
“Sudah kuduga! Anak tidak tahu diri itu! Yadid, aku sudah memperingatkanmu berulang kali. Amanda berubah sejak Arimbi kembali. Dia tidak bisa dipercaya.”
“Tenanglah dulu, biarkan Emir menjelaskan semuanya. Bagaimana mungkin Amanda tega melakukan hal seperti itu pada kita?” ujar Yadid mencoba menenangkan istrinya.
“Ayah, apa masih ingat berapa kali Amanda dengan sengaja ingin menjebakku? Aku juga masih yakin tentang insiden di pesta ulang tahun Zivanna juga ada hubungannya dengan Amanda. Pasti dia bekerja sama dengan Reza!” ujar Arimbi.
“Ayah belum menjawab pertanyaanku. Apa yang akan ayah lakukan pada Amanda? Sekarang dia sudah secara terang-terangan ingin menyerang perusahaan keluarganya sendiri.” ucap Emir.
“Aku belum memikirkannya saat ini. Aku masih syok dengan semua kejadian ini.” ucap Yadid lagi.
“Sarankan, ayah dan ibu harus lebih berhati-hati mulai sekarang. Aku sedang mengumpulkan bukti keterlibatan keluarga Lavani dalam masalah ini.” ujar Emir.
“Arimbi, apa kamu akan pergi nanti malam bersama Amanda?” Emir menoleh menatap istrinya.
“Iya. Apa kamu mengijinkanku?”
“Pergilah! Aku harap kamu bisa jaga diri dan berhati-hatilah.”
“Jangan khawatir Emir. Aku sudah punya rencana sendiri untuk nanti malam.” ucap Arimbi tersenyum manis mengedipkan matanya pada Emir. Pria itu menatapnya tajam seolah memperingatkannya.
“Ayah, bisa kembali dulu. Jika ada perkembangan terbaru akan ku kabari. Jangan sungkan untuk menghubungiku jika ada hal yang ingin ayah bicarakan denganku.” ucap Emir yang tahu jika ayah mertuanya saat ini sedang banyak pikiran.
Bagi seorang ayah yang selama ini mempercayai putri angkatnya, berita yang baru saja diterimanya membuatnya syok. Dia merasa sakit hati dan tak terima atas apa yang dilakukan Amanda pada perusahaan. Yadid dan Mosha pun pergi meninggalkan hotel itu. Sedangkan Arimbi menunggu kedatangan Joana.
“Apa yang kamu rencanakan malam ini? Arimbi, jangan bertingkah aneh-aneh. Aku tidak mau anakku sampai kenapa-napa.” ucap Emir mencubit pipi Arimbi.
“Emir sayang…..aku rasa malam ini akan menyenangkan. Ah…..tunggu saja kabar dariku nanti malam. Joana sudah menyiapkan semuanya.”
“Joana? Memangnya apa yang dilakukan wanita itu?”
“Aku beritahu ya, sebenarnya orang yang mengirimkan foto dan video Amanda bersama Reza itu adalah Joana. Dia tidak sengaja mengikuti Amanda diam-diam sampai ke villa Reza.”
“Hmm….mana videonya? Tunjukkan padaku!” ujar Emir hendak mengambil ponsel Arimbi dari tangannya. Tapi dengan cepat wanita itu menjauhkan ponselnya.
__ADS_1
“Emir! Kamu ini mesum sekali! Buat apa kamu mau melihat video Amanda dan Reza?”
“Apa kamu menikmati menonton video itu Arimbi? Berikan ponselmu padaku atau kamu tidak boleh pergi nanti malam! Aku akan menghukummu untuk ini.” ancam Emir menatap Arimbi tajam.
“Memangnya videonya mau kamu apakan?”
“Aku hanya ingin melihat apa isi video itu!”
“Emir, apa kamu mau melihat Amanda telanjang?” tanya Arimbi melototkan matanya pada Emir.
“Oh, jadi kamu menonton video seperti itu? Kamu mengagumi tubuh Reza yang juga telanjang di video itu? Arimbi! Kamu itu istriku! Berani-beraninya kamu melihat tubuh pria lain!”
“Sayang, aku ti----” Arimbi ingin merangkul lengan Emir tapi pria itu dengan cepat menepiskan tangan Arimbi dan membuang wajahnya.
“Baiklah. Aku memang salah tapi aku belum melihat video itu! Joana yang memberitahuku apa isinya. Bagaimana mungkin aku menonton video mesum seperti itu?” ucap Arimbi mengerucutkan bibirnya dan mulai merajuk. “Aku tidak menyangka Amanda akan melakukan perbuatan serendah itu.”
Arimbi lalu menyodorkan ponselnya pada Emir, karena dia tak mau bertengkar dengan Emir. Pria itu hanya memutar rekaman video itu sebentar lalu langsung mematikannya dan mengembalikan ponsel itu pada Arimbi. “Apa yang akan kamu lakukan dengan video itu?” tanya Emir.
“Joana, kemarilah! Kenapa kamu gemetaran seperti itu?” tanya Arimbi yang melihat Joana menundukkan kepalanya tak berani menatap Emir.
“Selamat siang Tuan Emir.” sapanya tanpa menatap pria itu.
“Hemmmm…...Apa yang kamu rencanakan dengan istriku?” tanya Emir menatap Joana. “Kalau bicara angkat wajahmu!”
“Kami akan bertukar tempat, Tuan.” jawab Joana.
“Maksudnya?”
“Biar aku saja yang menjelaskan. Emir kamu membuat temanku ketakutan!”
“Cih! Memotret orang diam-diam tidak membuatnya takut? Tapi bicara denganku takut?” sindir Emir.
“Maaf Tuan. Saya sudah tidak memotret orang diam-diam lagi!”
“Arimbi, katakan apa rencana kalian!” ucap Emir tak mempedulikan Joana.
__ADS_1
“Joana, mana barangnya?” tanya Arimbi. Lalu Joana mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. Itu adalah topeng wajah yang terbuat dari kulit. Melihat itu Emir mengeryitkan dahinya lalu menatap kedua wanita itu bergantian.
“Apa ini?”
“Ini namanya topeng! Lihatlah, topeng ini sangat tipis dan membentuk wajah kami berdua.”
“Hah? Jadi kalian akan memakai topeng ini nanti malam?” tanya Emir tak percaya. ‘Kenapa istriku jadi segila ini? Apa-apaan ini? Apa mereka mau main detektif-detektifan?’ bisik hati Emir.
“Iya benar sekali! Aku dan Joana akan bertukar. Jadi yang akan bertemu dengan Tuan Jordan dan Amanda nanti malam bukan aku tapi Joana.”
“Hah! Kalian ini, mereka akan dengan mudah curiga. Suara kalian tidak sama! Bagaimana menyakinkan orang yang mengenal Arimbi dengan baik?” ujar Emir tak percaya jika ini akan berhasil.
“Ini! Ini pengubah suara! Aku akan memakai ini jadi saat aku bicara akan terdengar seperti suara Arimbi.” Joana mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam tas nya.
“Tuan Emir, aku akan menjaga Arimbi dengan baik. Makanya aku membuat rencana ini! Karena menurutku mungkin saja Amanda bersekongkol dengan Nona Zivanna untuk menjebak Arimbi malam ini. Jadi aku akan berpura-pura menjadi Arimbi. Tidak akan ada yang curiga, lagipula aku sudah meminta bantuan beberapa pengawal keluargaku untuk jaga-jaga.” ujar Joana menjelaskan.
“Baiklah. Arimbi, ingat! Kamu harus berhati-hati. Aku tidak mau kamu terluka. Aku akan meminta Rino untuk mengirimkan beberapa pengawal agar berjaga-jaga di tempat itu nanti.” ujar Emir. Lalu suasana menjadi hening. “Aku kembali ke kantor dulu. Masih ada meeting bersama klien sore ini. Kabari aku jika kamu butuh sesuatu.” ujar Emir.
“Baiklah, sayang. Terima kasih sudah mempercayaiku. Aku senang sekali hari ini. Aku tidak perlu berpura-pura lagi sekarang semua orang sudah tahu statusku.”
“Dan itu berarti, musuh-musuhku mungkin akan mulai menargetkanmu. Mulai sekarang kamu harus lebih waspada. Para pengawalmu akan mengikutimu kemanapun!” ucap Emir.
Setelah Emir bersama rombongannya pergi. Kini hanya ada Arimbi dan Joana di presidential suite itu.
“Arimbi, ternyata Tuan Emir tidak menakutkan seperti yang dikatakan orang-orang.”
“Itu karena kamu adalah temanku! Dia tidak akan bersikap sebaik itu pada orang lain. Bahkan pada keluarganya sendiri sikapnya dingin.”
“Benarkah?”
“Ya! Eh, kita masih ada cukup waktu untuk istirahat sebentar sebelum kita bersiap-siap. Aku mengantuk sekali.” ucap Arimbi membaringkan tubuhnya di ranjang besar.
__ADS_1
“Apakah kalian sering kesini berdua?” tanya Joana iseng menggoda Arimbi.