GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 296. LICIKNYA JOANA


__ADS_3

“Ayah, biar aku yang mengatasi masalah ini. Sebaiknya aku menemui mereka langsung, beberapa dari perusahaan itu adalah klien kita sebelumnya dan aku yang biasanya berhubungan langsung dengan mereka. Ayah, jangan khawatir! Aku akan menyelesaikan semuanya!” ujar Amanda menyemangati Yadid agar tidak putus asa.


 


“Arimbi, sebaiknya kamu mempelajari lebih banyak lagi soal perusahaan dan bagaimana menghadapi klien! Jadi suatu saat jika hal ini terjadi kamu bisa mengatasinya karena tidak bisa selamanya mengandalkanku saja!” ujar Amanda. Perkataannya itu mengandung makna yang dalam, Arimbi paham betul sindiran terselubung dalam kata-kata Amanda.


 


Dia tidak mengatakan apapun sebagai balasan Arimbi tersenyum dan mengangguk. Sepeninggal Amanda, hanya ada Arimbi dan Yadid diruangan direktur. Wanita itu berdiri lalu melangkah kearah pintu untuk memastikan tidak ada orang lain dibalik pintu dan menutup pintu rapat-rapat. Arimbi memandang ayahnya yang terlihat kusut karena banyak pikiran.


 


Dreeetttt dreeeettttt dreeeetttttt


Ponsel Yadid berdering, dia mengabaikannya karena saat ini pikirannya sedang tidak fokus. Tapi Arimbi melirik kearah ponsel ayahnya yang tergeletak diatas meja dan dia mengenali siapa yang menelepon ayahnya.


“Ayah, kenapa tidak menjawab telepon itu?”


“Ah, biarkan saja! Nanti aku hubungi kembali, paling juga rekan bisnis yang akan membatalkan kerjasama lagi yang menelepon.” ucap Yadid tak bersemangat.


 


“Apa ayah yakin tidak mau menjawab teleponnya? Dia pasti akan marah dan tidak mau memanggilmu ayah mertua lagi nanti! Mungkin aku juga akan dilarangnya bekerja lagi.”


Sontak Yadid menegakkan tubuhnya mendengar perkataan putrinya dan menatap kelayar ponselnya. Matanya membelalak melihat bahwa itu panggilan masuk dari Emir. Dengan cepat dia meraih ponselnya dan menjawab panggilan itu.


 


“Halo, Tuan Emir. Maaf saya telat menjawab teleponnya.” ucap Yadid gugup. Bagaimana bisa dia mengabaikan panggilan dari menantunya itu.


“Ayah, aku ingin mengundangmu untuk makan siang. Apakah ayah sibuk hari ini?”


“Ma—makan siang?” tanya Yadid.


 


“Iya ayah. Aku dan Arimbi biasanya makan siang bersama dan hari ini aku ingin mengundang ayah makan siang bersama kami. Arimbi pernah bilang kalau ayah ingin sekali makan di The Palm Bliss Hotel. Kami biasa makan siang disana jadi ayah bisa bergabung dengan kami. Bagaimana?”


“Oh….oh….iya iya bisa. Aku pasti datang. Ehm.. terima kasih Tuan Emir atas undangannya.”

__ADS_1


 


“Jangan sungkan ayah. Aku hanya ingin makan siang bersama istri dan ayah mertuaku. Ini akan membuat Arimbi senang. Lagipula ada hal yang ingin aku bicarakan dengan ayah siang ini.”


“Uhm..baiklah. Kalau boleh tahu hal apa yang ingin Tuan bicarakan denganku?” tanya Yadid agak gemetar karena takut jika masalah yang sedang dihadapinya akan mempengaruhi penilaian Emir pada perusahaannya.


 


“Tenang saja ayah. Bukan hal buruk, tapi sebaliknya. Kalau bisa ayah juga mengajak ibu mertuaku juga untuk datang makan siang bersama! Bisakah ayah?” tanya Emir.


“Baik...baik...aku akan mengatakan padanya. Dia pasti senang sekali karena dia juga sebenarnya ingin mengajak kalian makan siang bersama.”


“Tidak apa-apa ayah. Kalau begitu sampai jumpa nanti siang.”


 


“Ayah?”


“Hah! Arimbi, itu tadi Tuan Emir yang menelepon mau mengajak ayah dan ibumu makan siang bersama. Aku harus mengabari ibumu dulu, agar dia datang kesini jadi kita bisa pergi bersama nanti.”


Arimbi tersenyum, mungkin Emir sudah tahu apa yang sedang dialami Rafaldi Group dan dia mengajak kedua orang tuanya makan siang untuk menyenangkan hati mereka.


 


Bunyi notifikas di ponsel Arimbi membuyarkan lamunannya. Dengan cepat dia melihat pesan yang baru saja masuk. Dia lalu melirik ayahnya yang sedang bertelepon dengan ibunya. Lalu Arimbi membuka pesan dari Joana sahabatnya.


“Aku sedang mengikuti Amanda! Ah, rasanya menyenangkan bermain-main jadi detektif!”


“Arimbi….coba tebak kemana Amanda pergi? Sepertinya dia menuju kearah luar kota. Tadi katamu dia akan menemui perusahaan yang membatalkan kerjasama kan?”


 


Arimbi segera membalas pesan Joana, mengingatkan sahabatnya itu untuk berhati-hati dan jangan sampai ketahuan. Dia juga mengingatkan kembali rencana mereka untuk nanti malam.


Ting ting ting ting


“Siap Nyonya Bos! Aku sudah mengatur semuanya. Tugasmu untuk mendapatkan ponsel Amanda!”


“Ya Tuhan! Amanda bertemu Reza si brengsek itu! Ha ha ha aku sudah mendapatkan fotonya!”

__ADS_1


 


Arimbi memelototi pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. ‘Amanda menemui Reza? Apa hubungannya Reza dengan semua kekacauan ini? Apakah mereka berdua yang sudah melakukan ini? Aku harus bisa mendapatkan ponsel Amanda saat dia kembali nanti. Tapi bagaimana caranya ya? Aduh, Joana ada-ada saja memberi ide menyadap ponsel segala.’ bisik hatinya.


...*************...


Joana memarkirkan mobilnya agak jauh dari villa milik Reza. Dengan menggunakan hoodie dan topeng wajah yang dibuatnya untuk menyempurnakan penyamarannya. Keahliannya selama ini memotret orang-orang memang berguna kali ini. Dengan cepat dia bergegas mencari jalan masuk ke area villa agar tidak dilihat orang lain. Untungnya villa itu berjarak lumayan jauh dari villa lainnya.


 


Tiba-tiba seorang wanita bertubuh agak gemuk nampak keluar dari villa lalu menoleh kesekitarnya seperti ingin memastikan sesuatu. Lalu wanita itu pergi meninggalkan villa setelah menutup pintu. Untungnya Joana cepat bersembunyi dirimbunan tanaman pagar sehingga tidak terlihat.


“Pfffff! Hampir saja! Sekarang aku harus bergerak cepat. Mampus kau Amanda! Semua kelicikanmu akan segera terbongkar! Ha ha ha ha…..kau tidak akan bisa bersandiwara selamanya!’ gumam Joana dalam hatinya sambil merunduk berjalan mendekati villa. Dia mengintip sedikit melalui jendela kedalam villa yang kebetulan kain gordennya tidak ditutup.


 


Dia bisa melihat dengan jelas kedalam. Sambil sesekali Joana mengalihkan pandangan kearah depan untuk berjaga-jaga jika wanita tadi kembali lagi. ‘Fuuuh! Tidak ada orang! Kemana perginya Amanda dan Reza ya?’ bisiknya lalu berpindah kearah belakang. Dia tetap mencoba melihat melalui jendela tapi sepertinya di lantai satu tidak ada siapa-siapa.


 


‘Kalau mereka tidak ada dilantai satu berarti mereka ada dilantai atas! Aduh….lumayan tinggi balkoninya. Aku harus memanjat! Eh, biar aku coba dulu lewat belakang mana tau pintu belakang terbuka jadi aku tidak perlu memanjat.’


 


Dengan cepat Joana bergerak, dia tidak mau membuang waktu lagi. Saat dia tiba dipintu belakang dan melihat melalui jendela kalau itu adalah bagian dapur dan tidak ada seorang pun disana. Joana mencoba membuka pintu belakang yang terkunci. Dengan keahliannya dia berhasil membuka pintu besi, lalu dia mencoba membuka pintu kayu.


 


‘Aku harus cepat-cepat! Jangan sampai kelewatan adegan utamanya! Wah kameranya harus segera kupasanga dulu atau bagaimana ya?’ dia sempat terdiam sejenak setelah berhasil membuka pintu kayu lalu berpikir apa langkah selanjutnya. Joana menepuk keningnya lalu terkekeh sendiri. Dengan cepat dia membuka pintu perlahan tanpa suara lalu menutupnya kembali seadanya agar memudahkannya keluar nanti.


 


Dia melihat kearah tangga menuju ke lantai atas. Karena melihat langit-langit terlalu tinggi, akan sedikit sulit untuk memasang kamera disana. Akhirnya Joana memutuskan untuk menyelipkan kamera kecil itu disudut ruangan tepatnya di lukisan di dinding. Warna kamera itu kebetulan pas dengan warna lukisan warna biru jadi tidak mencolok.


 


Setelah itu Joana memasang satu kamera lagi, lalu dia bergegas menaiki tangga. Saat dia sudah sampai diatas ada tiga kamar. Dengan langkah perlahan dia mendekati kamar pertama didekat tangga. Sambil menempelkan telinganya di pintu. Dia mendengar suara-suara dari dalam kamar, Joana tersenyum karena tak perlu capek-capek memeriksa kamar lainnya.


Dia sudah menemukan targetnya. Matanya melihat kearah handle pintu yang tidak ditutup sepenuhnya. Tangan mungilnya yang sudah memakai sarung tangan itu menyentuh daun pintu dan membuka perlahan.

__ADS_1


__ADS_2