GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 353. KARTU HITAM


__ADS_3

Keesokan harinya, tepat jam pulang kantor Arimbi menunggu Joana didepan gedung kantornya. Mereka sudah janjian pergi makan siang sekaligus belanja. Sudah lama mereka tidak pergi belanja dan quality time bersama. Karena hari ini Emir akan pulang agak telat akhirnya Arimbi memutuskan untuk menghabiskan sore bersama sahabatnya.


 


Tak berapa lama sebuah taksi berhenti dan Joana turun dengan senyum sumringah. “Arimbi! Haruskah aku memanggilmu dengan sebutan Nyonya Serkan?” Joana tertawa sambil memeluk sahabatnya.


“Apa kabarmu? Kamu kemana saja?” tanya Arimbi.


“Biasalah, aku sibuk mempersiapkan cafe kita! Kapan-kapan kamu kesana, lihat-lihat!”


 


“Ya, nanti aku pasti kesana kalau ada waktu luang. Ayo kita pergi.” Arimbi menarik tangan Joana menunju ke mobil maybach hitam yang sudah menunggunya.


“Silahkan Nyonya!” ucap supir membukakan pintu untuk Arimbi.


“Ah, supirmu baru ya? Darimana kamu dapat supir setampan itu? Apa Tuan Emir tidak cemburu?”


 


“Husss! Dia salah satu pengawal Emir!” bisik Arimbi.


“Ohhhh…..pantas saja.”


Mobil melaju meninggalkan tempat itu, sepanjang jalan kedua wanita itu asyik bercerita tentang kesibukan mereka. Sejak kejadian malam itu, Joana dan Arimbi memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing.


 


“Sudah sampai Nyonya.” ucap supir menyadarkan keduanya yang keasyikan berbincang. Mereka sudah tiba didepan Metro Megamall milik Arimbi. Keduanya turun dari mobil lalu Arimbi berpesan,


“Tunggu disini saja ya! Kamu bisa ngopi di cafe sana sambil menunggu kami.”


“Baik Nyonya.”


 


“Arimbi! Kamu tidak takut kemana-mana sendirian begini? Kenapa tidak ada pengawal yang mengikutimu? Kamu tahu kan kalau semua orang sudah tahu kalau kamu istrinya Tuan Emir.”


“Ya, memangnya kenapa?”


“Bukan begitu! Pasti ada orang-orang yang tidak suka akan menargetkanmu! Apalagi melihatmu tanpa pengawalan!” Joana mengungkapkan kekhawatirannya.


Mereka sudah tiba di pintu masuk saat sekuriti memberi hormat pada Arimbi. Semua orang sudah tahu jika Arimbi adalah pemilik pusat perbelanjaan ini. Mereka terus berjalan sambil berbincang, hingga mereka tiba didepan butik sepatu.


 


“Ayo kita masuk! Aku mau beli sepatu high heels.” ucap Joana.


“Memangnya kamu mau kemana beli sepatu baru?”


“Eh, kamu lupa ya? Dua hari lagi kan pesta pernikahan Reza dan Ruby? Lupa sama rencana kita?” Joana tersenyum sambil mengerjap-ngerjapkan matanya membuat Arimbi tertawa.


 

__ADS_1


“Ah, iya! Maaf aku hampir saja lupa.”


“Bukan hampir tapi memang lupa! Ayo masuk.”


“Selamat datang di toko kami Nyonya!” sapa pegawai toko menyambut Arimbi dan Joana.


“Ada sepatu model terbaru? Aku mau high heels warna biru!” ujar Joana.


 


“Tumben kamu beli sepatu warna biru? Memangnya kamu sudah beli gaun?”


“Belum! Tapi aku ada gaun warna biru yang belum pernah kupakai. Ah…..tidak perlulah pakai gaun mewah. Kita kan hadir di pesta itu untuk memeriahkan saja! Hehehe!”


Arimbi dan Joana mencoba beberapa pasang sepatu dan masing-masing memilih dua sepatu dengan warna berbeda. Saat Joana mengeluarkan dompetnya, tangannya terhenti melihat kartu berwarna hitam ada didompetnya.


 


‘Kartu siapa ini?’ tanyanya melihat kartu hitam berlogo emas itu. Dia memperhatikan nama yang terukir di kartu itu adalah ‘Dion Harimurti’


“Ah….” Joana terkejut lalu memasukkan kembali kartu itu kedalam tasnya. ‘Kenapa ada di dompetku? Aduh…..gawat ini benar-benar gawat! Kenapa dia ada dimana-mana?’


 


Joana mengedarkan pandangannya dengan cemas namun tak melihat Dion maupun anak buahnya. Arimbi memperhatikan gerak gerik Joana dan merasa heran. Dia mendekat lalu bertanya, “Ada apa? Kamu seperti baru lihat hantu saja?”


“Ah, tidak ada! Tadi sepertinya aku melihat seseorang tapi ternyata aku salah lihat.”


 


“Oh my God! Arimbi…….” Joana memegang tangan Arimbi dan menatapnya, “Sepertinya umurku pendek!” ucapnya. Membuat Arimbi mengeryit lalu meletakkan tangannya di kening Joana.


“Tidak demam! Kamu kesambet apa Joana? Bicaramu tidak jelas. Ada apa?”


“Ehm…..It----itu…..Tuan Dion.”


“Kenapa dengan Dion? Apa dia mengganggumu?”


“Joana mengeluarkan kartu hitam itu lalut menunjukkan pada Arimbi.


 


“Kartu platinum unlimited! Wah sejak kapan kamu punya kartu seperti ini? Joana, apa kamu sudah punya pacar ya sekarang? Siapa? Kenapa kamu diam-diam tidak bilang sama aku?”


“Ini-----ini punya Tuan Dion.” ucapnya terbata-bata.


“Hah? Dion? Dion Harimurti? Oh Tuhan….Joana!” Arimbi menutup mulutnya, terkejut mendengar apa yang dikatakan Joana.


 


“Eh, aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya! Sungguh! Aku juga tidak tahu kenapa kartu ini ada di tasku! Aku juga baru melihatnya, Arimbi! Bagaimana ini? Aku takut nanti dia menuduhku mencuri kartunya.” ucap Joana mula ketakutan.


‘Sialan! Kenapa rasanya aku diikuti terus sejak malam itu?’

__ADS_1


 


“Bayar dulu belanjaan kita! Kamu hutang penjelasan padaku, Joana!” Arimbi menarik lengan Joana kearah kasir. Setelah membayar belanjaan, keduanya berjalan menuju restoran jepang.


Pelayan menyambut Arimbi dengan ramah. Siapa yang tidak mengenalnya kini? Wanita terkaya dan paling berkuasa di kota itu? Istri Tuan Emir dan menantu tertua di keluarga Serkan.


 


Arimbi memilih meja paling ujung yang dipisahkan sekat dengan meja lain agar mereka bebas berbicara. Setelah memesan makanan, Arimbi menatap Joana dengan penuh tanda tanya.


‘Sudah beberapa hari tidak bertemu dengannya, sepertinya aku melewatkan banyak hal. Kenapa Joana tidak pernah meneleponku?’


 


“Ehem…..ada yang mau kamu jelaskan?” Arimbi bicara dengan serius. “Ada apa antara kamu dan Dion?”


“Hm….tidak ada apa-apa. Arimbi! Aku bingung harus memulai dari mana? Semuanya membingungkan dan aku tidak bisa berpikir jernih.”


 


“Ya, kamu ceritakan saja bagian mana yang kamu rasa ingin kamu ceritakan padaku. Aku menunggu.”


“Begini…...tapi jangan menertawaiku ya?” Joana berdehem lalu menghela napasnya.


“Hah? Memangnya kenapa?”


“Arimbi! Aku ini benar-benar bodoh!”


“Baru sadar? Kenapa?” Arimbi tersenyum menggoda Joana. "Kamu kesambet apa tadi dijalan menuju kantorku?"


“Dia menciumku!” Joana menundukkan wajahnya dengan pipi merona. Dia malu, benar-benar malu.


“Dion menciummu? Hah? Kamu tidak bercanda kan Joana?” mata Arimbi membulat.


Joana menggelengkan kepalanya, melihat reaksi sahabatnya itu Arimbi pun tahu jika Joana tidak berbohong.


 


“Lalu? Setelah itu apa yang terjadi?”


“Tidak ada! Itu saja! Arimbi…….aku takut.” Joana mendongakkan wajahnya menatap Arimbi. Tapi….


“Ha ha ha ha ha ha…...” tawa Arimbi pun pecah. Dia merasa lucu mendengarkan pengakuan Joana. Arimbi bisa membayangkan bagaimana absurbnya situasi Dion dan Joana.


“Eh, kenapa kamu tertawa? Sssstttttt…….” Joana memegang tangan Arimbi yang tertawa terbahak-bahak. Dia merasa kesal karena Arimbi menertawakannya bukannya menenangkan hatinya yang kacau.


 


“Dimana? Joana…...kupikir kamu jatuh cinta padanya!” ujar Arimbi terkekeh memegangi perutnya.


“Sudahlah tidak usah dibahas lagi! Aku mendadak lapar.”


Arimbi tak berhenti tersenyum melihat wajah Joana yang merona. ‘Dion menciumnya? Apa yang salah dengan pria itu? Apa kepalanya bermasalah lagi?’ batinnya.

__ADS_1


__ADS_2