
Setelah dilahirkan kembali, Arimbi berakhir ditubuhnya setelah insiden dia menggorok pergelangan tangannya, jadi tidak mungkin dia bisa mengubah kesalahan yang telah terjadi hari itu.
“Nenek, anda mengatakan semua ini hanya untuk memperingatkan saya agar tidak menyimpan pikiran apapun untuk Emir. Tetapi saya rasa interaksu saya dengan Emir cukup baik dan normal.”
‘Kami pasangan suami istri jadi apa salahnya memegang pahanya? Suamiku tidak keberatan jadi mengapa nenek Serkan begitu tersinggung?’ gumam hatinya.
“Arimbi Rafaldi!”
Pada saat itu ekspresi wajah Layla menjadi semakin suram dan meskipun dia tidak nampak marah, ada aura menakutkan disekelilingnya.
“Jangan pernah berpikir bahwa Emir tidak akan bisa hidup tanpamu karena aku bisa dengan mudah mengusirmu dari tempat ini. Aku juga dapat memastikan kamu akan mengalami kesulitan untuk bertahan hidup di kota ini. Hanya dengan satu kata, aku bahkan bisa membuat ayahmu meninggalkanmu! Apa kamu percaya semua ini?”
“Tidak! Karena aku juga bisa membuat nenek kehilangan wajah didepan masyarakat umum!” balas Arimbi tak mau kalah. Dia tidak suka jika ada orang yang mengancam keluarganya. “Apa pendapat orang-orang saat mereka tahu orang terhormat seperti nenek menindas orang lain karena status sosial kalian yang lebih tinggi?”
“Nenek!” tiba-tiba ada suara rendah dan dingin yang terdengar dari arah ambang pintu. Emir menggerakkan kursi rodanya kedalam ruangan. Layle Serkan terkejut dengan kehadiran cucunya, lalu dia menatap Arimbi tajam.
“Nenek, saya menghormati nenek sebagai tetua keluarga ini. Memang benar nenek dan keluarga ini punya kuasa yang kuat di masyarakat! Tapi nenek jangan lupa bahwa masyarakat golongan bawah lebih banyak jumlahnya daripada masyarakat kelas atas! Dengan sikap dan perlakuan nenek, apakah nenek masih berpikir kalau aku juga mampu membuat seluruh masyarakat marah karena sikap dan perlakuan nenek yang semena-mena?”
__ADS_1
“Emir!” Layla secara naluriah berdiri untuk mendorong Emir setelah Arimbi selesai bicara. Tetapi Arimbi bereaksi jauh lebih cepat daripada dia. Pada saat itu ekspresi wajah Layla sedikit melunak setelah menyadari bahwa Arimbi cukup cepat berdiri.
Di tangan Emir terlihat ada dua buah buku, dan Arimbi bisa melihat dengan jelas bahwa buku itu adalah buku nikah mereka. ‘Ah! Buku nikahku ada padanya? Dasar pria menyebalkan! Dia sudah mencuri buku nikahku tapi malahmenyalahkan aku karena tidak menyimpannya dengan benar! Huh! Lihat saja Emir, aku akan menghukummu dirumah nanti.’ gumamnya didalam hati.
Pada saat itu, Arimbi mengambil kesempatan itu untuk mencubit bahu suaminya saat dia mendorongnya kedalam ruangan. Meskipun begitu dia berhasil mempertahankan ekspresi tenangnya.
“Emir, aku baru saja akan menyuruh Arimbi untuk kembali kerumahmu untuk menjagamu.”
Layla tersenyum. “Sepertinya dia telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik merawatmu. Dia baru pergi sebentar dan kamu malah bergegas untuk menjemputnya pulang.”
“Aku disini bukan untuk mengantarnya pulang.” jawab Emir dengan dingin. Lalu dia melemparkan dua salinan surat nikah ke meja dan berkata dengan dingin.
Layla mengerutkan kening begitu dia melihat dengan jelas bahwa diatas meja ada dua salinan akta nikah dan dia bertanya, “Emir, buku nikah siapa ini? Mengapa kamu memilikinya?”
Lalu Layla mengambil salah satu akta nikah itu dan melihatnya. Tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah. “Emir!” Layla mencengkeram akta nikah itu dengan erat ditangannya dan memelototi cucu sulungnya yang sangat disayanginya saat dia menegurnya dengan tajam. “Berani sekali kamu menikah tanpa memberitahuku?”
Sebagai tanggapan Emir mencibir dengan dingin, “Aku hanya melakukan semuanya sesuai dengan apa yang nenek inginkan. Di masa lalu, nenek ingin meminang anggota keluarga Rafaldi tanpa mendapatkan persetujuanku, bukan? Lalu kenapa sekarang aku harus memberitahu nenek kalau aku menikahi Arimbi?”
__ADS_1
“Nenek menyalahkan Arimbi karena mempermalukanku dan melukai harga diriku. Tapi kenapa kamu tidak memikirkan masalah nenek sendiri saja, hah? Jika bukan karena tindakan egoismu yang pergi ke keluarga Rafaldi atas kemauanmu sendiri ikut campur untuk memaksanya menikahiku, dia tidak akan terpaksa menggorok pergelangan tangannya didepanku. Demi untuk melukai harga diriku dengan tindakannya!”
Saat itu juag Layla tercengang dan diam mendengarkan perkataan cucunya. Setelah cukup lama dia, akhirnya dia menemukan kata-kata yang tepat untuk dikatakan, “Emir, bahkan jika kamu memnag berniat menikahi Arimbi, kamu seharusnya memberitahu kami. Bisa-bisanya kamu menikah tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada kami? Kamu bahkan merahasiakan pernikahanmu selama ini. meskipun kalian baru mendaftarkan pernikahan.”
‘Hmm….tidak heran Emir membawany pulang! Dia tidak sedang membalas dendam pada Arimbi tetapi mereka secara alami tinggal dirumah yang sama karena mereka sudah menikah!’ bisik hati Layla.
“Nenek, kupikir ini adalah masalah pribadiku dan aku akan memberitahu nenek jika perlu.” ucap Emir. Misalnya seperti saat ini, Emir menganggap bahwa dia perlu menunjukkan akta nikah kepada neneknya dan memberitahukan bahwa dia menikah dengan Arimbi. Karena itu, wajar jika dia tidur di pahanya dan menciumnya.
Semua itu adlaah tindakan yang wajar karena mereka pasangan yang sangat mesra dan itu bukan karena Arimbi tidak tahu malu sehingga menawarkan dirinya pada Emir. Tetapi pria itu memang suka Arimbi bertindak bebas padanya. Lalu apa maslaahnya? Apa ada hubungannya dengan orang lain? Apakah mereka mengganggu orang lain?
Pada saat itu Layla sangat marah. “Arimbi! Tinggalkan kami berdua. Aku ingin bicara dengan Emir Rayyanka Serkan empat mata.” Wanita tua itu sangat marah pada Emir, dan dia memanggil nama lengkapnya. Sementara Arimbi berbalik untuk menatap suaminya dan melihat pria itu mengangguk kepadanya.
Kemudian Emir mengambil salinan dua akta nikah dari tangan neneknya lalu memberikannya pada Arimbi. Dengan tenang dia berkata, “Simpan salinan ini dengan aman. Jika kamu menghilangkannya aku pastikan akan menghukummu. Kamu tidak akan lolos hanya dengan permintaan maaf sepuluh ribu kata yang sederhana.”
Arimbi pun dengan cepat mencengkeram salinan akta nikah ditangannya dan hendak mengatakan sesuatu. Namun saat dia menyadari bahwa Layla sedang memelototinya dengan dingin, dia pun menahan kata-katanya. Tetapi didalam hatinya dia berpikir akan berurusan dengan suaminya saat dia kembali kerumah nanti. Bagaimanapun dia harus memberi hukuman pada suaminya itu.
“Emir, aku akan menunggumu diluar.” kata Arimbi yang melangkah sambil memegang kedua salinan akta nikah dan meninggalkan ruangan itu. Setelah Arimbi pergi, Nenek Layla mencengkeram dadanya dan berkata pada Emir, “Emir! Apa kamu berniat memberiku serangan jantung? Hal ini adalah masalah yang sangat besar, tapi kamu bahkan tidak mau memberitahuku!”
__ADS_1
“Nenek! Nenek itu sangat sehat dan kuat. Nenek masih segar bugar jadi butuh waktu lebih lama dan lebih dari ini untuk membuat nenek kena serangan jantung.”
Layla pun kehilangan kata-kata karena balasan cucunya. “Nenek, bukankah nenek ingin cicit, kan? Nenek belum menggendong cicit ditangan nenek. Jadi aku sangat yakin nenek tidakakan tega meninggalkan dunia ini dalam waktu dekat.”