GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 129. PENGHINAAN ZIVANNA


__ADS_3

Dia berdiri disamping Arimbi dengan santai menatap Gio dan Amanda. Namun Dion sama sekali tidak melirik Arimbi. Dengan menatap tajam pada Gio, “Aku tidak suka mencampuri urusan orang lain tapi menurutku Tuan Gionino Lavani! Kamu adalah aib bagi semua pria! Kamu merendahkan wanita dan itu sangat tidak sopan!”


Gio tak bisa berkata-kata, dia tak menyangka keisengannya untuk menghina dan mempermalukan Arimbi akan berakhir seperti ini. Dan saat ini Dion Harimurti juga sedang mencampuri urusan orang lain yang tak sesuai dengan ucapannya tadi. Gio pun langsung tersenyum dan berkata, “Aku yang salah.” dengan tatapan serius dia menatap Arimbi. “Nona Arimbi, aku minta maaf tentang perkataanku barusan. Maafkan aku.”


“Ehm, tidak apa-apa. Aku sangat pemaaf dan bukan orang yang suka menyimpan dendam. Karena orang yang pendendam dan tidak memaafkan orang lain tidak akan pernah tenang hidupnya! Karena kamu sudah minta maaf, maka aku memaafkanmu. Semoga ini bisa jadi pelajaran bagimu agar lain kali jangan memandang rendah orang lain! Tidak ada orang yang lebih tinggi dari orang lain dan tidak ada orang yang lebih hebat dari orang lain! Karena suatu hari orang hebat akan lemah, yang berstatus tinggi akan jatuh! Hidup ini bagai putaran roda, tak selamanya berada diatas!”


Lagi-lagi Gio terkejut dengan kata-kata Arimbi padanya. Sebenarnya kalimat itu lebih ditujukan Arimbi untuk Amanda yang berada disisi Gio. Matanya menatap Gio saat mengucapkan kalimat itu tapi yang dituju adalah Amanda. Dan benar saja, Amanda yang mendengar perkataan Arimbi pun merasa marah. Seolah takdirnya sudah ditentukan oleh Arimbi bahwa dia akan jatuh, dia akan jadi lemah dan berada dibawah.


“Tuan Harimurti, silahkan lewat sini.” ujar Gio mempersilahkan Dion. Setelah menerima ampunan Arimbi, Gio seketika tersenyum sembari memimpin Dion masuk kerumah. Dion Harimurti terus menghindari tatapannya dari Arimbi dan dengan undangan Gio yang sudah mempersilahkannya,dia menjauh bersama sekelompok pengawalnya. Tampaknya dia sekedar lewat saja tadi.


Amanda menatap Arimbi dengan raut wajah muram tapi dia segera menggenggam lembut tangan Arimbi dan berkata, “Ayo kita masuk juga Arimbi.”


Bagi orangluar, kedua saudari itu mungkin bertukar kehidupan selama dua puluh tiga tahun tapi keduanya masih akur dan saling bergaul akrab. Amanda tampak sangat peduli pada Arimbi layaknya seorang kakak pada umumnya. Saat keduanya sudah pergi, banyak orang di tempat parkir yang masih berbisik-bisik selagi menonton kedua wanita itu.


Beberapa orang menilai Arimbi terlalu kasar dan sungguh besar di pedesaan sehingga berani menentang Gionino Lavani seperti tadi tanpa rasa takut. Jika dia menyinggung Gio bukankah dia seharusnya takut kalau Keluarga Rafaldi akan berada dalam masalah?

__ADS_1


Dan ada juga sekelompok orang yang menganggap tindakan Arimbi itu benar. Dia menolak orang lain menghinanya karena penghinaannya dapat berlanjut dimasa depan.


Sekarang karena dia telah memaksa Gio meminta maaf padanya maka dia tidak akan mudah dihina lagi di masa datang. Kelompok yang mendukung tindakan Arimbi jumlahnya lebih banyak dibandingkan kelompok yang menyalahkannya.


Bagi kelompok yang mendudukun Arimbi, tindakan Arimbi itu patut ditiru agar orang lain tidak seenaknya menghina orang lain sesuka hati mereka hanya karena status dan kedudukannya.


Zivanna yang masih berada dikamarnya pun segera mendapat kabar tentang drama yang terjadi ditempat parkir. Saat kedua wanita dari Keluarga Rafaldi masuk rumah, Zivanna sudah turun dari lantai atas.


Sangat banyak wanita cantik malam ini dan Zivanna berhasil unggul dari mereka semua. Hingga saat Amanda mengajak Arimbi maju kedepan dan saat itu juga mata semua orang terbelalak menatap wanita cantik bergaun merah itu.


“Amanda karena kamu terlambat kamu harus minum tiga gelas anggur nanti.” ujar Zivanna tersenyum. Saat dia menerima hadiah Amanda, wajahnya mendongak dan dia melihat kalung yang dipakai Amanda. Tatapan mata Zivanna terpaku pada kalung itu untuk sesaat namun dia berpura-pura segalanya baik-baik saja sambil menyerahkan hadiahnya kepada pelayan disampingnya.


Sementara itu Arimbi menyadari tatapan Zivanna yang mengarah ke kalung The Han’s yang dipakai Amanda. Arimbi pikir takakn ada pertengkaran antar kedua sahabta dan Gio juga menatap teman adiknya. Bahkan jika demi kakaknya, Zivanna tidak akan bertengkar dengan Amanda karena sekedar kalung. Semuanya akan baik-baik saja selama bukan Arimbi yang mengenakan kalung itu.


Akan tetapi Arimbi yang tahu bagaimana sifat asli Zivanna, dia sangat yakin bahwa Zivanna pasti sangat kesal dan terus memikirkan kalung Amanda itu sekarang.

__ADS_1


“Nona Zivanna, ini hadiahku untukmu.” Airmbi memberikan hadiahnya pada Zivanna. Zivanna mengangkat dagunya dan menunggu lama sebelum menerima hadiah Arimbi.


Dia meminta pelayannya untuk membawakan hadiah dari orang lain ke lantai atas tapi hadiah dari Arimbi dia membukanya dihadapan para tamu. Perlengkapan rias yang Arimbi berikan berharga jutaan. Jika di kehidupan sebelumnya harganya pasti hanya khayalan baginya namun dalam masyarakat kelas atas ini, hal itu tampak seperti sumbangan kecil.


 Hadiah Arimbi ini jauh dibawah standar Zivanna. Dia mengeluarkan peralatan rias itu dan dengan sengaja memamerkan pada semua orang. Lalu dia berpaling dan memberikan hadiah Arimbi itu pada pelayannya dan berkata, “Ambillah, kamu lebih cocok memakai barang ini.”


Pelayan itu mengambil hadiahnya dan berkata, “Nona Zivanna, saya tidak menggunakan riasan murahan seperti ini.”


Zivanna mengembalikan perlengkapan rias itu ketangan Arimbi, “Ambillah kembali dan berikan kepada kerabatmu di pedesaan.”


“Baiklah. Kalau begitu aku dan kerabatku di pedesaan berterimakasih atas perhatianmu.”


Sudah jelas jika Zivanna dan pelayannya bekerjasama untuk mempermalukan Arimbi dengan sengaja dihadapan semua tamu undangan. Tapi Arimbi tak peduli dan hanya tersenyum, ini masih awal baginya untuk bertindak jadi dia harus sedikit bersabar.


Orang-orang yang berada disana berbisik-bisik dan berpikir kalau Arimbi sangat pelit. Bagaimana bisa dia begitu pelit dan hanya memberi hadiah murah yang hanya berharga jutaan untuk Zivanna? Orang lain pasti merah padam setelah dipermalukan oleh Zivanna seperti itu.

__ADS_1


 Tapi Arimbi tidak merasa malu sama sekali. Dengan santai dia berkata, “Aku telah memberikannya padamu jadi itu milikmu. Meskipun aku buang ketempat sampah kamu tidak keberatan bukan? Aku menghargai orang lain bukan dari nilai atau harga hadiah yang diberikan orang lain tapi dari ketulusan dan keikhlasan orang itu memberi. Buat apa hadiah mahal yang tidak tulus dan ada niat terselubung dibaliknya? Kurasa sangat melelahkan hidup dalam kepura-puraan hanya untuk menyenangkan hati orang lain karena orang-orang seperti itu tidak akan pernah jadi teman sejati.”


__ADS_2