamata hitam, duduk di sebelah Bu Shinta.


Bu Shinta. Manajer pemilik agensi artis bergengsi di Jakarta. Berminggu-minggu terakhir ini, ia mengejar Red agar bersedia untuk bergabung dalam agensi miliknya. Malam ini, ia sampai rela mengantar Red ke pertunjukan untuk sekedar bertatap muka lebih lama dan terus menerus membujuk Red.


TripodMedia, nama agensi milik Bu Shinta. Dia juga memiliki perusahaan Broadcast ternama di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.


"Sekalian saja kakakmu boleh bergabung dengan agensi kami. Aku jamin, dia akan mendapatkan jabatan penting di TripodMedia," tak habis penawaran Bu Shinta pada Red agar tertarik gabung.


"Kakakku tidak berminat di dunia hiburan. Dia itu seorang asisten dokter," balas Red. Tak ingin ditolak berulangkali, Bu Shinta berusaha untuk lebih mendalami hubungan mereka berdua dengan menanyakan lebih banyak tentang seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan Red.


"Kakakmu seorang dokter?" sedikit penasaran Bu Shinta bertanya.


"Dia memeriksa banyak pasien tentunya," selanjutnya Bu Shinta hanya sedikit basa-basi.


"Tidak, pasien khusus di ruangan otopsi, tidak banyak tetapi selalu ada saja," jawab Red. Kali ini membuat Bu Shinta membuka kacamata pertanda kaget.


"Kakakmu, dokter forensik?!" agak terbelalak tampak kedua mata Bu Shinta setelah kacamata hitam dilepaskan.


Red mengangguk sembari menatap keluar jendela. Mobil van melintasi jalan raya kota metropolitan.


"Lebih tepatnya, ahli forensik purbakala. Dia juga magang asisten dokter," lanjut Red, semakin membuat Bu Shinta heran penasaran.


"Apa itu ahli forensik purbakala?" tanya Bu Shinta menoleh. Red tersenyum saja. Belum sempat menjawab, panggilan telepon menyita perhatiannya.


"Hallo, kak ...," Red menjawab suara dari telepon selulernya.


"Sebentar lagi aku sampai di sana. Kakak di mana?" lanjut Red lagi.


"Baiklah ...," Red menutup sambungan teleponnya.


...* * *...


...___________...


...CATATAN:...



*Glissando: dalam istilah musik, glissando adalah meluncur dari satu nada ke nada lainnya. Biasanya meluncur dari nada rendah ke nada tinggi tanpa jeda. Ini adalah istilah musik Italia yang berasal dari glisser Perancis.


**Wishtle Voice: disebut juga Whistle register adalah jangkauan vokal tertinggi dari suara manusia, terletak di atas register modal dan register falsetto. Register ini memiliki produksi fisiologis berbeda dari register lainnya, disebut demikian karena nada-nada yang dihasilkan mirip dengan nada peluit.


...* * *...

__ADS_1


__ADS_2