
Akan tetapi karena ucapan Emir itu, Arimbi tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan. Dia hanya menatap wajah tampan suaminya. Setelah keduanya diam sejenak, Emir pun berkata. “;Ayo bersihkan tubuhmu. Setelah itu kita beristirahat.”
Arimbi mengangguk dan bangkit dari tidurnya lalu membantu Emir berdiri. Keduanya melangkah perlahan ke kamar mandi dengan Emir yang merangkul bahu Arimbi dan sebelah tangan lainnya memegang benda dan dinding untuk pegangan. Sepasang suami istri itu berendam di bathtub, Emir membantu menggosok punggung Arimbi dan begitu sebaliknya.
...********...
Saat ini Hardi Ganesha bersama anak laki-lakinya Ruben Ananta Ganesha dengan cepat menyiapkan bingkisan yang mewah dan dengan cepat pergi ke kediaman Keluarga Harimurti. Setelah menjelaskan alasan kedatangannya, seorang staf membiarkan dia dan putranya masuk.
Ketika mereka memasuki aula utama, mereka tidak melihat Joana hanya ada Dion yang sedang makan di meja makan. “Direktur Harimurti.” wajah hardi tersenyum lebar. “Maafkan kami yang mengganggu waktu anda.”
Dion sudah hampir menghabiskan makanannya, jadi dia meletakkan alat makannya dan mengusap multunya dengan lap. Setelah itu dia berdiri dan berjalan keluar ruang makan tanpa melihat Hardi dan Ruben. Meskipun kakinya yang diinjak Arimbi masih sedikit memar, ini sama sekali tidak mengganggu langkah kakinya yang terlihat kuat.
Hanya saja dia sengaja memakai kursi roda untuk membuat Arimbi merasa bersalah, hanya dengan cara itu maka Arimbi akan datang padanya. Tapi ternyata rencananya itu tidak berhasil sama sekali, wanita itu acuh tak acuh padanya dan selalu menghindarinya. Dan saat Joana melakukan kesalahan ini, Dion pun tak membiarkan peluang ini lewat begitu saja.
Mengingat betapa dekatnya hubungan Arimbi dan Joana membuatnya yakin kalau wanita itu pasti akan menemuinya cepat atau lambat. Ini hanya masalah waktu saja, dan saat Arimbi datang nanti maka dia akan menjalankan rencana selanjutnya untuk mendapatkan wanita itu. Dion sudah benar-benar terobsesi untuk mendapatkan bayinya sehingga dia pun melakukan cara-cara licik.
Setelah kembali duduk di kursi singgasananya, barulah Dion Harimurti melihat Hardi dan Ruben lalu berkata, “Direktur Ganesha, duduklah.”
“Terima kasih Direktur Harimurti.” Hardi berjalan bersama dengan anaknya lalu meletakkan bingkisan yang mereka bawa di meja sebelum duduk dikursi yang berhadapan dengan Dion.
“Direktur Harimurti, saya datang kesini untuk meminta maaf. Ini semua adalah kelalaian putriku yang melakukan hal bodoh seperti itu. Saya benar-benar meminta maaf karena telah menyinggung anda. Dengan kerendahan hati saya, saya mohon tolong maafkan putriku sekali ini saja.”
“Jangan khawatir Direktur Harimurti, saya akan memberinya pelajaran saat kami sampai dirumah nanti. Saya berjanji dia tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi.”
__ADS_1
Dion menunggu sampai Hardi Ganesha selesai bicara lalu dengan suara datar menjawab, “Aku hanya meminta seseorang mengundang Nona Joana untuk menghapus semua foto dalam ponselnya.”
“Aku juga mau dia memberikan semua gambar cetak yang dia miliki lalu meminta maaf padaku. Setelah itu, aku tidak akan berurusan lagi dengannya. Setelah mendengar ucapan anda, saya menjadi bingung ada apa sebenarnya. Apakah Nona Joana belum kembali?”
Mendengar ucapan Dion, Hardi dan Ruben pun terkejut dan bingung. Awalnya mereka mendengar kalau Joana ditangkap oleh pengawal Dion Harimurti dan dibawa pergi. Jadi mereka berpikir kalau Joana berada di kediaman Harimurti sekarang. Hardi dengan cepat merubah ekspresi wajahnya dan tersenyum, berusaha untuk tetap tenang.
“Kami datang dengan terburu-buru jadi kami tidak memperhatikan sekitar, bisa saja kami kelewatan. Terima kasih Direktur Harimurti atas keramahan anda untuk memaafkan putri ku.”
Dion berkata, “Aku tidak suka orang yang memotretku tanpa izinku. Semua petinggi di kota ini mengetahui hobi putrimu. Sejujurnya itu bukanlah hobi yang baik untuk dipandang orang lain.”
“Direktur Ganesha, jika anda pulang nanti tolonglah didik putrimu dengan baik. Aku benar-benar berbaik hati kali ini untuk memaafkannya tapi jika dia menyinggung orang lain yang tidak baik, aku khawatir dia tidak akan seberuntung kali ini.”
Hardi pun mengangguk setuju, “Baik saya akan mendidiknya dengan baik. Terima kasih Direktur Harimurti.”
“Maaf telah mengganggu waktu anda, Direktur Harimurti. Kalau begitu kami akan pamit sekarang.”
Dion mengangguk lalu memanggil seorang pelayan untuk mengantar mereka pergi.
Setelah itu, itu si pelayan pun mengantarkan Hardi dan Ruben keluar dari kediaman Harimurti. Beberapa menit kemudian, pintu kamar pembantu dilantai satu terbuka. Tampak Joana yang tangannya diikat dan mulutnya ditutup plester dibawa oleh dua pengawal Keluarga Harimurti.
Joana menatap Dion dengan ketakutan. Dia tahu bahwa kelakuannya ini benar-benar tidak sopan, tapi karena tidak ada yang pernah menegurnya dengan tegas selama ini, akhirnya dia ingin mencoba untuk mendapatkan foto pria paling menawan nomor dua. Waktu itu sepertinya Dion tidak menyadarinya, dan itu membuatnya senang untuk waktu yang cukup lama.
Meskipun begitu, dia tidak bisa lari dari pandangan Dion Harimurti. Akhirnya dia tertangkap, dan melihat realita apa yang bisa dilakukan oleh para orang-orang yang memiliki kekuatan.
__ADS_1
Saat ayah dan kakaknya datang, Joana mendengar semua hal yang mereka bicarakan. Tapi karena dia ditahan dan mulutnya dibungkam, dia tidak bisa memanggil mereka.
Ditambah lagi, dia juga dijaga oleh dua pengawal dan tak bisa mengeluarkan suara sekecil apapun.
Jadi Joana hanya bisa pasrah mendengarkan ayah dan saudara laki-lakinya berterima kasih pada Dion sebelum pergi. Setelah itu, Joana dipaksa duduk di sofa oleh kedua pengawal itu.
“Hmmm…..” Joana mencoba untuk mengatakan sesuatu tapi mulutnya tertutup plester.
“Lepaskan plester itu dari mulutnya.” ujar Dion memerintah.
Salah satu pengawal maju dan melepaskan plester dari mulut Joana. Perlakuannya sangatlah kasar dan plester yang dilepas dengan paksa itu membuat kulitnya serasa robek.
“Tuan Dion.” karena sekarang dia bisa membuka mulut, maka Joana langsung meminta maaf. “Tuan Harimurti, aku minta maaf. Aku sudah menghapus semua foto anda dan telah meminta maaf pada anda. Aku berjanji tidak akan mengambil foto lagi. Apakah anda memaafkanku?”
Dion bersandar di kursinya, melihat Joana dengan memicingkan matanya. Joana memang wanita yang cantik, dan pria manapun yang melihatnya sekarang pasti akan merasa iba dengannya.
Tetapi Dion adalag orang yang menyukai ekspresi takut dan malu-malu daro seorang wanita saat mereka memohon padanya.
Dia memperhatikan Joana dengan instens. Fitur wajahnya imut seperti Arimbi, ekspresi wajahnya hampir sama saat memohon menundukkan wajah dan tatapan mata yang polos.
Dion berpikir sejenak, melihat wajah cantik dengan wajah polos didepannya itu kenapa wanita ini tidak bisa bersikap manis seperti Arimbi? Satu hal Dion suka dari Arimbi adalah wajah imutnya dan kepolosannya.
Wanita didepannya ini disatu sisi agak mirip dengan Arimbi tapi Arimbi jauh lebih cantik dan manis.
__ADS_1