
Semua hewan peliharaan tidak bisa disimpan di kediamannya. Arimbi bisa pergi ke istana hewan setiap hari untuk bermain dan menemani hewan peliharaan barunya. Beni tersenyum dan mengangguk. Arimbi lalu berbalik dan pergi, baru dua langkah dia berbalik lagi dan bertanya, “Teni, bagaimana perasaan Emir hari ini?”
Beni tersneyum dan menjawab, “Mengapa Nyonya Muda tidak masuk dan melihat sendiri?”
Arimbi tertawa dan tidak mengatakan apapun. Dia lalu berbalik dan masuk kedalam villa, tak sengaja dia menabrak Rino di pintu masuk.
“Nyonya Muda Arimbi.”
“Hai Rino!” sapa Arimbi sambil tersenyum. Setelah Rino pergi, Arimbi berjalan menuju pria yang sedang duduk di soa. Ketika dia mendekati meja didepan sofa dia melihat ada tumpukan segunung uang tunaim dengan setiap bundelnya berisi dua puluh juta rupiah dan semuanya adalah uang kertas pecahan seratus ribu rupiah.
“Emir sayang, aku pulang.” Arimbi meletakkan tasnya dan maju lalu melingkarkan lengannya di leher Emir. Arimbi menundukkan kepalanya dan mendekati Emir yang mengizinkannya mencium wajahnya.
“Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya Emir setelah terdiam beberapa saat.
“Semuanya berjalan lancar. Tadi aku sudah bertemu dengan Tuan Jordan dan memberikan formulir penawaran ku. Mungkin besok Amanda, aku dan Tuan Jordan akan pergi makan siang. Apakah aku boleh pergi makan siang dengannya besok?”
“Pergilah! Aku memberimu ijin tapi aku melarangmu minum alkohol.”
“Emir sayang, bukankah biasanya setiap pertemuan bisnis itu orang-orang akan menawarkan alkohol? Apakah tidak sopan jika aku menolaknya?”
“Aku melarangmu! Kamu gampang mabuk! Kalau kamu tetap minum aku akan mengurungmu dirumah dan melarangmu pergi bekerja! Cukup jadi istriku saja.” ancam Emir serius.
“Baiklah…..baiklah. Jangan marah sayang. Aku tidak suka melihatmu marah. CUP!” Arimbi bicara sambil mencium bibir suaminya lagi sambil tersenyum. “Emir, untuk apa uang begitu banyak disini?”
Arimbi duduk disebelahnya dan bertanya sambil melihat uang tunai itu. Jika dia tidak salah, itu pasti mencapai ratusan juta rupiah.
“Hitung!” perintah Emir padanya.”
__ADS_1
“Aku harus menghitungnya?” tanya Arimbi yang terkejut.”
“Iya. Hitunglah.” balas Emir lagi.
“Satu bundel ada dua puluh juta. Apa aku masih harus menghitungnya?”
Mendengar perkataan Arimbi, Emir pun langsung mengacaukan tumpukan uangnya membuat uang-uang itu berserakan diatas meja.
Arimbi ternganga. Apa yang dia lakukan? Dia tak mengerti dengan sikap suaminya itu.
“Ini adalah uang sakumu untuk siang dan malam hari. Hitunglah.” kata Emir menjelaskan. “Kamu akan menerima jumlah yang sama setiap harinya.”
Emir hanya menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami setelah Arimbi mengatakan bahwa dia tidak pernah menerima uang saku darinya.
Arimbi menghela napas panjang, “Uang saku untuk siang dan malam hari? Sayang, aku bahkan belum sempat menghabiskan yang kamu berikan padaku pagi tadi. Tapi kamu sudah memberiku lebih banyak lagi. Apa yang akan kulakukan dengan semua uang ini?”
“Sayang, apa ini karena ucapanku tadi pagi ya? Aku hanya mengatakan itu karena Nenek Serkan begitu menghinaku. Aku dibayar untuk pekerjaanku jadi aku tidak membutuhkanmu untuk menghidupiku.”
Arimbi mulai menghitung uangnya sambil berbicara. Sambil mengepak yang dalam tumpukan sepuluhan juta, dia berkata dengan bingung, “Sayang, jika kamu ingin memberiku uang saku transfer saja kerekening bank ku. Kenapa kamu harus mengambil begitu banyak uang dan mengacaukannya sehingga aku harus menghitungnya lagi?”
Emir jelas hanya membuat-buat tugas untuknnya. “Aku hanya ingin menjagamu.” Emir menegaskan kembali pernyataannya.
“Baiklah….kamu hanya ingin menjagaku. Terima kasih, sayang.” Arimbi membujuknya seolah-olah dia sedang bicara dengan seorang anak kecil.
“Uang tunai membuatnya terasa seperti acara spesial. Itu membumbui semuanya.” kata Emir.
Arimbi tersenyum dan melihat tumpukan uang yang banyak diatas meja. Ya, dia melihatnya saja sudah membuatnya senang. Itu memang terasa istimewa dan itu mudah menyentuh hatinya. Jika Emir mentransfer uangnya ke rekening bank Arimbi, dia tidak akan merasakan apa-apa hanya dengan melihat deretan angka saja.
__ADS_1
“Alangkah indahnya menghitung uang banyak sampai kamu kelelahan.” kata Emir dengan suara pelan lagi. Dia menatap betapa seriusnya Arimbi menghitung uang sakunya yang sangat banyak itu.
Arimbi terkejut, jadi Emir sengaja menciptakan momen kebahagiaan untuknya. Dia tersentuh dan berkata, “Emir, bahkan jika kamu tidak memberiku uang saku dan membuatku menghitung segepok uang sampai aku lelah, aku sangat senang karena aku bisa menikahimu dalam hidup ini.”
Ekspresi wajah Emir melunak.
“Emir sayang, apa kamu memberiku kucing dan anjing yang ada diluar itu? Aku akan mengirim mereka ke istana hewan sebentar lagi. Dan aku tidak akan pernah membiarkan mereka mengganggumu. Aku berjanji bahwa aku juga akan mengambil semua bulu kucing dan anjing yang jatuh.”
“Kamu hanya bisamengunjungi mereka selama akhir pekan.”
Arimbi pun langsung mengerti maksud perkataannya. Arimbi berhenti menghitung uang lalu berbalik dan menjatuhkan dirinya kepelukan Emir. Lalu melingkarkan lengannya di leher Emir lagi dan menatapnya dengan genit.
Hal itu membuat tatapan Emir menggelap saat dia melingkarkan tangannya di pinggang Arimbi tanpa ragu sedikitpun.
“Sayang….” suara Arimbi merdu dan lembut. Emir merasakan gelombang rasa nyaman dan gairah saat Arimbi memanggilnya dengan manis. “Tidak peduli pada apapun. Kamu akan selalu menjadi nomor satu bagiku.” janjinya.
Emir hanya menatapnya dan tidak mengatakan apapun. Arimbi merasa rugi jika tidak mencium pria tampan seperti itu ketika dia tidak hanya ada didepannya tetapi juga miliknya. Dengan cepat dia mencium bibir Emir dan merayunya untuk menyalurkan gairahnya yang membara setiap kali berada didekat Emir.
Emir dengan tenang membiarkannya melakukan apapun yang dia mau dan ketika Arimbi merasa dia akan gagal. Emir tiba-tiba menjadi buas dan menciumnya dengan napas terengah-engah sebelum dia melepaskannya. “Em----” Arimbi mengumamkan sesuatu.
Emir mengeluarkan jepit rambut Arimbi dan melihatnya. Dia pikir jepit rambut itu tampak tidak menarik dan tidak sesuai untuk dipakaikan di rambut panjang indah istrinya.
Lalu dia melemparkan jepit rambut itu keatas meja dan berkata dengan acuh tak acuh. “Aku akan meminta seseorang untuk mengirim dua lusin jepit rambut untukmu. Jadi kamu tidak perlu memakai jepit rambut murahan itu lagi. Arimbi, kamu adalah istriku dan kamu harus tampil mewah setiap hari.”
“Aku membelinya terakhir kali dan aku masih menggunakannya karena belum rusak. Ibuku memberiku banyak jepit rambut baru.” jawab Arimbi.
Setelah Emir mencabut jepit rambut Arimbi, rambut panjang lebat berkilau itu tergerai turun ke bahunya menambah kecantikannya. Emir menyisir rambut Arimbi dengan jari-jarinya. “Kamu ini orang kuno. Kamu terlihat lebih cantik dengan rambut tergerai.”
__ADS_1