GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 373. PASRAH


__ADS_3

Tangan Dion mengambil paperbag dari tangan Joana, dia tersenyum penuh kemenangan. Sayangnya Joana tidak bisa melihat senyum itu karena posisinya duduk diatas pangkuan Dion dengan membelakanginya.


Satu tangan Dion masih mengunci pinggang Joana, ingin rasanya dia melarikan diri dan bersembunyi didalam tanah. Malu! Dia sangat malu, mau ditaruh dimana mukanya?


 


Dia benar-benar merasa malu, Joana merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya membuat dia tersadar lalu mengarahkan pandangan ke lehernya. Sebuah kalung berlian menggantung disana, terlalu larut dalam lamunannya tak dia sadari jika Dion mengeluarkan barang dari paperbag itu dan memasangkannya di leher Joana.


 


“A---ap maksudnya ini?” tanya Joana tergagap sambil menyentuh kalung berlian yang menggantung dilehernya.


“Kamu tidak boleh melepaskan kalung itu dari lehermu! Kalau sampai itu terjadi, maka aku akan memberi hukuman berat padamu!”


“Hah?” Joana mendelik menatap Dion. “Apa maksud anda? Apa anda pikir bisa membeliku? Menjebakku dengan perhiasan? Aku akan segera mengembalikan uangmu! Tidak perlu menjebakku seperti ini dengan menambah hutangku.” ujar Joana penuh amarah.


 


“Keluar kalian semua! Tinggalkan kami! Jangan ada yang kembali sampai aku ijinkan!” kata Dion memerintah semua pekerja agar meninggalkannya dengan Joana.


Hal itu membuat Joana ketakutan.


“Kenapa anda mengusir mereka semua?” tanya Joana panik. “Jangan dengarkan dia! Lanjutkan pekerjaan kalian!” kata Joana.


 


Para pekerja saling melemparkan pandangan bingung harus menuruti siapa. “Jika kalian tidak keluar dalam dua menit! Aku akan memberi kalian pelajaran!” bentak Dion semakin marah.


Mendengar itu.


Para pekerja bergegas meninggalkan tempat itu, mereka mengenal siapa Dion. Mana mungkin mereka punya keberanian untuk menentangnya. Bisa-bisa mereka dan seluruh keluarga mereka akan merasakan amukan dari pria itu.


 


Kini hanya ada Dion dan Joana yang masih berada dipangkuan Dion. Seolah tidak mau melewatkan kesempatan. Dion langsung membalikan tubuh Joana lalu menciumnya penuh gairah.


Joana terkejut dan tak sempat bereaksi. Kini Dion semakin menguasainya, satu tangannya memegang tengkuk Joana sehingga dia tidak bisa bergerak. Sedangkan tangan satunya memeluk pinggangnya. Dion menekan tubuh Joana ke sofa membuatnya tak bisa bergerak.

__ADS_1


Joana berusaha mendorong Dion namun tak berhasil, pria itu menghimpitnya di sofa mengunci semua pergerakannya. Ciuman yang tadinya penuh gairah dan kasar kini berubah lembut dan lidah Dion mendesak masuk kedalam mulut Joana saat dia mendesah.


 


Entah mengapa setiap kali Dion melakukan itu padanya, Joana ingin menolak namun akhirnya dia hanya bisa pasrah. Dan kini dia malah membalas ciuman Dion yang membuat pria itu tersenyum menatap Joana yang berada dibawahnya memejamkan mata.


 


“Ahhhkkkkk!” tiba-tiba Joana berteriak. Saat dia merasakan sesuatu memasukinya. Entah kapan celana lejingnya sudah terlepas. Dia semakin ketakutan namun lagi-lagi sentuhan dan buaian Dion yang sudah menguasai setiap inci tubuh Joana membuatnya lemas. Tanpa dia sadari dia mendesah saat gerakan pria itu semakin kuat. Joana seperti lupa dimana mereka sedang berada.


 


Untungnya tidak ada orang lain disana, hanya mereka berdua yang sedang berpacu mendapatkan pelepasan dengan suara lenguhan dan ******* saling bersahutan. “Sssshhh…...” Joana menarik rambut Dion saat dia merasakan sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhnya.


 


“Kamu tidak akan pernah bisa lepas Joana! Lahirkan anak untukku! Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri, atau minum pil KB! Jika kamu melakukan itu, aku pastikan aku akan mengurungmu dirumahku sampai kamu melahirkan anak untukku!”


Joana tiba-tiba tersadar lalu menatap Diona, lalu dia mengalihkan pandangan ke posisi mereka yang masih menyatu. “Aaaaaaggggg…….brengsek! Mesum! Lepaskan aku!” teriaknya meronta namun tidak berhasil. Tenaga pria itu jauh lebih kuat darinya.


 


Dia semakin ketakutan, ‘Kenapa bisa begini? Ahhhhhh……..brengsek! Joana! Bodoh kamu! Kenapa kamu kembali terjebak dalam pesona laki-laki brengsek ini?’


 


Joana tak henti-hentinya mengumpat, namun itu tidak membuat Dion berhenti. Dia bahkan semakin menggila dan gerakannya semakin kasar. Segala umpatan Joana seolah membuatnya semakin bergairah.


Dalam satu hentakan dia membalikkan Joana dan merubah posisi, kini Joana semakin tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Dua jam berlalu, Dion berdiri lalu mengangkat tubuh Joana yang lemas lalu membawanya ke kamar mandi.


Joana menangis mengumpat, memaki Dion tiada henti dengan suara pelan karena dia kelelahan dan tak punya tenaga lagi untuk bersuara. “Kenapa anda melakukan ini padaku?” tanya Joana sembari menangis.


 


Dia merasa hina diperlakukan Dion seenaknya, kini lelaki itu bahkan dengan seenaknya membantunya membersihkan tubuh. Lalu Dion bahkan memakaikan pakaiannya kembali lalu memeluk Joana dengan erat.


“Karena kamu milikku! Ingat itu! Sampai kapanpun kamu milikku! Kamu tidak akan pernah bisa lari kemanapun karena aku akan menemukanmu!”

__ADS_1


 


“Brengsek!” maki Joana memukul dada Dion. Dia sudah pasrah, pria itu sudah melihatnya bahkan memandikannya tanpa sedikitpun segan.


“Makilah sepuasmu! Tapi jika kamu berani dekat dengan pria lain atau melarikan diri, aku akan menghancurkan keluargamu!” ancam Dion. “Ingat ya, cukup lahirkan anakku. Aku akan menjamin kehidupanmu! Apa kamu tidak ingin memiliki hidup seperti sahabatmu itu, hem?”


 


Joana menangis terisak, kenapa semuanya jadi begini? Awalnya dia tidak pernah menyangka kalau aksi nekatnya itu malah membuat Dion semakin mengganggunya. Dan baru saja mereka bahkan melakukannya di cafe itu. Ya ampun, CCTV! Dia harus menghapus rekaman CCTV! Ini benarbenar bahaya dan pria ini lebih berbahaya lagi.


 


“Lepaskan aku!” ucap Joana karena Dion enggan untuk melepaskannya.


“Tidak akan! Mulai hari ini kamu akan tinggal dirumahku!” ucap Dion mencium bibir Joana.


“Tidak! Aku tidak mau! Lebih baik aku mati daripada harus tinggal bersamamu1”


“Benarkah? Apa kamu seyakin itu Joana Ganesha?” Dion tersenyum tipis. “Apa perlu bantuanku untuk mengakhiri hidupmu?”


 


“Setelah itu seluruh keluargamu juga akan berakhir sama sepertimu.” ancam Dion lagi sehingga menbuat Joana bergidik ngeri. Dia menatap Dion dengan tajam seolah tak percaya apa yang didengarnya barusan.


‘apa pria ini benar-benar mengancamnya lagi sekarang?’ gumamnya.


“Tuan Dion! Apa maksudmu? Apa sebenarnya yang kamu mau? Kenapa kamu selalu saja menggangguku, hah?” bentak Joana menatap tajam pria itu.


 


“Mauku? Kamu pindah dan tinggal dirumahku.” kata Dion memegang dagu Joana hingga wajah itu mendongak. Dion memegang dagu Joana dengan kuat dan mengusap bibirnya dengan jarinya. Lalu dia melepaskan tangannya lalu merogoh sakunya mengambil ponsel.


Dion menekan tombol untuk menghubungi seseorang. Tak berapa lama panggilan tersambung, Dion menyalakan speaker agar Joana bisa mendengar.


 


“Tuan Harimurti! Ap—apa ada yang bisa saya bantu?’ terdengar suara ayah Joana yang tergagap. Mendengar suara ayahnya, Joana hendak mengambil ponsel dari tangan Dion namun pria itu menatapnya dengan ancaman lalu menarik tubuh Joana mendekat.

__ADS_1


“Tuan Ganesha, sepertinya anda tahu apa yang saya inginkan.” ujar Dion penuh kemenangan.


__ADS_2