
“Jangan Joana! Kamu sudah lihat sendiri betapa berbahayanya Dion! Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Arimbi yang terlihat mencemaskan sahabatnya itu.
Dia menatap Joana dengan cemas, “Kamu tidak perlu melakukan itu untukku!”
“Dia menginginkanmu bukan? Jika dia tidak bisa mendapatkanmu hari ini, mungkin besok atau lusa atau sampai kapanpun itu dia akan mengincarmu sampai dia mendapatkanmu Arimbi.” ucap Joana.
“Lalu? Apa yang ingin kamu lakukan Joana? Jangan gila kamu!” teriak Arimbi cemas.
“Aku akan menghentikannya!” ujar Joana tersenyum. “Harus menghentikannya mengusikmu.”
“Ta—tapi Joana…..”
“Tenanglah Arimbi! Aku sudah menyusahkanmu waktu itu, biarkan kali ini aku yang melakukannya. Semuanya akan baik-baik saja. Jika kamu mengkhawatirkanku, bagaimana jika kamu suruh pengawalmu untuk mengikutiku?” ujar Joana mengedipkan matanya.
Entah apa yang terjadi padanya, sebuah ide terbersit di benaknya saat mendengar nama Dion Harimurti.
“Bagaimana kita keluar dari tempat ini?” tanya Arimbi.
“Seperti biasa Nyonya. Bersikaplah biasa saja, kami akan membawa Nyonya keluar sekarang lewat pintu itu.” ujar Shinta menunjuk kearah pintu terhubung.
“Sedangkan Nona Joana akan keluar lewat pintu masuk. Dilantai bawah akan ada yang mengikuti Nona Joana.”
“Baiklah. Ayo kita pergi sekarang. Aku tidak betah berada ditempat seperti ini. Bagaimana dengan Amanda?” Arimbi menoleh saat dia berdiri.
“Tenang saja Nyonya. Sesampainya Nyonya dirumah akan menerima kabar dari Nona Amanda.” jawab Shinta tersenyum lalu dia berdiri dan berjalan bersama Arimbi menuju ke pintu penghubung.
“Joana! Berhati-hatilah!” Arimbi mengingatkan saat dia sudah berada dipintu penghubung.
__ADS_1
“Oke! Aku akan menghubungimu nanti.” ucap Joana.
Sepeninggal Arimbi dan kedua pengawal wanita, Joana pun keluar dari ruang VIP itu. Dia melirik kekiri dan kekanan, tidak ada siapa-siapa dilorong karena ini adalah area untuk VIP. Dengan cepat dia melangkah meninggalkan tempat itu.
Saat dia sudah masuk kedalam lift tiba-tiba pintu lift ada yang menahannya. Pintu itu kembali terbuka dan dua orang pria masuk kedalam lift. Joana mengeryitkan keningnya melihat kedua pria yang berdiri didepannya.
Dia memasang sikap was-was karena merasa heran, dia tidak melihat siapapun tadi dilorong. Darimana datangnya kedua pria didepannya ini?
Saat lift tiba dilantai dasar, kedua pria itu berjalan keluar diikuti Joana yang melangkah perlahan dibelakang. Dia ingat apa yang dikatakan Shinta tadi bahwa akan ada dua orang yang akan mengikutinya dilantai bawah.
‘Apakah kedua pria itu yang dimaksud Shinta tadi? Aku tidak melihat ada yang lainnya?’ pikirnya.
Sebelum keluar dari kelab malam mewah itu, Joana menoleh dan mengedarkan pandangannya sebelum dia keluar dan menuju ke parkiran. Saat dia baru saja membuka pintu mobilnya, mulutnya dibekap , Joana berusaha melawan namun kekuatan pria yang membekap mulutnya melebihi kekuatannya.
Dia sempat melihat ada dua pria yang berlari menghampiri namun sudah ada lima pria lainnya yang muncul. Kedua pria itu terlibat perkelahian dengan lima pria lainnya. Sedangkan pria yang membekap mulut Joana menyeretnya masuk kedalam sebuah mobil van hitam lalu melaju meninggalkan tempat itu. Didalam mobil ada sudah dua pria lainnya yang duduk mengapit Joana.
“Maaf Nyonya Arimbi. Tuan kami ingin bertemu dengan anda.” jawab pengawal disebelah kanannya.
‘Nyonya Arimbi? Mereka mengira aku adalah Arimbi? Ah, topeng wajah ini benar-benar sempurna sehingga tidak ada yang bisa membedakan jika aku bukanlah Arimbi.’ bisik hati Joana. ‘Tapi siapa orang yang menyuruh mereka menculikku?’
“Tuan kalian? Aku tidak mengenalnya! Siapa tuan kalian?” tanya Joana yang masih memakai topeng wajah Arimbi. “Kalian sangat tidak sopan! Cepat hentikan mobilnya! Biarkan aku turun!”
“Nyonya pasti sangat mengenalnya! Dia ingin bicara dengan Nyonya. Jadi jangan macam-macam atau kami tidak akan bersikap baik pada anda.” ancam salah satu pria disamping Joana.
Joana mencoba berpikir siapa kira-kira orang yang ingin menculik Arimbi. Apakah orang itu adalah Keluarga Lavani atau Tuan Dion Harimurti? Bukankah keduanya ada masalah dengan Arimbi? Keluarga Lavani bersekongkol dengan Amanda untuk menyingkirkan Arimbi.
Lalu apa hubungannya dengan Dion Harimurti? Apakah karena kejadian waktu itu? Apa dia ingin membalas dendam padaku melalui Arimbi atau dia memang sengaja menculik Arimbi? Aih…..Tuan Dion ini sungguh keterlaluan! Masa pria tampan dan kaya sepertinya jadi perebut bini orang? Cih!
__ADS_1
“Kalian tahu siapa aku! Berani sekali kalian menculikku! Suamiku tidak akan melepaskan kalian jika dia tahu kalian menculikku!” teriak Joana marah.
“Ha ha ha….Nyonya sebaiknya jangan banyak bicara! Tuan Emir tidak akan mempedulikan Nyonya lagi jika dia tahu kalau Nyonya bersama dengan musuh bebuyutannya.” ujar pengawal itu lagi.
‘Musuh bebuyutan Tuan Emir? Hanya ada satu dan itu adalah Tuan Dion! Aha! Kebetulan yang bagus sekali! Seperti yang sudah diprediksi! Aku akan membalaskan dendamku padamu Tuan Dion! Kita lihat bagaimana aku akan membuatmu terjebak dalam permainanmu kali ini!’ gumam Joana dihatinya.
Mobil van itu melaju menuju kearah pinggiran kota. Daerah yang dituju adalah dimana villa Harimurti berada. Disana Dion sudah menunggu kedatangan Arimbi dengan senyum menyeringai.
‘Aku sudah memperingatkanmu Arimbi! Aku pasti akan mendapatkanmu! Kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku! Kita lihat bagaimana hancurnya Emir kali ini!’ bisik hatinya.
Dion berdiri lalu melangkah menatap hadiah diatas meja yang sudah dipersiapkannya. Ada buket bunga mawar dan kotak perhiasan yang akan dia berikan untuk Arimbi. Dion berjalan sambil menyesap anggur di tangannya. Tak lama dia mendengar suara kendaraan yang memasuki area villa dan berhenti didepan pintu masuk.
“Akhirnya dia sampai! Emir, permainan baru saja dimulai! Setelah aku mendapatkan istrimu, aku akan menghancurkanmu pelan-pelan dan membuatmu menderita!” ujarnya tersenyum sinis.
******
“Eughhhh….” Amanda menggeliat diatas tempat tidur. Tatapan matanya sayu, saat pintu kamar hotel itu terbuka dan seorang pria memasuki kamar itu dengan cepat menutup pintu lalu menghampiri ranjang. Tatapannya berbinar melihat wanita yang terbaring diatas ranjang itu dalam keadaan posisi polos.
“Amanda…...” panggilnya membuat Amanda membuka matanya perlahan menatap pria didepannya.
“Reza! Kenapa kamu bisa ada disini? Ah, cepat bantu aku Reza!” pinta Amanda dengan suara manja.
“Bukankah kamu yang mengirimiku pesan untuk datang kesini? Ah….lupakan saja.” ujar Reza yang langsung menciumi Amanda. Pengaruh obat perangsang itu membuat Amanda menjadi liar dan menarik kemeja Reza hingga beberapa kancingnya terlepas.
Amanda melenguh saat tangan Reza menjelajahi tubuhnya. Keduanya hanyut dalam buaian gairah, pengaruh obat perangsang membuat Amanda semakin agresif yang membuat Reza tersenyum menyeringai.
“Amanda, kamu makan obat ya? Atau ada orang yang membiusmu dengan obat?” tanya Reza pada Amanda. Tapi wanita itu tidak menjawab pertanyaan Reza.
__ADS_1