GADIS BERGAUN MERAH

GADIS BERGAUN MERAH
BAB 149. DION MENGINCAR ARIMBI


__ADS_3

“Jadi, maksudmu kakinya menjadi bengkak hanya karena terinjak sekali?” tanya Yadid terkejut.


Arimbi yang merasa sangat malu pun menjawab, “Semalam aku memakai high heel dan aku menginjak kakinya sangat keras. Setidaknya aku bersyukur karena kakinya tidak berdarah.”


Yadid pun terdiam mendengar jawaban putrinya. ‘Sepertinya aku harus melibatkan menantuku dalam misi penyelamatan ini. Pria ini licik sekali, pasti dia sengaja melakukan itu untuk mendekati putriku!’


“Direktur Rafaldi!” panggil Dion Harimurti.


Tatapan Dion yang menggelap begitu berbanding terbalik dengan matanya yang berkilau indah, pria itu tiba-tiba menoleh. “Beginikah caramu menyambut tamu, Tuan Rafaldi? Dengan membiarkan mereka keluar masuk sesuka hati mereka?”


Karena Yadid mulai merasakan ketidak senangan dalam nada bicara Dion harimurti, dengan enggan dia pun memasukkan ponselnya kembali kedalam sakunya dan melangkah kearah Dion setelah memelototi putrinya. Yadid merasakan kegelisahan yang bagaikan ombak ganas disamudera luas.


“Mohon maaf Direktur Harimurti!”


Saat Dion beserta para pengawalnya memasuki rumah itu, Yadid menyambutnya dengan sopan. Sementara itu Mosha segera membawa cemilan yang baru dibuatnya ketika dia menyadari kedatangan Dion.


Saat itu juga dia pun terkejut meliat suaminya sedang membungkuk-bungkuk memberi hormat pada Dion. Disaat bersamaan, putrinya terlihat menunduk muram juga ikutan masuk kedalam rumah.


Mosha dengan sikap tenangnya segera melangkah menghampiri dan menyajikan jajanan rumahan yang baru dia buat dan meletakkan diatas meja sembari tersenyum dan mempersilahkan pada Dion, “Ini adalah kudapan rumahan kami. Saya baru saja membuatnya. Silahkan dicoba.”


Arimbi oun mengikuti ibunya, dia menyisihkan pakaian yang tadi dibelinya untuk kedua orang tuanya lalu menyajikan teh kepada tamunya. Disaat itu, Dion menatap teko berisi teh yang masih mengepul serta kue-kue yang baru saja dipanggang.

__ADS_1


“Mohon maaf atas kedatangan kami yang tiba-tiba Nyonya Rafaldi!” ujarnya dengan sopan.


“Tidak apa-apa. Kedatangan anda sama sekali tidak menganggu kami. Senang bertemu denganmu disini Direktur Harimurti.” Yadid mengambil kesempatan itu untuk menjawab mewakili istrinya. Arimbi pun segera menghampiri ibunya dan berbisik, “Ayah jago sekali dalam dunia bisnis, dia benar-benar tahu apa yang harus dikatakan dan kapan harus mengatakannya.”


Arimbi menganggap bahwa dia harus belajar banyak dari ayahnya soal bisnis dan bagaimana bersikap dalam menghadapi orang-orang. Setelah mendengar ucapan putrinya, Mosha langsung meremas tangan putrinya dan mengingatkannya bahwa tamu ternama itu masih ada disini. Jadi mereka harus menjaga sikap agar tidak menyinggung tamunya.


“Apa yang membawamu hingga datang kemari, Direktur Harimurti?” Yadid sudah tahu apa alsannya tetapi dia hanya berpura-pura tidak tahu dan bertanya dengan hati-hati untuk berbasa basi saja.


Kemudian Dion mengangkat kakinya yang diperban dan melirik kearah Arimbi seraya mengatakan, “Nona Arimbi tidak sengaja menginjak kakiku semalam. Aku sudah mengatakan padanya kalau terjadi apa-apa pada kakiku, aku akan meminta pertanggung jawabannya.”


“Hanya dalam semalam kakiku jadi bengkak dan perih. Aku yakin dia harus bertanggung jawab atas luka kakiku ini. Seperti anda lihat, aku kesulitan berjalan dan harus menggunakan kursi roda.”


Yadid pun menoleh kearah putrinya lalu meminta maaf pada Dion mewakili putrinya, “Maafkan kami Direktu Harimurti atas insiden itu.”


Yadid terbatuk-batuk pelan mendengar perkataan putrinya. Dion adalah kepala keluarga Harimurti dan dia yang mengurus perusahaan Harimurti Group. Meskipun mereka harus menjual Arimbi, itu tidak akan cukup untuk menutupi biaya hidup sehari-hari Dion. Arimbi pun langsung tersontak sadar bahwa dia tidak mungkin mampu membayar biaya ganti rugi.


Dia melirik Dion sambil menantikan apa yang akan dikatakan oleh pria itu selanjutnya.


“Dokter keluargaku telah memeriksanya dan tidak ditemukan adanya kerusakan tulang. Setelah beberapa hari bengkaknya akan hilang.” ujar Dion menjelaskan. Dia tidak akan meminta ganti rugi dalam bentuk uang tetapi dia menginginkan yang lain sebagai gantinya.


“Aku tidak meminta Nona Arimbi untuk membayar ganti rugi. Aku hanya punya satu permintaan saja, yaitu dia harus merawatku sampai kaki bengkakku sembuh dan aku bisa berjalan normal kembali.” ucapnya sungguh-sungguh.

__ADS_1


Itulah kejutan yang dia siapkan, dia sudah memikirkan hal ini dan inilah tujuannya datang kesini hari ini. Dia ingin Arimbi merawatnya sebagaimana Arimbi merawat Emir. Pria licik ini!


Arimbi dibuat diam seribu bahasa. ‘Kalau Emir mendengar tentang hal ini, aku harus mengucapkan selamat tinggal pada hidupku!’ bisik hatinya.


“Direktur Harimurti.aku akan menyewa perawat untuk membantumu hingga sembuh oke? Aku….aku harus bekerja setiap hari, jadi aku agak kesulitan untuk merawatmu.” akhirnya dia menemukan alasan.


Saat ini Arimbi benar-benar kehabisan akal untuk menyelamatkan diri. Dia tak ingi membuat masalah pada dirinya dan kehilangan suaminya. Namun alasan itu tidak menggoyahkan keputusan Dion, pria itu pun bertanya dengan lembut, “Direktur Rafaldi! Nona Arimbi bekerja diperusahaanmu. Aku yakin tidak akan menjadi masalah kalau dia izin beberapa bulan, kan?”


“Bolehkah kita bicara empat mata Direktur Harimurti?” Arimbi bertanya pada Dion sebelum ayahnya sempat merespon. Bagaimanapun dia sendiri yang harus menyelesaikan masalah ini tanpa melibatkan ayahnya.


Jauh dilubuk hatinya dia tahu kalau Dion itu mengganggunya hanya karena soal bayi itu. Namun bayi dari kehidupan sebelumnya tidak pernah lahir di kehidupannya yang sekarang.


Hati Arimbi terasa diremas-remas saat dia teringat kematian putrinya dikehidupan sebelumnya. Dia membenci dirinya sendiri karena tidak becus dikehidupan sebelumnya. Dia juga menyalahkan Dion. Kemana pria itu saat mereka benar-benar membutuhkannya di masa lalu?


Dan di kehidupan sekarang, dia tidak pernah jatuh dalam jebakan ataupun memiliki hubungan dengan pria itu. Lalu untuk apa pria itu terus saja mengganggunya?


Diam-diam Dion menatap wanita itu dan saat mata mereka bertemu, dia mengangguk setuju.


“Tolong bawa aku jalan-jalan keluar Nona Arimbi. Ini pertama kalinya aku mengunjungi kediaman Rafaldi, jadi aku ingin melihat-lihat sekeliling.” pinta Dion Harimurti.


Sementara didalam hatinya Arimbi mengutuk dan memaki pria licik itu. ‘Huh! Bilang saja kalau kamu juga mau ku perlakukan seperti aku memperlakukan Emir! Ya, jelas bedalah. Emir itu suami sahku dan aku bertanggung jawab padanya seumur hidupku.’ bisik hatinya.

__ADS_1


Arimbi mendekatinya dari belakang sementara para pengawal keluarga Harimurti menyingkir untuk memberikan jalan. Dengan kekhawatiran yang memuncak, Yadid dan Mosha saling bertukar pandang dengan gugup.


Rumah Keluarga Rafaldi memang tidak sebesar Villa milik Keluarga Serkan maupun rumah Dion. Tapi rumah keluarga Rafaldi memiliki taman yang sepi cocok sebagai tempat untuk bicara empat mata.


__ADS_2