GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 337. WANITA PINTAR DAN ELEGAN


__ADS_3

Arimbi baru saja keluar dari mobil dan kini kilatan lampu blitz dan seruan bersemangat sudah memenuhi telinganya. Arimbi sedikit mundur saat beberapa wartawan itu mendekat ke arahnya.


“Anda, istri Tuan Emir Serkan bukan? Bagaimana keadaan pernikahan anda? Apakah tidak ada rencana menggelar pesta pernikahan?”


 


“Apa sebenarnya alasan anda menikahi Tuan Emir? Apakah anda bahagia dengan pernikahan anda?” tanya seorang wartawan wanita.


“Beredar rumor bahwa beliau tidak mampu untuk memuaskan wanita di ranjang. Anda pasti kecewa dengan ini bukan? Apakah anda menikahi Tuan Emir untuk status dan koalisi bisnis semata?”


Pertanyaan bersahutan diajukan dengan gencar oleh para wartawan itu, sementara mereka menyorongkan alat perekam ke wajah Arimbi.


 


Sikap para wartawan itu sangat keterlaluan dan pertanyaan yang mereka ajukan tidak sopan dan kurang ajar. Arimbi menatap tajam wartawan yang tadi bertanya padanya dan ingin sekali rasanya dia mengirim mereka kembali ke sekolah. Pertanyaan itu kasar dan tidak pantas, dan jelas ada tujuan dengan mempermalukan Emir.


 


Arimbi sudah tidak nyaman dengan segala keributan itu dan merasa kesal. ‘Ini pasti disengaja! Ada orang yang melakukan ini dengan meminta wartawan datang kesini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan konyol seperti itu untuk mempermalukan Emir? Huh! Lihat saja, permainan ini baru dimulai!’ bisik Arimbi didalam hati.


 


“Apa maksud anda bertanya begitu?” Arimbi menyahut dengan wajah galak.


“Saya mendengar kabar…..” tanya seorang wartawan yang langsung dipotong oleh Arimbi.


“Saya tidak peduli orang lain mengabarkan apa. Itu bukan urusan saya! Dan itu juga bukan urusan anda! Boleh bertanya tapi ingatlah untuk sopan!” Arimbi memotong ucapan wartawan itu dengan tegas.


 


“Tapi kabar itu…..”


Arimbi mengangkat tangannya dengan cepat untuk menghentikan pertanyaan wartawan itu.


“Sekali lagi saya tegaskan! Saya tidak peduli dengan rumor diluar sana karena saat ini saya bahagia menjalani pernikahan saya dengan Emir.” kata Arimbi lugas.


 

__ADS_1


 


“Tapi anda tahu bukan bagaimana gosip yang beredar di kota? Banyak yang mengatakan kalau anda tidak lebih dari pengantin yang menikah karena belas kasihan! Apakah pernikahan anda ada kaitannya dengan hubungan Tuan Reza Kanchana dengan Nona Amanda, saudari anda? Anda mengetahui hubungan mereka sehingga memutuskan hubungan dan menikahi Tuan Emir?”


 


Sekali lagi wartawan itu melebihi batas, Arimbi hanya tersenyum seanggun dan seelegan mungkin karena dia tidak ingin terlihat marah dan memaki. Dia memandang wartawan itu, melawan sorotan lampu terang yang terarah padanya.


 


“Saya tidak mengerti kenapa anda bertanya hal seperti itu! Tapi jika anda mengatakan soal kabar yang beredar maupun gosip maka maafkan saya karena saya tidak punya kebiasaan untuk mendengar gosip nyinyir! Dan mengenai hubungan Reza dan Amanda juga bukan urusan saya, silahkan tanyakan langsung pada mereka. Saya yakin keduanya kemungkinan hadir malam ini.” ucap Arimbi tegas.


 


“Apakah anda cukup puas di ranjang?” sepertinya wartawan itu tidak mau menyerah dan Arimbi pun akhirnya melawan! Karena dia merasa jika seseorang yang telah membayar wartawan ini untuk menanyakan hal-hal bodoh seperti itu.


 


“Pertanyaan anda sedikit kurang ajar! Tapi saya akan menjawabnya untuk memuaskan rasa penasaran anda atau siapapun itu yang menyuruh anda menanyakan pertanyaan itu. Ya, saya cukup puas----saya ralat! Saya sangat puas menikah dengan Emir. Kami berdia bahagia dengan pernikahan ini dan saat ini saya sedang hamil!”


 


 


“Aku rasa itu cukup!” suara bariton berat menyahut dan segera semua sorotan wartawan beralih saat mendengar suara itu. Emir telah menyusul Arimbi turun dan menghampirinya. Dan semua wartawan itu terlalu terkejut untuk bertanya. Hanya bisa terpana saat melihat Emir yang berjalan tegap dan tampan.


 


Gosip yang menyebutkan bahwa dia lumpuh dan tidak akan bisa berjalan lagi serta masalah disfungsinya tidak lagi masuk akal pastinya.


“Apakah anda…..”


Emir langsung mengangkat tangan sebelum pertanyaan itu selesai.


 


“Aku kesini bukan untuk menjawab pertanyaan wartawan maupun memberi keterangan apapun. Aku kesini untuk menghadiri perjamuan bisnis dan kalian tadi sudah bertanya pada istriku tentang hal-hal konyol yang hanya gosip murahan, bukan? Bagaimana jika kalian menulis artikel berdasarkan itu saja? Tak perlu bertanya padaku maupun istriku tentang kebenarannya. Bukankah kalian sudah biasa melakukan itu? Aku tidak keberatan.” ujar Emir sambil memeluk pinggang Arimbi dengan protetktif.

__ADS_1


 


Dia lalu menarik Arimbi untuk berjalan memasuki tempat perjamuan, namun dia tiba-tiba berhenti dan menoleh kearah wartawan dan berkata, “Lain kali berhati-hatilah! Istriku sedang hamil dan jika kalian berani mengganggunya sehingga dia tertekan yang mempengaruhi kandungannya maka kalian dan perusahaan tempat kalian bekerja akan aku tuntut!”


 


Semua wartawan itupun terdiam tak lagi berani berkata-kata. Apalagi wartawan yang tadi terus saja mencecar Arimbi dengan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.


Dia menggantungkan hidup pada pekerjaan ini, dia menerima bayaran tinggi dari seseorang untuk menanyakan pertanyaan konyol itu dengan tujuan untuk mempermalukan Emir dan Arimbi.


 


Arimbi menghembuskan napas lega karena akhirnya bisa terlepas dari kerumunan wartawan itu. Tapi Emir malah berdecak. “Kamu berani sekali Arimbi! Kamu sudah melewati batas saat mengatakan soal kehamilan itu! Seharusnya tidak diumumkan sekarang.”


 


“Maaf, aku hanya kesal saja. Mereka sama sekali tidak sopan! Aku tidak akan membiarkan siapapun mempermalukan dan dengan sengaja menghina suamiku!” bisik Arimbi sambil menggenggam erat lengan Emir.


“Bagi wartawan yang terpenting adalah menulis berita sensasional. Mereka takkan peduli apakah itu pantas atau tidak. Jadi tidak perlu menanggapi terlalu berlebihan, kamu harus menjaga dirimu dan kandunganmu dengan baik!” kata Emir.


 


“Maaf!” Arimbi meminta maaf sekali lagi.


“Tidak masalah. Tidak perlu meminta maaf. Paling tidak kamu bisa memberikan jawaban pintar dan elegan. Itu adalah nilai lebih, Nyonya Serkan.”


Arimbi tersenyum mendengar Emir memuji dan memanggilnya dengan sebutan itu. Sedangkan Emir, didalam hatinya dia sangat bangga dan bahagia sekali.


 


Bukan hanya Arimbi bisa menghadapi mereka dengan cukup tenang tapi Arimbi juga membelanya tanpa rahu. Sikap yang tak terduga dari Arimbi membuat Emir gembira.


Sepertinya rencana mereka malam ini akan berjalan mulus sesuai yang diprediksi. Meskipun Arimbi tampak bersikap nekat dan ceroboh tapi dia menyelamatkan martabat dan nama Emir Rayyanka Serkan.


 


Arimbi kembali harus mengumpulkan tekad, perjamuan bisnis yang mewah ini diadakan di salah satu resort termahal dan termewah.

__ADS_1


Tempat itu tampak mewah dengan dekorasi yang elegan sebagai citra dari sebuah perjamuan bisnis kelas atas. Ramai sekali tamu-tamu yang hadir dan mereka melangkah memasuki area perjamuan.


 


__ADS_2