GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 62. AKIBAT TERLALU PERCAYA DIRI


__ADS_3

Pakaiannya koyak dimana-mana dan kulitnya penuh dengan luka bekas cakaran anjing-anjing itu. Dia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar dan menghubungi Amanda.


“Reza! Bagaimana rencananya berjalan lancar kan? Dimana kamu sekarang?” tanya Amanda dengan penuh semangat karena kali ini dia bisa menikam Arimbi dari belakang lagi.


“Amanda, tolong belikan aku satu stel pakaian baru dan tunggu aku didepan rumah sakit ya.” jawab Reza. Anjing-anjing itu memang tidak menggigitnya tapi mereka mencakarnya. Dia harus mengobati luka-lukanya dan mendapatkan suntikan rabies. Untung saja Reza menutupi wajahnya saat anjing-anjing itu menyerangnya sehingga wajahnya tak berhasil dicakar atau wajahnya sekarang mungkin sudah rusak.


Seketika itu juga ekspresi wajah Amanda berubah setelah mendengar ucapan Reza dan senyuman diwajahnya pun langsung hilang digantikan dengan rasa khawatir. “Apa yang terjadi? Kenapa harus pergi kerumah sakit? Apa terjadi sesuatu padamu Reza?”


“Akan kujelaskan nanti saat kita bertemu. Pergilah kerumah sakit sekarang juga. Aku akan tiba disana beberapa menit lagi. Batalkan saja rencana malam ini, aku akan memberitahu sekretarisku untuk mengatur ulang jadwalnya.”


“Reza! Apa yang terjadi? Cepat katakan padaku, kamu tidak boleh membuatku khawatir dan kebingungan seperti ini.” kata Amanda yang mulai gugup.


“Tidak apa-apa. Aku tidak bisa menjemput Arimbi dan Keluarga Serkan mengeluarkan anjing-anjing mereka untuk mengejarku. Anjing-anjing itu mencakar seluruh tubuhku, mereka merobek pakaianku. Aku hampir telanjang sekarang.Luka ini harus diperiksa dan aku harus mendapatkan suntik rabies.” Reza menghela napas panjang. Dia tidak pernah menyangka semua akan seperti ini.


“Apa? Kamu pergi kerumah sakit sekarang ya. Aku akan membelikan satu setel pakaian baru untukmu. Tunggu aku disana, aku akan segera datang!” Amanda tak menduga itu akan terjadi pada Reza.


“Baiklah.” ucap Reza kemudian menutup panggilan. Dua menit kemudian dia menyalakan mesin mobilnya dan melaju pergi menuju kerumah sakit.


Amanda yang baru tersadar kembali dari keterkejutannya bergegas melajukan mobilnya. Saat Amanda baru saja keluar dari toko pakaians etelah membeli beberapa pakaian baru untuk Reza, Mosha menghubunginya. “Hai bu.” Amandamengankat panggilan setelah masuk kedalam mobil.


“Amanda! Kamu harus pulang sekarang!” ujar Mosha dengan sangat mendesak.


“Ada apa Ibu? Aku masih bekerja dan akan pulang setelah pekerjaanku selesai.” jawabnya berbohong, dia ingin ibunya berpikir kalau dia bekerja lembur.


“Ibu tidak peduli kamu sedang apa! Pulang sekarang juga! Apa kamu tidak mendengar ibu?” Mosha berteriak marah lalu mengakhiri panggilan.

__ADS_1


“Halo, ibu….ibu….” Amanda menghubungi kembali ibunya beberapa kali tapi tak dijawab/


Mosha sudah menyuruhnya pulang tanpa memberitahu alasannya dan itu membuat Amanda mulai merasa khawatir. Apakah dia harus pulang atau kerumah sakit? Pada akhirnya dia menghubungi Yadid.


“Ayah, ayah dirumah? Ibu baru saja menghubungiku. Ibu memintaku segera pulang apa ayah tahu apa yang terjadi?”


“Ayah masih diluar. Ibumu pasti punya alasan kenapa menghubungimu agar pulang. Kamu harus menuruti perkataannya.” jawab yadid.


“Baiklah aku akan segera pulang.” ucap Amanda. Dia tidak bisa mengabaikan perintah pasangan Keluarga Rafaldi atau dia akan terlihat buruk dimata mereka. Dia tidak boleh mengecewakan mereka maka dia pun membuat pilihan dan tak bisa mengabaikan Reza. Segera dia menghubungi sekretarisnya agar pergi kerumah sakit dimana Reza sedang diperiksa. Lalu dia memberikan pakaian yang dibelinya pada sekretarisnya agar diberikan pada Reza.


Sementara itu dirumah kediaman keluarga Rafaldi tampak Mosha sedang menelepon Arimbi. “Ibu sudah memberitahu Amanda agar segera pulang, Arimbi.” Mosha sedang duduk di sofa.


“Terimakasih Bu.” ucap Arimbi tersenyum.


Mosha menyayangi Amanda, lagipula dia sudah membesarkannya seperti putrinya sendiri selama bertahun-tahun. Dia tak ingin Amanda  kembali ke keluarga kandungnya bahkan setelah dia tahu Arimbi dan Amanda etrtukar sejak lahir. Mereka berdua adalah putrinya tapi Mosha lebih mencintai Amanda daripada Arimbi.


Arimbi bersyukur karena dukungan ibunya yang terus menerus. Dia tahu bahwa Reza akan pergi kerumah sakit dan menghubungi Amanda setelah kejadian itu, dan Reza akan sangat kesal jika Amanda tidak muncul tepat waktu dirumah sakit. Karena itulah Arimbi memberitahu ibunya untuk meminta Amanda segera pulang, Arimbi bahkan tak memberitahu alasannya namun Mosha masih membantunya.


“Arimbi, apa kamu sudah memberitahu Tuan Emir tentang keinginanmu bekerja diperusahaan kami? Ayahmu itu pasti sudah gila, ini urusan pribadi jadi tidak perlu bertanya pada Tuan Emir dan mendapat izinnya. Dia tidak berhak memberitahu kami apa yang harus kami lakukan padamu.” Mosha yang masih tidak mengerti mengapa Yadid dan Arimbi mendengarkan semua perintah Emir.


“Apa Tuan Emir ada bilang kalau kamu bisa pulang? Kamu itu putriku dan aku tidak memintanya untuk memerintahmu seperti seorang pelayan. Itu membuat hati ibu hancur,jujur saja ibu memintamu untuk pulang sekarang juga, Arimbi!”


“Ibu, Emir tidak menyuruhku----” saat dia belum menyelesaikan kalimatnya ponselnya sudah diambil seseorang.


“Arimbi adalah istriku. Kami menikah secara sah dan dia bukan pelayanku.” ucap Emir.

__ADS_1


Ponsel Mosha hampir jatuh dari tangannya, dia mematung karena terperanjat dan saat dia sadar ponselnya sudah berada dilantai.


“Emir!” Arimbi hendak mengambil ponselnya kembali, dia lupa kalau Emir masih berada didekatnya. Dia pikir Emir sudah pergi karena dia diam dan tak bersuara. Pria itu langsung mengembalikan ponsel Arimbi, “Ada apa? Kamu kira kamu itu terlalu baik bagiku? Atau kamu sekarang tidak menyukaiku karena aku lumpuh? Kamu bahkan tidak memberitahu ibu kalau kita sudah menikah?” tanya Emir ketus.


“Bukan begitu Emir! Kukira kamu tidak ingin siapapun tahu bahwa kita sudah menikah. Kamu bahkan tidak mengizinkanku memanggilmu sayang.”


Emir mengerucutkan bibirnya, matanya masih menatap Arimbi meskipun dia terlihat acuh.


“Arimbi! Arimbi! Kamu masih disana Arimbi? Apa maksudnya ini? Apa ini benar? Apa ayahmu tahu? Tunggu...kalian menyembunyikan ini dari ibu?” Mosha terperanjat merasa marah dan tidak percaya.


Pantas saja suaminya yang bodoh itu menginginkan Airmbi untuk mendapatkan izin Emir untuk bekerja diperusahaan. Tak heran Arimbi langsung pulang kerumah keluarga Serkan setelah Emir memanggilnya.


“A---aku akan menjelaskan semuanya besok, Bu.” jawab Arimbi dengan cepat dan menutup telepon. Emir terlihat sangat jengkel lalu membenamkan dirinya di tempat tidur dan Arimbi tahu kalau pria itu akan tidur dikamarnya malam ini.


Dia pun ingin memberitahukannya tentang semua masalah ini. “Emir! Biar aku membantumu.”


Arimbi meletakkan ponselnya didalam saku bajunya dan berjalan membantu Emur, namun pria itu menghempaskan tangan Arimbi. Dia menggerakkan tubuhnya naik ke tempat tidur dengan kesusahan dan berbaring tanpa menatap Arimbi.


“Apa kamu marah padaku Emir?”


Arimbi duduk di tempi tempat tidur dan mendorong tubuh Emir dengan lembut, “Bisakah kamu mengatakan padaku kenapa kamu marah? Jangan marah tanpa alasan. Anak-anak bisa menangis jika mereka melihatmu seperti ini.”


“Jangan sentuh aku!” bentak Emir.


Arimbi langsung mengatupkan bibirnya dan menarik tangannya kembali. Dia menatap pria itu sejenak sebelum beranjak menuju kamar mandi.  Tak berapa lama terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2