GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 328. WANITA SERATUS MILYAR


__ADS_3

“Seratus milyar itu hal sepele bagi seorang Dion! Kalau sampai dia protes, biar aku yang hadapi! Kamu tenang saja Joana! Aku tidak akan membiarkannya mendekatimu lagi.” ujar Arimbi.


Tiba-tiba Joana tertawa terbahak-bahak membuat Arimbi mengerutkan alisnya.


“Ha ha ha ha…..ha ha ha ha seratus milyar!”


 


“Iya seratus milyar! Kenapa?” tanya Arimbi!


“Ah, aku jadi merasa gadis paling mahal! Dihargai seratus milyar! Ha ha ha ha…...” Joana terus tertawa sampai airmatanya keluar. “Arimbi, ini gila! Aku tidak bisa membayangkan wajah Dion saat dia mengetahui uang seratus milyarnya hilang! Ha ha ha ha…...”


 


“Ya, mungkin juga dia tidak peduli! Toh dia sendiri yang bilang kalau dia tidak akan menikahimu! Jadi kamu bisa meminta ganti rugi sebanyak apapun! Tadinya aku mau tulis sati triliun tapi ku pikir terlalu banyak makanya aku hanya menulis seratus milyar.”


 


“Apakah aku sekarang sudah jadi wanita kaya, Arimbi? Tapi tetap saja kamu yang paling kaya.”


“Ya, begitulah kira-kira. Mau kamu apakan uangmu?” tanya Arimbi serius.


“Belum tahu! Aku juga bingung mau buat apa. Rasanya bosan sekali berada dirumah dan aku juga tidak bisa memotret lagi. Aku harus mencari aktifitas lain untuk mengisi waktuku.”


 


Arimbi diam sejenak memikirkan sesuatu, “Ehm….bagaimana kalau kamu tetap memotret?”


“Tidak….tidak…..tidak…...aku tidak mau apat masalah lagi.”


“Dengarkan aku dulu, Joana. Kamu itu jago memotret dan hasil jepretanmu bagus-bagus! Kenapa kamu tidak buka pemotretan saja di mall milikku?” Arimbi mencoba memberikan saran.


 


“Hah? Semua orang-orang kaya itu tidak akan mau di potret apalagi mereka mengenalku.”


“Aha! Kamu bisa pergi ke pedesaan dan memotret gambar alam! Atau memotret kehidupan di pedesaan. Hal-hal seperti itu sangat diminati banyak orang, kamu bisa posting di sosial media! Kamu tidak perlu khawatir lagi. Kamu tetap bisa menjalani hobimu.”


 


“Nah, uang seratus milyar bisa kamu buat untuk buka studio foto! Sekalian sama galery yang kamu padukan dengan mini cafe! Konsepnya tetap photograpi dengan perpaduan galery dan cafe.”


“Wah! Arimbi ternyata kamu memang pintar sekali! Idemu brilian!” Joana mengacungkan jempolnnya.


“Kalau kamu mau kita bisa cari lokasi yang bagus! Kamu jadi punya pekerjaan dan menikmati hobimu sehari-hari tanpa merasa cemas akan mendapat masalah.”


 

__ADS_1


“Aku setuju! Pokoknya aku percaya padamu, aku tidak pandai mengelola uang jadi kamu pegang saja dulu uang seratus milyarku! Tapi…..kamu yakin Tuan Dion tidak akan marah?” tanya Joana.


“Biarkan saja! Serahkan semuanya padaku!” Arimbi menatap Joana yang terlihat kembali ceria. “Joan, dari tadi kamu belum menjawab pertanyaanku.”


 


“Pertanyaan yang mana?” tanyanya pura-pura lupa.


“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Arimbi lagi namun kali ini raut wajahnya serius menatap Joana. “Kamu tahu betapa khawatirnya aku sepanjang malam? Joana, kenapa kamu mengorbankan dirimu? Apa kamu tidak takut jika seandainya…...” Arimbi tak melanjutkan kalimatnya.


 


“Seandainya apa Arimbi?”


“Bagaimana kalau kamu hamil? Apakah malam itu Dion memakai pengaman? Berapa kali kalian melakukannya Joana?” rentetan pertanyaan diajukan Arimbi yang mencemaskan Joana.


“Aku tidak ingat! Mana aku tahu kalau dia pakai pengaman atau tidak?” ujar Joana yang mulai merasa sedikit panik. Dia memang tidak kepikiran sampai sejauh itu.


 


“Yang aku ingat, Dion melakukannya berulang-ulang! Aku tidak ingat! Seluruh tubuhku rasanya sakit dan aku kelelahan! Tapi sikapnya manis sekali, dia tidak kasar!”


“Heh! Kamu menikmatinya? Kamu menyukai Dion? Katakan Joana.” Arimbi terus mendesak.


“Sejak kapan Joana? Kenapa kamu tidak pernah bilang padaku.”


 


 


“Apa? Gila! Kamu benar-benar gila Joana!” teriak Arimbi membelalakan matanya. “Tapi kenapa?”


“Supaya dia berhenti mengganggumu! Hanya ini cara tepat untuk menghentikan kegilaannya.”


“Tapi, kalau kamu hamil?”


“Aku tidak peduli! Bahkan jika Dion tidak mau bertanggung jawab, aku juga tidak peduli! Aku tidak akan menggugurkan kandunganku, aku bisa merawat anakku sendiri!”


 


Joana tampak tegas dan penuh percaya diri seolah dia sangat yakin pada keputusannya. “Arimbi, setidaknya aku memberikannya pada seseorang yang kusukai sejak lama. Aku tidak pernah menyesalinya, sampai kapanpun! Lagipula, dia membayarku seratus milyar! Ha ha ha….”


 


“Dasar wanita seratus milyar.” Arimbi menggoda Joana. Kedua sahabat itu tertawa lalu saling berpelukan untuk menguatkan. “Aku akan selalu mendukungmu Joana!”


“Terima kasih Arimbi! Kamu sahabatku yang terbaik.” ucap Joana tersenyum.

__ADS_1


“Karena memang hanya aku satu-satunya...he he.”


“Oh iya! Benar juga!”


 


“Kamu serius dengan kata-katamu?”


“Ya serius! Kenapa?”


“Ehm….seandainya Dion menemuimu jika kamu hamil dan dia tahu. Apa yang akan kamu lakukan?”


“Arimbi! Sudahlah, jangan dibahas lagi. Belum tentu juga aku hamil.”


“Harus dibahas! Bagaimana kalau aku cari cara agar Dion mau bertanggung jawab.”


Malam itu di rumah utama, Layla Serkan tampak duduk di ranjangnya sambil memegang foto USG yang tadi siang diberikan oleh Elisha padanya. Sudah lama sekali sejak ada anak kecil di kediaman Serkan! Tapi dia tidak menyukai Arimbi, sekarang wanita itu mengandung anak Emir!


 


Nenek Serkan menghempaskan napasnya kasar, kata-kata Elisha kembali tergiang-giang. Dulu begitu banyak wanita yang mengejar-ngejar Emir dan selalu berkunjung ke kediaman Serkan!


Tapi semuanya berubah sejak kecelakaan itu. Tak seorangpun yang pernah datang berkunjung lagi, seolah semua orang menghindari Emir karena keadaannya.


 


Dia pun menyadari jika selama ini keluarga Serkan pun memperlakukan Emir layaknya orang asing. Emir tinggal di villa-nya sendiri dan tak seorang pun anggota keluarga yang datang kesana.


Kehidupan dan hari-hari Emir pun dipenuhi dengan kekelaman dan ekspresi dinginnya. Tak ada lagi senyum diwajah tampan cucu kesayangannya itu.


 


Nenek Serkan membuka laci nakas lalu memasukkan foto itu kedalam dan menutup laci. ‘Kenapa Emir melakukan itu? Jika dia ingin membohongi semua orang untuk kepentingan dirinya dan untuk melindunginya? Tapi kenapa dia juga menyembunyikannya dariku? Aku yang merawatnya sejak kecil! Dia tidak menghargaiku, sejak kehadiran Arimbi semuanya semakin berubah!’ bisik hati Layla Serkan.


 


“Apa aku harus menerima kehadiran Arimbi menjadi anggota keluarga ini? Fuuhhh! Mereka sudah menikah dan dia memang sudah jadi bagian dari keluarga ini!


Apa Emir sengaja membiarkan rumor itu beredar karena dia tidak ingin para wanita penggemarnya mendekatinya? Seharusnya dia tidak melakukan itu dan dia masih bisa menikahi wanita dari kalangan atas!’


 


Layla Serkan memijat pelipisnya, perasaannya terombang ambing. Dia tidak tahu bagaimana bereaksi dengan kabar kehamilan Arimbi! Apakah dia harus senang atau sedih? Sejujurnya dia memang sangat menginginkan seorang cicit! Tapi dia tidak pernah mengharapkan Arimbi yang akan memberinya.


 


Namun, mengingat perkataan cucu perempuan kesayangannya tadi memang ada benarnya. Emir banyak berubah sejak kehadiran Arimbi.

__ADS_1


Terkadang Layla Serkan diam-diam sering memperhatikan Emir, dia sering melihat Emir tersenyum dan tertawa lepas. Itu hal yang sudah lama sekali dia tidak lihat bahkan dia pun sudah lupa kapan terakhir kali dia melihat cucunya itu tersenyum dan tertawa.


__ADS_2