
“Apa begini caramu berpakaian? Cih!”
Mendengar suara bariton yang berat membuat Joana mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Dia melihat sepatu kulit mengkilat didepannya, perlahan dia mengangkat wajahnya untuk melihat orang yang berdiri didepannya.
“Aahhh!” pekiknya terkejut sampai dia terjingkat dari duduknya dan hampir jatuh. Joana meletakkan satu tangannya didada untuk menenangkan debaran jantungnya yang kencang.
“Anda mau apa disini?”
“Begini caramu menyambut tamu, hem?”
“Eh…….” Joana tak tahu harus mengatakan apa. Dia diam membeku dengan wajah ketakutan melihat pria yang menatapnya dengan tajam.
Sebelum Joana bisa mengatakan sesuatu, dia merasakan pergelangan tangannya dicengkeram dengan erat lalu tubuhnya ditarik. Pria itu memiliki kaki yang panjang sehingga sulit bagi Joana untuk mengimbangi langkahnya.
“Tu---Tuan…..berhenti!”
Tapi pria itu tak mempedulikan Joana, dia terus menyeret wanita itu keluar dari rumah itu dibawah tatapan heran para tukang yang sedang bekerja.
“Lepaskan! Apa mau anda, tuan?” Joana berusaha melepaskan tangannya namun tak berhasil. Tenaganya tak cukup kuat untuk melawan pria itu.
“Masuk!” ucap pria itu setelah membuka pintu mobil.
“Hah? Tidak mau! Anda mau menculik saya lagi ya?” Joana ingin berlari namun pria itu dengan cepat mengangkat tubuhnya dan membawanya masuk kedalam mobil.
“Jalan!” perintahnya pada supir. Sementara satu tangannya memeluk pinggang Joana dengan erat membuat wanita itu tidak bisa bergerak.
“Lepaskan! Apa-apaan anda ini? Seenaknya saja menculikku! Ingat ya, aku akan melaporkan anda!”
“Benarkah? Lakukan!” ancam pria itu.
“Huuuuhhh…..lepaskan! Sakit!” dia meringis karena pria itu memeluk pingangnya terlalu kencang. Joana merasa tidak nyaman karena posisinya berada di pangkuan pria itu.
__ADS_1
“DIAM!” teriak pria itu dengan marah.
“Huuuuaaa……..huuuaaaaa…...” tiba-tiba Joana menangis meraung-raung membuat Dion mengeryit keheranan. Apa yang terjadi dengan wanita ini? Bahkan supir dan pengawal yang duduk di depan pun melirik dari spion. Ini pertama kalinya Dion melakukan hal tak terduga seperti ini, sebelumnya jika dia menginginkan seorang perempuan maka dia hanya melakukan one night stand!
Tapi kali ini dia bahkan menculik Joana lagi, hal itu membuat pengawal dan supirnya merasa heran. Bukankah Tuan Harimurti sangat membenci Joana karena mengambil fotonya diam-diam? Dia bahkan mengurung wanita itu di gudang. Sedangkan Joana meringkuk di pangkuan Dion tak berani menangkat wajahnya, dia ketakutan dan juga malu dengan posisinya saat ini.
“Tu---Tuan Dion!”
“Apa kamu tidak bisa diam? Berhenti bergerak!” ujar Dion menatap Joana yang terus saja menundukkan wajahnya. Joana semakin tak tenang dia merasakan sesuatu yang mengeras menusuk pahanya. Wajahnya merona merah, dia merasakan panas padahal pendingin di mobil itu dinyalakan.
‘Aduh…..bagaimana ini? Dia mau membawaku kemana? Oh Tuhan! Tolong selamatkan aku.’
Setengah jam kemudian mobil Dion dan rombongan pengawalnya berhenti di depan sebuah rumah. Joana mendongak dan matanya langsung terbelalak, ‘Rumah ini? Dia pernah disekap dirumah itu!’ Dan hari ini dia dibawa kembali kerumah itu. Joana semakin ketakutan, tubuhnya gemetar dan keringat dingin mulai mengalir. Seorang pengawal membukakan pintu mobil untuk Dion, “Turun!”
“Heh? Ke—kenapa kamu membawaku kesini?”
“Kamu mau turun atau aku menyeretmu turun?”
Napas Joana tercekat membuatnya sulit untuk bernapas. Tangan besar itu kembali menarik lengannya masuk kedalam rumah mewah itu, terus menyeretnya menaiki tangga menuju ke lantai dua.
BRAAKK!
Dion membuka pintu kamarnya lalu menutupnya kembali. Dia menghempaskan Joana diatas tempat tidur, tubuh mungil Joana terpental dan untungnya kasur itu cukup besar sehingga dia tidak jatuh ke lantai. ‘Sialan! Seenaknya dia mencampakkan ku ke kasur? Mau apa dia?”
Dia melihat Dion berjalan menuju ke walk in closet dan menghilang di pintu. Joana langsung berpikir untuk melarikan diri, dia tidak mau disekap lagi dirumah itu seperti waktu itu. Dia membuka pintu namun terkunci, Joana semakin panik! Dia mengedarkan pandangan menatap kamar berukuran luas didominasi warna hitam dan keemasan itu menguarkan aura yang kuat.
Tak putus asa, dia berlari menuju pintu yang sepertinya menuju ke balkon. Lagi-lagi pintu itu pun terkunci, dengan marah Joana berjalan cepat menuju pintu walk in closet. Saat Joana masuk kesana, pintu kamar mandi yang terhubung langsung ke walk in closet terbuka, Dion keluar dengan hanya lilitan handuk dipinggang. Dengan tubuh yang setengah basah dan rambut yang masih meneteskan air.
__ADS_1
Joana tercekat, dia membeku tak bisa bergerak. Matanya bahkan tak berkedip memandang Dion. “Apa yang kamu lihat?” tanya Dion menatap Joana yang diam terpaku. Dion semakin dekat dan memicingkan matanya, “JOANA!”
“Ah….haaaaaa…….dasar mesum! Kenapa kamu tidak berpakaian?”
“Apa kamu sudah puas melihat tubuhku hem?” suara itu terdengar tepat di telinga Joana, bahkan dia merasakan hembusan napas di lehernya yang membuatnya merinding.
Dia masih memejamkan matanya, dia tidak tahu harus melakukan apa. Pergi dari sana tapi kakinya terasa berat untuk digerakkan. Joana bahkan terlihat sesak napas kesulitan untuk bernapas. Bayangan malam itu, betapa buas dan mengerikannya Dion membuatnya semakin ketakutan.
SRETTTTT
“AAAHhhhhhh…...” suara sesuatu yang disobek diiringi suara teriakan. Namun suara teriakan itu langsung terbungkam. Tangan Dion dengan cepat memegang pinggang Joana lalu memutarnya hingga berhadapan dengannya lalu mencium bibir tipis itu.
Satu tangan Dion menahan tengkuk Joana membuatnya tidak bisa bergerak. Joana yang ketakutan berusaa meronta melepaskan diri namun gagal. Kekuatannya kalah dengan pria itu, tak habis akal dia mengangkat satu kakinya hendak menendang aset Dion namun sepertinya pria itu bisa membaca gerakan Joana, dia langsung mengangkat tubuh Joana dan membawanya lalu menghempaskan ke tempat tidur.
Belum habis keterkejutan Joana, dia merasakan sesak karena tubuh besar itu sudah menindihnya dan ******* bibirnya. Airmata Joana menetes di sudut matanya, dia mengutuki Dion didalam hatinya. Dion yang merasak wanita dibawahnya itu tak melakukan pergerakan apapun melepaskan tautan bibirnya dan mendapati Joana yang menangis dalam diam.
“Kenapa kamu menangis?” tanyanya.
“Apa salahku? Belum cukup Tuan menghancurkan hidupku dan masa depanku? Kalau anda melakukan ini untuk balas dendam karena aku mengambil uangmu! Aku akan mengembalikannya!” Joana sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia bukan perempuan murahan yang bisa disentuh begitu mudahnya.
“Pikirkan apa salahmu!” ujar Dion menatap tajam Joana yang langsung memalingkan wajahnya. Dion masih mengukungnya dibawah tubuhnya dengan kedua kakinya mengapit kaki Joana sehingga dia tidak bisa bergerak.
“Sudah kubilang aku akan mengembalikan uang seratus milyar-mu!” ujar Joana marah.
“Heh! Aku tidak peduli dengan uang itu.”
“Lalu apa? Aku tidak melakukan apapun! Aku tidak mengganggumu Tuan! Tapi kamu yang justru selalu menggangguku! Kamu menyuruh orang-orangmu mengikutiku! Apa maumu?”
“Kemana kamu kemarin?” tanya Dion. “Tidak bisa menjawab, heh?”
“Aku tidak perlu melapor padamu kemanapun aku mau pergi!” sahut Joana.
__ADS_1