
Joana duduk di sofa sambil menonton youtube di ponselnya. Mulutnya sibuk mengunyah cemilan dan beberapa bungkus kosong chips dan kotak minuman berserak dilantai. Tampak Joana tertawa sambil terus mengunyah. ‘Ah, memang ada benarnya juga yang dikatakan Arimbi! Dion tidak akan berhenti bersikap seperti itu.’
Tiba-tiba dia bangkit lalu meletakkan ponselnya diatas meja, ‘Aha! Tadi Arimbi bilang kalau aku harus mengambil kesempatan sekarang. Aku kan sudah jadi tunangannya, daripada tiap hari aku membantahnya dan bersitegang lebih baik aku bersikap baik. Siapa tahu dengan begitu dia akan mulai mempercayaiku dan mengijinkanku pergi keluar.’
“Oh Arimbi! Idemu memang cemerlang! Hmm…..sepertinya aku harus melakukan sesuatu.” dia berjalan ke meja kerja Dion lalu mengambil secarik kertas dan mulai menulis. Setelah selesai dia pun tersenyum dan berjalan menuju ke pintu.
“Ya Nona Joana. Anda mau kemana?” tanya pengawal saat pintu terbuka.
“Ini ambil! Beli semua yang ada didaftar dan suruh bagian keuangan perusahaan yang bayar atau apalah! Barang-barang itu mau ku pakai untuk acara bersama Dion. Aku kan tidak diijinkan keluar sendiri untuk shopping jadi kalian harus belikan itu semua!”
“Nona Joana, Tuan Harimurti tidak ada memberikan kami wewenang untuk biaya shopping.”
“Terserah! Aku tidak mau tahu! Aku ini tunangannya, kalau sampai dia datang dan aku belum ganti baju dan bersiap-siap maka kalian tahu sendiri kan seperti apa kemarahan Dion pada kalian nanti?” ancam Joana.
“Baiklah Nona. Karena ini memang atas perintah Tuan Harimurti, segera kami bawakan.”
Brak!
Joana menutup pintu ruangan sedikit keras saking gembiranya. ‘Hahahaha…..aku mau lihat apakah mereka bakalan membawakan semua barang yang kupesan atau tidak! Dion mau marah pun aku tidak peduli, seperti kata Arimbi cukup memasang wajah memelas nan imut dan sedikit airmata maka semua pria akan luluh.’
“Arimbi semakin hari semakin banyak saja idenya! Ah….yang penting kucoba dulu. Kalau nanti berhasil maka besok aku mungkin melakukan yang lain seperti yang dikatakan Arimbi. Lebih baik aku membuat Dion berlutut dan takluk daripada terus-terusan menyanggahnya. Ya, aku memang menyukainya dan sekarang aku wanitanya.’
Ting!
Notfikasi pesan masuk ke ponsel Joana. ‘Siapa yang mengirimi pesan?’ pikirnya lalu mengambil ponsel dari atas meja dan membaca isi pesan yang ternyata dari Dion. “Dion aku tidak peduli kamu tidak kembali makan siang karena masih meeting bersama klien! Meskipun aku bosan disini yang penting aku menghabiskan uangmu.”
__ADS_1
‘Ehhhh…..tunggu….tunggu…..kenapa Dion sepertinya diam saja dan tidak menyinggung apapun ya? Apa dia belum diberitahu pengawalnya atau dia memang setuju dengan daftar belanjaku? Biar saja, yang penting hari ini aku menghabiskan satu milyar….hahahahaha……rasanya seperti ini senangnya menghabiskan uang yang bukan milik kita.’
Dreeetttt dreeetttt dreeetttt
“Aihhhhh ada apa lagi ini orang? Kan dia baru saja mengirim pesan kenapa sekarang sudah menelepon?” gerutu Joana tapi dia tetap menjawab panggilan telepon Dion. “Halo….”
“Kamu sedang apa?” tanya Dion yang sedang menatap rekaman CCTV di laptopnya. Dia tersenyum tipis melihat sikap Joana yang mengacaukan ruang kerjanya.
“Tidak buat apa-apa. Ada apa kamu meneleponku? Aku sudah terima pesanmu.”
“Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Mulai sekarang kamu harus menjawab telepon dan membalas semua pesan dariku. Kamu paham?”
“Hehe…..maaf Dion. Aku baru saja mamu membalas pesanmu tapi kamu sudah menelepon.” ucap Joana memberi alasan.
“Hm….tunggu aku di kantor. Jangan kemana-mana.”
“Apa yang mau kamu lihat disana? Semua orang sibuk bekerja dan kamu jalan-jalan membuat semua pekerja terganggu.”
“Dion! Maksudnya apa? Aku cuma jalan-jalan bukan mengganggu mereka bekerja! Huh! Kenapa kamu itu tidak ada manis-manisnya kalau bicara? Aku tidak tahu ya berapa lama aku bisa bertahan denganmu kalau sikapmu seperti ini terus! Aku ini manusia bukan barang pajangan! Setidaknya perlakukan aku seperti manusia.”
“Sudah selesai bicaranya?” tanya Dion tersenyum melihat dilayar laptopnya Joana yang sedang menghentak-hentakkan kakinya dengan marah sambil menggerutu ditelepon. Tingkahnya itu sangat menggemaskan dimata Dion.
“Belum! Aku akan bicara terus sampai kamu bosan! Kalau kamu putuskan teleponnya, aku akan meneleponmu terus!”
“Kendalikan emosimu, aku tidak mau disalahkan kalau kamu mati muda!”
__ADS_1
“Apa kamu bilang? Kamu yumpahi aku cepat mati?”
“Joana! Apa kamu tidak capek merepet terus setiap hari? Dengarkan ya, aku tidak mengijinkanmu jalan-jalan di perusahaanku tanpa pengawal. Hampir semua karyawanku adalah pria! Paham maksudku?”
“Ya! Kenapa tidak bilang dari tadi? Mulutku jadi sakit gara-gara mengomel.”
“Sudahlah! Nanti kita ke rumah sakit.”
“Buat apa ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa kamu sakit Dion? Kamu kenapa?”
“Lihat dirimu! Aku baru bicara satu kata kamu sudah bicara sepuluh kata! Aku akan membawamu menemui dokter untuk periksa.”
“Aku? Periksa? Periksa apa? Aku tidak sakit Dion! Aku baik-baik saja.”
“Tidak! Kamu tidak baik-baik Joana! Dokter pribadiku akan memeriksamu. Satu hal lagi, barang apa yang kamu beli sampai menghabiskan satu milyar? Joana! Kamu harus bisa menyakinkanku kalau barang itu akan membuat hatiku senang, kalau tidak maka---”
Dion sengaja menggantung kalimatnya dan membiarkan Joana menyelesaikan sendiri kalimatnya. Mendengar perkataan Dion membuat Joana bergidik ngerik membayangkan Dion akan memarahinya. Dia sengaja meminta pengawal Dion untuk membelikan perhiasan untuknya. Karena saran sahabatnya mengatakan Joana harus punya simpanan sendiri. Sekarang dia merasa menyesal mengikuti saran Arimbi.
Karena saran sahabatnya mengatakan Joana harus punya simpanan sendiri. Apalagi dia adalah tunangan Dion, maka dia berhak menikmati kekayaan pria itu. Tapi sekarang dia merasa menyesal mengikuti saran Arimbi. “Di---Dion, aku pastikan kalau semua barang yang kubeli pasti akan menyenangkanmu.”
Dion mengeryitkan dahinya seraya berpikir. Kenapa tiba-tiba sikap dan cara bicara wanita itu berubah padanya? Trik apa lagi yang sedang dimainkan Joana, dia pun ingin tahu dan akan mendiamkan apapun yang dilakukan Joana hari ini karena dia ingin mengikuti alur saja. “Baguslah! Kita lihat saja nanti.”
Klik!
Sambungan telepon diputuskan begitu saja tanpa ada kata penutup. Joana menatap layar ponselnya dengan bingung. Dia tidak tahu apakah Dion marah atau tidak. Tapi rasa takutnya kembali muncul, uang satu milyar itu banyak dan ini pertama kalinya dia menghabiskan uang sebanyak itu sendiri hanya untuk belanja.
__ADS_1
Buru-buru dia mengirimkan pesan pada Arimbi dan menceritakan semuanya. Tak berapa lama dia menerima pesan balasan dari sahabatnya lalu membelalakkan mata tak percaya. “Apa-apaan ini? Arimbi…..apa dia sudah gila? Menyuruhku merayu Dion? Menggodanya dengan pakaian seksi dan berusaha menaklukkannya?” Joana menangkup wajahnya dengan kedua tangan. “Oh tidak….tidak! Itu bukan ide bagus!”