
Dia lebih menyukai Arimbi, selama dua puluh tahun dia dan saudaranya memperlakukan Arimbi layaknya saudara kandung. Mereka tidak tahu kalau Arimbi tak punya hubungan darah dengan mereka. Sementara orang yang punya hubungan darah dengan mereka sangat sombong dan sama sekali tidak peduli pada keluarganya dan terus saja menghina mereka.
“Adrian!” dengan girang Arimbi memanggilnya dari seberang telepon. Wanita itu sangat senang menerima panggilan darinya. Mendengar suara Arimbi, seketika amarah Adrian langsung hilang.
“Iya Arimbi. Dengarkan aku baik-baik ya, ibu kita maaf maksudku ibuku menjadi korban kecelakaan dan saat ini sedang berada dirumah sakit. Dia baik-baik hanya terluak sedikit saja dan baru menjalani operasi. Ibu dirawat dirumah sakit umum Metro.”
Mendengar itu Arimbi langsung merasa cemas, “Apakah kondisinya serius? Kenapa bisa kecelakaan? Apakah supir yang menabraknya sudah ditahan? Rumah sakit umum Metro kan? Aku akan pergi kesana sekarang!”
Tadinya Adrian ingin menghentikan Arimbi tapi dia tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Pikirannya langsung melayang membandingkan Arimbi dan Amanda. Sungguh sangat jauh berbeda, yang satu baik hati sedangkan yang satu lagi sangat sombong.
“Baiklah aku tunggu disana. Kita akan bicara saat bertemu nanti.”
“Iya. Aku akan segera kesana, tunggu aku dipintu masuk rumah sakit ya Adrian.”
“Hati-hati dijalan.”
“Aku tahu. Aku tutup teleponnya dulu ya. Aku pergi sekarang.”
Arimbi ingat kalau dia harus meminta izin pada Emir terlebih dahulu. Dia pun langsung menelepon Emir. Emir langsung menjawab panggilan Arimbi setelah berdering dua kali.
“Emir, aku perlu mengambil hari libur.”
Tanpa basa basi dia berkata karena dia sangat gelisah dengan kondisi ibu angkatnya itu. “Ibuku terlibat kecelakaan mobil dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit umum Metro. Aku harus pergi menjenguknya sekarang.”
Emir mengerutkan alisnya lalu berbalik menghadap Mosha yang baru saja masuk ke ruang kerjanya dan sedang duduk disana menatap Emir. “Ibumu terlibat kecelakaan?” tanyanya dengan suara dalam.
Bagaimana bisa wanita ini berbohong padanya begitu mulus? Ibunya sedang ada ruangan kerjaku bersamaku sekarang.
__ADS_1
“Ibu angkatku! Adrian baru saja meneleponku untuk memberitahuku. Bisakah aku pergi Emir? Aku bisa mengunjugninya do rumah sakit dulu dan jika tidak ada hal serius aku akan bergegas pergi ke hotel untuk makan bersamamu.”
‘Oh ibu angkatnya! Pantas saja. Ternyata dia tidak berbohong.’ pikir Emir.
“Pergilah. Kita bisa menunda acara makan kita. Minta supir untuk mengantarmu kesana.”
Emir bukan seseorang yang tak tahu diri, dia justru mengagumi Arimbi karena masih merawat keluarga angkatnya dengan baik. Emir hanya memandang rendah orang seperti Amanda yang menolak mengakui keluarga kandungnya.
“Terimakasih Emir.” ucap Arimbi dengan suara lembut. Dia sangat menghargai pria itu dan ucapan Emir yang dalam menghangatkan hatinya.
“Karena hari ini kamu tidak punya hadiah untukku, tolong gantikan dengan sesuatu malam ini. Aku akan menerimanya dengan senang hati.”
Arimbi tak tahu harus mengatakan apa, saat dia ingin bicara Emir sudah memutuskan panggilan.
“Pak Darmo! Aku tidak akan pergi ke Hotel, tolong antarkan aku kerumah sakit umum Metro saja.”
“Apa Tuan Emir sudah memberi izin?”
“Baiklah.”
Setelah itu supir pun memutar mobil di perempatan lalu melaju menuju ke rumah sakit umum metro. Setelah memutuskan panggilan Arimbi, Emir mengarahkan sekretarisnya untuk menuangkan segelas air kepada Mosha. “Ada apa kemari Ibu?” tanya Emir tenang setelah sekretarisnya keluar.
Mosha belum terbiasa dengan cara pria itu memperlakukannya, sikap Emir malah membuatnya takut.
Dengan cepat Mosha meneguk air hangat yang diberikan padanya untuk menyejukkan tenggorokannya yang mendadak terasa kering. “Tuan Emir.” Mosha merasa sedikit gelisah saat tatapannya bertemu dengan Emir.
“Ibu, aku bukan monster. Aku tidak akan memakan ibu. Jangan takut padaku ya bu. Katakan saja apapun yang ibu mau katakan dan aku tidak akan merasa tersinggung.” ujar Emir dengan nada pelan.
__ADS_1
“Emir, aku tahu kalau apa yang Arimbi lakukan waktu itu membuatmu malu. Hal itu adalah salahnya Arimbi, salahku juga karena tak mengajarinya dengan baik. Aku meminta maaf padamu.” ucap Mosha, niatnya hari ini memang untuk mmeinta maaf pada Emir.
“Kalau kamu masih marah, marahlah padaku. Arimbi adalah anakku dan aku selalu merasa bersalah padanya karena aku memanjakannya sejak dia kembali, sampai membuatnya berani untuk mempermalukanmu.”
Mosha diam sejenak menghela napas lalu menatap Emir, tidak ada reaksi apapun dari pria itu. Mosha pun melanjutkan bicara, “Semua adalah salahku Tuan Emir! Tolong lepaskan dia, Arimbi masih muda dan jalan hidupnya masih panjang. Maaf sebelumnya tapi dengan mengikutimu sampai akhir hidupnya tidak akan menguntungkannya. Dia tidak bersamaku sejak kecil, aku berhutang besar padanya. Tak pernah aku berharap dia menjadi kaya ataupun terkenal. Sudah cukup bagiku selama dia sehat dan menemukan seseorang yang mencintainya dan hidup bahagia bersamanya.”
Emir mengatupkan bibirnya dan mendengar Mosha memohon untuk melepaskan Arimbi pergi. Setelah wanita itu selesai mengucapkan segala hal yang mengganjal dihatinya dan meneguk habis air di gelas. Emir dengan dingin berkata, “Ibu, aku tidak memaksa Arimbi untuk menikahiku. Dialah yang ingin menikah denganku.”
Mosha tercengang mendengar ucapan Emir. Dia tahu kalau Emir tidak pernah berbohong dan apa yang dikatakannya pasti jujur.
“Kenapa?”
“Kenapa Arimbi melakukan itu?” tanya Mosha lagi setelah terdiam sejenak.
“Itu bukan urusanku Ibu. Dia menggigitku waktu itu dan berkata kalau dia sudah menandai tubuhku dan dia harus menerima resikonya. Kemudian dia memaksaku untuk menikahinya serta memastikan kalau dia tidak akan menyesali keputusannya. Kebetulan aku sedang mencari istri dan dia bersedia menikahiku akupun melakukan apa yang dia inginkan. Maaf karena tidak memberitahumu lebih awal Ibu. Hal ini adalah salah kami, aku minta maaf karena membuatmu takut.”
Emir merasa tidak enak hati dan menyembunyikan hal yang sebenarnya dari orang tua itu.
“Arimbi…...” Mosha tak tahu harus berkata apa lagi sekarang. Dia mengira Emir yang memaksakan kehendaknya pada Arimbi untuk membalaskan dendam/ Nyatanya, putrinya sendiri yang menginginkan pernikahan itu.
“Apakah orangtua di keluargamu tahu soal ini?” tanya Mosha. Dia tahu betapa rumitnya dan liciknya Keluarga Serkan sehingga dia merasa kasihan pada putrinya karena menikah dengan keluarga itu. Disaan yang sama dia merasa kesal pada Arimbi karena memyembunyikan hal sepenting ini darinya. Pantas saja Arimbi memintanya untuk menolak lamaran dari keluarga Kancha, ternyata karena……..
“Ibu, aku belum memberitahu mereka. Kalau mereka tahu, mereka akan…..membenci Arimbi.”
Lagi-lagi Mosha merasa sangat kasihan pada situasi yang dihadapi oleh Arimbi. Sebenarnya keluarga Serkan sedari awal memang ingin menjalin hubungan melalui pernikahan dengan keluarga Rafaldi. Wanita itu tahu hal itu dilakukan karena keluarga Serkan tidak punya pilihan lain. Kalau Emir tidak lumpuh, mereka tidak akan pernah memilih Arimbi.
Keluarga Serkan hanya ingin memanfaatkan Arimbi yang tumbuh di pedesaan dan mereka juga tidak terlalu menghargai keluarga Rafaldi. Emir masih diam dan dia tidak yakin tentang anggota keluarganya yang lain tapi ibunya memang jelas tak menyukai Arimbi.
__ADS_1
“Aku tidak tahu kenapa Arimbi menginginkan ini Emir, tapi karena dia sudah menikah denganmu, dia sekarang adalah istrimu dan kamu harus melindunginya. Apakah seorang istri akan dihargai di keluarga suami itu bergantung dari sikap suami. Posisi Arimbi akan aman dikeluarga Serkan selama kamu membelanya, tidak peduli betapa bencinya keluargamu pada Arimbi.” Karena pernikahan ini adalah keputusan putrinya, maka mereka tidak menginginkan perceraian, setidaknya untuk beberapa waktu.
“Jangan khawatir ibu, aku akan selalu membelanya selama dia adalah istriku.” janji Emir pada Mosha.