
Emir tidak membangunkannya seperti yang biasa Arimbi lakukan jika Emir mimpi buruk. Sebaliknya pria itu berdiri disana dengan tenang menyaksikan Arimbi tertawa dan menangis.
Emir pun mendengar saat Arimbi bergumam pada dirinya sendiri dengan lirih, “Emir, jika ada kehidupan setelah kematian, aku pasti akan menikahimu.”
Emir mengerucutkan bibirnya dan memiliki ekspresi misterius diwajahnya namun dia tetap tenang ketika dia mendengar perkataan itu. Dia kini mengerti mengapa Arimbi ingin menikah dengannya setelah dia berusaha bunuh diri. Ternyata Arimbi mengalami mimpi buruk dan mungkin Emir telah membantunya dalam mimpinya.
Selain itu juga, Arimbipernah mengatakan bahwa dia mau menikahi Emir karena telah membantunya dan itu satu-satunya cara yang dia bisa lakukan untuk membalasnya.
Setelah beberapa saat, Arimbi tampak mulai teang dan kembali tertidur nyenyak. Wmir meletakkan tangannya dengan lembut diwajahnya untuk menghapus air matanya.
Kemudian dia emncondongkan tubuhnya ke depan untuk mencium bibirnya dengan lembut dan berbisik ditelinganya, “Arimbi, apapun alasanmu selama kamu tidak menyesali menikah denganku, aku juga tidak akan menyesali menikahimu.”
“Aku harap mimpimu selalu indah dan aku ingin tinggal didalamnya selamanya membawakan kegembiraan dan tidak ada yang akan menyakitimu.”
Emir mengambil tangan Arimbi lalu menggenggamnya erat-erat dan berkata lagi, “Aku akan selalu memegang tanganmu dan tinggal bersamamu selamanya. Aku akan membuatmu bahagia.”
Pasangan itu tertidur nyenyak selama sisa malam itu. Arimbi pun tidak lagi bermimpi buruk dan Emir tidak peduli dengan mimpi buruknya lagi yang entah kenapa sudah jarang muncul.
Tiba-tiba, Arimbi dikejutkan oleh gemuruh guntur dari luar. Dia membuka matanya dan menyadari bahwa diluar sudah terang. Terdengar suara rintik hujan dari luar.
Arimbi berbalik untuk melihat pria disampingnya yang masih tertidur lelap. Dia dengan tenang turun dari tempat tidur lalu kembali berbalik memandang Emir dan sebuah pikiran muncul dikepalanya.
Sungguh disayangkan kalau menyia-yiakan kesempatan jika dia tidak memanfaatkan suami tercintanya sebelum dia bangun.
Arimbi pun membalikkan tubuhnya lalu membungkuk dan memberi kecupan diwajah dan bibir Emir dengan hati-hati agar tidak membangunkannya.
__ADS_1
Dia juga membelai wajah tampan suaminya sebelum bangun. “Tampan sekali! Aku sangat beruntung punya suami setampan ini, kaya pula….hehe….aku bisa menikmati sisa hidupku dengan tenang.”
Tiba-tiba dia teringat sesuatu, “Bunga!” dia tidak tahu bagaimana nasib bunga-bunga halus itu dalam kondisi hujan lebat seperti sekarang ini.
Dengan cepat dia berganti pakaian dan bergegas keluar dari kamar. Sesampainya di lantai bawah, para pelayan langsung menyapanya dengan hormat.
“Selamat pagi Nyonya,” Beni memimpin beberapa pengawal ketika mereka datang dari luar.
Mereka semua membawa kotak makanan ditangan mereka. Ketika Beni melihat Arimbi hendak pergi keluar, dia dengan cepat menyerahkan payung padanya dan menjelaskan,”Nyonya Muda, saya baru pergi ke dapur untuk membuatkan anda dan Tuan Muda Emir sarapan. Hari ini hujan dan saya khawatir makanan akan basah jika mereka membawanya dari rumah utama. Jadi saya pergi untuk mengambilnya sendiri.”
“Nyonya harus sarapan dulu sebelum pergi.”
“Bagamana dengan bunga-bunga ditaman?” tanya Arimbi.
Beni pun teringat tentant bunga dan dia berkata sambil tersenyum, “Jangan khawatir Nyonya. Ketika saya mendengar suara guntur dan hujan pagi ini, saya bangun dan langsung memindahkan semua bunga di pot yang sedang mekar ke rumah kaca.”
Saat arimbi melihat kotak makanan ditangan mereka, dia bertanya, “Dimana dapurnya? Apa tempatnya jauh dari sini? Kotak makanan ini seperti kotak makanan antik, semuanya sangat bagus.”
Beni meletakkan kotak makanan diatas meja makan, lalu mengangkat tutupnya dan mengeluarkan makanan yang sudah disiapkan.
“Dapurnya jaraknya tak jauh dari sini Nyonya. Jika anda tertarik, Nyonya Muda bisa saya antarkan kesana untuk mengunjungdapur lain kali. Ada banyak bahan makanan tersedia disana yang semuanya segar. Mereka menghabiskan banyak uang untuk mengundang para koki ini dari hotel-hotel besar dan mereka semua adlaah koki yang hebat.”
Arimbi pun sadar bahwa setiap hidangan itu lezat karena dia sering menemani Emir makan. Dia juga mulai mencicipi makanan tertentu yang dibuat koki yang luar biasa dirumah ini.
Arimbi pun merasa bersyukur dia bisa menikmati makana lezat setiap hari, dan dia tidak perlu pergi ke restoran atau hotal mahal untuk mencicipi semua makanan yang harganya mahal itu.
__ADS_1
“Nyonya Muda, apakah Tuan Emir sudah bangun?” tanya Beni.
Sedangkan Arimbi sudah mulai lapar saat dia melihat sarapan yang diletakkan diatas meja oleh Beni dan para pengawalnya. “Dia sudah bangun. Biar aku yang membantunya.” jawabnya lalu berbalik dan pergi ke kamarnya.
Dengan alasan yang sangat menyakinkan, dia kembali ke kamar lalu mandi dan berdanda dengan tenang sebelum dia membantu Emir.
Saat Arimbi keluar dari kamar dan mendorong kursi roda Emir menuju ke aula, dia terkejut melihat aula itu sudah penuh sesak. “Kepana tiba-tiba ada begitu banyak orang disini? Apakah kita salah masuk, Emir?” dia bertanya pada Emir saat dia mendorongnya kembali ke kamar dan keluar lagi lalu memasuki aula lagi.
“Arimbi.” Emir memanggil namanya dengan nada pelan. Kemudian dia membatalkan rencananya untuk masuk kembali ke aula.
“Aku menelepon Yaya dan meminta dia agar memberitahu semua kepala pelayan untuk datang kesini.”
Arimbi tercengang, dia merasa reaksinya telah mempermalukan dirinya sendiri jadi dia berpura-pura acuh dan tak acuh den tetap tenang.
“Emir, mengapa ada begitu banyak kepala pelayan di setiap kamar dan halaman?” tanya Arimbi.
“Ada kepala pelayan di setiap villa dan halaman. Kepala pelayan dibagi menjadi dua kelompok, rumah bagian dalam dan luar. Karena itu sangat dibutuhkan banyak kepala pelayan disini.”
Arimbi tahu bahwa kompleks villa Serkan sangat besar, faktanya dia masih sering tersesat disana.
Setiap kali dia berjalan-jalan keluar, dia masih sering tersesat. Karena itulah Arimbi tak pernah berjalan sendirian disekitaran kompleks villa Serkan.
Dia juga tahu kalau keluarga itu mempunyai banyak pelayan dan pengawal. Dan kini dia bisa melihat seberapa banyak orang yang bekerja disana.
Dengan hanya kepala pelayan yang hadir saja aula sudah penuh. Bagaimana jika para pelayan dan pengawal semua dikumpulkan? Membayangkan banyaknya pekerja dirumah itu saja sudah membuat Arimbi sakit kepala bagaimana mengingat mereka.
__ADS_1
“Emir, kenapa memanggil mereka semua? Hari ini hujan.” tanya Arimbi yang merasa penasaran.