GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 414. WANITA KAYA


__ADS_3

Mosha mengunjungi kediaman Serkan hari ini atas undangan Layla Serkan. Untuk pertama kalinya wanita tua itu mengundang besannya secara pribadi. Di dalam rumah utama tampak Layla Serkan duduk dikursi kebesarannya. Sedangkan Mosha dan Arimbi duduk berdampingan di sofa.


“Terima kasih sudah mengundang saya, Nyonya Besar.” ucap Mosha dengan hormat.


“Kenapa kau memanggilku seperti itu? Kita ini besan, panggil saja aku, ibu! Tidak perlu sungkan! Arimbi adalah cucu menantuku dan kelak anak-anaknya yang menjadi penerus keluarga ini.” ucap Layla Serkan lalu menyesap tehnya.


“Minumlah! Teh ini adalah teh terbaik dan hanya bisa kau minum dirumah ini! Teh ini khusus diracik untuk keluarga Serkan.”


“Baiklah.” Mosha mengambil cangkirnya dan mencium aroma wangi tehnya yang berbeda dari teh biasa. Mosha penggemar teh dan dia selalu meminum teh kualitas terbaik. Jadi dia mengetahui jika teh yang disuguhkan dirumah ini benar-benar teh kualitas terbaik.


“Bagaimana dengan Rafaldi Group? Apakah cucuku menanganinya dengan baik?” tanya Layla.


“Iya bu! Saya dan suamiku senang sekali dengan bergabungnya Zach di perusahaan. Sekarang kondisi perusahaan semakin membaik dan berkembang.”


“Syukurlah! Setelah melahirkan Arimbi tidak mungkin kembali bekerja! Aku tidak melarangnya untuk bekerja, kelak dia bisa kembali mengurus perusahaan. Tapi sementara waktu ada baiknya cucu-cucuku yang membantu kalian.”


“Terima kasih bu! Sudah banyak membantu kami.” ucap Mosha tulus.


“Ehm, kita adalah keluarga. Kelak Rafaldi Group akan diwariskan pada anak-anak Arimbi! Jadi tidak ada salahnya jika keluarga Serkan membantu mengembangkan perusahaan itu.”


Layla Serkan banyak berubah dan sikapnya pada Arimbi pun sangat baik. Dia bahkan sering menemani Arimbi yang kini lebih banyak dirumah.


Sedangkan pusat perbelanjaan dan perusahaan yang diberikan keluarga Serkan pada Arimbi pun dialihkan pada cucu laki-laki nomor lima bernama Bryan. Setelah berbincang beberapa saat, Layla Serkan pun meninggalkan ibu dan anak itu. Dia adalah waktu istirahatnya jadi dia kembali ke kamarnya. Kini diruang tamu mewah itu hanya ada Mosha dan Arimbi.


Mosha mendekatkan tubuhnya pada Arimbi dan bertanya, “Arimbi, ibu akan mentransfer uang kerekeningmu besok! Untuk biaya sehari-harimu, kamu sekarang kan tidak bekerja lagi. Belilah apapun yang kamu mau dan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Sekarang kamu adalah istri Emir dan sedang mengandung penerus keluarga ini. Meskipun kamu sedang hamil, kamu juga harus merawat dirimu dengan baik.”


Meskipun Mosha melihat jika Keluarga Serkan memperlakukan Arimbi dengan baik, namun sebagai seorang ibu tetap mencemaskan anaknya.


“Bu, aku tidak kekurangan uang. Ibu selalu memberiku sejumlah uang setiap bulan, Emir juga memberiku uang saku tiga ratus juta perhari. Nenek juga memberiku uang saku bulanan karena aku yang bertanggung jawab dalam keperluan harian rumah ini.”

__ADS_1


Mosha pun terdiam mendengar perkataan putrinya. ‘Wow! Menantu laki-lakiku kaya sekali? Tiga ratus juta perhari? Uang saku apa sebanyak itu? Nyonya besar pun memberi uang bulanan pada Arimbi?’


“Aku akan memberi Emir hadiah setiap hari sampai dia muak, bu! Dia selalu memintaku untuk menghabiskan uang saku ku. Kalau habis dia akan memberinya lagi, begitu katanya.”


Wanita paruh baya berwajah cantik itupun terkekeh membayangkan kehidupan seperti apa yang dijalani anaknya sekarang. Benar-benar beruntung bisa menikah ke keluarga paling kaya di negeri ini!


“Ibu lega mendengarnya, Arimbi! Kamu adalah anak yang bijaksana. Apa kamu juga memberi hadiah pada Nyonya Besar?” tanya Mosha tersenyum.


“Sudah pasti, bu! Nenek senang sekali setiap kali menerima hadiah dariku.” ucap Arimbi bangga.


“Ibu senang sekali, kamu berada ditangan yang tepat Arimbi! Kalau kamu bosan dirumah, datanglah berkunjung kerumah ya. Ibu akan senang ada kamu dirumah.”


“Iya bu. Tapi perutku sekarang besar sekali! Sepertinya aku mengandung anak kembar! Rasanya berat untuk dibawa jalan makanya aku lebih sering berada dirumah.”


“Baiklah. Tidak perlu memaksakan dirimu. Biar ibu dan ayahmu yang datang kesini mengunjungimu. Toh ayahmu sekarang tidak bekerja lagi. Hanya sesekali saja dia pergi ke perusahaan untuk rapat dan mengecek situasi disana. Nyonya Besar benar-benar memperhatikan keluarga kita. Dia membiarkan cucunya yang menangani perusahaan dan sekarang Rafaldi group menghasilkan keuntungan besar.”


“Hmmm……apa kamu sadar seberapa kaya kamu sekarang? Tetaplah belajar Arimbi, bagaimanapun kelak kamu akan mewarisi Rafaldi Group.”


“Oke bu! Aku akan memenuhi janjiku soal itu.” jawab Arimbi.


...******...


Sudah pukul sembilan malam. Satu jam lamanya Arimbi menunggu kepulangan suaminya. Tidak biasanya Emir pulang selarut ini sejak Arimbi hamil. Biasanya Emir selalu mengusahakan pulang lebih awal dan menghabiskan waktu bersama istri tercintanya itu. Arimbi sebenarnya sudah mengantuk, kondisi kehamilannya dengan perut besar membuatnya malas bergerak.


“Nyonya, sebaiknya istirahat saja dikamar. Mungkin Tuan akan pulang terlambat hari ini.” kata Beni.


“Aku tunggu disini saja! Aku belum mengantuk, aku tidak bisa tidur tanpa Emir.” jawab Arimbi.


“Baiklah nyonya. Apa anda mau makan sesuatu? Cemilan? Atau minum jus?” Beni menawarkan.

__ADS_1


“Ehm, susu hangat saja! Sekalian sama keripik pisang, masih ada kan?”


“Ada nyonya. Tunggu sebentar saya ambilkan.” Beni pun pergi ke dapur. Tak berapa lama dia kembali membawa nampan berisi susu dan setoples keripik pisang kesukaan Arimbi.


Dia memegang remote dan mencari tontonan menarik. Sekitar jam sembilan lewat tiga puluh menit terdengar suara mobil diluar. Arimbi tahu kalau itu suara mobil suaminya.


“Emir? Sayang….kamu sudah pulang?” Arimbi tersenyum saat melihat Emir memasuki rumah. Pria itu menatap istrinya penuh kerinduan dan melangkah kearahnya.


“Kenapa kamu belum tidur? Ini sudah larut malam, Arimbi! Tidak baik buat anak kita.” Emir mengecup kening istrinya dan memeluknya.


“Aku menunggumu! Kamu kan tahu aku tidak bisa tidur tanpamu.” jawab Arimbi dengan manja.


“Ya sudah. Aku ada dirumah sekarang kan? Kita ke kamar ya, aku mau mandi. Ayo!” Emir mengambil remote dan mematikan TV lalu menggandeng tangan Arimbi menuju ke lift.


Mereka naik kelantai dua dimana kamar mereka berada. Arimbi duduk di tempat tidur menunggu Emir yang masih berada di kamar mandi, dia bisa mendengar suara gemericik air.


Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka dan Emir keluar dengan handuk melilit di pinggangnya. Dia menghampiri Arimbi lalu memeluk dan menciumnya. “Jangan main hp lagi. Kenapa kamu susah dibilangin, hmmm?”


“Suamiku, kamu seksi sekali! Cepat pakai bajumu nanti kamu masuk angin.”


“Apa kamu tidak merindukanku?” goda Emir mengedipkan matanya pada Arimbi membuat wajah wanita itu merona.


“Malam ini cuti dulu ya? Bagaimana kalau besok saja?” bujuk Arimbi. Dia menunggu Emir cukup lama dan moodnya lagi tidak menginginkan itu.


“Oke, tapi besok di rapel ya?”


“Emir! Apa kamu tidak lihat perutku sebesar ini? Masa harus di rapel terus?” sungut Arimbi.


“Aku hanya bercanda!” Emir berjalan menuju ke wardrobe dan mengambil piyama lalu memakainya.

__ADS_1


__ADS_2