
Mengingat Arimbi baik dan sayang kepada keluarga Darmawan. Karena itulah Emir tiba-tiba berkata, “Bagaimana keadaan Pratiwi?” Emir mempertimbangkan untuk meluagkan waktunya untuk membeli beberapa hari dan mengunjungi Pratiwi di rumah sakit. Bagaimanapun wanita itu adalah orang yang telah membesarkan wanitanya dan dia harus menghormatinya.
“Dia jauh lebih baik sekarang.Dia hanya mengalami kecelakaan karena dia ingin menemui Amanda. Bagaimanapun Amanda adalah putri kandungnya.” kata Arimbi dengan nada masam. Memikirkan apa yang dikatakan Ardian padanya, dia juga tidak bisa cemburu.
Bukannya Pratiwi tidak peduli lagi padanya tetapi ibu kandungnya yang tidak ingin Keluarga Darmawan menghubunginya lagi.
Yang satu adalah ibu kandungnya sedangkan yang lainnya adalah ibu angkatnya. Jadi bagaimana mungkin dia tidak menghubungi Keluarga Darmawan? Bagaimanapun, Arimbi merasa bahwa dia harus membicarakan hal ini baik-baik dengan ibunya.
Emir menekan kepala Arimni kedadanya, menikmati rasa dari tubuh Arimbi yang memenuhi lengannya. Lalu dia mengambil ponselnya dan menelepon Beni. Setelah Beni menjawab panggilannya, dia memerintahkan dengan suara rendah, “Pergi ke gudang utama dan ambilkan dua lusin jepit rambut dan beritahu manajemen gudang bahwa ini untuk Nyonya Muda Arimbi, jadi mereka tidak perlu mencatatnya.”
Ini berarti, dia tidak harus mengembalikannya setelah dia memakainya. Begitu dia memberi perintah, wanita didalam pelukannya mengangkat kepalanya dan menatapnya. Matanya yang besar dan cerah dipenuhi dengan pertanyaan, “Gudang utama? Pencatatan?”
Emir mencium puncak rambutnya dan menjelaskan dengan lembut, “Ada banyak jenis barang berharga di gudang utama keluarga kami. Jadi ada seseorang yang bertanggung jawab untuk mengelolanya. Jika ada wanita di keluarga kami yang perlu menghadiri jamuan makan, mereka dapat memilih perhiasan mana yang ingin mereka kenakan dari sana. Tetapi mereka harus mencatatnya saat mereka memakainya dan mengembalikan perhiasan itu setelah memakainya.”
Arimbi terkejut, Keluarga Serkan benar-benar memiliki banyak aturan. Dia berpikir bahwa Emir menekankan kepada semua orang bahwa dia tidak perlu mematuhi aturan Keluarga Serkan. Arimbi dipenuhi kebahagiaan lagi. Meskipun mereka berdua tidak saling mencintai tetapi dia merasakan kepuasan lahir dan batin.
Dengan suami seperti itu, dia bahkan rela menjadi istri yang berbakti dan merawatnya seumur hidupnya. “Terima kasih sayang.” Arimbi mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. “kamu terlalu baik padaku.”
“Kamu adalah istriku. Jika aku tidak baik padamu, kepada siapa lagi aku akan menjadi baik? Nanti, katakan padaku dengan jujur bagaimana pertemuanmu dengan Jordan. Apakah kamu bersikap profesional atau kamu memberikan senyummu padanya? Dan tuliskan refleksi diri untukku.”
__ADS_1
“Sungguh Emir? Kamu melakukan trik hadiah dan hukuman untukku? Aku tidak bisa memasang wajah muram dan cemberut pada orang lain. Ini adalah pertemuan bisnis, bukankah sudah seharusnya aku bersikap ramah dan profesional? Kalau wajahku cemberut yang ada semua orang tidak akan ada yang mau bekerjasama denganku.”
Ketika Emir menatapnya dengan seksama, dia tahu suaminya ini sangat pencemburu, akhirnya dia pun menyerah. “Baiklah….baiklah. Aku akan menulis surat cinta padamu, maksudku refleksi diri dan aku tidak akan mengulangi isinya.”
Baru saat itulah emir melepaskannya. “Selesaikan menghitung uang sakumu lalu kita akan pergi makan malam. Datang dan temani aku untuk rehabilitasi nanti.”
Demi Arimbi, dia harus menambah waktunya untuk rehabilitas dan berusaha keras untuk berdiri sesegera mungkin.kemudian, hal pertama yang akan Emir lakukan adalah melahapnya sampai istri tak tahu malunya itu tidak bisa bangun sampai tiga hari. Setelah godaannya yang tak ada habisnya Emir sudah menjadi serigala kelaparan.
Tidak ada wanita yang pernah membangkitkan sifat aslinya. Memikirkan wanita tanpa wajah dimimpinya, mau tak mau Emir memikirkan perkataan Beni. Mungkinkah wanita dalam mimpiku adalah Arimbi? Apakah itu sebabnya aku jatuh cinta padanya begitu dalam hanya dalamwaktu sebulan? Tapi sejak mereka melakukan hubungan suami istri, mimpi itu tidak pernah datang lagi.
“Baiklah,” Arimbi kembali menghitung uang itu dengan senang hati sampai dia lelah. “Sungguh sia-sia menghabiskan uang baru seperti ini.”
“Aku punya banyak uang sehingga aku perlu beberapa kali hidup untuk menghabiskannya. Mulai sekarang, misimu adalah membantuku menghabiskan semua uangku.”
“Sayang, jika kamu memperlakukanku terlalu baik aku khawatir akan mati lebih awal ditangan para pengagummu yang gila itu.”
Misalnya saja Zivanna, yang sudah sangat bersemangat untuk mencabik-cabiknya sekarang. Arimbi tidak mengadukan Zivanna pada Emir karena dia adalah saingan cintanya sebagai seorang istri. Dan dia bisa menanganinya sendiri tanpa bantuan Emir. Yang perlu dia ketahui adalah bahwa Emir tidak tertarik pada wanita lain.
“Apa kamu takut?” Emir bertanya padanya dengan suara rendah.
__ADS_1
Arimbi tertawa dan menjawab, “Takut? Ku rasa aku tidak tahu kata takut. Jika mereka berani menggangguku, aku hanya akan melawan mereka. Apa yang harus aku takuti? Jika mereka ingin merebutmu dariku, maka aku akan mengikatmu dipinggangku sehingga tidak bisa kemana-mana.”
“Sungguh kejam.” ujar Emir tapi dia menyukai perkataan Arimbi.
“Aku juga tidak ingin menjadi orang yang kejam. Sebenarnya aku sangat lembut, tapi hanya naluriku sebagai seseorang yang berlatih seni bela diri, oke? Bagaimana bisa aku tidak melawan orang yang menggangguku? Apalagi ingin merebut suamiku! Mereka harus berhadapan denganku dulu, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh suamiku!”
Jika sesuatu terjadi, Arimbi hanya bereaksi secara naluriah. Dia akan melawan siapapun yang mengganggu dan mengancamnya. Dengan begitu banyaknya pengagum Emir yang rata-rata adalah wanita kelas atas maka dia harus siap untuk bertempur melawan mereka kapan saja.
“Emir, setelah kamu selesai dengan rehabilitasi bisakah kita pergi ke pasar malam? Kalau tidak, bagaimana aku akan menghabiskan uang saku yang kamu berikan padaku?” tanya Arimbi. Belum lagi Emir menjawab dia sudah teringat sesuatu.
“Sayang, bagaimana jika aku melakukan kegiatan sosial? Aku punya banyak uang sekarang, bisakah aku menyumbangkan ke panti asuhan atau orng-orang miskin?”
“Ini akan sangat baik untuk membangun reputasiku kelak. Lagipula, kita punya uang banyak dan akan sangat menyenangkan kalau kita bisa berbagi dengan orang yang kurang mampu. Mungkin aku bisa membuka yayasan sosial sendiri dan menampung anak-anak lalu membiayai pendidikan mereka.”
Emir terdiam. Sejak dia menjadi cacat, dia jarang keluar rumah di malam hari. Pesta ulang tahun Zivanna adalah pertama kalinya dia muncul di depan umum dimalam hari setelah dia cacat seingga menyebabkan kehebohan besar.
Arimbi cepat menyadari ini dan dia berbalik lalu memegang tangannya sambil berkata dengan serius, “Sayang, jangan pedulikan simpati orang lain. Kamu tidak lebih buruk dari orang yang bisa berdiri. Dan soal memberikan sumbangan itu, lupakan saja kalau kamu tidak suka.”
“Lakukan saja apa yang kamu mau. Perusahaan juga sering memberikan sumbangan ke yayasan sosial. Jika kamu ingin membuka yayasan sosial sendiri bagaimana kamu bisa mengatur waktumu untukku? Arimbi, kamu itu istriku dan aku tidak pernah melarangmu melakukan apapun. Tapi aku ingin kamu selalu ada untukku. Jangan terlalu lelah, carilah yayasan sosial yang kamu suka dan menyumbanglah.”
__ADS_1