
Michele terhenyak mendengar kata-kata Emir yang ketus dan tajam menyindirnya. Emir tahu kalau Michele memiliki perasaan padanya tapi Arimbi adalah istrinya. Tak peduli berapa lama dia dan Michele saling kenal dan berteman namun jika wanita itu tidak bisa menghormati istrinya maka dia akan menghancurkan Michele!
“Michele! Jangan dimasukkan ke hati perkataan suamiku tadi ya?”
“Ah…..maafkan saya Nyonya Serkan! Saya yang salah, tidak seharusnya saya memanggil anda begitu.” ujar Michele. “Anda mau melihat gaunnya sekarang?” tanya Michele berusaha menutupi rasa malunya. Dia tidak menyangka betapa posesifnya sikap Emir pada Arimbi yang membuat kecemburuannya menjadi meningkat.
“Ya. Tolong bawakan gaunnya padaku.” ucap Arimbi.
Staff butik membawakan beberapa gaun terbaru mereka dan memajang didepan Arimbi untuk dipilih. Arimbi memperhatikan gaun-gaun itu satu persatu, hingga pilihannya jatuh pada gaun berwarna gold dengan payet dibagian pinggang yang menambah keindahan gaun. Gaun dengan model off shoulder itu terlihat sangat mewah dengan hiasan swaroski.
“Aku mau coba gaun ini.” Arimbi menunjuk gaun berwarna gold. Staff butik membawakan gaun itu dan melangkah menikuti Arimbi ke fitting room. Tak berapa lama, Arimbi keluar dari fitting room lalu berdiri dihadapan Emir dengan senyum manisnya yang membuat Michele mengutukinya didalam hati.
“Sayang, bagaimana menurutmu?” tanya Arimbi menggoyangkan tubuhnya dengan sengaja untuk menggoda. Dia tahu jika Michele pasti sangat kesal padanya saat ini tapi dia tidak peduli.
Arimbi akan menghajar para penggemar Emir dan menunjukkan pada mereka bahwa dialah istri sah, pemilik pria tampan dan kaya itu.
Emir mendongak lalu berdiri menatap Arimbi dengan lembut. “Cantik!”
Arimbi menghampiri Emir lalu mendekatkan tubuhnya, tangannya berada didada Emir sambil mendongakkan wajahnya menatap Emir dengan penuh cinta. “Cantik saja? Atau cantik banget? Hem?”
“Kamu wanita tercantik! Kamu istriku yang paling cantik!” balas Emir mengikuti permainan Arimbi.
“Oh, Emir sayang…...sweet sekali! Aku mencintaimu, suamiku! Cup!” tanpa ragu Arimbi mencium bibir Emir yang malah dibalas pria itu tanpa sungkan sedikitpun.
Sepasang suami istri itu memainkan perannya dengan sempurna tak mempedulikan staff butik yang menundukkan kepala dan Michele yang menatap dengan terkejut.
Inikah Emir yang dikenalnya? Emir yang dingin dan kejam pada siapapun? Tapi kenapa sejak awal dia melihat Arimbi dan Emir, dia merasa kalau Emir memperlakukan Arimbi berbeda. Dan kini, untuk pertama kalinya Michele melihat Emir mencium Arimbi didepannya.
“Michele…...” tegur Arimbi membuyarkan lamunan Michele yang langsung mengalihkan pandangan matanya.
__ADS_1
Dia merasa sangat malu tertangkap basah memperhatikan sepasang suami istri itu berciuman mesra.
“Ehem…...i—iya Nyonya Serkan! Bagaimana gaunnya? Anda suka?”
“Ya aku suka gaun ini. Aku mau mencoba dua gaun lainnya.”
“Michele. Tolong diperbaiki sedikit dibagian pinggang. Sedikit ketat, istriku sedang hamil dan aku tidak mau gaunnya mempengaruhi kandungannya.” ucap Emir
Michele kembali terkejut mendengar ucapan Emir, bagai disambar petir di siang hari hatinya terasa sakit dan tercabik-cabik. Apakah dia sudah salah menilai selama ini? Mempercayai rumor yang beredar yang belum tentu kebenarannya itu? Tapi Michele yang penasaran pun ingin memastikan sesuatu.
“Nyonya Serkan hamil? Wah, ini kabar menggembirakan. Selamat ya.” ucap Michele tersenyum tapi didalam hatinya mengumpat dengan marah. Kenapa wanita ini yang menang banyak?
“Terima kasih Michele. Kandunganku sudah memasuki minggu ke lima.” ucap Arimbi memberitahukan Michele seolah dia tahu apa yang dipikirkan wanita itu.
“Oh, begitu? Anda beruntung sekali Nyonya.” ucap Michele dengan keterpaksaan.
“Ya. Sepertinya langit dan bumi memberkatiku, menikahi Emir dan tidak lama aku langsung hamil. Aku sudah tidak sabar menggendong anakku.” Arimbi tersenyum penuh kebanggaan dan puas saat dia melihat ekspresi wajah Michele yang langsung berubah setelah mendengar ucapannya.
“Tidak. Aku sudah pesankan makan malam untukmu. Cepat selesaikan fitting mu, kamu harus makan tepat waktu demi calon anak kita.” ujar Emir mengecup kening Arimbi sebelum melepaskan istrinya pergi menuju fitting room.
“Tuan Emir, saya akan meminta staff membawakan teh lagi untuk anda.”
“Tidak usah! Sudah cukup.” ucap Emir tanpa memandang Michele. Tatapannya fokus pada layar ponselnya yang membuat Michele kesal. Sikap Emir benar-benar berubah sekarang, mereka berteman sudah lama dan selama ini Emir bersikap baik padanya tak disangka dia berubah draktis seperti ini.
...********...
“Kenapa makanannya dibawa kembali?” tanya Layla Serkan pada para pelayan yang membawa makanan menuju kearah dapur.
“Maaf Nyonya Besar. Tapi Tuan Muda dan Nyonya Muda belum pulang dan Beni memberitahukan kalau mereka akan makan malam diluar. Jadi kami membawa makananya kembali, Nyonya.”
__ADS_1
“Hem…..” hanya itu yang keluar dari bibirnya.
“Nenek…..” suara Elisha terdengar memanggilnya. Layla Serkan menoleh dan melihat cucu perempuannya itu memasuki rumah dengan wajah ceria dengan membawa dua paperbag ditangannya,
“Darimana saja kamu Elisha?” tanyanya.
“Aku tadi keluar sebentar untuk membeli ini.” Elisha mengangkat kedua tangannya. Kedua wanita beda generasi itu duduk di sofa ruang tamu. Elisha mulai membuka paperbag dan mengeluarkan isinya untuk menunjukkan kepada neneknya.
“Lihatlah ini nenek! Aku membelikannya untuk kakak iparku!” ucapnya sangat antusias.
“Apa itu?” Layla Serkan mengeryitkan dahinya menatap benda segiempat ditangan Elisha.
“Ini IPAD terbaru aku belikan untuk Arimbi. Aku sudah minta di install musik klasik dan musik lainnya khusus ibu hamil. Jadi Arimbi bisa mendengarkan musik untuk anak didalam kandungannya. Katanya, mendengarkan musik itu baik untuk si ibu dan janinnya. Membuat rileks. Bagaimana?”
“Ah, nenek tidak tahu soal itu! Kalau mau rileks bisa pergi jalan-jalan. Menginap di villa puncak misalnya atau liburan ke luar negeri labih bagus lagi.” ucap Layla Serkan tak sadar akan ucapannya.
“Oh nenek! Ide nenek brilian sekali! Ah…..tidak kusangka nenek perhatian juga sama kakak iparku.” Elisha tersenyum menahan tawa. Dia tahu kalau neneknya itu masih keras kepala tapi mulai peduli pada Arimbi.
“Sudahlah. Nenek pusing, mau istirahat.” ucapnya mengalihkan pembicaraan. Lalu dia berdiri dan melangkah perlahan menuju kamar tidurnya.
Elisha hanya bisa tersenyum menatap punggung neneknya yang diam-diam sering memperhatikan Arimbi dari balkon kamarnya. Elisha juga tahu kalau neneknya sering menatap foto USG yang pernah dia berikan waktu itu.
“Aku harus cari cara supaya nenek bisa semakin dekat dengan Arimbi! Tapi bagaimana caranya ya?” Elisha menepuk-nepuk dagunya dengan jari telunjuknya.
“Hei! Kamu lagi memikirkan apa?” tanya Agha yang baru saja pulang dan melihat adiknya yang duduk dilantai sambil melamun. “Kenapa kamu duduk dilantai begitu? Apa ini?” tunjuknya pada benda di tangan Elisha.
“Ini hadiah untuk kakak ipar! Aku ingin memberikan padanya tapi dia belum pulang.” jawab Elisha.
“Belum pulang? Emir juga?”
“Ehee…….” Elisha menganggukkan kepala.
“Selamat malam Tuan. Apa Tuan mau makan atau minum kopi atau teh?” tanya seorang pelayan pada Agha sambil meletakkan secangkir the dan cemilan diatas meja untuk Elisha.
__ADS_1