GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 115. MENCURI CIUMAN


__ADS_3

“Arimbi Saraswaty Rafaldi!”


“Iya sayang?”


“Sungguh tidak bertanggung jawab!” dengus Emir.


“Hah? Aku tidak melakukan apapun padamu, kenapa aku harus bertanggung jawab?” tanya Arimbi dengan bingung dan menatap Emir.


“Kamu menciumku lalu meninggalkanku begitu saja?”


Tak butuh waktu lama bagi Arimbi untuk paham apa maksud Emir, dengan mengerjapkan mata dan senyum malu-malu dia membelai wajah tampan suaminya.


“Dasar tak tahu malu! Istri tak bertanggung jawab.” omelnya membuang wajah kesamping.


Arimbi yang hobi menggoda suaminya itupun tak membuang kesempatan, ‘Jangan salahkan aku! Kamu yang minta ya Emir! Lagipula siapa yang tahan melihatmu?’


Arimbi dengan cepat melepas bajunya dan memperlihatkan bagian dadanya yang montok. Dia menduduki tubuh Emir dengan senyum menggoda menatapnya. Kedua tangan Arimbi menangkup wajah suaminya agar memandangnya. Emir tak berkedip menatap tubuh polos didepan sambil menelan salivanya. 'Benar-benar tak tahu malu! Apa dia benar-benar langsung melepaskan semua pakaiannya?’


Dengan cepat, Arimbi tak mau melewatkan kesempatan didepannya. Dia mencium Emir dengan penuh gairah dan melepaskan kancing bajunya. Emir yang hanyut dalam rayuan dan godaan istri nakalnya itu hanya bisa pasrah, dia takkan melepaskannya dengan mudah. Emir membalas ciuman Arimbi dan tangannya merayap menyentuh tubuh mulus istrinya. Sepasang suami istri itu menghabiskan jam istirahat siang dikamar yang dipenuhi suara ******* dan lenguhan.


Emir memeluk istrinya yang cantik, ‘Dia pasti kelelahan! Dia langsung terlelap.’ bisiknya didalam hati setelah olahraga siang mereka. Keduanya masih dalam keadaan sama-sama polos. Tapi Emir tidak bisa tidur, dia menggeser tubuh Arimbi sedikit untuk melihatnya lebih dekat. Arimbi tidur seperti malaikat, Emir mengelus wajahnya. “Istriku benar-benar nakal! Wajahmu juga halus, nyaman ditangan.” ucap Emir dengan suara dalam. Sayangnya Arimbi sedang tidur lelap dan tak mendengarnya.


“Arimbi!” panggilnya lembut sambil mengusapkan wajahnya kewajah Arimbi dan dengan lembut berkata, “Apakah kamu tidak menyesalinya? Maukah kamu berada disisiku seumur hidupmu? Meskipun kamu menyesalinya, aku takkan pernah melepaskanmu. Aku sudah memberimu kesempatan untuk berubah pikiran waktu itu. Karena kamu tidak menyesal jangan salahkan aku jika aku sangat protektif di masa depan. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku saat kamu masih hidup.” Emir terus saja menatap wajah Arimbi sambil mengusap bibirnya.

__ADS_1


Bibirnya yang merah muda sangat memikat. Setiap kali Arimbi mencium Emir, dia selalu berusaha keras untuk menahan kegirangannya. Bahkan kadang Emir ingin menciumnya lebih dahulu saat mereka pertama kali berciuman. Kali ini dia memutuskan untuk mencium bibir merahnya. Arimbi tak bisa bernapas dalam tidurnya, ia pun membuka mulutnya untuk bernapas.


Emir yang melihat Arimbi merespons ciumannya tak menahan diri lagi dan menciumnya mesra. Tetapi Arimbi mengira ia sedang bermimpi dan didalam mimpinya ia berciuman dengan Emir. Didalam mimpinya Emir adalah pria yang romantis dan membalas semua godaannya. Emir baru berhenti menciumnya saat ia mulai kehabisan napas. Emir terengah-engah setelah melepaskan ciumannya.


Ternyata ciuman berbalasan itu indah. Melihat Arimbi yang masih tidur pulas, Emir merasa lucu.’Hahaha….aku diam-diam mencuri ciuman dan kamu meresponku. Tapi kamu masih tidur pulas? Menurutmu ciuman itu terjadi didalam mimpimu ya?’ gumamnya didalam hati. Siang ini Emir benar-benar senang dan suasana hatinya pun jauh lebih baik lagi.


“Arimbi, apakah kamu memimpikanku? Jika kamu memimpikan Reza….kubuat kamu menulis kata ‘Aku cinta Emir’ sebanyak sepuluh ribu kali setiap hari.”


Arimbi yang tidur pulas tentu tidak merespon pertanyaan Emir. Dia menggerakkan kedua kakinya selagi bersantai dan menatapnya. Dia mengingat perkataan Arimbi lalu dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Beni.


“Halo Tuan Muda Emir.” Beni langsung menerima teleponnya.


“Beni, buatkan janji untukku. Mulai besok aku ingin melakukan rehabilitasi sepulang kerja, setiap sore hari.” ucap Emir setelah diam beberapa saat.


“Baiklah.” ucap Emir menutup telepon karena dia takut membangunkan Arimbi.


Setelah tadi dia mendengar kegembiaraan Beni dalam suaranya, baru sekarang Emir menyadari bahwa ia telah membuat banyak orang yang peduli padanya merasa cemas karena ia menolak rehabilitasi.


Sementara Beni yang berada dirumah merasa sangat bahagia. ‘Akhirnya Tuan Muda Emir mau melakukan rehabilitasi! Sejak kehadiran Nyonya Muda banyak perubahan yang terjadi pada Tuan Muda Emir! Ini sangat bagus.’ gumamnya didalam hati. Dia pun langsung menghubungi pusat rehabilitasi agar ada petugas yang tinggal di Villa Serkan dengan begitu mereka bisa melakukan rehabilitasi Emir besok.


Setelah membuat janji untuk besok, Beni cepat-cepat keluar dari villa dan pergi ke rumah utama. Setelah dia sampai di halaman rumah utama, dia melihat Layla Serkan duduk sendirian dibawah pohon besar di halaman. Dia memakai kacamata besar dan membaca surat kabar. Layla melirik saat mendengar suara langkah kaki setelah itu dia melanjutkan membaca surat kabarnya.


Beni berjalan menuju Layla dan berdiri didepannya. Dia tidak bicara hanya berdiri didekat Layla dengan kedua tangan disamping tubuhnya. Setelah selesai membaca berita, Layla perlahan meletakkan surat kabar dan bertanya, “Ada apa Beni?”

__ADS_1


“Ada kabar baik Nenek Serkan.” ucap Beni dengan girang.


“Apakah Emir ereksi?” tanya Layla Serkan penuh harapan.


Layla mengira bahwa Beni pasti tahu segalanya tentang Emir mengingat dia adalah kepala pelayan Emir yang terpercaya. Dan Beni sudah lama bekerja dengan Emir dan mengetahui semuanya.


“Ehem! Untuk masalah itu saya tidak bisa menjawab karena itu urusan pribadi Tuan.” jawab Beni dengan meminta maaf. Meskipun dia sudah bisa menebak kalau Emir sudah melakukannya dengan Arimbi setelah melihat tingkah mereka yang berbeda tadi pagi.


Layla pun menghela napas panjang, dia pikir dia kan bisa mengetahui segalanya dari Beni tapi ternyata Beni hanya akan memberitahu jika Emir memberi izin untuk memberitahukan.


“Nenek Serkan. Tuan Muda Emir barusan meminta saya untuk menghubungi pusat rehabilitasi untuk memulai perawatan besok. Akhirnya Tuan mau ikut terapi.” ujar Beni dengan girang.


“Benarkah? Beni, kau yakin? Apakah Emir mengatakan itu?” Layla Serkan sangat senang.


“Iya benar. Tanpa izin beliau tidak mungkin saya memaksa Tuan untuk melakukan rehabilitasi.”


Mengingat kaki Emir bisa pulih, para tetua sudah pernah mencoba untuk memaksakan rehabilitasi tetapi Emir menolaknya. Bahkan Layla Serkan tidak bisa berbuat apapun pada cucunya itu. Selama setahun mereka membiarkan Emir duduk di kursi roda.


“Ini bagus! Ini kabar bagus! Apa kamu sudah membuat janji?”


“Sudah.” jawab Beni.


“Hubungi Rania dan beritahu dia tentang kabar baik ini. Dia juga selalu mengkhawatirkan Emir.”

__ADS_1


Rania dan suaminya telah meninggalkan Villa Serkan untuk berlibur dipulau keluarga Serkan untuk menghindari Arimbi dan memperburuk hubungannya dengan Emir. Sesuai peribahasa, jauh dimata jauh di hati. Mereka mengira Emir hebat karena betah dengan Arimbi.


__ADS_2