
Lobby hotel bintang lima. ⭐⭐⭐⭐⭐
Bu Shinta dan Red duduk berhadapan di jejeran sofa Coffee Lounge yang terletak di sisi teras hotel, menghadap keluar pemandangan kota. Sangat nyaman dan membuat siapapun betah duduk berlama-lama. Mereka berdua menikmati empuknya sofa mewah kelas bangsawan VIP tentunya. Luar biasa langit malam ini, malam cerah berbintang menambah nuansa surga.
"Hmm ...," tanpa terasa berdehem, Bu Shinta menikmati suasana malam itu. Red duduk bersandar di sisi sofa berhadapan dengan Bu Shinta. Red pun menatap ke ara langit yang sama.
"Berapa lama lagi kakakmu menuju kemari?" Bu Shinta tak sabar ingin membahas tentang kontrak Red untuk bergabung dalam agensi miliknya. Pikir Bu Shinta, setelah berhasil meyakinkan kakaknya Red, yakin betul dia bakal berhasil mendapatkan Red Angel sebagai artis andalannya nanti.
"Sebentar lagi. Dia layak ditunggu," Red senyum-senyum tipis setelah melirik arloji. Waktu menunjukkan pukul 11 malam.
"Sebentar lagi tengah malam," Bu Shinta tampaknya mulai resah.
"Inilah dunia artis, lupa waktu, lupa diri," balas Red dibalas hela nafas ringan Bu Shinta. Harus bertahan dengan kesabaran lebih lama demi Red Angel. Gadis penyanyi bersuara D7, akan menjadi ladang bisnis sangat diincar banyak produser dan agensi.
"Bagaimana dengan agensi dari Rusia, label mayor Pandoranov ...?" iseng saja, Bu Shinta menanyakan pihak pesaing mengancam harapan Bu Shinta. Rival utama yang mengincar Red Angel tentunya menjadi kegundahan Bu Shinta.
"Aku belum tertarik," jawab Red singkat saja.
Pandoranov. Agensi kelas atas sekaligus mayor label ternama asal Rusia, di bawah naungan perusahaan raksasa bidang musik kelas dunia. Ibarat gajah, dibandingkan dengan agensi TripodMedia, ibarat macan Asia Tenggara. Tentu masih kalah jauh dari segi jangkauan dan kekuatan distribusi bisnis di bidang yang sama.
Bu Shinta merasakan ancaman itu sampai menghela nafas begitu dalam.
"Ah, Kakak!" suara Red membuyarkan pikiran Bu Shinta. Bersamaan Red melambaikan tangan ke arah belakang Bu Shinta.
Bu Shinta menoleh ke belakangnya. Dari arah koridor, tampak seseorang lelaki muda berjalan mendekati Bu Shinta dan Red sedang duduk di satu sofa area Coffee Lounge. Seorang lelaki muda itu balas melambaikan tangannya ke arah Red dan Bu Shinta.
Red tersenyum lebar menyambut kedatangan lelaki muda itu. Perhatian Bu Shinta pun ke arah yang sama.
Lelaki muda tampan mengalihkan perhatian Bu Shinta. Sampai-sampai sedikit ternganga dibuatnya. Ketika sampai di dekat sofa, lelaki muda itu menyapa Bu Shinta terlebih dahulu.
"Hallo ...," tanpa basa-basi lagi, lelaki itu menyodorkan jabat tangan ringan pada Bu Shinta terkesima dengan penampilan lelaki itu terlihat smart dan stylish.
__ADS_1
'Apa benar dia seorang dokter forensik?!' pikir Bu Shinta tak percaya. Terperangah ia menyambut jabat tangan lelaki muda itu.
"Dia kakakku ...," kata Red mengiringi jabat tangan antara Bu Shinta dan lelaki muda itu.
"Atash."
Kata lelaki muda itu mengucapkan namanya, tak disangka ternyata kakaknya Red setampan ini. Begitu kira-kira yang ada di otak Bu Shinta.
"Shinta."
Balas Bu Shinta senang namun sedikit kikuk. Lelaki muda bernama Atash tersenyum saja menyambut perkenalan mereka untuk pertama kali. Kemudian ia pun duduk di sofa, bersebelahan dengan Bu Shinta.
'Tidak heran, Red cantik. Kakaknya pun tampan,' pikir Bu Shinta.
"Aku ke kamar sebentar," kata Red. Secara tidak langsung, Red membiarkan kakaknya berdua saja dengan Bu Shinta. Red bermaksud menuju kamarnya yang terletak di lantai atas. Red meninggalkan area Coffee Lounge dan menuju koridor lift.
"Bu Shinta dari TripodMedia?" tanya Atash mengerti arah pembicaraan Bu Shinta.
"Oh, baiklah," Atash mengiyakan saja.
"Proposal dari TripodMedia, aku sudah membacanya dengan baik," kata Atash sedikit bergerak duduknya tak tenang. Agak bingung harus menjawab apa.
"Tetapi ...," Atash ragu melanjutkan kalimatnya.
"Mmm ..., aku tidak terburu-buru," beda hati dengan mulut. Bu Shinta sangat menginginkan Red segera menjadi bagian dari artis di bawah manajemen TripodMedia. Tetapi kali ini di hadapan Atash, malah dia mengatakan seolah terlihat sabar dan memberi waktu untuk Atash memenuhi penawaran bergabung atas nama proposal TripodMedia.
"Ah," Atash mengangguk sebentar tanda memahami. Sebenarnya Bu Shinta sangat tidak ingin ditolak, maka dari itu bersikap sabar dan mengulur waktu, mungkin akan lebih baik daripada ditolak saat itu juga.
Diam-diam Bu Shinta curi-curi pandang pada Atash sedang memikirkan penawaran kerjasama dengan TripodMedia.
"Sejujurnya, aku belum bisa mengijinkan Red bergabung dengan agensi manapun," kata Atash hendak melanjutkan panjang lebar keberatan dirinya tentang Red.
__ADS_1
Bu Shinta lebih fokus pada mimik muka Atash tersirat ragu dan segan untuk mengatakan penolakan atas penawaran kerjasama.
"Adikku, sedang masa pemulihan," lanjut Atash. Kali ini membuat Bu Shinta terkejut.
"Pemulihan? Pemulihan dari apa?" tanya heran Bu Shinta.
"Begini Bu Shinta. Mm ... maksudku ... Shinta. Adikku, Red, setahun lalu mengalami Pneumonia akut. Dia harus menjalani perawatan intensif agar sembuh. Jadi kondisi Red saat ini, belum cukup stabil untuk bekerja penuh di bidang menyanyi profesional. Tentu penawaran ini, sangat sulit bagiku untuk mengambil keputusan," jawab Atash, sontak membuat Bu Shinta terkejut.
"Pneumonia?!"
Wajah cantik Bu Shinta dipenuhi ekspresi kaget dan heran. Atash memperhatikannya. Alis, mata, juga bibir Bu Shinta sedikit ternganga. Tetapi ekspresi alami begitu, sangat cocok untuk dia terlihat imut.
"Benar. Pneumonia," sekali lagi Atash mengucapkan jenis penyakit menyerang paru-paru.
"Seorang Lady Rocker mengalami sakit pneumonia?!" heran bercampur rasa kaget bukan main. Mulut Bu Shinta semakin ternganga.
"Apakah parah?" lagi-lagi Bu Shinta bertanya penuh antusias.
"10 bulan masa pengobatan intensif, ditambah lagi masa pemulihan hingga saat ini, tentu cukup membuatku khawatir," jawab Atash seadanya tentang riwayat sakit yang diderita Red.
"Bolehkah aku tahu, siapa nama asli Red?" kali ini Bu Shinta menanyakan sesuatu yang sering membuat orang-orang penasaran tentang sebenarnya nama Red di balik aksi panggungnya. Tampaknya, Atash tak ingin mengatakannya sekarang.
"Red hanya menyanyi sebagai hobi, bukan profesional. Sekedar artis YouTube," Atash tersenyum, sedikit menggeleng pertanda mengelak dari sesuatu.
"Tidak perlu dilebih-lebihkan," lanjut Atash.
Bu Shinta berdehem sebentar.
"Atash, aku ....," Bu Shinta bingung hendak berkata apa lagi. Antara bisnis dan kemanusiaan, dua hal berbeda alasan dan tujuan. Tetapi, Bu Shinta tak yakin punya kesempatan besar lain waktu jika bukan malam ini. Terlebih, bertemu dengan Atash ternyata seorang laki-laki yang berbeda dari kebanyakan orang. Pandangan pertama dengan Atash, membuat jantung Bu Shinta dag dig dug.
Bu Shinta mengalihkan pandangannya dari Atash. Lelaki itu pun mengalihkan pandangannya juga. Suasana seakan menjadi kikuk. Bu Shinta yang cantik dan muda. Menurut cerita yang pernah dikatakan Red, Bu Shinta adalah seorang pengusaha ternama TripodMedia, sebelum pertemuan mereka malam ini, dikiranya Bu Shinta itu perempuan setengah baya. Tetapi ternyata dia jauh lebih muda dari perkiraan Atash.
__ADS_1
...* * *...