
Keesokan paginya tampak beberapa pelayan mengeluarkan koper-koper berisi pakaian dan barang-barang milik Rania. Sementara Alarik dan Layla Serkan ibunya duduk diruang makan. “Kemana kamu akan mengirimnya?” tanya Layla Serkan pada putra sulungnya itu.
“Ke villa! Lebih baik dia disana sampai urusan perceraian selesai!” jawab Alarik.
Saat ini Rania berjalan tergesa-gesa menuruni tangga karena tadi dia dibangunkan pagi-pagi sekali oleh pelayan. Semalam dia terpaksa tidur di kamar tamu karena Alarik melarangnya tidur di kamar bersamanya. Saat Rania mendengar suara ibu mertuanya dari arah ruang makan, dia berbalik dan melangkah menuju kesana.
Namun saat dia tiba didepan pintu penghubung ke ruang makan Yaya langsung menghentikannya. “Maaf Nyonya! Anda tidak bisa masuk kesini.”
“Apa-apaan ini? Apa kamu lupa aku ini siapa hah? Minggir! Jangan menghalangi jalanku.”
“Tapi maaf Nyonya, anda memang tidak diijinkan masuk keruang makan.”
Rania menatap nyalang kearah Yaya lalu berusaha mendorongnya agar menyingkir dari pintu. Namun seorang pengawal datang dan mencekal lengan Rania lalu berkata, “Maaf Nyonya! Waktunya untuk pergi sekarang!” lalu pengawal itu menyeret Rania yang berusaha melepaskan diri dari cekalan pengawal itu.
“Lepaskan! Kurang ajar kamu! Berani-beraninya kamu memperlakukanku kasar! Aku ini Nyonya Serkan! Lepaskan.” teriak Rania marah.
“Mulai hari ini kamu dilarang masuk ke kediaman Keluarga Serkan! Dan aku tidak mengijinkanmu menggunakan nama keluargaku lagi!” suara Alarik terdengar dari balik pintu.
Rania yang sudah berada diluar pintu utama pun menoleh dan melihat suaminya dan ibu mertuanya berdiri bersebelahan sambil menatapnya dengan tajam. “Pergilah Rania! Kami sudah memberimu kesempatan beberapa kali! Tapi kamu membuat pilihan yang salah!” ujar Layla Serkan dengan nada dingin.
“Bu! Apa maksudnya semua ini? Kenapa ibu juga mengusirku? Aku ini masih menantumu bu! Apa salahku? Kenapa kalian memperlakukanku seperti ini?”
“Rania! Kami sudah tahu semuanya apa yang kamu lakukan beberapa tahun yang lalu! Jika kamu masih berdalih maka sebaiknya kamu intropeksi diri selama kamu di villa.”
“Tapi aku tidak bisa menerimamu lagi sebagai menantuku! Kamu jangan khawatir, keluarga Serkan akan memastikan kamu hidup nyaman meskipun tidak lagi menjadi bagian keluarga ini. Bawa dia pergi!” ujar Layla Serkan. Ada nada kesedihan saat dia bicara lalu wanita tua itu membalikkan tubuhnya dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Rania dipaksa masuk kedalam mobil lalu supir bersama pengawal yang ditugaskan mengantarkan Rania ke villa pun meninggalkan kediaman Serkan.
‘Apa maksud mereka bilang kalau mereka sudah tahu semuanya? Apa mereka benar-benar sudah mengetahuinya? Tapi…..itu tidak mungkin! Mereka melakukannya dengan sempurna.’
Rania tiba-tiba teringat pada kejadian beberapa tahun lalu. Saat seorang pria yang berasal dari keluarga kaya muncul dan banyak gadis-gadis kaya yang tergila-gila padanya. Termasuk Zivanna dan Shelly. Namun saat itu Rania memang ingin menjodohkan Zivanna dengan Emir namun kehadiran pria itu membuatnya berpikir buruk.
Apalagi saat pria itu terlihat bersama Zivanna, dan satu hal yang Rania tidak ketahui adalah Keluarga Lavani menggunakan putri mereka Zivanna untuk mendekati pria itu. Dengan tujuan untuk menghancurkan keluarga pria itu dan merebut semua kekayaannya. Tanpa Rania sadari dia pun masuk kedalam permainan keluarga Lavani.
Rania ikut merancang untuk melenyapkan keluarga pria itu yang dianggapnya kelak membahayakan posisi keluarga Serkan. Namun yang tidak dia ketahui jika sebenarnya pria itu bukanlah musuh keluarga Serkan. ‘Tapi mereka semua sudah mati! Kenapa tiba-tiba suami dan ibu mertuaku mengungkit masalah itu?’ bisik hatinya.
****
“Hachiiiii……hachiiiiiii……..bau apa ini? Siapa yang memasak?” teriak Dion yang tak henti-hentinya bersin sejak dia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Bau menyengat dan perih langsung memenuhi hidung dan matanya. Namun tak ada seorang pelayanpun yang berani bicara.
Mereka semua menundukkan wajah sambil menutup hidung mereka akibat bau pedas yang menguar memenuhi rumah itu. “Apa yang terjadi disini? Siapa yang memasak didapur? Suruh orang itu hentikan pekerjaannya.”
“Nona Joana yang ada didapur Tuan! Dia menyuruh semua pelayan keluar dari dapur karena katanya dia yang akan memasak untuk Tuan hari ini.”
“Apa? Joana? Kenapa kalian biarkan dia masuk kedapur? Cepat suruh dia kesini! Dan kamu…..pergi ke dapur dan siapkan sarapanku.”
Dion membalikkan tubuhnya tanpa menunggu jawaban dari kepala pelayan dan kokinya. Dia langsung duduk di kursi diruang makan dan menyesap kopi yang sudah dihidangkan diatas meja untuknya. “Ehmmm……kopi ini rasanya beda.” gumamnya lirih namun masih bisa didengar oleh seorang pelayan yang berdiri tak jauh.
“Itu……kopi yang dibuat Nona Joana untuk anda Tuan.” ucap pelayan itu.
Mendengar perkataan pelayannya, sudut bibir Dion terangkat membentuk senyuman tipis. ‘Ternyata gadis itu ada gunanya juga! Kopi buatannya lumayan enak!’ puji Dion didalam hatinya. Dan saat ini Joana muncul masih mengenakan celemek sambil menenteng dua piring nasi goreng dan meletakkan diatas meja.
__ADS_1
Seorang pelayan lainnya menyusul dibelakang Joana sambil membawa dua piring berisi ayam goreng dan sambil terasi. Aroma sambal terasi langsung memenuhi ruang makan membuat Dion mengeryitkan keningnya. Dia tidak pernah menyukai aroma makanan yang menyengat. Dia menatap nanar kearah meja makan yang sudah tertata dengan beberapa hidangan.
‘Apa Joana yang memasak semua ini? Kenapa semuanya berwarna merah?’ bisik hatinya menatap satu persatu menu makanan yang memang terlihat berwarna merah. Joana yang sudah melepaskan celemeknya dan memberikan pada pelayan pun langsung duduk. Tak menunggu komentar dari Dion, dia langsung mengambil sepiring nasi goreng dan meletakkan didepan Dion.
“Apa ini?” tanya Dion menatap horor makanan didepannya.
“Nasi goreng!” jawab Joana dengan tenang lalu meletakkan sepotong ayam goreng dipiring. “Makanlah! Rasanya enak sekali! Kamu mau sambal terasi? Aku yakin kamu bakal makinlahap makannya kalau pakai sambil terasi.”
Joana tak memberi kesempatan pada Dion untuk bicara dan membantahnya, dia langsung meletakkan sesendok penuh sambal terasa diatas piring Dion. Pria itu ingin marah tapi dia berusaha menahan emosinya. Sementara para pelayan menundukkan wajah sambil menahan senyum.
Dengan santainya Joana menyuap nasi goreng buatannya tanpa menatap Dion sedikitpun.
“Apa ini memang nasi goreng?” tanya Dion lagi. “Aku tidak pernah makan nasi goreng saat sarapan.” ujarnya masih menatap nasi goreng didepannya tanpa ada keinginan untuk menyentuhnya.
“Kenapa? Kamu tidak mau makan ya sudah! Tidak usah makan! Besok-besok jangan harap aku mau memasak untukmu! Itu namanya nasi goreng! Bukan nasi goyang!” ujar Joana asal. Para pelayan tak tahan untu tertawa dan menutup mulut mereka sambil semakin menundukkan wajah. Dion menatap Joana yang dengan santainya menyantap nasi goreng.
“Baru kali ini aku melihat nasi goreng seperti neraka! Apa kamu berencana membunuhku?”
“Apa?” Joana menghentikan makannya dan meletakkan sendok dengan kasar. “Nasi goreng neraka? Dion……kalau kamu tidak mau makan ya sudah tidak usah dimakan! Jangan mengejek masakanku! Iya….itu nasi goreng neraka supaya kamu cepat masuk neraka.”
Dion hanya bisa menahan senyum, dia merasa puas sudah membuat Joana marah. Setiap kali Joana marah maka gadis itu akan semakin banyak makan. Dion pun mengambil sesendok nasi goreng berwarna merah itu karena Joana memang sengaja membumbui dengan bubuk cabe dan saos sehingga warna nasi gorengnya merah.
Saat suapan pertama masuk kemulutnya, rasa pedas langsung memenuhi mulut Dion. Dia langsung mengambil air minum dan menenguk. “Joana!”
“Iya? Kenapa? Nasi gorengnya enak kan? Tadi semua pelayan juga bilang enak! Eh….aku berikan sisanya pada mereka. Jangan takut! Untukmu hasil masakan pertama.”
__ADS_1
‘Semakin hari semakin berani saja dia! Baiklah, aku akan ikuti permainanmu! Mungkin dengan menghabiskan nasi goreng ini bisa membuatku sakit perut! Dengan begitu aku akan menghukummu Joana!’ sebuah rencana pun terbersit dibenak Dion. Dia kembali menyuap nasi goreng yang pedasnya level tinggi.