
“Tidak perlu Beni! Aku sudah memeriksa kulkas dan semua bahan makanan disana sudah lengka. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi.”
“Baik Nyonya.” ujar Beni lalu pergi meninggalkan dapur.
Karena Arimbi memasak hanya untuk dirinya, dia hanya akan memasak makanan sederhana karena di juga tidak terlalu pemilih soal makanan jadi dia tidak membutuhkan banyak makanan.
Sementara itu pengawal Emir mendorong kursi rodanya menuju keruang tamu dirumah utama. Rania yang sedang duduk membaca majalah mengangkat wajahnya dan langsung tersenyum saat melihat kedatangan putranya.
“Emir! Kau sudah kembali!” ucap Rania mendekat dengan wajah penuh kasih sayang.
Emir memberi isyarat pada pengawalnya agar berhenti lalu menatap ibunya.
“Ada apa ibu mencariku?”
“Ibu hanya ingin menemuimu, tidak bolehkah ibu melihat putraku?”
“Ibu, katakan saja yang sebenarnya. Tidak perlu basa basi.” ujar Emir dengan wajah muram.
Melihat wajh muram putranya mengejutkan Rania dan dia siap untuk menjelaskan, “Emir,ibu ingin memberitahumu tentang Arimbi! Kamu tahu tidak betapa angkuhnya wanitamu itu! Dia bahkan berani berbicara pada ibu dengan meninggikan suaranya dan membalas setiap perkataan ibu dengan tajam!”
“Emir! Bukannya kamu membawa wanita itu kembali untuk memperbaiki kesalahannya? Berhubung Arimbi disini sebagai pembantu, apa salah jika ibu memintanya mencuci pakaian ibu? Tapi dia malah menentang ibu! Arimbi itu sangat buruk sifatnya, tidak heran sih karena dia berasal dari desa! Makanya dia tidak belajar sopan santun dan berperilaku baik! Dia tidak bisa dibandingkan dengan Amanda!”
“Ibu, jika Elisah telah diculik sejak bayi dan dibesarkan didesa dan kembali pada ibu diusianya yang kedua puluh tahun. Apa ibu pikir ibu bisa memintanya untuk merubah gaya hidupnya?”
Rania memnuka mulut untuk bicara tapi tak satupun kata-kata yang keluar.
“Ibu! Arimbi telah ditukar sejak bayi dan seseorang menculiknya selama dua puluh tiga tahun. Itu bukan salahnya dan dia tidak bisa dibandingkan dengan Amanda! Amanda menerima semua didikan yang seharusnya diterima Arimbi. Amanda berada disisi Nyonya Rafaldi dan menikmati kehidupan layak sedanngkan Arimbi harus dibesarkan didesa dan berjuang demi bertahan hidup. Bagaimana ibu bisa membandingkan mereka berdua?” ujar Emir dingin.
__ADS_1
“Arimbi adala wanita yang cerdas tapi perilakunya memang sedikit bar bar tetapi aku percaya jika diberi waktu maka kecerdasannya akan melebihi orang-orang.” kata Emir lagi melindungi istrinya dan dia tidak menyukai cara ibunya berbicara tentang Arimbi.
“Emir! Kamu…..kamu membela Arimbi? Tidakkah kamu membencinya karena caranya memperlakukanmu?” Rania tidak percaya dengan perubahan sikap Emir.
Emir menunduk dan suaranya terdengar sangat marah, “Kenapa aku harus membencinya? Dia hanya melakukan apa yang orang lain tidak berani lakukan! Sangat wajar jika dia tidak menikah dengan seorang pria cacat sepertiku. Ibu, bukankah ibu juga mempunyai seorang putri? Pikirkanlah! Kalau putri ibu berada diposisi Arimbi, apa yang akan ibu lakukan?”
Rania tak tahu lagi harus berkata apa. Dia tentu tidak akan membiarkan putrinya menikahi seorang pria lumpuh dan duduk dikursi roda serta tidak dapat menjalankan perannya sebagai seorang pria. Heh!….bukan maksudnya dia mencemooh putranya sendiri. Hatinya semakin sakit setelah memikirkan keadaan putranya itu.
“Aku membawa Arimbi pulang bukan sebagai seorang pelayan! Banyak pelayan yang bisa ibu panggil dan perintahkan. Kenapa ibu harus menyuruh Arimbi mengerjakan tugas mereka?” Emir bicara dengan ekspresi wajah serius dan suara dinginnya.
“Aku harap saat aku tidak ada dirumah ibu tidak akan melemparkan beban ibu sebagai orang tua dan membuat masalah pada Arimbi! Aku juga tidak ingin mendengar ibu mengeluh tentang Arimbi setiap kali aku pulang. Arimbi bersamaku sekarang, maka aku akan melindunginya. Tidak ada seorangpun yang bisa memerintahnya seperti seorang pelayan! Aku harap ibu bisa mengerti.”
Raut wajah Rania lesu setelah mendengar ucapan Emir.
“Emir, sebenarnya kamu membawanya pulang untuk…….”
Rania mengerti ada makna yang tersirat dalam ucapan Emir, dia pun segera bertanya, “Amir! Apa ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Arimbi? Apa yang kamu sembunyikan dari ibu?”
Tapi Emir tidak menjawabnya, dia meminta pengawalnya untukmengantarkannya kembali kerumah.
“Emir! Emir! Emir Serkan!” teriak Rania memanggil putranya tapi Emir mengacuhkan ibunya membuat wanita itu kesal tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Emir dibesarkan oleh Layla Serkan, meskipun Emir menghormatinya sebagai ibunya tapi Rania merasa kesulitan untuk bersikap seperti layaknya seorang ibu.
Setelah keluar dari rumah utama, Emir merasakan ada sesuatu didalam saku celananya. Dia meletakkan jepit rambut Arimbi yang dia berikan padanya tadi siang. Lalu Emir merogoh kantong tersembunyi didalam jasnya.
Dia meneluarkan jepit rambut baru, tadi siang dia meminta seseorang untuk membelinya. Jepit rabut ditangannya itu sangat indah dan nilainya jauh lebih mahal daripada jepit rambut milik Arimbi.
__ADS_1
“Apa anda akan makan malam sekarang Tuan Emir?”
“Nanti saja. Kita kembali kerumah dulu.”jawab Emir setelah diam sejenak.
Dia ingin melihat keadaan istrinya dulu. Ibunya dibesarkan dalam keluarga kaya dan terhormat serta menikah dengan seorang yang sederajat sehingga membuat ibunya Emir sedikit angkuh. Siang itu pasti telah terjadi pertengkaran hebat ketika Arimbi membela dirinya dan menanyakan kewenangan ibunya.
Emir tidak cemas jika terjadi pertengkaran, dia sangat memahami ibunya dan tak peduli seberapa murkanya, ibunya akan tetap teguh pada perkataannya dan dia akan memilih menyerang dengan kata-kata kejam daripada bertengkar secara fisik. Dan melihat karakter Arimbi, istrinya itu pun mungkin tidak akan membiarkan siapapun memukulnya. Arimbi mungkin terlihat lemah, tapi dia sangat berani.
Saat Emir hendak memasuki rumah, dia mencium aroma bubur mentega dengan telur. Pasti Arimbi yang memasak ini pikirnya. Jarak antara rumah utama dan rumahnya sekitar setengah jam, cukup waktu untuk memasak sepiring bubur mentega. Emir bisa mencium aroma susu yang lembut diseluruh rumah.
“Tuan Emir.”
Beni melangkah maju dan mengajak Emir masuk kedalam rumah. Arimbi baru saja selesai menyiapkan bubur mentega dan telur buatannya. Dia mengambil semangkuk bubur untuk dirinya dan membawanya keluar dari dapur. Rasa bubur buatannya sangat lezat. Arimbi pintar memasak sejak dia masih kecil karena ibu angkatnya selalu mengajarinya.
Saat Arimbi mengangkat wajahnya, dia melihat Emir menatapnya dan semangkuk bubur yang dia bawa. “Hai Emir! Apa kamu mau bubur mentega dengan telur?”
Arimbi mengira kalau suaminya itu terbiasa dengan makanan mewah dan tidak akan tergiur dengan bubur menteganya.
“Aku hanya melihat semangkuk bubur tapi kamu malah menanyakan apa aku mau? Apa kamu akan memberikan semangkuk bubur itu padakau kalau aku mau memakannya?”
Arimbi mematung sejenak, dia tidak menyangka kalau Emir bakal menginginkan bubur mentega buatannya, “Kalau kamu mau memakannya aku akan memberimu semangkuk ini dan memasak lagi nanti untukku!” jawab Arimbi.
“Kalau begitu buatkan satu lagi! Beni, bawakan semangkuk bubur itu kesini!” perintah Emir.
“Saya akan mengambil mangkuknya Nyonya Arimbi!” ucap Beni lalu mengulurkan tangannya mengambil mangkuk bubur ditangan Arimbi.
Arimbi memberikan mangkuk buburnya pada Beni dan dia menatap kepala pelayan itu berjalan menghampiri Emir. Beni memberikan mangkuk bubur itu pada Rino sebelum pengawal satunya lagi mendorong kursi roda Emir keluar dari rumah menuju pavilliun.
__ADS_1